Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
122. Perdebatan di tengah duka


__ADS_3

"Adik, kamu yang tenang di sana, ya. Semoga saja nanti kita bertemu di sana jadi, anak yang baik, biar nanti kita bisa selalu sama-sama. Kata mama, anak yang baik pasti akan masuk surga. Kita nanti masuk surga sama-sama, ya," ucap Eira yang kemudian mencium kening adiknya.


Hal tersebut tentu saja membuat orang yang melihatnya meneteskan air mata. Kata-kata yang sederhana. Namun, mampu membuat hati para orang tua bergetar. Mereka juga kagum dengan cara Maysa mengajari putrinya. Wanita itu dari dulu memang selalu sabar dan lemah lembut, pantas jika putrinya juga hebat.


Eira kembali mendekati Maysa. Mereka duduk sedikit jauh dari jenazah. Kerabat Rafka yang memang duduk di dekat dan sudah mengenalnya pun bersalaman. Dio dan Eira hanya diam sambil melihat sekitar.


Acara pemakaman berjalan dengan lancar. Keluarga Vida juga hadir di sana. Namun, mereka tidak bisa lama. Setelah acara pemakaman, mereka kembali pulang. Hal itu tentu saja membuat keluarga Rafka saling berbisik.


Vida tidak memedulikannya karena Wanita itu sudah terbiasa seperti itu. Keluarganya memang memiliki toleransi yang rendah jadi, dia tidak terlalu terkejut dengan sikap mereka. Selama ini Vida juga baik-baik saja hidup sendiri.


Maysa memberi kode pada sang suami untuk pamit pada Rafka. Mereka juga harus pulang, anak-anak sepertinya juga sudah sangat mengantuk. Sejak pulang sekolah keduanya belum beristirahat sama sekali. Pantas saja jika mereka lelah.


"Maaf, Rafka. Saya dan keluarga harus pamit. Anak-anak juga belum istirahat sama sekali dari pulang sekolah tadi," pamit Tama pada Rafka.


Rafka melihat ke arah putrinya yang saat ini duduk di samping Maysa. "Mohon maaf, Pak Tama, bolehkah jika Eira tinggal di sini untuk sementara waktu. Di sini juga banyak saudara yang menginap, pasti akan ramai nanti," sahut Rafka yang membuat Tama bingung.


Bukannya dia mau melarang, tapi takut jika Maysa akan marah kalau Tama memberi izin. Pria itu sangat tahu jika istrinya paling tidak suka jika Eira bersama dengan Rafka, setelah apa yang terjadi kemarin. Wanita itu takut Rafka lagi-lagi membuat putrinya kecewa. Perlu beberapa hari untuk membuat gadis kecil itu kembali ceria.


"Mengenai hal itu, silakan tanyakan sendiri pada anaknya. Kalau saya pribadi tidak pernah membatasi ke mana pun Eira mau pergi," jawab Tama sambil melirik ke arah istrinya. Berharap jawabannya tidak membuat sang istri kecewa.


Rafka melihat putrinya dengan penuh harap. Pria itu duduk di depan Eira dan menggenggam kedua telapak tangan putrinya. "Eira mau 'kan menginap di rumah Oma? Nanti di sini banyak sepupu Eira yang lain. Nanti bisa main sama-sama. Mau, kan?" tanya Rafka.

__ADS_1


Maysa hanya memandangi interaksi antara ayah dan anak itu. Sejujurnya dalam hati dia sangat tidak rela jika putrinya menginap di sini. Namun, Rafka juga masih memiliki hak atas diri Eira. Gadis kecil itu juga berhak menentukan pilihannya sendiri. Jika mengingat luka yang pria itu berikan, sangat berat jika melepas putrinya di sini. Meski hanya untuk satu malam.


"Aku nggak mau, aku mau pulang saja," jawab Eira dengan melepaskan tangannya dan memeluk Maysa yang ada di sampingnya. Dia juga menyembunyikan wajah di dada mamanya.


Tentu saja hal itu membuat semua orang terkejut. Mereka pikir jika Eira mau menginap di sini. Mengingat sebelumnya anak itu selalu senang jika bermain dengan sepupunya. Akan tetapi, sekarang malah menolak dengan tegas. Bahkan tidak mau melihat wajah ayahnya.


Eira masih menyembunyikan wajah di dada mamanya. Maysa hanya bisa mengusap punggung putrinya untuk menenangkan hati gadis kecil itu. Dia sangat tahu jika Eira masih trauma jika bepergian bersama dengan Rafka. Meskipun saat ini 'saingannya' sudah tidak ada. Namun, tetap saja anak kecil itu masih takut.


