
"Silakan diminum," ucap Maysa sambil meletakkan dua gelas teh yang dia bawa tadi.
Wanita itu duduk di samping sang suami di sofa panjang, sementara Rafka duduk di sofa tunggal di sebelah Tama. Sedari tadi Maysa bisa melihat kegelisahan yang dirasakan mantan suaminya, tetapi dia berusaha untuk tidak peduli.
"Jadi ada apa Kak Rafka mencariku, apa ada sesuatu yang penting?" tanya Maysa memecah keheningan.
"Begini ... saya ... saya mau meminjam rumah rumah yang dulu kita tempati."
"Meminjam rumah? Meminjam buat apa? Bukan Kak Rafka sudah tinggal di kontrakan bersama dengan istrinya? Kak Rafka dan aku juga sudah sepakat untuk tidak menepati rumah itu, kan? Kenapa sekarang tiba-tiba berubah pikiran?"
Rafka terlihat gelisah. Maysa benar-benar tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh pria itu, mudah sekali berubah-ubah pikiran. Wanita itu sudah memperkirakan hal ini akan terjadi, tetapi dia tidak menyangka akan secepat ini.
"Sebenarnya saya ingin meminjam dalam artian, saya ingin menjualnya terlebih dahulu. Nanti saat saya sudah memiliki uang, saya akan membelikan untuk Eira lagi."
Maysa begitu terkejut, hingga melototkan matanya. Begitu juga dengan Tama yang sama-sama terkejut. Namun, pria itu masih bisa mengendalikan ekspresinya. Mereka tidak mengerti kenapa Rafka sampai nekat ingin menjual rumah itu.
"Apa maksudmu? Kenapa harus menjual rumah itu? Kamu tahu 'kan kalau tanah rumah itu adalah pemberian dari orang tuaku. Memang rumahnya kita yang membangun bersama, tetapi kita juga sudah sepakat untuk memberikan rumah itu pada Eira. Sekarang kamu ingin menjualnya! Apa kamu tidak punya sedikit rasa malu saja saat mengatakan hal itu?" tanya Maysa yang sudah sangat emosi.
Bagaimana bisa pria itu bersikap seenaknya. Mereka sudah berjanji untuk tidak lagi mengungkit masalah rumah itu, tetapi Rafka sendiri yang datang ke sini mencarinya dan berniat untuk meminjamnya untuk dijual. Jika itu meminjam untuk ditempati, Maysa masih bisa mentoleri, tetapi ini dijual.
Untuk nafkah Eira saja Rafka tidak mampu, apalagi harus membelikan rumah nantinya. Maysa juga tidak tahu untuk apa Rafka menjual rumah itu. Yang ada dalam pikiran wanita itu, pasti uangnya untuk Vida dan anaknya dan dia tidak akan ikhlas.
"May, aku benar-benar membutuhkan uang. Tolong aku, aku janji akan menabung dan membelikan Eira rumah itu kembali."
__ADS_1
"Aku tidak butuh janji itu. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah memberikan rumah itu padamu. Rumah itu bukan lagi milik kamu, apa lagi milik istri dan anak kamu itu," ucap Maysa dengan ketus.
Dia tidak rela hasil keringat yang dihasilkannya dulu, kini harus dipakai oleh orang-orang seperti mereka. Sampai detik ini, wanita itu bahkan masih sangat mengingat setiap luka yang mereka berikan. Ditambah kekecewaan Eira kemarin, semakin menambah luka di hati Maysa.
"May, ini demi nyawa anakku. Aku mohon padamu untuk bermurah hati pada anakku. Dia masih kecil, belum mengerti apa-apa."
Maysa menatap Rafka, entah kebohongan apalagi yang pria itu rancang demi memuluskan rencananya. "Kamu mau menceritakan kebohongan apalagi? Jangan bawa-bawa nyawa anakmu, takutnya nanti malah akan kejadian."
"Aku tidak berbohong, anakku memang sedang sakit. Dia harus dioperasi karena mengalami gagal jantung. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa datang ke rumah sakit. Aku sangat membutuhkan banyak uang untuk biaya operasinya jadi, aku mohon padamu, tolong pinjamkan aku ke rumah Eira. Setelah aku memiliki uang, aku akan membeli rumah itu kembali," ucap Rafka dengan sungguh-sungguh.
Kali ini Maysa juga bisa melihat kesungguhan itu. Namun, melepaskan rumah yang bukan haknya, itu sangat berat untuk wanita itu. Dia juga tidak yakin apakah bisa mengembalikannya atau tidak.
"Rumah itu sudah bukan hak kita lagi. Apa pantas aku memberikannya padamu dan kamu menjualnya?"
