
"Bu Nadia?" Ulang Maysa sambil mengerutkan keningnya.
Beberapa hari yang lalu dia memikirkan wanita itu, berharap bisa datang ke butik beliau untuk berkunjung dan menanyakan kabar. Bagaimanapun juga Maysa bisa seperti ini karena bantuan dari beliau. Sekarang Bu Nadia malah datang ke sini. Rasanya wanita itu seperti orang yang tidak tahu terima kasih saja.
Namun, ada yang aneh di sini. Tidak biasanya wanita itu datang tanpa pemberitahuan. Pasti ada sesuatu yang penting, entah apa itu.
"Suruh masuk saja, Ri. Bu Nadia datang sendiri, kan?" tanya Maysa.
"Iya, Kak, tapi sepertinya Bu Nadia sedang sedih, nggak tahu karena apa."
"Ya Sudahlah, suruh saja masuk."
Maysa penasaran, apa yang membuat Bu Nadia sedih. Selama dia mengenal Wanita itu, tidak pernah sekalipun menunjukkan, apa yang dia rasakan kepada orang lain, tetapi kini bahkan Riri melihat kesedihan dalam diri Bu Nadia. Kira-kira apa yang terjadi padanya.
Riri berjalan keluar, tidak berapa lama gadis itu datang bersama dengan Bu Nadia. Benar apa yang dikatakan gadis itu tadi, jika tamu yang datang saat ini terlihat begitu sedih. Entah apa yang membuat wanita itu bersedih. Maysa pun meminta Riri untuk keluar, begitu juga dengan Tama.
Dia yakin pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh mantan atasannya itu. Maysa mengambilkan air minum yang ada di ruangannya. Dia memilih duduk di samping Bu Nadia.
"Bu, apa terjadi sesuatu? Kenapa Ibu seperti ini?" tanya Maysa dengan pelan, membuat air mata Bu Nadia yang sedari tadi sudah ditahan akhirnya tumpah juga.
Maysa yang tidak tega pun akhirnya memeluk wanita itu. Orang yang sudah menolongnya hingga dirinya bisa seperti sekarang ini. Dia juga sudah menganggap Bu Nadia seperti keluarga sendiri. Memang akhir-akhir ini komunikasi mereka sangat jarang. Namun, bukan berarti Maysa melupakan jasa-jasa Bu Nadia.
__ADS_1
Dia membiarkan Bu Nadia meluapkan emosinya. Maysa yakin jika mantan atasannya itu sudah menahannya sejak tadi. Hanya saja belum menemukan tempat yang tepat untuk mengeluarkannya.
Setelah dirasa cukup menumpahkan segala apa yang dia rasakan, Bu Nadia mengurai pelukan Maysa. Wanita itu mengusap sisa-sisa air mata yang ada di wajahnya. Maysa membantu dengan mengambilkan tisu yang ada di meja.
"Bu Nadia kenapa? Apa ada sesuatu yang sudah terjadi?" tanya Maysa pada wanita yang ada di depannya.
Bu Nadia menarik napas dalam-dalam. "Saya ditipu, May.”
Satu kalimat dari Bu Nadia membuat Maysa mematung. Dia masih belum mengerti arah pembicaraan dari wanita itu. Ditipu maksudnya yang seperti apa. Dalam hal materi atau kepercayaan.
"Maksud ibu apa? Ibu ditipu sama siapa dan bagaimanakah kejadiannya?"
Air mata Bu Nadia kembali menetes saat akan bercerita. "Kamu masih ingat 'kan waktu kasus kain yang tidak sesuai itu. Saat itu ada supplier kain datang ke butik. Dia menawarkan barang yang sangat bagus dengan harga yang murah saat itu. Tentu saja aku sangat tergiur, apalagi mereka menawarkan dengan harga separuh untuk DP. Awalnya semua baik-baik saja, hingga tiga kali pembelian semuanya baik. Namun, yang keempat mereka meminta DP di awal dan kali ini tidak boleh ambil sedikit. Mereka meminta untuk ambil kain dalam jumlah yang banyak dan uang di muka. Kalau tidak mau, mereka akan memberhentikan aku sebagai member."
"Pembeli di tempat mereka selalu dibilang member. Meskipun itu pembeli baru. Saat itu aku tidak punya pilihan lain selain menurutinya karena hanya mereka, yang memiliki kualitas kain yang sangat bagus dengan harga yang terjangkau. Namun, ternyata mereka sudah membawa lari uang kami. Tidak ada pengiriman kain yang datang lagi. Saat aku menghubungi mereka, nomornya sudah tidak aktif. Aku datangi ke kantor pusatnya, ternyata itu hanya sewaan yang disewa sementara. Aku tidak tahu harus berbuat apalagi. Itu adalah modal usahaku yang terakhir. Aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Semuanya sudah aku berikan kepada mereka dengan jumlah yang besar."
