Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
127. Makan kue bersama


__ADS_3

Siang hari Tama menjemput anak-anaknya saat jam pulang sekolah. Dia juga sudah menyiapkan beberapa baju tadi pagi di dalam mobil, untuk menginap di rumah Mama Rafiqah. Asisten rumah tangga yang akan bekerja di rumah pria itu sudah datang tadi pagi. Tadi Tama memberi sedikit arahan tentang rumah, selebihnya biar Maysa nanti yang menjelaskan. Dia juga sudah memintanya untuk menjaga Mama Mirna.


"Dio, kata Mama struk pengambilan kue ada di tas kamu. Sini, mau Papa lihat!" ucap Tama pada putranya, saat mereka baru naik mobil.


Dio pun membuka tas, di mana tadi mamanya menyimpan struk pengambilan kue dan menyerahkannya pada sang papa. Tama melihat alamat toko tersebut kemudian, melajukan mobilnya ke arah toko itu. Pria itu juga sering ke sana bersama Maysa. Sang istri juga suka beli kue di sana karena rasanya yang cocok di lidah.


"Pa, nanti aku mau beli kue juga, ya? Aku mau brownies," ucap Eira yang saat mengetahui apa yang menjadi tujuan papanya kini.


"Tumben kamu mau kue brownies, biasanya cuma mau kue donat atau kue lapis. Setiap kali ditawari kue yang lain tidak mau."


"Aku sekarang maunya kue brownies. Tadi temenku ada yang bawa bekal kue brownies, rasanya enak sekali jadi, aku sekarang ingin memakannya," jawab Eira sambil mengingat kue pemberian temannya tadi.


"Iya, nanti kita beli kue brownies. Kalau Kak Dio mau beli kue apa?" Tama melihat ke arah putranya, menunggu jawaban dari anak itu. Agak sulit memang bertanya pada Dio, anak itu jarang sekali mengutarakan pendapatnya.


"Aku nggak mau apa-apa. Nanti aku bisa makan sama Eira," jawab Dio dengan santai, sambil memainkan game.


"Nanti kita beli yang besar, ya, Kak. Biar dimakan sama-sama," sahut Eira.


"Iya, terserah kamu saja."


Tama tersenyum melihat interaksi anak-anaknya. Dia berharap agar Maysa segera hamil agar mereka bisa memiliki adik. Semoga saat hari itu tiba, mereka juga bisa menerima adiknya, sama seperti keduanya saling menerima satu sama lain. Pria itu yakin pasti bisa karena sang istri sangat pandai mengambil hati anak-anaknya.


Mobil yang dikendarai Tama berhenti di depan toko kue. Mereka bertiga turun dan masuk ke dalam. Di toko tersebut terlihat begitu banyak deretan kue di sana. Eira memilih kue brownies untuk dimakan nanti bersama dengan kakaknya. Tidak lupa juga dia kue donat kesukaannya.


Tama menyerahkan struk pada pegawai toko tersebut. Mereka pun mengambilkan pesanan.


"Papa, kenapa banyak sekali kuenya? Kita cukup satu saja," ucap Dio saat melihat papanya membeli kue brownies yang begitu banyak.

__ADS_1


"Di rumah ada banyak saudara, nanti kalau mereka ingin mencoba bagaimana? Kita harus berbagi sama yang lain. Apalagi jika itu saudara," jawab Tama yang diangguki oleh Dio.


Anak itu juga tidak begitu dekat dengan saudara sepupu dari Eira. Saat adiknya sedang bermain dengan anak lain, dia lebih memilih masuk ke dalam kamar dan bermain sendiri di sana. Kadang menonton televisi. Bukannya tidak mau bergabung, hanya saja Dio tidak suka saat ada sepupu yang lebih besar mengatakan, jika dirinya bukan Kakak Eira.


Apalagi ditambah ucapan wanita yang semalam memojokkan Maysa. Anak itu tidak suka ada orang lain yang menjelekkan mamanya. Dio anak yang sulit untuk berbaur, Tama juga mengakui hal itu. Sebisa mungkin pria itu akan mengajari putranya agar berinteraksi dengan orang lain. Dia takut jika Dio besar nanti lebih suka menyendiri.


Setelah membayar pesanannya, Tama dan anak-anak kembali naik ke mobil dan menuju ke rumah mama Rafiqah. Sudah banyak orang yang datang membantu di sana. Mereka semua menata kursi dan meja, ada pula yang membersihkan area sekitar.


Maysa yang kebetulan saat itu ada di luar dan melihat kedatangan sang suami, segera mendekati Tama dan mengambil alih kue yang ada ditangan. Namun, pria itu melarangnya karena cukup berat juga kue pesanan Mama Rafiqah. Dia hanya memberikan kue brownies yang tadi dibeli pada sang istri.


