Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
81. Mengertilah


__ADS_3

“Bu, aku mohon jangan pisahkan aku dengan Riri. Aku sangat mencintainya. Aku akan melakukan apa pun asal Ibu merestui kami,” ucap Adit yang masih berlutut di samping Mama Rafiqah.


Dia benar-benar tidak bisa berpisah dengan Riri. Entah apa yang akan terjadi pada hidupnya kelak jika tanpa gadis itu di sampingnya. Terserah orang mengatakan pria itu lebay, asal Adit bisa tetap bersama Riri.


Mama Rafiqah sebenarnya tidak tega. Namun, dia masih sangat menyayangi masa depan putrinya. Wanita itu tidak ingin Riri dapat gunjingan seumur hidupnya. Cinta bisa tumbuh kapan pun dan pada siapa pun.


Dia yakin jika suatu hari nanti, akan ada orang yang bisa membahagiakan putrinya selain Adit. Jika nanti memang Riri tetap berjodoh dengan Adit, Mama Rafiqah juga tidak bisa menolak. Asalkan disaat itu tiba cibiran untuk putrinya sudah pergi.


“Sekalipun kamu berlutut seperti ini, tidak akan bisa mengubah apa yang sudah saya putuskan. Sampai kapan pun saya tidak akan pernah merestui hubungan kalian. Masa depan Riri masih sangat panjang. Saya tidak mungkin menyerahkannya padamu, yang sudah pasti akan semakin menyakiti hatinya. Saya mohon mengertilah perasaan seorang ibu. Saya yakin kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari Riri. Kami hanya orang miskin yang tidak memiliki apa-apa. Saya membesarkan Riri seorang diri, saya juga berusaha agar bisa membahagiakannya meski tanpa kasih sayang seorang ayah. Begitu pun dengan hari ini, saya akan melakukan apa pun asal dia tidak menjadi bahan cemoohan orang lain.”


Riri yang melihat sikap Adit yang kekeh pun ikut bersuara. Dia tidak ingin mamanya tertekan.


“Mas Adit, ini bukan hanya keputusan dari Mama. Jujur aku masih ada perasaan padamu, tapi aku menyayangi keluargaku lebih dari apa pun. Aku tidak mungkin melemparkan kotoran pada Mama. Orang yang selama ini sudah membesarkanku dengan penuh kasih sayang. Aku yakin Mas Adit sangat mengerti apa yang saya rasakan saat ini. Kami sekeluarga hanya ingin tenang dan bahagia. Menjalin hubungan denganmu itu hanya akan menambah masalah untukku dan juga keluargaku. Aku tidak ingin membuat keluargaku malu karena perbuatanku. Untuk kali ini aku mohon padamu, anggap saja ini permintaan terakhirku.”


Hati Adit merasa hancur saat mendengarkan apa yang baru saja Riri katakan. Ternyata perbuatannya begitu sangat melukai keluarga gadis itu yang sangat menjunjung harga diri. Sebagai seorang pria, dia ingin mempertahankan apa yang ingin pria itu miliki. Namun, Adit juga tidak bisa memaksa orang lain untuk tetap bersamanya.

__ADS_1


Apalagi jika itu akan semakin menyakiti gadis yang dia cintai. Mungkin memang sudah saatnya Adit melepas Riri agar gadis itu bahagia. Pria itu bangkit dari sujudnya, dia berdiri dan menatap wanita yang selama ini dicintainya.


“Maafkan aku yang sudah sangat menyakitimu. Aku akan memenuhi permintaanmu. Mungkin setelah ini kita tidak akan pernah bertemu lagi. Terima kasih atas waktu yang selama ini kamu berikan padaku. Semoga kamu bisa bertemu dengan pria yang bisa membahagiakanmu, terima kasih juga sudah banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan darimu. Aku ... aku ....”


Napas Adit tercekat, sudah tidak ada kata-kata lagi yang bisa dia ucapkan. Semuanya tertahan di tenggorokan, rasa sesak yang pria itu rasakan semakin menyakiti hatinya. Andai saja Adit menyelesaikan masalahnya dan Risa dengan cepat. Semua ini tidak akan terjadi.


