Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
110. Mengingat kebersamaan


__ADS_3

Persiapan pernikahan Adit dan Riri sudah hampir selesai. Hari yang dinanti pun sudah semakin dekat. Segala persiapan sudah dilakukan kedua keluarga.


“Kak, bagaimana?” tanya Riri saat sedang mencoba gaun pengantin.


Maysa memandang sang adik dengan pandangan takjub. Dia tidak menyangka jika gaun buatannya sangat pas di tubuh adiknya. Padahal sebelumnya wanita itu sangat takut jika apa yang dia buat, tidak sesuai dengan keinginan Riri. Namun, sekarang adiknya terlihat sangat berbeda, lebih dewasa dan juga cantik tentunya.


"Kamu cantik sekali, Ri. Kakak sampai pangling lihatnya!" seru Maysa yang tetap menatap adiknya dari atas sampai bawah.


Riri tersenyum mendengar pujian dari kakaknya. Itu berarti, nanti dia tidak akan membuat malu keluarga. Gadis itu jarang sekali berdandan jadi, Riri takut jika nantinya akan mempermalukan keluarga. Berbagai pemikiran yang tidak-tidak selalu saja datang.


"Kakak nggak sedang bohong, kan?" Riri menatap sang kakak.


Gadis itu takut apa yang diucapkan kakaknya hanyalah bualan semata. Apalagi gaun yang dia kenakan juga buatan wanita itu sendiri. Siapa tahu jika Maysa hanya memuji gaunnya yang cantik bukan dirinya.


"Kakak nggak bohong, kamu memang benar-benar cantik memakai gaun ini. Apalagi sekarang belum pakai make up. Nanti kalau sudah sempurna semuanya, pasti orang-orang akan terkesima melihat pengantin wanitanya,” ucap Maysa sambil tersenyum.


Dia bukan mengada-ngada atau hanya sekedar menyenangkan hati adiknya. Yang dia katakan adalah kejujuran karena adiknya memang sangat cantik. Tubuh Riri yang proporsional, tentu sangat cocok memakai gaun tersebut.


"Syukurlah kalau cantik, aku jadi lebih percaya diri lagi." Riri mengangkat sedikit gaunnya dan mencoba berputar. Dia sungguh senang memakai gaun tersebut.


"Memang sebelumnya kamu tidak percaya diri? Apa yang membuat kamu tidak percaya diri? Bukankah semuanya sudah terpenuhi oleh Adit?"

__ADS_1


"Banyaklah, Kak. Tentang keluarga besar Adit, para tamu dan orang-orang penting lainnya." Riri menundukkan kepala dengan tidak bertenaga.


"Kamu tidak perlu memikirkan hal-hal yang tidak penting. Itu cuma akan membuat kamu semakin tidak percaya diri. Lebih baik jalani saja apa yang sudah dipersiapkan."


Riri menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan perlahan. "Nyatanya tidak semudah yang diucapkan, Kak. Aku sudah mencoba berkali-kali agar terlihat tenang dan tidak memikirkannya. Akan tetapi, semuanya tidak ada artinya."


Maysa mengerti apa yang dirasakan adiknya. Dia juga pernah dalam posisi yang dialami Riri sekarang. Itu terjadi saat dia menikah dengan Tama. Perbedaan mereka sangatlah jauh sama seperti Riri dan Adit.


Namun, takdir mereka memang harus bersatu jadi, mereka harus tetap menjalani apa yang sudah digariskan. Sebesar dan seberat apa pun rintangan yang dihadapi, semoga bisa dengan mudah dilewati.


"Kakak juga pernah dalam posisi ini, merasa diri ini sangat kecil dibandingkan dengan keluarga pasangan kita. Kamu tahu 'kan bagaimana keluarga Mas Tama? Mereka sangat jauh berbeda dengan keluarga kita. Sama seperti saat ini, antara kamu dan Adit, tapi percayalah bahwa ini sudah takdir yang harus kita jalani. Kita berdoa saja agar rumah tangga kita bisa sekokoh yang kita impikan."


