
Setelah semuanya selesai sarapan, Tama dan Maysa mengantar anak-anak ke sekolah. Awalnya pria itu ingin sopir saja yang mengemudi. Namun, sang istri melarang. Wanita itu merasa dirinya juga bisa mengemudi jadi, biarlah Maysa sendiri yang mengambil kemudi, untuk mengantar anak-anak.
Sepanjang perjalanan, Dio dan Eira terlihat begitu senang. Sudah lama mereka tidak diantar kedua orang tuanya. Biasanya hanya salah satu dari mereka, tetapi yang lebih sering adalah Mahesa. Butik wanita itu juga tidak terlalu jauh dari sekolah.
Jalanan pagi terlihat begitu macet dengan kesibukan semua orang. Ada yang bekerja, ada pula yang mengantar sekolah anaknya, sama seperti yang dilakukan Tama dan Maysa. Setelah sampai di sekolah kedua anak itu turun. Tidak lupa berpamitan pada orang tuanya.
Tama dan Maysa hanya mengantar sampai di depan gerbang karena memang aturan di sekolah itu, para orang tua hanya mengantar sampai di sana, kecuali waktu pendaftaran pertama kali, hingga satu bulan perkenalan. Sekarang sudah tidak diperbolehkan lagi karena sudah masuk ajaran.
"Anak-anak, ingat ya yang rajin sekolahnya! Biar nanti jadi anak yang hebat, biar Mama dan Papa bangga. Nurut sama bu guru, ya!" ucap Tama yang diangguki oleh kedua anaknya.
Eira dan Dio berpamitan pada kedua orang tuanya. Kedua anak itu segera masuk ke sekolahan. Tama dan Maysa memandangi kedua anaknya dari jauh, hingga tidak terlihat.
"Ayo, Mas! Aku antar pulang," ajak Maysa.
"Aku mau ikut ke butik kamu saja, Sayang. Aku kalau di rumah sendiri malah bosan."
"Mas, kamu bukannya istirahat malah ikut ke butik. Padahal kamu sudah ambil cuti, seharusnya banyak-banyak beristirahat."
"Aku sudah baik-baik saja, Sayang. Ini hanya tinggal sedikit saja pusingnya. Aku nanti di butik kamu juga pasti diam saja."
Maysa menghela napas, sepertinya melarang Tama juga percuma. Pria itu akan tetap memaksa untuk ikut. Sebenarnya dia tidak masalah, hanya saja wanita itu khawatir sang suami akan semakin sakit.
"Ya sudahlah, ayo! Tapi ingat! Nanti kamu di sana nggak boleh ngapa-ngapain."
__ADS_1
"Iya, Sayang," sahut Tama yang kemudian mengikuti sang istri menaiki mobil. Wanita itu pun melajukan mobilnya menuju butik.
Sepanjang perjalanan banyak hal yang keduanya bicarakan. Termasuk masalah asisten rumah tangga. Mereka memutuskan untuk mencari yang sudah menikah dan punya anak. Kalau bisa yang berumur.
Tama sudah menyerahkan keputusan pada Maysa untuk mencari. Dia akan menyetujui siapa pun pilihan istrinya. Tujuannya mencari asisten rumah tangga agar sang istri tidak terlalu lelah jadi, mau seperti apa juga terserah. Asal Maysa tidak lagi ikut berkutat di dapur dan lebih fokus pada anak-anak.
"Acara pernikahan Riri dan Adit tinggal satu minggu lagi. Sudah sejauh mana persiapannya, Sayang?" tanya Tama yang baru mengingat tentang rencana pernikahan adik iparnya itu.
"Aku juga tidak tahu, Mas. Aku tidak pernah menanyakan hal itu pada Riri, apalagi membahasnya. Dia juga pasti tidak tahu karena semuanya sudah diurus sama Adit. Kemarin dia pamit, katanya mau ketemu sama Adit. Mungkin membicarakan mengenai pesta. Aku juga belum menanyakannya."
"Kita juga belum beli hadiah buat mereka. Apa kamu sudah menyiapkannya, Sayang?"
"Belum, Mas. Niatnya sih mungkin saat hari pernikahannya kurang tiga atau dua hari. Aku juga masih bingung mau kasih hadiah apa. Awalnya aku mau kasih dia gaun, tapi dia sudah terlalu sering dapat hadiah dari aku seperti itu. Kayaknya nggak spesial saja. Gaun pernikahannya juga aku yang buat jadi, pasti sudah biasa bagi Riri. Apa kamu punya saran, Mas?" tanya Maysa balik.