"Janji? Janji seperti apa yang kamu maksud? Aku tidak yakin kamu bisa mengembalikannya. Nafkah untuk Eira saja kamu tidak mampu, apalagi untuk membelikan rumah."
"May," tegur Tama.
Dia tidak suka mendengar kalimat istrinya yang seperti menghina itu. Sebesar apa pun emosi Maysa, Tama tidak mau wanita itu sampai melontarkan kata yang tidak pantas. Bagaimanapun pria itu sangat mengerti perasaan Rafka karena Tama juga seorang ayah.
"Mas, aku hanya mengatakan yang sejujurnya. Bukan berarti aku mengharapkan dia untuk menafkahi Eira. Aku juga masih mampu untuk memberi nafkah putriku. Aku hanya ingin menyadarkannya bahwa dia itu laki-laki yang tidak berguna. Yang hanya memikirkan diri sendiri, tanpa mengetahui kesulitan orang lain."
"Maysa!" teriak Tama membuat Maysa terkejut.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya pria itu membentaknya dan itu karena membela orang yang sangat dia benci. Hati Maysa sangat terluka, tetapi sebisa mungkin dia terlihat baik-baik saja. Dia bukan wanita lemah yang hanya bisa menangisi nasib. Apalagi saat ini dirinya sedang mempertahankan hak putrinya.
Rafka jadi merasa tidak enak karena dirinya, Tama sampai marah pada Maysa. Dia datang hanya untuk meminta pertolongan, tidak ada tujuan lain. Suasana ruang tamu tiba-tiba menjadi hening. Hingga suara Rafka kembali terdengar.
"May, aku tahu kesalahanku padamu sudah sangat banyak, tapi untuk kali ini saja, aku mohon padamu agar mau meminjamkan rumah itu. Anakku benar-benar membutuhkan uang. Aku tidak tahu lagi harus meminjam pada siapa. Datang ke bank juga aku tidak punya jaminan apa pun. Mobil sudah aku jual untuk pemeriksaan anakku kemarin. Yang tersisa kini hanya motor butut itu. Jika aku juga menjualnya juga, bagaimana aku bisa bekerja mencari uang untuk keluargaku? Aku juga harus mencari uang untuk pengobatan anakku."
Rafka masih memohon pada Maysa. Dia yakin wanita itu pasti mau membantunya. Saat ini Maysa hanya ingin meluapkan kekesalannya yang selama ini ditahan. Pria itu sangat tahu jika mantan istrinya adalah orang baik jadi, pasti akan membantu meski sedikit alot.
Dulu saat bersama Maysa, Rafka tidak pernah memikirkan apakah keluarganya sudah makan atau belum. Sekarang lihatlah, dunia sudah terbalik. Selama ini dirinyalah yang harus memikirkan segala hal tentang rumah tangga. Jika mengingat semua itu, hanya akan menambah sakit hati saja.
"Keputusanku sudah bulat. Aku tidak akan memberikan rumah itu. Selain itu hak tanah yang dipakai juga pemberian almarhum ayah. Itu hasil kerja keras ayah. Aku tidak mau menjualnya. Itu sama saja aku tidak menghargai kerja keras ayah selama ini. Terserah padamu jika mengatakan aku tidak memiliki hati, tapi itulah keputusanku. Aku tidak akan mengubahnya, apa pun yang terjadi," ucap Kinan dengan yakin.
Dia benar-benar tidak ingin menjual rumah itu. Meskipun rumah itu menyimpan kenangan buruk, tetapi itu adalah hasil keringat ayahnya. Dia bahkan sudah berencana ingin membongkar bangunan lama, kemudian membangun kembali kenangan baru untuk sang putri di masa depan.
Rafka menundukkan kepala dengan mata berkaca-kaca. Dia sudah tidak memiliki jalan lain. Pria itu tidak mungkin datang kepada orang tuanya. Mereka juga semua tidak memiliki apa-apa. Mungkin ini juga bentuk karmanya karena sudah menelantarkan istri dan anaknya dulu. Bahkan hingga kini dia tidak pernah memberi nafkah kepada putrinya.
"Bagaimana kalau aku yang membeli rumah itu," ucap Tama membuat Maysa dan Rafka menatap ke arah pria itu.
Maysa sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Tama. Apakah pria itu ingin merendahkan dirinya karena uang yang dia miliki. Mungkinkah ada hal lain yang tidak dimengerti.
"Maksud kamu berkata seperti itu apa, Mas? Aku tahu kamu punya banyak uang. Bukan berarti kamu bisa membeli rumah itu. Aku tidak akan pernah menjual rumah itu sampai kapan pun. Sudah aku katakan dari tadi, kan?" ujar Mahesa dengan nada kecewa pada sang suami.
.
__ADS_1
.