"Tentu, Kak. Aku selalu berdoa agar rumah tangga kami kelak tidak akan tergoyahkan oleh apa pun. Aku juga ingin bahagia bersama dengan Mas Adit selamanya. Jujur aku juga ada rasa takut jika Mas Adit seperti Kak Rafka. Aku takut dia selingkuh. Aku tidak akan sanggup menahannya jika sampai itu terjadi. Aku bukan Kakak yang bisa kuat menghadapi masalah apa pun. Jika masalah harta, itu tidak ada artinya untukku karena memang dari kecil kita selalu kekurangan, tetapi jika perasaan yang dikhianati, itu pasti akan sangat menyakitkan."


"Kakak benar, aku masih sangat ingat saat dulu Kakak bertengkar dengan anak tetangga karena membelaku. Waktu itu ibunya datang marah-marah pada Mama. Namun, Mama hanya diam dan setelahnya justru membelai kita dan menasehati dengan pelan.”


Maysa terkekeh saat mengingatnya. Semua kenangan itu tidak akan pernah mereka lupakan sampai kapan pun. Itu akan menjadi memori saat mereka merindukan kebersamaan di waktu kecil. Kenangan bersama papanya hanya sedikit yang mereka ingat. Saat papanya hidup, mereka masih sangat kecil.


"Mama memang orang yang paling sabar yang pernah aku temui," ucap Maysa dengan pandangan ke depan.


"Itulah kenapa aku sangat takut, saat Mama marah padaku mengenai hubunganku dengan Mas Adit satu tahun yang lalu," ucap Riri dengan pandangan lurus ke depan.

__ADS_1


Gadis itu masih sangat ingat benar bagaimana Mama Rafiqah marah besar. Wanita paruh baya itu mengangkat tangan dan memukulinya. Hal yang tidak pernah wanita itu lakukan. Namun, karena kesalahan yang tidak Riri ketahui, Mama Rafiqah melakukannya.


"Setelah kamu menikah, pasti waktu bersama kita akan semakin berkurang. Kita pasti akan sibuk dengan keluarga masing-masing. Apalagi aku juga sudah memiliki dua anak. Apakah kita bisa berkumpul bersama seperti sebelum-sebelumnya?" tanya Maysa dengan nada sedih.


Tiba-tiba saja suasana menjadi mellow. Kenangan kebersamaan mereka satu persatu muncul di permukaan. Saat tertawa, susah, senang, semuanya menjadi satu. Mereka selalu saling mendukung satu sama lain.


Tidak ada rasa iri apalagi benci, yang ada hanyalah kasih sayang diantara mereka. Maysa dan Riri juga selalu saling membantu, apa pun kesusahan yang dialami salah satu dari keduanya.


"Kenapa tiba-tiba kita jadi sedih-sedih begini? Seharusnya kita senang, sebentar lagi kamu akan menikah," ucap Maysa yang kemudian tersenyum ke arah Riri. "Kakak hanya bisa mendoakan agar kamu selalu bahagia. Semoga Adit benar-benar menjadi suami yang amanah, serta bertanggung jawab sepenuhnya sama kamu dan ... Kakak sudah tidak bisa lagi berkata apa-apa. Apa pun kebaikan semuanya untuk kamu," ucap Maysa yang mendapatkan pelukan dari Riri.


Sebagai seorang kakak Maysa hanya ingin yang terbaik untuk adiknya. Seperti yang Riri ucapkan tadi, dia juga tidak ingin apa yang pernah dialaminya, dirasakan oleh adiknya. Cukup dirinya yang khianati, jangan sampai Riri juga seperti itu.


"Terima kasih, Kak. Selama ini Kakak sudah menjagaku dengan baik, tapi aku tidak pernah melakukan sesuatu yang berarti untuk kakak."


"Kamu bicara apa? Selama ini kamu juga sudah sangat baik kepadaku. Kamu mendukungku saat aku benar-benar sedang ada masalah. Terima kasih atas kebersamaan kita, semoga kebersamaan ini tidak akan pernah hilang. Meski kita sama-sama sudah berkeluarga."


Riri mengangguk dalam pelukan kakaknya. Sampai kapan pun dia juga tidak akan pernah melupakan kebersamaan mereka. Keluarganya yang sudah mengajarkan banyak hal tentang kehidupan, baik yang pahit maupun manis.


Maysa mengurai pelukan dan menghapus sisa-sisa air matanya. "Sebaiknya kamu lepas gaunnya, nanti malah kotor 'kan aku yang susah."


"Iya, Kak! Bawel." Riri segera pergi dari sana sebelum kakaknya semakin mengomel.

__ADS_1


.


.


__ADS_2