Maysa memikirkan usul sang suami. Sebenarnya tidak ada yang salah, hanya saja dia yakin jika satu buah kalung berlian pasti harganya sangat mahal. Wanita itu sendiri tidak pernah membelinya. Itu terlalu mahal untuk Maysa.
Ada satu di rumah yang dia punya, itu pun pemberian dari Tama. Selain itu sudah tidak punya lagi. Sang suami yang mengerti kegundahan sang istri pun, mencoba untuk menenangkannya.
"Kamu jangan terlalu memikirkan harganya. Kamu bisa pakai uangku, bagaimanapun juga Riri kan adikku juga. Aku selalu heran sama kamu, selalu saja nggak mau pakai uangku ketika ada acara atau ada sesuatu yang penting. Kamu selalu pakai uang kamu sendiri. Padahal aku sangat berharap kalau kamu itu selalu bergantung padaku. Setidaknya itu membuat aku sebagai laki-laki yang berguna."
"Aku 'kan selalu belanja pakai uang pemberian kamu, Mas," sahut Maysa yang masih belum mengerti arah pembicaraan sang suami.
"Iya, kalau masalah belanja, kamu memang pakai uang aku, tapi untuk keperluan kamu sendiri maksudnya. Untuk anak-anak juga kamu selalu pakai uang kamu sendiri. Pakailah uang pemberianku, Sayang. Biar aku merasa berguna, untuk apa juga aku setiap hari pergi pagi pulang sore jika tidak bermanfaat. Itu semua demi kamu dan anak-anak, tapi kamu malah pakai uang kamu sendiri." Tama menunduk lesu karena merasa tidak diperlukan oleh istrinya.
__ADS_1
"Aku nggak ada maksud seperti itu, Mas. Aku hanya berpikir kalau aku punya uang jadi, aku pakai saja."
"Sebaiknya uang itu kamu tabung buat memperbesar usaha kamu. Aku yakin kamu pasti ingin memiliki butik yang lebih besar lagi. Kamu juga bisa membantu orang lain dengan mempekerjakannya. Atau kamu mau menggunakan untuk hal-hal lainnya silakan, tapi untuk keperluan kamu tolong jangan pakai uang kamu sendiri. Pakai kartu kredit yang sudah aku kasih, biar aku lebih bermanfaat lagi."
"Kamu bicara apa, sih, Mas. Kamu itu selalu berguna buat aku. Kenapa kamu bicara seolah-olah kamu itu tidak ada artinya. Aku senang kamu bisa bersamaku dan selalu ada untuk keluarga kita. Kamu juga menyayangi Eira seperti kamu menyayangi Dio jadi, kamu sangat berarti untukku. Jangan pernah bicara seperti itu lagi," sahut Maysa dengan nada tidak suka.
"Karena itu, Sayang. Mulai hari ini pakai kartu kredit yang aku berikan, ya!"
Maysa melihat ke arah Tama sejenak kemudian kembali fokus pada jalanan. Mau tidak mau wanita itu akhirnya mengangguk. Dia akui kalau selama ini dirinya memang selalu memakai uangnya sendiri.
Bukan takut atau apa pada Tama, hanya saja dia berpikir jika itu untuk kebutuhannya sendiri, bukan seluruh keluarga jadi, Maysa lebih nyaman memakai uang sendiri. Mengenai baju anak-anak, dia berpikir itu juga termasuk tanggung jawabnya. Wanita itu tidak tahu jika yang dilakukan justru membuat Tama merasa tidak berguna.
Tidak berapa lama akhirnya mereka sampai juga di butik. Di sana sudah tampak ramai beberapa pembeli. Maysa senang setiap hari ada saja pembeli yang datang. Entah pembeli baru atau yang sudah berlangganan.
Via dan beberapa temannya tampak sibuk. Maysa tidak melihat keberadaan Riri, wanita itu pun bertanya pada salah satu pegawainya. Mereka bilang jika adiknya ada di belakang. Dia pun tidak terlalu mengkhawatirkan keberadaan Riri.
Akhirnya Maysa memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan, bersama dengan sang suami. Seperti janjinya sebelum datang, Tama hanya duduk di sofa di ruangan istrinya. Tidak banyak yang dilakukan pria itu, kecuali memainkan ponsel dan membaca majalah.
Pintu ruangan Maysa diketuk oleh seseorang dari luar. Wanita itu pun meminta orang tersebut masuk. Ternyata Riri yang datang. "Kak, di depan ada Bu Nadia. Dia ingin bertemu sama kakak."
.
.
__ADS_1