Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
104. Kedatangan Rafka


__ADS_3

Setelah berbincang dengan Mama Rafiqah dan Riri, Maysa kembali ke kamarnya. Di sana sudah ada Eira dan Dio yang sedang beristirahat dengan pulas. Wanita itu tersenyum melihat anak-anaknya. Mereka memang obat penenang yang paling mujarab.


Saat akan merebahkan tubuhnya, ponsel yang berada di atas meja, di samping ranjang pun bergetar. Ada sebuah panggilan masuk dari Rafka. Maysa mengerutkan keningnya, untuk apa pria itu malam-malam menghubunginya. Dia tidak mungkin mengangkatnya karena di sini sedang tidak ada Tama.


Wanita itu pun memutuskan untuk tidak mengangkatnya. Maysa tidak ingin ada kesalahpahaman nanti antara dia dan sang suami. Panggilan itu kembali masuk setelah nada dering berhenti. Namun, wanita itu tetap mendiamkannya.


Entah apa yang membuat pria itu menghubunginya terus-menerus. Maysa yakin pasti telah terjadi sesuatu yang sangat penting. Akan tetapi, mengingat bagaimana sikap Rafka pada Eira membuat hatinya terluka. Hingga dia pun membiarkannya saja.


Maysa bahkan menonaktifkan ponselnya. Dia tidak peduli apa yang terjadi pada pria itu. Biarlah menjadi urusannya sendiri, semua tidak ada hubungannya dengan dirinya lagi. Wanita itu pun memilih untuk merebahkan tubuhnya, menuju ke alam mimpi.


Pagi-pagi sekali, di rumah Mama Rafiqah terdengar begitu ramai. Apalagi dengan kehadiran dua anak kecil, semakin menambah keramaian di rumah itu. Biasanya hanya Mama Rafiqah yang berdua saja dengan Riri. Tidak berapa lama, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.


"May, itu ada mobil berhenti di depan. Apa Tama?" tanya Mama Rafiqah pada putrinya yang sedang sibuk di dapur.


"Sepertinya iya, Ma. Aku juga belum lihat ponsel. Aku lupa mengaktifkannya, tadi malam aku matiin. Sebentar aku lihat dulu ke depan."


Maysa mencuci tangan dan berjalan ke depan. Dia juga melewati anak-anak yang sedang bermain di ruang keluarga. Hari ini hari Minggu jadi, anak-anak libur. Maysa melihat lewat jendela, ternyata benar itu mobil Tama.


Pria itu turun dari mobil dan melihat ke arah belakang. Dia seperti sedang menunggu seseorang di sana. Tampak Rafka menggunakan motornya berhenti di belakang mobil Tama. Maysa mengerutkan keningnya, dalam hati wanita itu bertanya, kenapa sang suami bisa datang bersama dengan Rafka.


Maysa teringat jika semalam mantan suaminya itu menghubunginya beberapa kali. Namun, tidak dia hiraukan. Pasti ini ada hubungannya dengan hal itu. Maysa menarik napas panjang, semoga saja Rafka tidak membuat masalah di rumah ini. Apalagi di sini juga ada Eira dan Dio.


"Assalamualaikum." Suara pria yang berada di luar terdengar oleh wanita di balik pintu.


"Waalaikumsalam," jawab Maysa sambil membukakan pintu.


Wanita itu pun mencium punggung tangan sang suami. Rafka hanya bisa melihat adegan itu. Terselip rasa iri di dalam hatinya. Dulu dia yang merasakan hal itu, tetapi kini tidak lagi. Vida tidak pernah mau melakukan apa yg dilakukan Maysa. Baginya itu tidaklah terlalu penting.


Biasanya Rafka tidak pernah mempermasalahkan hal itu, tetapi kini melihat Maysa mencium tangan Tama, semua jadi masalah untuknya. Andai saja dia tidak menyia-nyiakan wanita yang ada di depannya ini, pasti keluarganya hidup berbahagia.

__ADS_1


"Kok, bisa barengan sama Kak Rafka, Mas?" tanya Maysa sambil melihat ke arah mantan suaminya.


"Iya, tadi dia datang ke rumah mencari kamu. Kamu nggak ada di rumah jadi, aku ajak dia ke sini sekalian aku mau jemput kalian juga," jawab Tama yang berusaha untuk tetap tenang.


"Ada urusan sama aku? Urusan apa?" tanya Mahesa sambil memandang mantan suami.


Rafka jadi bingung harus mulai berbicara dari mana. Dia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Sayang, sebaiknya kita masuk ke dalam dulu. Kita bicara di dalam," sela Tama yang bisa mengetahui kebingungan yang dirasakan oleh Rafka.