"Kenapa browniesnya sebanyak ini, Mas? Perasaan mama pesan cuma sedikit," ucap Maysa sambil melihat kantong kresek yang dia bawa.


"Itu bukan pesanan mama. Tadi anak-anak katanya mau kue brownies jadi, aku sekalian beliin buat yang lain. Siapa tahu ada yang mau. Bisa juga dibagi-bagi sama yang bantu-bantu," jawab Tama.


Maysa hanya menggeleng pelan. Yang dibeli sang suami itu lebih dari cukup, bahkan lebih. Pria itu memang jika membeli sesuatu tidak tanggung-tanggung, terkadang Maysa heran padanya, kenapa tidak sekalian tokonya saja yang dibeli. Itu lebih hemat menurutnya.


"Ada apa, Sayang Apa ada yang salah?" tanya Tama saat melihat sang istri menggelengkan kepala.


"Tidak ada, Mas. Hanya saja kamu membeli kuenya terlalu berlebihan. Ini kue yang mama pesan juga sudah lebih dari cukup jika dimakan bersama. Kenapa kamu harus beli lagi. Kalau ini nanti mubazir bagaimana? Nanti nggak ada yang makan."


"Dikasihkan ke tetangga saja, Sayang. Suruh mereka buat bawa pulang. Pasti mereka juga mau. Aku memang beliin buat mereka, hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantu."


"Iya Mas, nanti aku kasih ke mereka saat akan pulang nanti. Itu pun kalau masih ada."


Maysa terkekeh dan membawa kue tadi ke dapur. Tama juga mengikutinya dengan membawa pesanan mertuanya. Di dapur juga begitu banyak orang, pria itu tersenyum sambil menganggukkan kepala untuk menyapa mereka.


"Yang ini taruh di mana, Sayang?" tanya Tama.

__ADS_1


Maysa melihat ke arah sang suami yang membawa satu kantong plastik besar. Dia menunjuk sebuah meja sambil berkata, "Taruh di meja makan dulu, Mas. Nanti biar yang lainnya merapikan."


Pria itu masuk ke dalam kamar bersama dengan anak-anaknya. Tidak lupa juga membawa satu kotak kue brownies, yang diinginkan anak-anaknya tadi. Dia harus membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, sebelum ikut bergabung dengan yang lain. Begitu juga dengan anak-anak, mereka mandi bergantian.


"Kalian belum mandi, tapi sudah makan kue!" seru Maysa saat masuk dalam kamar dan mendapati kedua anaknya, sedang menikmati kue brownies yang tadi dibeli.


"Kamar mandinya masih dipakai Papa, Ma. Nanti setelah ini aku dan Kak Dio gantian," sahut Eira dengan mulut yang penuh dengan kue.


"Habis ini kamu saja, biar Kakak mandinya di kamar mandi belakang. Sepertinya sudah tidak ada yang memakai di sana."


Dio tidak ingin membuat Eira terburu-buru saat mandi. Anak itu sangat tahu jika adiknya sangat suka bermain air jadi, setiap kali mandi pasti akan bermain air lebih dulu. Apalagi setelah ini mereka tidak ada kegiatan, pasti lebih lama.


"Iya, tidak apa-apa, kebetulan di belakang semua sudah mandi. Memangnya kamu tidak keberatan kalau mandi di sana? Di kamar mandi itu tidak ada shower, airnya pun juga dingin. Apa tidak apa-apa? Sebaiknya kamu mandi di sini saja, bergantian dengan Adik Eira."


"Tidak apa-apa, Ma, lebih segar juga."


Maysa pun tidak memaksa lagi jika itu sudah keinginan putranya. "Terserah kamu mau mandi di mana. Mama boleh nyobain kue browniesnya, nggak? Kayaknya Kak Dio sama Eira lahap sekali makannya."


"Boleh, dong, Ma. Ini Mama cobain saja, pasti rasanya enak," ucap Eira sambil menyodorkan sekotak kue yang baru saja dia makan itu.


Maysa pun mengambil sepotong dan menikmati kue. Di toko kue itu memang sudah tidak diragukan lagi, rasa dan kualitasnya memang sangat bagus. Itulah kenapa Mama Rafiqah sangat suka beli di sana.


"Tumben kalian beli kue brownies, biasanya sukanya yang rasa strawberry."


"Bukan aku yang suka strawberry, Ma, tapi Eira," sahut Dio.


"Kamu juga ikut."

__ADS_1


.


.


__ADS_2