
Gabriel dan Husna sudah menyiapkan semua barang bawaan mereka. bahkan supir juga sudah memasukkan nya ke dalam mobil.
Daniyal dan Danish mengantar mereka ke bandara, sekalian menjemput Billy dan Bella yang juga baru pulang dari rumah Adelia.
Husna melihat ke arah Danish, dia tau jika adiknya itu sedang menyukai seseorang, karena dia adalah adik Sagara.
"Danish, kemarilah,", panggil Husna.
"ada apa mbak?" tanya Danish penasaran.
"mbak akan pergi beberapa waktu, selalu ingat kamu dan Daniyal itu saudara, jangan sampai bertengkar hanya kaena wanita, apalagi wanita itu tak pantas di perjuangkan," kata Husna.
"maksud mbak, Gita tak bisa di perjuangkan," kata Danish tak suka.
"bukan tak bisa, tapi akan lebih baik fokus dengan kuliahmu, mbak hanya tak ingin kamu menyesal nantinya," kata Husna memegang pipi Danish.
Gabriel pun mengajak Husna untuk berangkat karena sudah di tunggu. "jika aku jadi dirimu, aku akan ku selidiki dulu, dan aku akan mempercayai semua omongan dari mbak mu," kata Gabriel saat memeluk Danish.
Danish tak mengira akan di ingatkan oleh Gabriel, padahal Gabriel adalah orang yang paling irit berbicara.
keduanya pun sudah pergi meuju ke rumah Adelia. sedang Daniyal mengajak saudara kembarnya itu pulang.
"apa kamu mengetahui sesuatu, hingga begitu marah saat Nagita mendekat padamu," kata Danish.
"kamu tau aku, aku tak pernah mau berurusan dengan gadis menyebalkan, dan sayangnya dia dalam hitungan itu, dan aku tau itu saat bersama dengan mbak Husna," jawab Daniyal sekilas.
__ADS_1
"kalian bahas gadis di depan papa tak takut," goda Billy.
"tak masalahkan, kami dewasa, hanya perlu bimbingan untuk menentukan gadis terbaik untuk kami," jawab Daniyal.
"tapi bunda gak suka kalau kalian hingga melupakan segalanya, apalagi sampai bertengkar," saut Bella.
"iya bunda," jawab keduanya.
mereka pun menuju rumah, sedang Gabriel terus sibuk melihat beberapa laporan miliknya, sedang Husna sedang asik nonton film.
"sayang, kamu tak ingin makan sesuatu?" tanya Gabriel.
"tidak, ini saja sudah membuatku kenyang," jawab Husna.
"aku ingat, apa Simon tidak pernah mengajari mu ilmu beladiri atau apapun itu?" tanya Gabriel penasaran.
"tapi kondisi mu selalu lemah," jawab Gabriel.
"itu karena kamu terus membuatku kesal, aku memang memiliki kondisi tubuh yang lemah di banding yang lain, tapi aku sudah mengasah Indra yang ku miliki agar bisa lebih tajam di banding yang lain," jawab Husna
"apa benar begitu, kamu membuatku penasaran," kata Gabriel menutup berkas miliknya dan mendekati Husna.
seorang pramugari mengantarkan kopi untuk Gabriel, Husna pun melihat gelagat pramugari itu, dan mencium bau aneh dari kopi.
"maaf itu kopi apa?" tanya Husna saat pramugari itu meletakkan kopi.
__ADS_1
"ini kopi luwak nona," jawab wanita itu.
Husna mengambil sendok bersih dengan sapu tangannya, dan mengambil kopi itu sedikit dan menyodorkan pada pramugari itu.
"cicipi di sini, aku ingin lihat kamu meminumnya," kata Husna.
"tapi saya tidak suka kopi," bantah pramugari itu
"minum, atau aku akan mencekoki dirimu dengan kopi ini," kata Husna sedikit menekan.
"saya tidak mau nona, saya mohon," pinta pramugari itu memohon.
"siapa yang menyuruhmu untuk menambahkan sesuatu pada kopi ini, karena aku bisa melihat dari raut wajah ketakutan mu," kata Husna.
"apa, kau mencari mati," kata Gabriel yang marah.
"maafkan aku, ini hanya perintah suruhan dari tuan Daniel, untuk mengetes seberapa peka Indra nona Husna," jawab pramugari itu.
"seandainya kamu berbohong, maka kamu harus siap melihat semua keluarga mu mati, ingat itu," ancam Gabriel.
Husna pun menyuruh wanita itu membawa kopi itu pergi, dan memilih kembali duduk di kursi milik nya.
mereka pun melanjutkan perjalanan yang akan segera sampai,benar saja pulau tempat Daniel sudah terlihat, dan pesawat pun landing dengan selamat.
terlihat Daniel sudah menunggu kedatangan mereka, bahkan terlihat tawa di wajahnya. itu semakin membuat Gabriel yakin jika semua yang terjadi itu ulah Daniel.
__ADS_1
π·π·π·π·π·π·π·π·
untuk kisah Puri dan Arjuna, kura akan lanjut di AKU BUKAN PELAKOR,. oke ...