
Sudah dua hari Maysa mendiamkan sang suami. Wanita itu melakukannya hanya karena ingin membuat suaminya jera dan tidak lagi bisa marah-marah seenaknya. Tama juga sudah berusaha agar membuat istrinya luluh. Namun, Maysa memiliki pendirian yang kuat, hingga tidak mudah dirayu begitu saja.
Saat mereka tidur pun ada pembatas di antara keduanya. Apalagi kalau bukan guling. Hal itu tentu saja membuat Tama tidak bisa tidur, biasanya pria itu tidur sambil memeluk sang istri. Entah berapa lama lagi sang istri akan marah padanya.
Sore hari Tama pulang dari kantor, pria itu terlihat begitu lelah. Pakaiannya pun sudah tidak rapi. Dia berjalan menuju kamar, padahal biasanya Tama akan mencari istrinya terlebih dahulu. Namun, kali ini tidak karena tubuhnya yang sangat lelah.
Pria itu ingin segera sampai di kamar dan merebahkan tubuhnya. Anak-anak juga berada di taman belakang jadi, tidak ada yang tahu kepulangan Tama. Begitu sampai di kamar, dia merebahkan tubuhnya begitu saja di ranjang.
Maysa yang berada di dapur pun tidak tahu jika sang suami sudah pulang. Dari tadi wanita itu terus saja melihat jam yang ada di dinding. Dia bertanya-tanya, apa yang membuat sang suami pulang terlambat. Apakah pekerjaannya begitu banyak, sampai lupa waktu.
Biasanya Tama akan menghubunginya jika telat. Kenapa sekarang tidak ada kabar. Maysa pun segera menyelesaikan masakannya dan mencari tahu apa yang terjadi.
Setelah selesai dengan masakannya Maysa kembali ke kamar. Dia ingin mengambil ponsel untuk menghubungi sang suami. Namun, wanita itu terkejut melihat Tama yang sudah tertidur di ranjang dengan pakaian kerja yang masih lengkap, sepatu juga masih menempel di kaki.
Maysa mendekati Tama, mencoba untuk membangunkan pria itu. Namun, lagi-lagi dia terkejut saat mendapati tubuh sang suami terasa panas. Wanita itu pun membantu suaminya melepaskan sepatunya. Dia juga mencoba untuk membantu melepaskan jas Tama. Namun, Maysa merasa kesulitan. Hingga membuat pria itu terbangun.
"Sayang, kamu ada apa?" tanya Tama sambil menatap ke arah istrinya.
“Mas, sebaiknya kamu ganti baju dulu. Badan kamu panas sekali, apa kita perlu ke dokter?"
Tama pun berusaha untuk duduk. Meski terasa sulit pria itu tetap berusaha agar tidak merepotkan sang istri. Namun, tubuhnya benar-benar lemah dan membutuhkan bantuan orang lain. Wajah Tama terlihat begitu pucat, pertanda dia benar-benar sakit.
"Aku tidak apa-apa, Sayang. Aku hanya kecapean saja. Tadi di kantor banyak sekali pekerjaan, hingga aku lupa beristirahat." Tama mencoba tersenyum ke arah sang istri, berharap wanita itu tidak bertanya lagi. Sudah bisa dipastikan jika pertanyaan Maysa akan membuatnya tersudut.
"Kamu tidak bisa berbohong, Mas. Badan kamu itu panas sekali, jangan bilang tadi siang kamu melupakan makanmu?" tanya Maysa sambil menatap ke arah sang suami.
__ADS_1
Tama hanya diam sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Pria itu tidak tahu harus menjawab apa karena memang, dirinya saat makan siang tidak memakan apa pun. Begitu juga dengan kemarin. Dia hanya sarapan dan makan malam di rumah, itu pun dengan tidak berselera.
“Mas?”
“Iya, tadi memang aku lupa makan siang karena pekerjaan banyak sekali," jawab Tama berbohong.
Nyatanya dia memang sedang tidak berselera untuk makan siang. Rasanya tidak enak sekali dicuekin dengan sang istri. Biasanya setiap malam dirinya dan Maysa akan berbincang sebelum tidur serta berpelukan saat terlelap. Namun, sekarang diam-diaman, bahkan ada pembatas di antara mereka.
