
“Alhamdulillah,” ucap Adit begitu masuk ke dalam mobil.
Tubuhnya benar-benar lelah sedari tadi berdiri di pelaminan. Di sampingnya juga ada Riri yang sudah bersandar di kursi. Wanita itu juga sama lelahnya, hanya saja dia tidak berani mengeluh. Sang suami sudah mempersiapkan banyak hal untuk dirinya, tentu saja hal itu membuatnya senang.
Sopir melajukan mobil menuju hotel yang sudah dipesan oleh Adit. Pria itu sudah menyiapkan segala sesuatunya di sana. Semoga segala sesuatunya bisa berjalan dengan lancar. Dia tidak ingin usahanya terasa sia-sia.
"Apa kamu lelah, Sayang?” tanya Adit sambil menggenggam telapak tangan Riri.
"Lumayan, Mas, tapi nggak apa-apa," jawab Riri dengan tersenyum ke arah sang suami.
Wanita itu menyandarkan kepalanya di pundak sang suami. Mulai hari ini dia sudah halal untuk pria itu. Segala sesuatunya tidak perlu Riri tahan lagi. Selama ini wanita itu selalu ingin dekat dengan Adit. Namun, dia mencoba menahannya.
Riri selalu iri saat melihat kebersamaan antara Maysa dan Tama. wanita itu selalu berpikir, kapankah dia bisa mendapatkan pria seperti kakak iparnya itu. Sekarang sudah ada di sampingnya. Riri berharap Adit juga bisa memperlakukan dirinya dengan romantis.
Adit yang merasakan sandaran Riri cukup terkejut. Biasanya wanita itu akan marah jika duduk berdekatan, tetapi kini malah bersandar. Pria itu baru teringat jika mereka sudah halal. Dia pun tersenyum senang, tidak menyangka dirinya sendiri bisa sampai di titik ini.
Adit teringat sesuatu, dia pun bertanya, "Apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi nanti, sebelum kita sibuk dengan pekerjaan masing-masing? Kita punya waktu satu minggu untuk bersama, menghabiskan waktu untuk pergi ke mana pun yang kamu inginkan."
"Papa lagi sakit, Mas. Sebaiknya kita menjaganya. Kasihan Tante Nova, pasti beliau sudah lelah," sahut Riri.
"Besok Papa sudah bisa pulang. Tadi aku sudah konfirmasi sama dokternya. Sebenarnya tadi siang Papa sudah boleh pulang, tapi memang aku nggak bolehin Papa pulang dulu. Kalau dokter bilangnya tadi siang, pasti nanti mau ikut ke pesta resepsi. Jadi aku bilang sama dokternya agar bicara sama Papa, kalau dia belum boleh pulang dulu dan beristirahat di sana."
Riri mengangguk, dia mengerti apa yang dikhawatirkan oleh sang suami. Dirinya pun akan melakukan hal yang sama jika mamanya sakit. Mengingat Mama Rafiqah, dia jadi merindukannya. Biasanya mereka setiap hari selalu bersama padahal mereka baru saja berpisah tadi. Akan tetapi, ada perasaan aneh rindu yang datang.
Mobil keduanya sampai juga di hotel yang sudah Adit pesan. Riri tampak ragu untuk masuk ke dalam gedung itu. Ini pertama kalinya untuk wanita itu masuk ke hotel yang sangat besar. Hotel yang biasa saja dia jarang datang kalau tidak karena pekerjaan. Sekarang hanya untuk tidur saja harus memesan kamar hotel semewah ini.
"Ayo, Sayang kenapa diam saja?" tanya Adit karena Riri tak kunjung jalan. Padahal dia sudah menggenggam telapak tangan wanita itu.
"Mas, apa tidak berlebihan kita tidur di hotel ini? Kenapa tidak tidur di rumah saja? Di rumah juga pasti lebih nyaman," ucap Riri tanpa melihat sang suami. Dia sibuk melihat isi loby hotel.