Tangis Bu Nadia semakin keras. Maysa jadi tidak tega melihatnya. Pelakunya memang benar-benar tidak memiliki hati.
"Bagaimana bisa mereka menipuku seperti ini. Sekarang aku hanya punya uang untuk menggaji para karyawan. Setelah itu sudah tidak ada lagi, usahaku benar-benar akan gulung tikar," lanjut Bu Nadia.
Maysa begitu terkejut dengan apa yang diceritakan oleh Bu Nadia. Dia tidak menyangka hal itu bisa terjadi pada wanita sebaik dirinya. Namun jika dipikir lagi, ini adalah musibah yang bisa datang pada siapa pun. Yang tidak Maysa habis pikir adalah, begitu teganya mereka berbuat hal itu pada orang sebaik Bu Nadia.
__ADS_1
"Bu, aku tidak memiliki banyak uang. Biar nanti aku coba minta bantuan pada suamiku, mudah-mudahan dia bisa bantu."
"Bukan begitu, May. Aku datang ke sini hanya untuk kerja sama kamu. Biar aku jadi pegawai kamu saja. Aku bukan datang untuk meminta belas kasihan kamu," ujar Bu Nadia yang tidak ingin Maysa salah mengartikan kedatangannya.
"Bu aku bukan mengasihi Ibu, tapi anggap saja kalau aku membalas jasa Ibu selama ini."
"Tidak, May. Aku tidak mau seperti itu. Selama ini aku baik sama kamu itu karena aku sudah menganggap kamu seperti adikku sendiri. Tidak ada tujuan lain."
Maysa berpikir sejenak, untuk memikirkan cara agar Bu Nadia mau menerima tawarannya. "Bu, bagaimana kalau begini saja. Nanti aku pinjamkan uang sama Ibu, saat nanti Ibu sudah bisa mengumpulkan uangnya, Ibu bisa bayar sama aku. Seperti yang dulu Ibu lakukan padaku juga. Dulu Ibu juga meminjamkan uang padaku, kan! Saat aku memulai bisnis ini. Sekarang pun sama, aku akan meminjamkan uang itu untuk Ibu. Aku juga tidak akan meminta bunganya jadi, Ibu tidak perlu khawatir."
Bu Nadia tampak diam, dia memikirkan apa yang ditawarkan oleh Maysa. Tidak dipungkiri jika dirinya juga tertarik. Akan tetapi, dalam hati wanita itu takut jika nanti, dia tidak bisa mengembalikannya dari mana Bu Nadia akan membayar hutang itu. Namun, jika dia tidak menerima, maka usaha yang selama ini wanita itu rintis akan hancur begitu saja.
Bagaimanapun juga itu adalah cita-citanya dan juga kebanggaan kedua orang tuanya. Entah bagaimana nanti jika orang tuanya tahu tentang apa yang terjadi pada bisnisnya. Belum lagi suami dan anak-anaknya. Bu Nadia memang tidak memberitahu siapa pun tentang apa yang terjadi pada bisnisnya.
Maysa adalah orang pertama yang mengetahui semua yang terjadi. Itu karena wanita itu sangat bisa dipercaya. Sebenarnya dia juga malu datang disaat ada masalah seperti ini, tetapi tidak ada orang yang bisa dipercaya selain mantan pegawainya itu. Dia juga sudah menganggap Maysa adiknya.
Maysa menggenggam telapak tangan Bu Nadia, seolah tahu apa yang dirasakan oleh wanita itu. "Bu, yakinlah pada diri ibu sendiri. Aku juga tidak akan memaksa ibu untuk menerima apa yang aku tawarkan. Hanya saja pikirkanlah kembali apa yang terbaik untuk masa depan Ibu. Aku yakin Ibu lebih tahu apa yang terbaik untuk diri Ibu sendiri."
Bu Nadia terdiam sejenak sebelum menjawab, "Bolehkah aku memikirkannya kembali? Banyak hal yang harus aku pertimbangkan mengenai tawaran kamu."
"Tentu, seperti yang aku bilang sebelumnya. Jika aku tidak akan memaksa ibu untuk menerima tawaranku. Semua keputusan ada pada diri ibu sendiri."
__ADS_1
.
.