
"Silakan diminum, Mas," ucap Maysa sambil meletakkan segelas teh.
Wanita itu kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan sarapan. Setelah semua selesai menghabiskan makanannya, anak-anak bermain di taman belakang, sementara Maysa masih membantu Riri membereskan meja makan. Mama Rafiqah duduk di teras samping rumah sambil mengawasi cucu-cucunya.
Setelah pekerjaannya selesai, Maysa mendekati anak-anak yang ada di taman belakang. Wanita itu mengajak keduanya pulang. Awalnya Dio menolak karena masih nyaman di sini, tetapi dengan bujukan Maysa akhirnya anak itu mau juga.
Wanita itu tahu jika putranya menolak karena masih marah pada Tama. Dia jadi merasa bersalah akan hal itu, karena membiarkan anak-anak mendengar pertengkarannya tadi. Untungnya tidak sulit membujuk mereka. Maysa tahu jika Tama masih ada pekerjaan karena itu, dia tidak bisa berlama-lama di rumah orang tuanya.
"Kalau anak-anak masih mau di sini tidak apa-apa, May. Aku juga tidak ada pekerjaan," ucap Tama yang baru saja pergi ke taman belakang dan mendapati Maysa membujuk anak-anak.
"Nggak usah, Mas. Kita pulang saja, Mama Mirna pasti di rumah sendirian," sahut Maysa, dia tidak mau Mama Rafiqah melihat dirinya yang masih marah pada sang suami. Pasti wanita paruh baya itu akan kepikiran.
Tama mengangguk saja. Mereka berempat berpamitan pada Mama Rafiqah dan juga Riri yang berada di ruang keluarga. Awalnya wanita paruh baya itu masih ingin mereka di sini, tetapi dilihat dari suasana ketegangan tadi, Mama Rafiqah tahu jika Maysa ingin segera menyelesaikan masalahnya di rumah.
Sepanjang perjalanan pulang, hanya ada keheningan. Di dalam mobil suasana nampak dingin. Tidak ada satu orang pun yang berbicara, hanya Eira yang sesekali bertanya pada kakaknya.
"Kenapa kita berhenti di sini, Kak? Bukannya tadi kita mau pulang?" tanya Eira saat tahu Tama menghentikan mobilnya di sebuah taman bermain.
Sekarang hari libur, tentu saja taman sangat ramai. Banyak anak kecil bermain di sana. Dio hanya menggeleng sebagai jawaban karena dirinya juga tidak tahu, kenapa papanya mengajak ke sini. Tidak ada pemberitahuan sama sekali dari pria itu sebelumnya.
Saat ini semuanya juga sedang dalam mood yang buruk untuk bermain bersama. Jika saja tadi tidak ada insiden di rumah Mama Rafiqah, anak-anak pasti bersemangat diajak ke tempat seperti ini.
"Kenapa diam saja semuanya? Ayo, kita turun. Hari ini 'kan hari libur jadi, kita senang-senang dulu di sini," ucap Tama sambil melihat ke arah istri dan anak-anaknya.
"Aku mau pulang saja, Pa," ucap Dio, begitu juga dengan Eira yang mengangguki ucapan kakaknya.
__ADS_1
Maysa hanya diam memandangi sekitar taman. Begitu banyak keluarga yang menghabiskan waktu bersama di hari libur. Dia sangat jarang sekali menghabiskan waktu bersama seperti mereka. Dari dulu sampai sekarang.
Dulu saat bersama Rafka jika dirinya punya waktu senggang, dia akan pergi berdua saja bersama dengan Eira. Rafka selalu sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan setelah bercerai pun waktu pria itu sama sekali tidak ada untuk Eira.
Sekarang saat bersama dengan Tama, hanya sesekali saja mereka bisa pergi. Itu pun ada batasan waktunya, tetapi Maysa masih bersyukur sang Suami masih meluangkan waktu. Mengingat pekerjaan pria itu seorang pemimpin perusahaan. Akan tetapi, tetap saja sebagai seorang wanita terkadang dia merasa iri terhadap wanita lain.
"May, kamu nggak mau turun?" tanya Tama membuyarkan lamunan wanita itu.
Maysa melihat ke arah anak-anak yang terlihat tidak begitu antusias. "Terserah anak-anak mau turun apa nggak."