__ADS_1
"Ini sudah termasuk dari EO, Sayang. Kamu jangan terlalu memikirkan semua ini. Mereka yang sudah menyiapkannya. Kita hanya tinggal menikmati saja,” jawab Adit berbohong.
Nyatanya memang dirinya yang memesan kamar hotel dengan sengaja isinya. Kalau tidak seperti itu, pasti Riri akan menolak untuk tinggal dan bermalam di hotel ini. Padahal kamar juga sudah di booking dari jauh-jauh hari untuk hari spesial ini.
"Benarkah, Mas? Apa ada seperti itu? Tapi kemarin EO-nya nggak bilang kalau sama kamar hotel juga." Riri mencoba mengingat-ingat pertemuannya dengan pihak event organizer. Memang tidak ada pembicaraan seperti itu.
"Ada, Sayang. Mungkin kamu yang tidak memperhatikannya. Sudah, ayo kita masuk! Masa kita berdiri terus di sini? Malu dilihatin banyak orang. Kita berdua juga masih pakai baju pengantin begini," ucap Adit sambil memperhatikan sekitar.
Riri ikut melihat sekitar dan memang benar, ada beberapa orang yang memperhatikan keduanya. Wanita itu pun mendekat ke arah sang suami dan mengajaknya untuk segera masuk. Adit merasa lega karena istrinya tidak lagi bertanya mengenai kamar hotel. Kalau tidak, bisa gagal sudah rencananya untuk romantis-romantisan.
Suami istri keduanya naik menggunakan lift menuju kamar yang dipesan Adit. Begitu sampai di depan kamar, pria itu mencoba membuka pintu. Keduanya pun masuk, terlihat berbagai hiasan kelopak bunga yang bertaburan. Baik yang di atas ranjang maupun di lantai.
Beberapa lilin aromaterapi juga menghiasi tepian lantai. Seikat bunga mawar merah dan putih ada di meja di dekat ranjang. Lampu yang remang-remang membuat suasana menjadi lebih romantis. Adit menekan remote yang dia dapatkan di dekat pintu. Seketika alunan musik yang merdu, membuat suasana bertambah romantis.
Adit berlutut di depan sang istri, sambil mengulurkan tangannya. Pria itu berniat untuk mengajak Riri berdansa. Meski belum pernah melakukannya, tetapi dia juga ingin menciptakan suasana yang tidak akan pernah terlupakan.
"Aku nggak bisa dansa, Mas," ucap Riri yang menolak ajakan sang suami. Dia memang tidak pernah berdansa, makanya takut akan membuat suasana romantis malah hancur.
Mau tidak mau, akhirnya Riri pun mengangguk. Dia juga tidak sampai hati jika menolak Adit untuk yang kedua kalinya. Wanita itu meletakkan telapak tangannya di tangan sang suami. Pria itu berdiri dan mulai menggerakkan tubuh.
Awalnya semua terasa kaku. Namun, beberapa menit kemudian suasana sudah mulai tenang. Riri pun mulai mengikuti irama musik yang mendayu. Keduanya larut dalam kebersamaan ini, berharap kebahagiaan ini tidak akan hilang.
"Aku tidak akan pernah melupakan hari ini. Hari yang paling bersejarah untukku karena sudah bisa memiliki wanita cantik dan sebaik kamu," ucap Adit dengan pelan di sela dansa mereka.
Riri tersenyum mendengarnya. "Aku juga tidak akan melupakan hari ini karena memang hari ini adalah hari yang paling bersejarah untuk kita. Kita akan selalu ingat selamanya. Semoga kita bisa mempertahankan ikatan ini sampai Tuhan memanggil salah satu di antara kita."
"Amin, Aku juga menginginkan hal seperti itu. Semoga kita bisa selalu bersama selamanya.”
Adit dan Riri saling berpandangan. Keduanya saling menyelami perasaan masing-masing. Rasa cinta yang dulu sempat tertunda dan rasa itu masih tetap sama, bahkan bertambah besar. Semoga keduanya bisa melalui setiap kerikil yang datang menghadang jalan mereka.