Maysa mengangguk dan membuka pintu lebar-lebar agar kedua pria itu bisa masuk. Dio dan Eira berlari ke arah Tama dan memeluk pria itu.


"Papa kenapa semalam tidak tidur di sini?" tanya Eira dengan suara manjanya.


"Papa harus antar Oma Mirna pulang jadi, tidak bisa menginap. Sekarang baru Papa bisa datang jemput kalian." Tama melirik ke arah Rafka. Dia tahu jika pria itu juga ingin memeluk putrinya.


Eira masih terdiam, seolah enggan untuk mendekati papa kandungnya. Tama yang mengerti pun mengusap rambut gadis kecil itu, berharap Eira mau menuruti perintahnya. Dia tidak mau menjadi penghalang antara ayah dan anak itu. Bagaimanapun juga pria itu juga seorang ayah.


Dio berjalan lebih dulu mendekati Rafka dan melakukan perintah sang papa, diikuti oleh Eira. Rafka ingin memeluk putrinya. Namun, gadis kecil itu menghindar dan lebih memilih masuk ke dalam rumah bersama dengan Dio.


"Silahkan duduk, Kak Rafka," ucap Maysa yang sengaja ingin mengalihkan perhatian pria itu.


Dia sendiri merasa tidak enak. Akan tetapi, mengingat apa yang dilakukan pria itu, memang sudah sewajarnya Eira bersikap seperti itu. Rasa kecewanya terlalu besar terhadap pria yang selama ini dia panggil papa.


"Iya, terima kasih." Rafka duduk di ruang tamu bersama dengan Tama, sementara Maysa masuk untuk membuatkan minuman untuk tamunya.


"Siapa yang datang, May?" tanya Mama Rafiqah saat melihat putrinya membuat dua gelas minuman.


"Mas Tama sama kak Rafka, Ma. Mereka sedang ada di ruang tamu."

__ADS_1


"Mereka datang bersama apa sendiri-sendiri?"


"Kata Mas Tama tadi Kak Rafka datang ke rumah mencari aku. Nggak tahu ada urusan apa. Sejak dia ke sini aku juga belum bicara sama dia. Entah ada apa dia mencariku," jawab Maysa dengan nada sedikit kesal. Melihat wajah Rafka tadi sudah dipastikan jika pria itu punya tujuan yang tidak enak.


"Halah palingan juga ada niat tersembunyi. Kalau nggak ada apa-apa, nggak mungkin dia datang ke sini buat nyari Kakak. Kalau dia minta bantuan atau apa, jangan mau, Kak!" sela Riri yang sedari tadi sibuk dengan peralatan masak. Namun, masih mendengarkan apa yang kakak dan mamanya bicarakan.


"Hus ... kamu ini, nggak boleh bilang gitu," sela Mama Rafiqah dengan cepat. "Bagaimanapun juga kita sebagai manusia harus saling tolong menolong. Entah apa saja yang dulu Rafka lakukan pada kita. Semuanya juga sudah lewat."


"Tapi setelah apa yang dilakukan Rafka, apa pria itu masih dibantuin juga?" tanya Riri yang tidak sependapat dengan mamanta.


"Kita tidak boleh membahas kejahatan dengan kejahatan juga. Itu sama saja kita seperti mereka. Lebih baik kita doakan orang yang sudah jahat agar berubah menjadi baik."


Mama Rafiqah tidak ingin putrinya menjadi orang jahat. Sejujurnya dia juga masih sangat kesal terhadap Rafka. Apalagi kekecewaan yang pria itu berikan pada cucunya, tentu wanita itu juga ikut sakit hati, tetapi biarlah waktu yang menyembuhkan semuanya.


"Iya, Ma "


"Ya sudah, Ma. Aku ke depan dulu, mau nganterin minuman, sekalian aku mau tahu sebenarnya Kak Rafka ada urusan apa mencariku."


"Iya, ingat jangan sampai ada keributan. Di rumah ada Eira dan Dio juga."


"Iya, Ma. Memang Mama pikir aku ini suka cari ribut apa?"


"Barangkali saja kamu emosi mendengar apa yang dikatakan Rafka. Mama hanya mengingatkan saja, sebelum semuanya terjadi."


"Iya, Ma. Terima kasih atas nasehatnya. Mudah-mudahan aku bisa mengontrol emosi seperti yang Mama ucapkan tadi." Maysa pun membawa nampan dengan dua gelas menuju ruang tamu. Sebelum sampai, wanita itu menarik napas dalam-dalam agar dirinya tengang dan tidak emosi.


.


.

__ADS_1


__ADS_2