"May, apa kamu marah dengan apa yang aku katakan tadi? Maaf, bukan maksudku untuk membentak kamu. Hanya saja aku tidak suka dengan kamu yang berbicara seperti tadi. Itu sangat merendahkan harga diri seorang pria."
"Iya, aku tahu karena kamu juga seorang pria, kan? Aku juga sudah melupakannya. Sebaiknya kita pulang sekarang, tidak etis bicara di depan anak-anak," ucap Maysa tanpa melihat ke arah sang suami.
"Bukan seperti itu cobalah mengerti apa yang aku maksud."
Tama memejamkan matanya sejenak. Sepertinya apa yang dia lakukan tadi, sudah sangat melukai hati Maysa. Namun, sungguh pria itu tidak ada maksud untuk itu. Tadi juga Tama refleks saja membentak istrinya.
Pria itu pun akhirnya kembali melajukan mobil menuju rumah. Nanti saja dia berbicara berdua dengan Maysa. Tama tahu pasti saat ini istrinya sedang ingin meluapkan apa yang dia rasakan. Namun, dia tidak mampu melakukannya saat ini karena ada anak-anak bersama dengan mereka.
Tidak berapa lama, akhirnya mobil yang dikendarai pria itu sampai juga di halaman rumah. Semua orang segera turun dan masuk ke dalam rumah. Mama Mirna yang ada di ruang keluarga segera menyambut cucu-cucunya.
"Oma kira kalian pulangnya malam, ternyata sekarang sudah pulang!" seru Mama Mirna. Dio dan Eira berceloteh, menceritakan apa saja yang dilakukan di rumah omanya.
Wanita paruh baya itu hanya tersenyum mendengarnya. Sementara itu, Maysa duduk di sofa samping mereka. Dia juga tersenyum melihat tingkah anak-anak.
__ADS_1
"May, bagaimana kamu sudah bicara sama mama kamu?" tanya Mama Mirna.
"Sudah, Ma. Alhamdulillah Mama Rafiqah setuju, tetapi Mama Rafiqah ingin sesekali tinggal di rumah kalau kangen sama rumah."
"Iya, Mama mengerti, memang seusia kami ini sangat berat meninggalkan rumah. Apalagi rumah yang sudah kita tinggali dari dulu. Semoga saja Mama kamu betah di sini."
"Iya, Ma."
"May, ayo kita ke kamar dulu! Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," ajak Tama yang baru saja datang.
"Iya, Mas," sahut Maysa yang kemudian beralih menatap sang mertua. "Aku ke dalam dulu, Ma."
"Iya, kalau kalian belum sarapan, minta saja sama Bibi."
"Sudah, Ma. Kami sudah sarapan."
Maysa pun mengikuti sang suami ke kamar, sementara anak-anak masih berada di ruang keluarga bersama dengan Mama Mirna. Pasangan suami istri itu berjalan menuju kamar. Begitu sampai, Tama duduk di sofa, Maysa pun ikut duduk di samping sang suami.
Tama menarik napas dalam-dalam. Pria itu pun duduk menghadap sang istri. "Aku tahu kamu sudah sangat terluka dengan apa yang aku katakan tadi. Apalagi aku sampai membentak kamu, tapi sungguh aku tidak bermaksud untuk menyakiti kamu. Aku tadi hanya refleks membentak kamu karena aku tidak suka dengan apa yang kamu katakan. Kamu sadarkan kalau kata-kata itu sangat tidak pantas diucapkan olehmu?"
"Dan apakah kamu juga sadar, Mas, kalau kamu membentak aku di depan orang lain? Orang lain itu adalah orang yang sangat menyakiti aku dan Eira di masa lalu. Meskipun itu hanya masa lalu, tapi luka yang dia torehkan sampai detik ini pun masih terasa."
Mata Maysa berkaca-kaca, sebisa mungkin wanita itu menahannya agar tidak tumpah. Dia tidak ingin terlihat lemah kali ini meskipun di depan sang suami.
"Bahkan kemarin luka itu bertambah, saat dia meminta izin untuk mengajak Eira berlibur dan akhirnya dikecewakan juga. Mungkin jika itu di depan orang lain, rasanya pasti berbeda, tapi apa pun itu, aku paling tidak suka dibentak. Orang tua yang sudah membesarkanku saja tidak pernah membentak. Hanya Rafka orang yang membentakku selain kamu," lanjutnya.
__ADS_1
.
.