"Sekarang kamu ganti baju dulu, Mas. Aku ambilin makan biar kamu bisa makan, setelah itu minum obat biar cepat sembuh.”
“Iya,” jawab Tama dengan tersenyum.
Pria itu senang melihat istrinya yang cerewet seperti ini, daripada saling diam seperti kemarin. Sejak Maysa diam dunia ini seakan tidak berwarna, rasanya sangat hampa. Meski saat di depan keluarga wanita itu terlihat biasa saja. Namun, Tama masih bisa merasakan kedinginan itu.
Maysa keluar dari kamar, dia ingin mengambil makanan untuk sang suami. Tidak lupa juga obat untuk sang suami agar demamnya turun. Wanita itu merasa bersalah, dia yakin jika sakitnya taman karena masalah kemarin. Hal itu pasti sangat berpengaruh pada Tama, mengingat pria itu selalu bergantung pada Maysa.
Setelah kepergian sang istri, Tama turun dari ranjang dan berjalan memasuki kamar mandi. Dia ingin mencuci wajahnya.
Wanita itu membawa makanan dan minuman ke kamar. Terlihat sang suami sudah duduk di tempat tidur dengan bersandar di kepala ranjang. Tama sedang memejamkan matanya, Dia seperti sedang menahan rasa sakit di kepalanya. Entah kenapa tiba-tiba rasanya pusing sekali.
Maysa berjalan mendekati ranjang dengan membawa makanan. Wanita itu mencoba membangunkan sang suami agar bisa makan terlebih dahulu. Tubuh pria itu juga semakin terasa panas.
"Mas, ayo makan dulu!" ucap Maysa sambil menggoyangkan tubuh sang suami.
Tama membuka matanya dan menatap sang istri dengan sayu. Sebenarnya dia sangat malas melakukan apa pun, apalagi makan. Pria itu hanya ingin tidur dan istirahat di bawah selimut. Tubuhnya benar-benar lelah.
__ADS_1
"Mas, ini makan dulu. Habis itu minum obat, biar cepat sembuh." Maysa memberikan sepiring nasi yang dia buat tadi.
Tama pun menerima dan mulai menikmati masakan sang istri. Beberapa kali dia ingin memuntahkan kembali makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Namun, pria itu mencoba untuk menahannya.
"Sayang, sudah makannya. Mulutku benar-benar rasanya nggak enak," ucap Tama dengan memberikan kembali makanan kepada istrinya.
Maysa yang mengerti pun tidak memaksa pria itu. Dia mengerti jika saat ini pasti selera makan sang suami menurun. Wanita itu pun mengambil obat agar Tama bisa meminumnya. Sejak menikah baru kali ini suaminya sakit, membuat Maysa bingung merawatnya.
"Sayang, itu kenapa obatnya banyak sekali?" tanya Tama saat melihat istrinya membuka obat. Maysa hanya menatap sang suami dengan malas. Dia hanya membuka dua obat, tetapi pria itu bilangnya banyak.
"Ini cuma dua, Mas. Apanya yang banyak? Masa kalah sama anak-anak! Mereka saja minum obat nggak banyak tanya, kamu malah protes."
"Kalau anak-anak 'kan dihancurin, Sayang, sedangkan aku ditelan, sebesar itu lagi obatnya." Tama melirik obat yang ada di tangan istrinya.
"Kalau kamu mau, kamu bisa menghancurkannya seperti mereka."
Tama menatap istrinya yang sedang kesal sambil tersenyum. Dia pun mengambil obat yang ada di tangan sang istri dan menelannya begitu saja. Maysa yang melihatnya pun tersenyum. Wanita itu segera mengambil piring bekas makanan sang suami.
Wanita itu ingin membawanya ke dapur. Saat akan beranjak, Tama menghentikannya. Dia masih ingin berduaan dengan istrinya.
"May, bisa temani aku sebentar. Aku benar-benar rindu sama kamu. Dua malam tidak memelukmu, aku merasa ada sesuatu yang hampa dalam diriku." Tama menatap sang istri berharap wanita itu mau menuruti keinginannya.
.
.
__ADS_1