Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
114. Pergi memeriksa persiapan pernikahan


__ADS_3

"Assalamualaikum, maaf, Mas. Aku telat, aku kira kamu yang bakalan telat, ternyata aku salah. Malah aku sendiri yang terlambat," ucap Riri yang baru sampai di restoran. Ternyata di sana sudah ada calon suaminya.


"Waalaikumsalam, tidak apa-apa. Aku juga baru sampai," jawab Adit berbohong.


Nyatanya dia sudah sampai setengah jam yang lalu. Pria itu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan calon istrinya karena itu, Adit datang lebih awal. Bahkan dia harus membawa pekerjaannya ke restoran. Pria itu terlalu antusias saat Riri mengajaknya bertemu.


Gadis itu juga bisa melihat calon suaminya yang membawa beberapa map. Sudah bisa dipastikan jika pria itu memang benar-benar sibuk. Adit yang tahu arah pandangan Kinan pun segera mengalihkannya.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Adit setelah memanggil seorang pelayan. Riri mengambil menu dan menyebutkan pesanannya pada pelayanan.


"Kamu pasti sibuk sekali, ya, Mas. Maaf aku mengganggu pekerjaan kamu," ucap Riri yang merasa tidak enak pada calon suaminya.


"Tidak apa-apa, aku juga sudah terbiasa seperti ini. Apalagi sebentar lagi aku mau ambil cuti jadi, semua pekerjaan harus segera diselesaikan semuanya."


"Memang kamu mau ambil cuti berapa hari? Kenapa sibuknya sekarang?"


"Aku ambil cuti satu minggu, kalau kamu mau bulan madu, kita bisa pergi. Aku bisa memperpanjang masa cutiku."


"Tidak usah, Mas. Kapan-kapan saja kita libur. Lagi pula di mana pun tempatnya, bulan madu juga sama saja," ucap Riri dengan pelan diakhir kalimatnya. "Aku juga tidak ambil cuti lama. Sebenarnya aku maunya tiga hari saja, tapi karena kamu sudah ambil cuti satu minggu jadi, biar nanti aku bilang sama kakak, kalau aku mau ambil cuti satu minggu."


"Kalau aku ambil cuti satu bulan, apa kamu juga mau libur satu bulan?"


"Tidak juga, Mas. Aku mana tega sama karyawan lain. Mereka bisa keteteran kalau aku libur lama-lama. Kak Maysa juga hanya ada beberapa pegawai, belum merekrut yang baru. Masih menunggu beberapa hal."


"Lain kali kita ambil libur panjang, kita liburan sama-sama. Tentunya setelah kita sah, bagaimana?"


"Insya Allah, kalau memang ada waktu. Mas, mengenai persiapan pernikahan kita, sudah sejauh mana? Aku juga ingin tahu, kamu selalu bilang kalau aku tidak usaha terlalu memikirkannya, tapi aku tetap saja penasaran mau seperti apa pesta nanti."

__ADS_1


"Kalau kamu mau melihatnya, kita bisa datang ke kantor EO-nya dan menanyakan persiapan pernikahan kita. Kamu juga bisa memberikan pendapatmu jika ada yg tidak kamu sukai."


"Tapi, pekerjaan kamu juga sepertinya sangat banyak. Sebaiknya tidak usah," ucap Riri sambil melihat ke arah map yang dibawa Adit tadi.


Kedatangannya ke restoran ini saja sudah membuat wanita itu merasa bersalah, apalagi harus ditambah mengajaknya pergi. Itu pasti akan membuang waktu Adit yang seharusnya bekerja.


"Kamu tenang saja, pekerjaanku sudah selesai. Nanti juga bisa diselesaikan asistenku yang hanya tinggal dikit-dikit saja. Setelah makan kita pergi ke kantor EO, ya?"


"Terserah kamu saja jika memang tidak mengganggu waktumu. Aku ikut saja."


Riri bebas bisa ke mana saja karena memang pekerjaannya, sudah dikerjakan oleh Maysa semenjak rencana pernikahan itu terjadi. Tidak berapa lama makanan pesanan mereka pun datang. Adit dan Riri menikmatinya dengan tenang. Sesekali membahas pernikahan mereka.


Setelah keduanya menyelesaikan makan siang dan membayar tagihan, mereka segera menuju kantor EO-nya. Banyak yang Riri tanyakan tentang pesta resepsinya nanti. Dia cukup puas dengan apa yang mereka jelaskan. Gadis itu berharap nanti saat hari H tidak akan mengecewakan.


Hingga sore hari Adit dan Riri sibuk di kantor EO. Banyak hal yang gadis itu ketahui sekarang, waktu itu dia juga pernah datang. Namun, semuanya masih belum sempurna. Sekarang saat Riri sudah melihat kira-kira bagaimana dekorasi pernikahannya nanti.


