
"baiklah kalau tak ada yang ingin mengaku lagi, Sagara buat yang lain menyesal karena berani menantang ku," kata Gabriel meninggalkan ruang rapat.
"baik tuan muda," jawab Sagara.
Gabriel sudah pergi dan di ikuti oleh Anya, Gabriel menuju ke ruangannya, dan Anya memberikan laporan cabang perusahaan.
"tuan anda ada rapat dengan pemegang saham siang ini," kata Anya.
"baiklah, dan jangan membuat kesalahan sedikit pun, dan ingat sebelum rapat selesai jangan berani mengangguku," kata Gabriel menginggat kan Anya.
"baik tuan," Anya pergi dari ruangan milik Gabriel.
sedang di sekolah, Danish sedang bersama Puri di kantin dan tak lama Daniyal pun bergabung bersama mereka.
"woy dari mana lu, habis nyosor yang mana nih, adek kelas apa kakak senior?" tanya Danish.
"cih nyosor pale lu, gue habis dari ruang BK tau," jawab Daniyal kesal.
"kenapa kamu di panggil BK, kamu gak bikin masalah kan?" tanya Puri.
"gak kok cuma di suruh ikut lomba karate tingkat provinsi, padahal aku malas," jawab Daniyal.
"hu.. kamu ini, aku pikir kamu kena masalah, emang kenapa gak mau, bukankah kalian begitu hebat dalam karate?" tanya Puri menatap kedua sepupunya itu.
"ya gak seru, karena kita gak bisa menghajar musuh sampai nyerah, kami tuh lebih suka tarung bebas," jawab Danish.
"bener itu," tambah Daniyal sambil menyiapkan bakso milik Puri ke mulutnya.
saat Daniyal mengunyahnya, dia langsung kepedasan,sedang Danish dan Puri tertawa melihat Daniyal.
"gila, minta air dong, pedes nih," panik Daniyal yang langsung meminum es teh milik Danish.
"salah sendiri main ambil makanan orang aja, emang enak," kata Puri.
"gila lu, itu bakso apa sambel sih pedes banget, untung gue cuma makan satu doang pentolnya," kata Daniyal yang kembali meminum es teh itu.
mereka pun tertawa bersama, ya Puri selalu dapat perlindungan dari kedua sepupunya itu.
setelah makan siang mereka kembali ke kelas, sedang Gabriel juga sudah memulai rapat dengan para pemegang saham.
Sagara yang menemani Gabriel di dalam, sedang Anya menjaga agar tak ada orang yang menganggu Gabriel.
pukul dua siang ketiga murid SMA itu baru keluar dari kelas mereka, dan sedang binggung ingin kemana.
"mau kemana nih? nongkrong apa pulang?" tanya Danish.
__ADS_1
"enaknya kita nongkrong dulu aja yuk, lagi pula di rumah tak ada orang," jawab Daniyal.
"Yap kamu benar, lagi pula bunda Bella juga sibuk di yayasan, dan papa Billy juga kan," kata Puri.
"ya karena itu sepupu kami yang cantik, kami yang akan menjaga mu, lagi pula baru seminggu lagi kan ayah Angga dan bunda Mega pulang," kata Daniyal.
"ya mereka masih sibuk dengan acara amal dan usaha milik ayah di Jakarta," jawab Puri.
"okelah kalau begitu kita putuskan untuk mampir ke resto biasanya aja, baru kita main ke kantor kak Gabriel," kata Danish.
"setuju," teriak Puri dan Daniyal bersama.
ketiganya menuju ke restoran tempat mereka biasanya nongkrong, di sana ternyata ada teman-teman Puri dari tempat bimbingan baca Alquran.
akhir nya mereka pun berkumpul bersama, bahkan Puri merasa begitu bahagia dan mulai perlahan melupakan kesakitan nya.
sedang di Surabaya, Daniel terpaksa mengunakan masker dan baju hitam, karena tak ingin mengambil resiko.
Daniel memanjatkan doa untuk semua keluarga Wijaya yang sudah tenang di sana, bahkan Danie bisa melihat kesedihan di wajah eyang Andini.
"mas Andi, aku ingin segera menyusul mu, aku terlalu lelah dengan kehidupan ku," kata eyang Andini.
