Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
149. Terima kasih


__ADS_3

“Tentu saja Mama akan selalu menyayangi kalian berdua dan juga adik bayi. Kalian semua anak-anak mama. Mama akan selalu menyayangi kalian, tanpa membedakan satu sama lain,” ucap Maysa pada kedua anaknya.


Dio dan Eira pun memeluk mamanya. Keduanya senang dengan apa yang dikatakan oleh Maysa. Semua orang berharap kebahagiaan ini akan selamanya ada dalam keluarga ini. Mereka semua pun menikmati kue ulang tahun bersama.


Baru beberapa suap, anak-anak sudah menguap karena kasihan, Tama dan Maysa pun memutuskan untuk Tidur saja. Besok pagi baru mereka lanjutkan acaranya, kebetulan besok juga hari Minggu jadi, semua orang ada di rumah.


Maysa lebih dulu mengantar anak-anak ke kamarnya. Setelah menidurkan Dio dan Eira, barulah dia ke kamarnya sendiri. Begitu masuk ke dalam kamar, ternyata sang suami tidak ada di atas ranjang. Dia mencari ke segala arah, ternyata Tama berada di balkon kamarnya.


Wanita itu pun berjalan mendekati sang suami dan memeluknya dari belakang. Tama yang sadar jika itu istrinya, hanya bisa tersenyum sambil mengusap tangan yang melingkar di perutnya.


“Kenapa masih di sini? Ini masih tengah malam, sebaiknya tidur dulu. Angin malam tidak baik untuk kesehatan,” bisik Maysa tepat di punggung pria itu.


Tama segera membalikkan tubuhnya dan memeluk sang istri dari depan. Dia begitu bahagia mendengar kejutan dari Maysa malam ini. Pria itu berharap agar kebahagiaan seperti ini, selalu ada dalam kehidupan mereka seterusnya.


“Terima kasih atas kejutannya. Di usiaku yang sudah tidak muda lagi, justru aku bisa mendapatkan kebahagiaan, yang tidak pernah aku bayangkan. Aku memiliki istri sebaik kamu dan anak-anak yang patuh. Apalagi sekarang Tuhan memberikan amanah pada kita untuk membesarkan satu anak lagi. Aku sungguh-sungguh sangat bahagia,” ucap Tama dengan mata berkaca-kaca.


“Aku juga sangat bahagia. Tuhan mendatangkan kamu dalam hidupku di saat aku benar-benar hancur. Kamu memberikan kebahagiaan yang selama ini aku impikan. Rasa terima kasih saja tidak akan pernah cukup untuk semua ini.”


Maysa pun meneteskan air mata dan semakin mempererat pelukannya pada sang suami. Keduanya merasa sangat bahagia karena saling memiliki. Meski kadang masalah menghampiri, mereka berharap semua bisa teratasi dengan baik tanpa ada adu mulut.


“Apa kamu mengantuk?” tanya Tama saat keduanya sudah bisa mengendalikan emosi.


“Tadinya iya, tapi sekarang rasa ngantuknya sudah pergi.”


Tama tersenyum dan membawa sang istri ke pagar pembatas. “Kita di sini saja, sambil menunggu fajar.”


Tama memeluk Maysa dari belakang. Keduanya menatap langit yang gelap serta jalanan yang begitu sepi. Pemandangan yang terlihat biasa saja, tetapi bagi keduanya sangat romantis.


“Mas, Apa kita akan selalu bersama seperti ini?” tanya Maysa setelah beberapa saat terdiam.

__ADS_1


“Tentu, aku tidak tahu bagaimana kehidupan kita kelak. Sebagai seorang suami dan ayah, aku hanya ingin yang terbaik untuk keluargaku. Semoga aku bisa memberikan kalian kebahagiaan.”


“Dengan kamu selalu bersama kami, itu sudah cukup membuat kami selalu bahagia.”


Tama mengecup puncak kepala sang istri. “Aku juga bahagia dengan keberadaan kalian.”


Keduanya menghabiskan waktu hingga fajar. Setelah azan subuh berkumandang, mereka mengambil wudhu untuk sholat berjamaah. Tidak lupa juga Maysa membangunkan kedua anaknya untuk melaksanakan kewajibannya. Meski masih mengantuk, Dio dan Eira tetap bangun dan mengikuti arahan mamanya.