"Maaf, Kak Rafka. Sepertinya Eira menolak untuk tinggal di sini," ucap Maysa dengan tersenyum.


Hal itu justru disalah artikan salah satu saudara dari Mama Ishana. "Pasti itu kamu yang melarangnya, kan? Eira biasanya juga dulu tinggal di sini. Kenapa sekarang menolak? Apa karena kamu sekarang memiliki suami yang lebih kaya dari Rafka? Kamu mengajari putrimu untuk tidak menghormati orang tua!"


"Kak Rafka, sebaiknya saya dan keluarga pamit undur diri sejarang. Saya tidak mau menambah masalah di saat kalian sedang berduka dan Anda Tante, kalau Anda tidak tahu apa-apa, sebaiknya jaga mulut Anda. Anda tanyakan saja kepada keponakan Anda ini, apa yang sudah dia lakukan pada putrinya. Hingga membuat putrinya trauma. Permisi, assalamualaikum."


Maysa segera pergi dari sana dengan menggendong Eira. Tidak lupa juga dia mengajak Dio dan juga Tama. Wanita itu benar-benar kesal dibuatnya. Maysa datang dengan niat baik untuk melayat, tetapi pada akhirnya harus ada perdebatan dulu sebelum pergi. Apa mereka sekeluarga memang setiap bertemu harus mengujinya.


"Rafka, apa maksud dari Maysa tadi? Kenapa dia bicara seolah kamu melakukan kesalahan yang besar?"


"Aku memang melakukan kesalahan yang besar, Tante, tapi saat ini aku sedang tidak ingin membahasnya. Yang pasti Eira dan Maysa memang tidak bersalah. Mereka hanya menunjukkan rasa kecewanya terhadapku," jawab Rafka dengan menundukkan kepalanya.


"Jika itu rasa kecewa karena perceraian kamu, bukankah itu sudah lewat? Maysa juga sudah menikah dan sepertinya mereka juga bahagia. Kenapa masih dipermasalahkan?"

__ADS_1


"Yang dimaksud Maysa itu bukan masalah perceraian kami, Tante, tapi kemarin saat waktu liburan, aku janji sama Eira mau mengajak dia jalan-jalan, tetapi karena suatu alasan aku batal mengajaknya dan ...."


Rafka tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Tidak mungkin dia menceritakan jika Vida sudah memukul putrinya itu. Akan semakin menambah masalah, mengingat bagaimana keluarganya sangat tidak menyukai istrinya itu. Mereka masih menganggap Vida adalah pelakor yang tidak pantas menjadi salah satu keluarga mereka.


"Dan apa? Kenapa kamu tidak melanjutkannya? Apa saja yang sudah terjadi diantara kalian, hingga membuat Eira tidak ingin bersamamu lagi?"


Vida sedari tadi hanya diam. Dia tidak mengatakan satu kata pun. Wanita itu tahu jika Rafka saat ini sedang menutupi kesalahannya. Akan tetapi, tidak ada satu niat pun untuk membela pria itu. Biarlah Rafka yang menyelesaikannya sendiri.


"Sudahlah, Tante. Tidak usah dibahas lagi, semuanya juga sudah lewat. Percuma juga dibicarakan lagi." Rafka segera pergi dari sana. Dia menuju kamarnya, Vida pun mengikutinya dari belakang.


"Kak, apa kamu tahu maksud dari kata-kata Rafka? Apa yang sudah dia lakukan pada putrinya, hingga membuat putrinya tidak mau dekat-dekat dengan dia? Jangan bilang jika Rafka melakukan kekerasan. Selama ini aku mengenalnya sebagai pria yang hangat. Di Keluarga kita juga tidak ada pria yang ringan tangan."


"Aku juga tidak tahu. Sejak Rafka dan Vida memutuskan untuk mengontrak, aku sudah sangat banyak kehilangan berita tentang mereka. Apa saja yang sudah mereka lakukan, bahkan saat anak mereka sakit pun, aku sama sekali tidak tahu," jawab Mama Ishana.


"Sudah berapa kali aku bilang, kalau Kakak jangan terlalu lemah menghadapi menantu. harus lebih tegas lagi."


Mama Ishana hanya diam mendengar omelan dari adiknya. Bukannya dia tidak mau tegas, hanya saja wanita itu terlalu malas berbicara dengan Vida, yang nantinya malah akan berakhir dengan perdebatan.


.


.

__ADS_1


__ADS_2