
Daniel sedang berdiri di depan seorang pria yang di gantung secara terbalik.
Daniel pun menyiram pria itu dengan air es, bahkan di cuaca dingin kota itu, air es bisa membuat membeku.
"uhuk... uhuk..." pria itu tersadar tak kaget melihat dirinya sudah di gantung terbalik.
dan di sisi yang lain ada dua pria yang sudah di ikat pada tiang besi.
"kamu sudah sadar, bagaimana sudah bersih otak mu, atau aku harus mengeluarkan benda yang tak kau gunakan itu, setidaknya itu akan laku untum di jual sebagai makanan kan," kata Daniel yang menikmati rokok miliknya.
"apa yang kamu inginkan," tanya pria itu ketakutan.
"ha-ha-ha, aku menginginkan lidah dan kedua tangan mu, atau jika perlu nyawamu, karena berani menggoda istriku, dan ingin memilikinya," kata Daniel mendekat dan langsung menggoreskan pisau itu ke tubuh pria itu.
"kau lagi-lagi memulainya tanpa aku bung," kata Gabriel dan Sagara yang baru datang.
"ampuni aku tuan, aku mohon, aku hanya bercanda tadi," kata pria itu memelas.
"tapi aku tak suka bercanda, apalagi saat kau menatap mesum kearah istriku," jawab Daniel yang langsung menggorok pria itu dengan mudah.
"bereskan, dan jadikan makanan hewan peliharaan ku," kata Daniel menghapus bekas darah di tangannya.
"kau makin sadis saja bung," kata Gabriel duduk di ruangan itu.
__ADS_1
"aku tak ingin siapapun melecehkan istriku, dan hukuman yang pantas hanya maut," jawab Daniel.
"baiklah terserah dirimu, dan Sagara tolong buka penutup mata dua orang itu, dan bangunkan mereka," kata Gabriel yang sekarang berdiri di antara keduanya.
Sagara pun di bantu Daniel menyiramkan air es kearah keduanya.
kedua pria itu pun sadar dan merasa kedinginan, mereka pun terkejut melihat Gabriel yang berada di depan mereka.
"baiklah, aku akan bertanya langsung saja, siapa yang memberikan kalian keberanian menyebarkan berita tentang istriku," tanya Gabriel.
"kaki hanya disuruh," jawab keduanya.
"kalian tau itu apa," tunjuk Gabriel pada sepatu kuda yang sudah di bakar di bara api yang begitu panas.
"Sagara tunjukkan pada mereka hukuman apa yang mereka dapat dengan merahasiakan nama pria yang menyuruhnya," perintah Gabriel.
"panas!" teriak keduanya.
sedang Daniel tak peduli dan hanya tersenyum sekilas, ke-dua orang itu pun kesakitan.
"siram dengan air garam," perintah Gabriel.
sekarang ruangan itu kembali terdengar suara teriakkan cukup memekakkan telinga.
__ADS_1
"potong lidah keduanya, dia membuatku sakit telinga," perintah Daniel.
pengawal Daniel pun melaksanakan itu, "tunggu, aku masih butuh saru nama!" bentak Gabriel.
"juragan Wisnu, dia yang memerintahkan kami," jawab seorang pria.
"dua belum tau siapa musuhnya, baiklah biar aku tunjukkan padanya, dan untuk kalian, bereskan saja sampah masyarakat itu," kata Gabriel.
kini para pengawal yang melakukan bagian terakhir, kedua pria itu tidak akan menyisakan sedikitpun bukti.
"Sagara, aku pulang kamu pasti mengerti apa yang harus di lakukan bukan,'' kata Gabriel.
"baik tuan," jawab Sagara.
Daniel melemparkan dua buah cairan, "minuman pada mereka, dan besok akan hanya tertinggal abunya," kata Daniel.
Sagara mengangguk, setelah dia orang itu pergi Sagara membereskan kekacauan itu.
Daniel mengantarkan Gabriel dahulu, baru pulang, Gabriel pun langsung masuk dan menuju kamar mandi.
setelah membersihkan dirinya dan bajunya, Gabriel pun membakar baju itu.
"kamu sedang apa mas? dan darimana?" tanya Husna yang terbangun.
__ADS_1
"aku hanya dari tempat Daniel, baju itu kotor dan aku malas membersihkannya," jawab Gabriel.
Husna pun memicingkan matanya melihat suaminya itu, pasalnya Husna tau siapa Daniel dan Gabriel yang bila bersama maka bisa membahayakan siapapun musuh mereka.