"Kalian hari ini mau ke mana? Papa akan turuti keinginan kalian semua, sebagai rasa terima kasih Papa karena kalian sudah memberi Papa kejutan. Terserah kalian mau ke mana," ucap Tama setelah mereka selesai salat subuh.


"Benar Papa akan menuruti keinginan kita dan mengajak kita pergi? Apa Papa nggak capek?" tanya Eira yang membuat Tama semakin terharu karena gadis kecil itu, begitu memperhatikan dirinya.


Tama tersenyum dan mengangguk. "Benar, kalian mau ke mana pun Papa akan turuti, asal jangan ke bulan saja. Papa nggak punya ongkosnya, nggak tahu juga bagaimana caranya pergi ke sana," sahut Tama dengan nada bercanda.


Dio dan Eira tampak berpikir kira-kira tempat mana yang mereka ingin kunjungi, bersama dengan keluarga. Tentu juga tanpa memberatkan kedua orang tuanya. Mereka ingin pergi ke tempat yang tenang dan semakin menambah kasih sayang.


Gadis kecil itu tidak tahu ada di mana villa yang dimaksud kakaknya karena memang, dia tidak pernah ke sana. Bahkan mengetahui tempat itu pun baru kali ini. Eira jadi penasaran bagaimana tempat itu.


"Boleh kalau kalian mau ke sana. Eira mau ke sana juga?" tanya Tama pada Putri sambungnya itu.


"Aku tidak tahu tempatnya, Pa, tapi kalau kata Kak Dio tempatnya bagus, tidak apa-apa. Aku juga mau lihat ke sana," jawab Eira.


"Baiklah, sudah diputuskan kita akan ke sana dan bersenang-senang di sana nanti."


Mereka semua pun bersiap-siap untuk pergi. Tama juga mengajak Mama Mirna dan Mama Rafiqah. Namun, kedua wanita itu menolak. Mereka tidak ingin mengganggu kebahagiaan anak dan cucu.


Biarlah mereka bersenang-senang hari ini. Jarang sekali anak dan cucunya bisa pergi bersama. Selalu disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Kali ini ada waktu, biarlah mereka pergi tanpa kehadiran para orang tua.


Mama Mirna dan besannya juga masih ingin berbincang. Sebelum Mama Rafiqah meninggalkan rumah ini. Besok semua memang wanita paruh baya itu akan pulang ke rumahnya bersama dengan Aminah.

__ADS_1


****


"Ini hadiah untuk kamu," ucap Adit sambil menyerahkan sebuah kotak pada sang istri.


Riri menerima kotak tersebut dan menatap sang suami. "Apa ini, Mas?"


"Buka saja."


Riri membuka kotak tersebut, ternyata dia buah tiket perjalanan ke luar negeri. Wanita itu kembali menatap suaminya, seolah bertanya, apa maksud dari ini semua. Sebelumnya tidak ada pemberitahuan apa pun padanya. Dia juga masih banyak pekerjaan di butik.


"Aku sudah pamit pada Mama Rafiqah dan Kak Maysa. Mereka mengizinkan kita pergi. Mengenai pekerjaan kamu, itu juga dialihkan ke pegawai yang lain. Sekarang hanya tinggal keputusan darimu."


Sebenarnya Riri tidak ingin pergi ke mana pun. Akan tetapi, melihat usaha sang suami, dia tidak mungkin tega menghancurkannya. Akhirnya wanita itu pun mengangguk sambil tersenyum. Riri tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk Adit, semoga dengan persetujuannya ini bisa membuat kebahagiaan untuk keduanya.


Kebahagiaan seseorang memang berbeda-beda. Ada yang dengan hal sederhana saja, sudah mampu memberikan segalanya. Kadang juga harus menghabiskan banyak uang untuk membahagiakan orang terdekat. Bukan untuk menyombongkan diri, tetapi sebagai bentuk dari hasil kerja keras selama ini.


.


.


The End


Terima kasih buat para pembaca "RAHASIA SUAMIKU"


Akhirnya cerita ini aku tamatkan sampai di sini. Jangan lupa baca karyaku yang lain. Di pf lain juga dengan nama pena yang sama yaitu husna_az


Follow IG ku juga : @Husna90


Sekali lagi saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya.

__ADS_1


__ADS_2