Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
95. Masak untuk calon mertua


__ADS_3

“Assalamualaikum,” ucap Maysa dan Eira bersama-sama saat memasuki rumah.


“Waalaikumsalam, Eira!” pekik Dio saat melihat Mama dan adiknya pulang. “Kenapa nggak bilang kalau pulang, aku bisa jemput kamu tadi.”


“Kakak, biarin adiknya mandi dan istirahat dulu. Adiknya pasti capek,” tegur Mama Mirna yang membuat Dio tersenyum. Dia terlalu senang melihat adiknya pulang.


“Iya, Oma. Tas Eira biar Dio yang bawa, Ma,” ucap Dio sambil meraih tas Eira yang berisi baju.


“Memang bisa, ini berat.”


“Bisa.” Dio mengambil tas di tangan mamanya, kemudian membawanya ke kamar. Meski terlihat kesusahan, tetapi anak itu tetap bersemangat membawanya. Eira mengikuti kakaknya, dia juga merindukan kebersamaan mereka.


“Masuklah, May. Sebentar lagi Tama pasti pulang,” ucap Mama Mirna menyadarkan Maysa dari lamunannya.


“Mama nggak tanya kenapa Eira sudah pulang?”


“Mama mengerti, dari raut wajah Eira, semua sudah menjelaskan,” jawab Mama Mirna yang diangguki oleh Maysa.


“Kalau begitu, aku ke kamar dulu, Ma.”


“Iya.”


Maysa pun masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri, sebelum menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Sementara itu, di kamar anak-anak, Dio merapikan baju-baju adiknya ke dalam lemari dan memasukkan baju yang sudah kotor ke keranjang yang ada di sana.


“Kak, maaf, aku lupa nggak beliin Kakak oleh-oleh,” ucap Eira yang merasa bersalah pada kakaknya.


“Tidak apa-apa, nanti kita beli sesuatu sama-sama. Kemarin Mama bilang mau ngajak kita jalan-jalan, kamu mau, kan? Nanti di sana kamu harus beliin Kakak sesuatu,” ucap Dio yang mencoba menghibur adiknya.


“Mama mau ngajak kita ke mana, Kak?” tanya Eira antusias.


“Aku belum tahu. Kemarin Mama bilang mau nunggu kamu pulang. Nanti kita tanya sama mama saja,” ucap Dio yang diangguki oleh Eira.

__ADS_1


Gadis itu merasa bersalah pada keluarganya. Semua begitu peduli padanya. Namun, dia lebih memilih berlibur dengan seseorang yang tidak pernah menyayanginya. Sekarang Eira berjanji, akan mendahulukan keluarga ini, daripada papa kandungnya atau orang lain yang sama sekali tidak memikirkan perasaannya.


“Kamu mandilah dulu, sebentar lagi Papa pulang. Nanti kita bicara sama Papa dan Mama,” ucap Dio setelah selesai merapikan pakaian adiknya.


“Iya, Kak.” Eira segera berlalu menuju kamar mandi. Dia memang sudah mulai terbiasa mandi sendiri karena tidak mau merepotkan mamanya.


***


Riri baru sampai di depan rumahnya. Dia melihat masih ada mobil Adit di sana. Gadis itu menggelengkan kepala. Entah apa saja yang dilakukan pria itu di rumahnya. Semoga saja mantan kekasihnya itu tidak membuat ulah.


“Assalamualaikum,” ucap Riri saat memasuki rumah.


“Waalaikumsalam.”


Adit terlihat sedang membersihkan rumah. Riri hanya meliriknya sekilas kemudian mendekati mamanya yang sedang menonton televisi. Gadis itu mencium punggung tangan mamanya dan meletakkan satu kantong kresek di atas meja.


“Ma, aku tadi habis dari minimarket, tapi di sana sayurannya banyak yang habis jadi, aku beli cuman segini saja. Besok aku beli lagi.”


“Nggak usah beli, di kulkas sudah banyak,” sahut Mama Rafiqah.


“Bukan Mama, tapi dia yang belanja,” jawab Mama Rafiqah sambil menunjuk ke arah Adit dengan dagunya.


Riri pun mengikuti arah mamanya dengan melihat Adit. Namun, gadis itu tidak berani banyak berkomentar. Dia hanya diam dan mengangguk.