__ADS_1
Hidup berumah tangga memang tidak mudah. Adit dan Riri mengakui hal itu, tetapi keduanya akan tetap berusaha agar rumah tangganya tetap kokoh. Baik di luar maupun di dalam dan tidak ada kerapuhan di dalamnya.
"Sayang, bolehkah aku meminta hakku malam ini? Itu pun jika kamu mengizinkannya, tetapi kalau kamu memang belum siap, aku tidak akan memaksamu," ucap Adit dengan pandangan masih menatap Riri. Dia masih menikmati kecantikan sang istri yang memang tidak ada duanya.
"Aku sudah menjadi milikmu. Kita juga sudah halal, tidak ada alasan untukku menolak apa yang kamu inginkan. Itu juga termasuk ibadah untuk kita, sebagai pasangan suami istri yang halal."
Adit tersenyum mendengar ucapan Riri. Awalnya dia pikir wanita itu akan menolak, tetapi kini istrinya itu ternyata mengizinkannya. Pria itu pun mendekatkan wajah ke arah sang istri. Jarak keduanya semakin dekat, hingga Riri bisa merasakan napas Adit yang menerpa wajahnya.
Keduanya menghabiskan malam panjang yang pertama untuk mereka. Rasa yang tidak pernah Adit dan Riri dapatkan, kini keduanya tumpahkan menjadi satu. Mungkin ini bukan yang pertama untuk si pria, tetapi baru pertama kali dia bisa merasakan kebahagiaan seperti ini. Riri pun merasakan hal yang sama meski.
Awalnya wanita itu merasa kesakitan, tetapi dia tetap merasa bahagia. Keduanya berharap semoga apa yang mereka harapkan, setelah ini akan segera hadir. Adit sudah tidak sabar menantikan kabar bahagia itu. Meskipun ini baru hari pertama mereka dan juga untuk pertama kali.
Kelopak bunga mawar yang bertaburan di atas ranjang pun sudah tidak berbentuk lagi. Lilin aromaterapi juga semakin meredup, hingga akhirnya tubuh keduanya kelelahan dan tertidur sambil berpelukan. Adit mencium kening sang istri, sebelum akhirnya menuju alam mimpi, sementara Riri yang tubuhnya sudah benar-benar lelah, hanya diam sambil memejamkan mata.
Azan subuh berkumandang membangunkan seorang wanita dari tidurnya. Siapa lagi kalau bukan pengantin baru yaitu Riri. Dia merasakan seluruh tubuhnya terasa begitu sangat lelah. Bahkan untuk bangun pun wanita itu merasa sangat malas, tetapi Riri harus tetap melakukan kewajibannya.
"Mas, bangun! Ini sudah waktu subuh, sebaiknya cepat bangun, nanti terlambat," ucap Riri sambil menggoyangkan tubuh sang suami.
Adit mengucek matanya yang masih enggan terbuka. Pria itu pun bangun dengan malas. Sama seperti Riri dia juga sangat lelah. Namun, kewajibannya harus tetap dijalankan.
"Ya sudah, ayo kita mandi! Kita mandi sama-sama, ya!" ajak Adit yang segera mendapat penolakan dari Riri.
"Tidak mau, Mas. Aku malulah, sebaiknya kamu dulu, apa aku dulu. Aku nggak mau mandi sama-sama meskipun kita ini pasangan pengantin baru."
Tentu saja Riri malu. Meskipun keduanya sudah saling mengetahui satu sama lain, tetap saja rasanya akan berbeda jika saat mandi berdua. Pastinya semua akan lebih jelas dan yang lebih memalukan lagi, hal yang semalam akan terulang kembali. Riri tidak bisa membayangkan hal itu jika terjadi lagi.
Adit tersenyum menanggapinya. Dia tahu jika Riri malu, pria itu pun juga tidak sampai hati jika harus memaksa sang istri. Dia juga mengerti akan hal itu.
"Baiklah, kamu saja yang dulu," ucap Adit pada akhirnya mengalah. Riri memakai kemeja Adit yang terletak di lantai untuk ke kamar mandi.
__ADS_1
.
.