Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
115. Demamnya turun


__ADS_3

"Tentu saja Mama akan selalu sehat agar bisa melihat kalian menikah. Bahkan sampai nanti kalian memiliki anak," ucap Mama Rafiqah dengan tersenyum.


Dia bisa merasa senang jika Riri sudah sampai tahap itu. Artinya wanita itu sudah bisa hidup dengan tenang. Mama Rafiqah tidak lagi menanggung wasiat, yang diamanahkan padanya oleh almarhum suaminya. Dia juga bisa mempertanggungjawabkannya nanti di akhirat, saat almarhum suaminya bertanya.


"Amin, semoga apa yang Mama doakan segera terwujud. Aku juga sudah tidak sabar menantikan hari itu," sahut Adit dengan tersenyum.


Cukup lama pria itu mengobrol dengan calon mertuanya, hingga akhirnya dia memutuskan untuk pamit pulang. Adit masih harus mengerjakan email yang dikirim oleh asistennya, tadi saat siang. Pria itu memang berbohong pada Riri mengenai pekerjaan jadi, terpaksa malam ini dia harus rela lembur.


"Ma, aku pulang dulu," pamit Adit yang kemudian berdiri dari duduknya.


"Kamu nggak mau nungguin Riri dulu? Dia sedang mandi."


"Tidak perlu, Ma. Nanti tolong sampaikan saja salamku untuknya. Aku langsung pulang."


"Baiklah, hati-hati di jalan. Jangan ngebut!"


"Iya, Ma." Adit pun mencium punggung tangan wanita paruh baya itu dan pergi meninggalkan rumah calon istrinya.


Mama Rafiqah mengantar Adit sampai depan rumah, hingga mobil pria itu melaju dan tidak terlihat. Detik itu juga Riri keluar rumah dengan celingukan. Pasti gadis itu mencari keberadaan calon suaminya.


"Mas Adit mana, Ma?" tanya Riri pada mamanya, saat wanita paruh baya itu berjalan masuk ke rumah.


"Sudah pulang?"


Riri menghela napas, tadi dia memang sudah mendengar suara mobil. Namun, wanita itu mengira jika itu adalah tetangganya yang sedang pergi. Ternyata itu adalah mobil Adit yang pulang, tanpa berpamitan dengannya. Bukan masalah yang besar, tetapi tetap saja Riri kesal.


Apa salahnya menunggu dia sebentar. Kalau tahu calon suaminya buru-buru pulang, tadi dia tetap menunggu di sana saja. Gadis itu pikir Adit mau makan malam di sana.

__ADS_1


"Iya, mungkin dia masih ada pekerjaan. Sepertinya dia buru-buru. Apa tadi kamu memaksa dia untuk mengantar kamu pergi?" tanya Mama Rafiqah dengan menatap putrinya dengan saksama.


"Tidak, Ma. Aku tidak memaksanya, justru dia yang memaksaku agar pergi bersamanta. Tadi aku sempat bertanya mengenai pesta pernikahan kami. Mungkin dia tahu kalau aku penasaran dengan pesta pernikahan kita nanti. Jadi dia mengajakku ke kantor EO-nya."


"Benar seperti itu?" Mama Mirna tidak ingin putrinya merepotkan calon menantunya. Dia takut itu akan menjadi kebiasaan. Meskipun Adit sudah mengatakan tidak apa-apa, tetap saja wanita paruh baya itu tidak suka.


"Iya, Ma. Kemarin 'kan aku cuma mengatakan beberapa hal saja, tentang rencana pernikahanku nanti. Jadi Mas Adit mengerti apa yang aku inginkan dan mengajakku pergi ke sana. Padahal aku sudah sempat menolak jika dia punya banyak pekerjaan, tapi dia bilang tidak apa-apa jadi, ya sudah kita pergi saja."


"Ya sudahlah, Mama mau lanjutkan masak. Nanti kita makan malam sama-sama."


"Mama sudah masak? Aku sudah berapa kali bilang sama Mama. Kalau masak tunggu aku pulang, Mama itu jangan terlalu capek. Lebih baik Mama olahraga, di ponsel Mama juga banyak video olahraga untuk wanita seusia mama. Lebih baik diputar dan tirukan, daripada Mama masih sibuk di dapur."


"Sama saja, masak juga gerak. Lagian Mama juga tidak apa-apa, justru Mama capek banget kalau senam-senam seperti itu. Gerakannya juga nggak jelas," gerutu Mama Rafiqah.


"Nggak jelas yang bagaimana? Mama saja yang belum terbiasa, nanti lama-lama juga sudah biasa," sahut Riri yang tidak mendapat tanggapan dari mamanya.