"eyang ingin meninggalkan Adelia sendiri seperti ayah,"kata Adelia bergetar di samping eyang Andini karena menahan tangis.
"eyang bisa tinggal bersama kami, menghabiskan masa tua eyang di sini, lagi pula sebentar lagi Gabriel akan berkunjung bersama Daniyal, Danish dan Puri ke Surabaya," kata Daniel.
"iya Daniel, eyang akan mempertimbangkan permintaan mu ya nak," kata eyang Andini.
mereka pun memilih pulang, tapi saat akan pergi tak sengaja Adelia di tabrak oleh seorang wanita berpakaian rumah sakit.
bahkan wanita itu tak meminta maaf tapi langsung menuju ke makam milik asisten Angga Sastrawinata.
"kamu baik-baik saja sayang?" tanya Daniel membantu Adelia.
"iya sayang, tapi dia siapa kenapa bisa keluar dengan baju rumah sakit?" binggung Adelia melihat wanita itu.
"mungkin dia ingin memastikan sesuatu, ayo pulang," ajak eyang Andini.
Daniel mengajak Adelia menuju ke mobil, tapi Adelia sempat melihat wanita itu berhenti di makam ayah dari suaminya.
dan melihat wania itu menagis di sana bahkan terlihat begitu memilukan saat itu, "sayang itu makam ayah," kata Adelia menahan Daniel.
"mungkin dia orang yang mengenalnya, tak usah di pikirkan," kata Daniel berubah datar.
"tapi dia terlihat begitu sedih sayang, bahkan dia menciumi batu nisan ayah," kata Adelia.
__ADS_1
"Adelia ayo pulang," suara datar Daniel membut Adelia pun menurut.
Daniel tau jika Andhara yang menabrak istrinya itu, tapi Daniel sedang tak ingin berurusan dengan Andhara saat ini.
benar saja tak lama ada rombongan Ardi dan para pengawal datang dan memaksa Andhara pergi dari makam itu.
Daniel membuka bagasi mobil dan melepaskan elang milik sang ayah, elang itu langsung terbang berputar di sekitar Andhara.
Andhara menginggat burung elang itu, dia kembali menginggat kenangannya bersama asisten Angga.
Andhara sedang membawa kopi pagi itu, sedang asisten Angga sedang bermain dengan burung elang miliknya.
"mas ini kopinya di minum dulu," kata Andhara yang meletakkan gelas itu di meja.
"iya sayang, dan kemarilah, aku ingin kau melihat hewan kesayangan ku," kata asisten Angga.
Andhara mendekat ke arah asisten Angga, asisten Angga mencium pipi Andhara saat sampai di sisinya.
"ini burung elang kan?" tanya Andhara.
"ya, dan dia yang akan menjaga mu dan putra kita nanti," kata asisten Angga.
"aduh, terus kamu mau kemana? kenapa sampai harus elang ini yang menjaga kami," jawab Andhara menahan tawanya.
"umur tak ada yang tau sayang, oh ya putra kuat ayah, ini adalah hewan kesayangan ayah jadi kamu akan merawatnya nanti," kata asisten Angga di depan perut buncit Andhara.
"aduh ayah yang tampan, emang burung elang nya bisa bertahan sampai umur berapa, kok putra kita harus memeliharanya?" tanya Andhara.
"apa kamu tau sayang burung elang bisa bertahan sampai umur 40 tahun bahkan lebih," jawab asisten Angga.
(maaf informasi dari google ya, jika ada kesalahan maaf๐๐๐๐)
"baiklah ayah, nanti saat putra kita lahir dia akan menjaga burung kesayangan mu ini," kata Andhara tersenyum.
"rimba, kamu harus bersama mereka berdua saat aku tak bisa di sisi mereka ya," kata asisten Angga.
seakan mengerti elang "rimba" itu melebarkan sayap nya ke arah Andhara dan asisten Angga.
Andhara kembali menangis saat melihat elang itu terbang berputar di sekelilingnya, Daniel menghampiri Adelia.
"sayang aku ada urusan sebentar, kamu dan eyang tunggu sebentar ya," pamit Daniel.
"oke sayang," jawab Adelia memberikan finger love ke arah Daniel.
Daniel pun berjalan menghampiri Andhara dan para pengawal yang di bawa Ardi dengan tatapan tajam.
__ADS_1