Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
132. Ingin menjenguk mertua


__ADS_3

Riri mengurai pelukan mamanya. Kini giliran Adit yang bersimpuh di depan Mama Rafiqah. Wanita yang mulai hari ini akan menjadi orang tuanya juga. Pria itu senang memiliki mertua seperti beliau, selain orangnya baik, juga sangat sabar menghadapi apa pun.


"Nak Adit, tolong jaga Riri dengan baik. Dia orangnya bandel, tapi Mama yakin kalau dia pasti bisa bertanggung jawab dengan apa yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Jika dia punya salah, tegur dia dengan cara baik-baik. Jangan pernah menaikkan suaramu, apalagi mengangkat tanganmu apa pun alasannya karena Mama juga tidak pernah melakukan itu kecuali 'hari itu'. Mama mohon sama kamu tolong bimbingan Riri agar menjadi wanita yang sholehah. Kalian berdua harus saling menasehati satu sama lain Jika ada yang melakukan kesalahan, kalian harus saling menegur dan introspeksi diri," ujar Mama Rafiqah pada menantunya.


Mata Mama Rafiqah berkaca-kaca. Putrinya tidak akan ke mana pun, tetapi di saat seperti ini, dia terus saja meneteskan air mata. Wanita itu sudah sangat berusaha untuk tegar, tetapi ternyata tidak bisa.


"Insya Allah, Ma. Aku akan berjanji untuk selalu menjaga Riri. Sekarang dia adalah tanggung jawabku. Aku hanya bisa meminta doa kepada Mama agar kami selalu bahagia. Baik sekarang, besok atau seterusnya."


"Tentu saja, Mama akan selalu mendoakan kamu dan Riri agar selalu bersama dan bahagia selalu. Mama juga mendoakan anak-anak Mama, semoga kehidupan kalian semua berkah."


Kedua pengantin pun berlanjut sungkem pada Om Martin. Sama seperti Mama Rafiqah, pria itu pun memberi wejangan pada kedua pengantin agar saling mendukung sama satu sama lain. Dia memang tidak begitu dekat dengan Adit, tetapi Martin tetap akan mendoakan yang terbaik untuk putranya.


Acara akhirnya selesai juga. Kini semua para tamu bisa menikmati hidangan yang sudah tersedia. Adit meminta asistennya agar mengambilkan makanan untuk dirinya dan Riri. Sedari tadi wanita itu tidak mengatakan satu kata pun pada sang suami. Entah ada perasaan aneh saat statusnya sudah berubah.


Ini makanlah pasti kamu juga lelah ucapan Adit sampai menyerahkan sepiring makanan Riri pun menerimanya dengan tersenyum keduanya menikmati makanan dengan pelan jika diri merasa malu berbeda dengan Adit yang memang tidak selera dia masih menghadapi keadaan bapaknya.


"Kenapa nomor kamu tidak bisa dihubungi, Mas?" tanya Riri di sela makan mereka.


"Oh, itu ponselku tertinggal di rumah. Sebenarnya ada sesuatu yang terjadi,” ucap Adit dengan membuang napas panjang.


Tentu saja hal itu membuat Riri semakin penasaran. Kira-kira kejadian apa yang membuat Adit tidak menghubunginya sama sekali. wanita itu menatap sang suami yang ada di sampingnya.


"Sesuatu yang terjadi? Apa, Mas?"


"Semalam Papa pingsan, aku bersama Tante Nova dan Om Martin membawa papa ke rumah sakit. Untung saja keadaan papa baik-baik saja. Tekanan darahnya yang turun dan berakibat tubuhnya tidak bertenaga. Ponselku dan ponsel papa tertinggal di rumah. Itulah kenapa aku tidak bisa menghubungi kamu. Tadinya aku menghubungi kamu dengan telepon rumah sakit, tetapi karena banyak sekali yang harus diurus mengenai kesehatan papa, jadinya tertunda dan nggak jadi." Adit membuang napas kasar, teringat dari semalam dirinya selalu sibuk.

__ADS_1


"Sekarang keadaan papa bagaimana, Mas? Kenapa tidak memberi kabar padaku?" tanya Riri yang terlihat begitu khawatir. Kalau tahu begitu, tadi kenapa tidak diundur saja pernikahan ini, tetapi kalau diundur takutnya juga akan menjadi masalah. Apalagi persiapan semuanya sudah selesai.


"Sekarang keadaan papa baik-baik saja. Beliau hanya perlu istirahat. Setelah acara ini aku mau jenguk papa dulu, sebelum nanti malam acara resepsi. Boleh, kan?"


"Aku ikut, ya, Mas. Bagaimana kalau acara resepsinya dibatalkan saja. Aku khawatir sama papa," ucap Riri yang memang benar-benar khawatir pada mertuanya. Apalagi dia juga belum melihat keadaan Papa Dimas.


"Jangan begitu, aku sudah merencanakan semua ini jauh-jauh hari. Papa juga pasti akan sangat marah kalau acaranya dibatalkan, hanya karena papa sakit. Tadi pagi saja papa yang paling cerewet agar aku segera berangkat. Tadi sebenarnya Tante Nova juga diminta ikut sama papa, tapi Tante Nova dan papa kan sama saja, sebelas, dua belas keras kepalanya jadi, akhirnya tante Nova yang menang dan tetap menunggu kabar di sana."