“Aku mau mandi dulu, Ma. Setelah itu aku masakin makan malam buat Mama,” ucap Riri yang segera masuk ke dalam kamarnya.


Gadis itu duduk di tepi ranjang. Dia memegangi dadanya yang selalu berdetak lebih cepat saat berdekatan dengan Adit. Tidak dipungkiri jika rasa itu masih ada untuk mantan kekasihnya.


“Apa yang harus aku lakukan? Apa aku juga harus memperjuangkan cinta ini atau membiarkan Mas Adit memperjuangkannya sendiri. Aku juga masih mencintainya, tapi aku takut terluka seperti dulu. Mungkin jika hanya aku saja yang terluka itu tidak masalah. Aku tidak ingin orang yang sudah melahirkan dan membesarkanku juga ikut terkena dampak dari semuanya. Biarlah semua berjalan dengan semestinya,” gumam Riri.


Tidak mau berlarut dalam masalahnya. Gadis itu segera membersihkan diri. Dia juga harus menyiapkan makan malam untuk mamanya. Mengenai Adit jika Mama Rafiqah mengizinkan untuk ikut makan, itu tidak masalah.

__ADS_1


“RI, kamu mau ke mana?” tanya Mama Rafiqah yang berada di ruang keluarga.”


“Mau ke dapur, Ma. Mau masak buat kita makan malam.”


“Tidak perlu, kamu duduk di sini saja. Adit sedang memasak untuk kita,” ucap Mama Rafiqah sambil menepuk sofa yang di sampingnya.


“Hah ...! Maksudnya Mas Adit yang masak? Memang bisa, Ma?” tanya Riri dengan ragu.


“Mama juga nggak tahu. Dia sendiri yang menawarkan diri. Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan. Kita hanya bisa menikmati saja.”


Riri mengangguk dan duduk di samping mamanya. Dia juga penasaran, kira-kira apa yang akan dimasak oleh pria itu. Dulu saat mereka saling mengenal, Riri sangat tahu jika Adit tidak bisa memasak. Perpisahan satu tahun diantara mereka, sudah banyak sekali mengubah diri Adit, sedangkan dirinya hanya seperti ini saja.


Apakah dirinya masih pantas untuk bersanding dengan pria hebat seperti Adit. Tiba-tiba rasa percaya diri gadis itu turun. Dulu saja orang tua pria itu tidak pernah setuju dengan dirinya, apalagi sekarang. Sudah pasti ditolak mentah-mentah.


“Maaf, Bu Rafiqah, Riri, makanan sudah siap. Mari kita nikmati!” ajak Adit mengalihkan perhatian kedua wanita itu yang semula menatap televisi.


“Apa kamu yakin dengan masakan yang kamu sajikan? Saya takut nanti malah keracunan,” tanya Mama Rafiqah.


“Ibu tenang saja, makanan yang saya masak, dijamin sehat,” sahut Adit tanpa merasa sakit hati sedikit pun. Dia tahu jika apa yang dikatakan oleh Mama Rafiqah hanya bercanda saja.


“Baiklah, ayo kita nikmati makan malam hari ini! Dengan koki baru, mudah-mudahan saja setelah makan nanti semuanya baik-baik saja,” ajak Mama Rafiqah.


“Saya jamin semuanya akan baik-baik saja dan bakal nagih, Bu,” sahut Adit yang mengikuti kedua wanita itu dari belakang.


Saat sampai di meja makan, Mama Rafiqah dan Riri bisa melihat berbagai macam hidangan di sana. Semuanya juga makanan khas rumahan, yang memang sangat mereka sukai. Seulas senyum menghiasi bibir Riri. Begitu juga dengan Mama Rafiqah. Kedua wanita itu senang, ternyata Adit memang sangat tahu apa yang mereka sukai.


“Silakan, Bu, dinikmati! Nanti kalau ada sesuatu yang kurang, bilang saja. Biar nanti saya belajar masak lagi.”


Mama Rafika mengangguk dan mulai menikmati makan malam ini. Adit menatapnya dengan harap-harap cemas. Takut jika masakannya tidak sesuai dengan selera calon mertuanya.


“Kenapa kamu hanya lihatin saja? Duduklah, ayo makan bersama!” ajak Mama Rafiqah yang diangguki Adit. “Eh! Duduknya di sana!” serunya saat melihat Adit akan duduk di samping Riri.

__ADS_1


.


.


__ADS_2