Namun, nasi sudah menjadi bubur, semuanya berakhir begitu saja tanpa ada kesempatan untuk bisa bersama lagi. Adit menarik napas dalam-dalam sambil mengusap air matanya yang menetes. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan pujaan hatinya.


Pria itu tersenyum dan berkata, “Maaf sudah mengganggu waktu Bu Rafiqah dan juga Riri. Sopir saya akan mengantar Anda pulang.”


“Itu tidak perlu, kami bisa naik taksi," sahut Mama Rafiqah.


Adit mengetuk pintu tiga kali, sepertinya itu pertanda agar orang yang ada di luar membukakan pintu. Benar saja, pintu terbuka tampak orang yang tadi menjemput Mama Rafiqah dan Riri berdiri di depan. Riri menatap mantan kekasihnya sebelum dia meninggalkan ruangan itu. Adit hanya menundukkan kepala, tidak mampu menatap kepergian wanita yang pria itu cintai.


Setelah Mama Rafiqah dan Riri tidak terlihat, Adit meminta bawahannya tadi untuk keluar. Dia ingin sendiri dalam ruangan itu sebentar. Memikirkan masalah yang dihadapinya kini. Setelah pintu tertutup, pria itu menumpahkan air matanya yang sejak tadi dia tahan.

__ADS_1


Meski dia seorang laki-laki, Adit juga memiliki perasaan dan hati. Cintanya pada Riri begitu besar, tetapi karena kebodohannya, kini dia harus kehilangan wanita itu. Andai saja Adit bisa berusaha lebih kuat agar bisa lepas dari Risa, ini semua tidak akan terjadi. Pria itu memang tidak layak untuk Riri.


Riri wanita yang kuat dan mandiri, sedangkan dirinya seorang pria yang lemah yang takut pada seorang wanita. Melepaskan diri dari Risa saja tidak mampu, bagaimana dia bisa menjaga istrinya kelak. Cukup lama Adit meratapi nasibnya, hingga akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari sana.


Kali ini pria itu akan berusaha lebih keras agar bisa lepas dari mantan istrinya. Meski saat ini Adit sudah tidak bisa lagi bersama dengan Riri. Namun, dia tidak ingin selamanya terikat dengan wanita yang licik seperti Risa. Wanita itu tidak layak untuk dipertahankan.


Sementara itu, Riri yang berada di dalam taksi pun hanya bisa diam. Jujur hatinya merasa sangat sakit melihat Adit yang seperti itu. Namun, dia tidak mungkin membuat mamanya bersedih, setelah pengorbanan wanita itu selama ini. Riri yakin jika Tuhan sudah mempersiapkan jodoh untuknya.


Mama Rafika bisa melihat kesedihan di wajah putrinya, tetapi dibandingkan masa depan Riri, itu bukan apa-apa untuk putrinya. Dia yakin gadis itu sanggup menahan rasa sakit yang sebentar ini. Masa depan Riri masih sangat panjang.


“Ri, apa kamu menyesal sudah melepas pria itu?” tanya Mama Rafiqah.


“Tidak, Ma. Aku tidak menyesal, hanya merasa sedih saja. Bukan berarti aku juga ingin bersamanya. Aku tidak ingin menjadi alasan kesedihan orang lain. Aku masih sangat ingat betapa hancurnya Kak Maysa saat tahu suaminya bersama dengan wanita lain. Aku tidak ingin menjadi salah satu dari wanita lain itu. Aku sendiri juga tidak mau suatu saat nanti jika aku memiliki suami ada orang lain yang menjadi orang ketiga dalam keluargaku. Apa pun alasannya, entah aku baik-baik saja atau tidak bersama dengan suamiku kelak.”


Mama Rafiqah mengangguk. Dia cukup senang dengan apa yang dipikirkan oleh putrinya. Wanita itu juga tahu betapa hancurnya Maysa saat itu dan dia tidak ingin orang lain merasakannya. Apalagi jika sampai menjadi pelaku 'orang ketiga' itu.

__ADS_1


.


.


__ADS_2