"Tapi, Mas. Aku khawatir dengan keadaan papa, kalau kita tetap melanjutkan pesta resepsi."


"Kamu jangan khawatir, ada Tante Nova yang akan selalu ada di samping papa. Dia juga orang yang galak jadi, papa pasti akan menuruti semua perintahnya," ucap Adit sambil terkekeh. Dia sangat ingat bagaimana perdebatan Tante Nova dan papanya. Keduanya sama-sama tidak ingin dikalahkan.


Riri sungguh merasa bersalah pada Adit dan mertuanya. Tadi pagi dia sempat berpikir yang tidak tidak mengenai mereka, tetapi sekarang malah mendapat kabar yang tidak mengenakkan. Tentang alasan keterlambatan sang suami. Andai saja pria itu bisa dihubungi, dia pasti tidak akan memiliki pikiran buruk.


Namun, semuanya sudah terjadi, semua tidak bisa diulang lagi. Ke depannya wanita itu berharap agar sang suami adalah orang yang bisa dipercaya. Apa pun keadaannya nanti dia hanya berharap Adit selalu berkata jujur, tanpa menutupi apa pun.


"Iya, tentu saja kita pamit, masa kita main pergi begitu saja. Nanti malah aku dibilang menantu yang tidak punya sopan santun lagi," ucap Adit dengan nada bercanda. "Sudahlah, sekarang kita lanjutkan saja makanya. Nanti kita bahas lagi setelah para tamu pulang. Sekarang nggak enak, kalau kita bicara sama Mama. Mama juga sepertinya sangat sibuk dengan teman-temannya."


Riri mengangguk dan kembali menikmati makannya.


Meski hatinya masih memikirkan keadaan Papa Dimas, tetapi sebisa mungkin wanita itu tetap merasa bahagia. Setelah para tamu menikmati makanannya, mereka pun pulang satu persatu. Tidak lupa juga, mengucapkan selamat menempuh hidup baru kepada pasangan pengantin. Adit dan Riri juga berterima kasih pada mereka karena sudah mau datang dan memberi doa.


Adit dan Riri pergi ke kamar Wanita itu. Keduanya ingin membersihkan diri. Pengantin wanita ingin melepas pakaiannya dan menghapus riasan. Dia tidak mungkin datang ke rumah sakit dengan memakai pakaian seperti itu. Pasti akan menjadi pusat perhatian di rumah sakit nanti.


Adit pun juga sama, dia mengganti pakaian yang sudah disiapkan oleh asistennya. Baru kali ini Riri melihat sang suami yang benar-benar seorang atasan. Biasanya pria itu akan melakukan segalanya sendiri. Namun, hari ini semua dilakukan oleh asistennya.

__ADS_1


"Kenapa kamu lihatin aku seperti itu, Sayang? Apa ada sesuatu yang aneh dalam diriku?" tanya Adit dengan memperhatikan dirinya di cermin. Sepertinya tidak ada yang salah, tetapi kenapa istrinya dari tadi menatapnya.


"Tidak ada, hanya saja aku merasa aneh dengan kehadiran kamu di sini. Apalagi ada asisten kamu itu, yang pastinya akan mengikutimu ke mana pun kamu pergi. Untung saja dia laki-laki, kalau perempuan bagaimana? Aku tidak bisa membayangkannya."


"Tidak juga, Sayang. Ada saatnya aku juga pergi sendiri dan melakukan semuanya sendiri, tapi aku memang terlalu sering pergi dengan asistenku itu."


Riri mengangguk dan tidak bertanya lagi. Adit pun memilih pergi ke kamar mandi, sementara Riri memilih untuk keluar. Dia ingin berbicara dengan mamanya terlebih dahulu, sebelum nanti pergi. Wanita itu juga perlu memberi kabar kepada Mama Rafiqah.


"Ma, aku mau bicara sebentar," ucap Riri saat melihat mamanya ada dia ruang keluarga. Beliau sedang berkumpul bersama dengan saudara yang lain. Wanita paruh baya itu berdiri dan beranjak dari sana.


"Ada apa?" tanya Mama Rafiqah begitu sampai di dapur bersama Riri.


"Habis ini aku mau pergi bersama dengan Mas Adit untuk menjenguk Papa Dimas. Tidak apa-apa 'kan kalau menjenguknya?"


"Memangnya papanya Adit kenapa?"


"Papa Dimas semalam pingsan dan sekarang ada di rumah sakit. Dia di sana sama Tante Nova karena itu juga, yang membuat Mas Adit tadi pagi terlambat. Dia harus mengurus segala hal untuk Papa Dimas sebelum pergi. Meskipun sekarang ada Tante Nova di sana, tapi tetap saja Mas Adit masih khawatir. Dia ingin tahu keadaan papanya."


"Kenapa kamu tidak memberitahu Mama? Pantas saja tadi pagi terlambat, Mama tadi cari mertuamu juga tidak ada. Mama sampai berpikir buruk tentang mereka, ternyata mereka memang sedang terkena musibah."


"Aku juga baru tahu tadi, Ma."


"Ya sudah, kamu pergi saja, jangan lupa sampaikan salam Mama pada mertuamu dan juga Mama minta maaf karena masih belum bisa menjenguk."


"Iya, Ma. Nanti akan saya sampaikan."

__ADS_1


.


.


__ADS_2