Setelah semua masakan selesai dan sudah terhidang di meja makan. Keduanya pun menikmatinya dengan tenang. Sesekali Mama Rafiqah bertanya, tentang apa saja yang Riri tahu mengenai pesta pernikahan nanti. Dia berharap semuanya lancar tanpa kendala apa pun.


"Ri, uang yang mana kasih kemarin ke Adit, pasti tidak ada apa-apanya untuk pesta itu. Dari cerita kamu sepertinya pestanya sangat mewah sekali. Mama sudah nggak ada uang, tadi itu uangnya tabungan Mama. Semuanya sudah nggak ada lagi. Apa kita jual tanah yang sebelah rumah saja, buat dikasih ke Adit," ucap Mama Rafiqah.


"Janganlah, Ma. Itu 'kan tabungan untuk Mama, aku masih ada uang. Nanti Mama bisa kasih ke Mas Adit. Kalau aku yang kasih, Mas Adit pasti menolak jadi, lebih baik Mama saja yang memberikannya. Nanti aku transfer ke rekening Mama, terus Mama yang transfer ke rekening Mas Adit. Begitu saja biar Mas Adit nggak tahu kalau itu uang aku."


Riri tidak mungkin tega mengambil tanah milik mamanya. Meskipun tanah itu nanti akan menjadi miliknya, tetapi dia tidak sampai hati memintanya, disaat Mama Rafiqah begitu banyak menghabiskan waktu di sana. Entah itu untuk menanam tanaman atau hanya sekadar berdiam diri saja.


"Tapi bagaimana dengan kamu? Nanti kamu nggak ada simpanan apa-apa."


"Tidak apa-apa, Ma. Aku masih ada beberapa perhiasan juga. Nanti kalau aku butuh aku bisa menjualnya. Dulu Mama sering bilang, kalau aku juga harus menabung dengan membeli perhiasan jadi, aku punya beberapa. Semoga saja nanti bermanfaat juga."

__ADS_1


"Amin, semoga saja. Ya sudah, lanjutkan saja makannya. Nanti dilanjut lagi ngobrolnya."


Keduanya pun menikmati makan malam hingga selesai. Seperti biasa Riri yang selalu membersihkan piring bekas, sementara Mama Rafiqah menyimpan beberapa makanan yang masih tersisa. Mereka memang tidak pernah membuang makanan begitu saja. Sekalipun itu hanya tersisa sedikit, pasti akan disimpannya untuk besok.


Setelah semua pekerjaan selesai, keduanya masuk ke dalam kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Sebenarnya Mama Rafiqah masih ingin berbincang dengan Riri. Namun, melihat wajah lelah putrinya, wanita paruh baya itu pun mengurungkan niat itu. Dia bisa berbicara besok lagi, saat keadaan Riri lebih segar.


***


Azan subuh berkumandang, membangunkan Maysa yang saat ini berada dalam pelukan sang suami. Wanita itu menggeliatkan tubuhnya. Namun, terasa berat. Dia pun mencoba membuka mata, ternyata ada sebuah tangan yang memeluk pinggangnya. Maysa sudah bisa memprediksi siapa pemilik tangan tersebut.


Siapa lagi kalau bukan sang suami. Wanita itu mencoba memeriksa suhu tubuh sang suami. Dia bersyukur karena panasnya sudah turun. Sebelumnya Maysa sangat takut jika demam yang dialami Tama tidak turun juga. Sekarang wanita itu bisa bernapas lega.


"Mas, bangun! Sudah subuh ini, nanti kamu kesiangan. Ayo, kita salat berjamaah." Maysa menggoyangkan tubuh sang suami.


Tama menggeliatkan tubuhnya, mencoba untuk menyadarkan dirinya terlebih dahulu. Pria itu beberapa kali mengedipkan matanya. Berusaha untuk membuka mata dan melihat ke sekeliling, ternyata sang istri yang sudah membangunkan.


"Sayang, ada apa?"


"Ini sudah subuh, Mas. Ayo kita bangun! Nanti kita kehabisan waktu buat salat," ajak Maysa yang diangguki oleh Tama. "Kamu cuci muka saja, Mas. Jangan mandi dulu, demam kamu baru saja turun."


"Iya, ini aku juga cuci muka," sahut Tama sambil berjalan menuju kamar mandi.


Maysa pun mengikutinya, wanita itu juga ingin mencuci muka dan mengambil air wudhu. Tidak lupa juga dia membangunkan anak-anak untuk salat bersama. Sekalian Maysa ingin mengajari anak-anaknya, tentang kewajiban sebagai seorang muslim.


Setelah selesai, mereka salat berjamaah dengan Tama sebagai imam.


.

__ADS_1


.


__ADS_2