"Aku senang, Mas. Semuanya sangat di luar ekspektasi aku. Awalnya aku hanya ingin pesta yang biasa saja, tapi melihat rencana yang dibuat tadi, aku sangat menyukainya. Semua terlihat begitu sangat cantik, sesuai juga dengan gaun yang aku pakai," ucap Riri saat keduanya sedang dalam perjalanan pulang.


"Iya, memangnya Kak Maysa nggak cerita sama kamu. Kalau pihak EO juga konsultasi sama Kak Maysa, mengenai bagaimana gaun yang akan kamu pakai nanti. Jadi mereka bisa menyesuaikan."


"Kak Maysa nggak pernah cerita soal itu. Berarti dia sudah tahu bagaimana dekorasi pesta pernikahan kita nanti? Ah, curang! Dia nggak pernah bilang sama aku," sahut Riri yang sudah kesal pada kakaknya.


Pasalnya Maysa sama sekali tidak mengatakan apa pun. Padahal mereka bertemu setiap hari, tidak bisakah kakaknya itu berbicara padanya.


"Tidak begitu juga, mereka nggak bilang sama Kak Maysa mengenai bagaimana pesta nanti. Mereka cuma bertanya sama Kak Maysa, lalu mereka yang merencanakan semuanya sendiri. Kak Maysa mana tahu rencana mereka."


"Tapi kapan mereka datangnya? Aku selalu berada di butik, tapi aku nggak pernah lihat ada orang yang datang."

__ADS_1


"Aku nggak tahu soal itu. Pihak mereka hanya meminta alamat butiknya. Setelah beberapa hari mereka sendiri yang bilang kalau sudah berkomunikasi dengan Kak Maysa, tapi mereka nggak bilang komunikasi yang seperti apa. Entah lewat sambungan telepon atau datang ke butik secara langsung."


Riri mengangguk, dia memang tidak pernah melihat orang-orang yang datang, kecuali pembeli. Apa mungkin saat gadis itu keluar, baru ada tamu. Apa pun itu, Riri senang rencana pernikahannya berjalan dengan lancar. Semoga saja sampai hari tiba, tidak ada gangguan apa pun.


Akhirnya mobil yang dikendarai oleh Adit sampai juga di depan rumah Riri. Keduanya turun dan masuk ke dalam rumah. Sudah beberapa hari pria itu tidak datang, dia merasa sungkan juga pada calon mertuanya. Entah apa yang dipikirkan oleh wanita paruh baya itu nanti. Semoga saja bukan sesuatu yang tidak diharapkan.


"Assalamualaikum," ucap Riri dan Adit saat memasuki rumah secara bersamaan.


"Waalaikumsalam, bagaimana kalian bisa pulang sama-sama?" tanta Mama Rafiqah saat melihat putri dan calon menantunya masuk ke dalam rumah.


Tadinya dia sedang ada di dapur, begitu mendengar suara mobil berhenti, wanita paruh baya itu segera keluar. Riri dan Adit bergantian mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.


“Kami baru saja pergi ke event organizer, Ma. Mau tahu persiapan pernikahan kami sudah sampai mana," jawab Riri yang diangguki oleh Mama Rafiqah.


Wanita paruh baya itu meminta Adit untuk duduk, sementara Riri masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu ingin membersihkannya tubuhnya. Seharian berada di luar, membuat tubuhnya terasa lengket.


Di ruang tamu, Mama Rafiqah dan Adit membicarakan beberapa hal tentang pernikahan. Tidak dipungkiri jika wanita itu juga ingin tahu rencana pernikahan putrinya. Dia juga sudah mengirimkan uang tabungannya ke rekening Adit, saat rencana pernikahan itu sudah dimulai. Meski tidak seberapa, tetapi Mama Rafiqah senang bisa ikut menyumbang.


Adit juga menerimanya dengan tangan terbuka. Dia sangat tahu apa yang dipikirkan oleh calon mertuanya, demi kebaikan semuanya pria itu menerima dengan senang hati. Jika dibandingkan dengan pesta yang akan digelar, memang tidak seberapa. Akan tetapi, niat Mama Rafiqah yang Adit sangat hormati.


"Kalau kamu atau keluarga perlu bantuan Mama, kamu bilang saja, Nak Adit. Mama siap untuk membantu. Meskipun tidak seberapa bantuan yang Mama berikan, setidaknya Mama senang bisa ikut berpartisipasi," ucap Mama Rafiqah yang semakin membuat Adit tidak enak.


"Mama jangan terlalu khawatir, semuanya sudah terpenuhi. Insya Allah semuanya akan lancar sampai hari H. Mama bisa tenang, jangan terlalu banyak berpikir. Mama jaga kesehatan saja agar nanti bisa menyaksikan pernikahan kam."


.


.

__ADS_1


__ADS_2