Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
kejujuran Daniyal.


__ADS_3

keduanya berada di taman, bik Nur pun mengantarkan minuman dingin untuk keduanya.


"terima kasih bik," kata Dinda lembut.


"mas ingin mengatakan apa? kenapa dari tadi diam?" tanya Dinda yang langsung buka suara.


"aku ingin mengatakan sebuah kejujuran padamu, tapi aku takut ini akan melukai mu, dan kamu akan meragukan diriku," kata Daniyal menghembuskan nafasnya berat.


"insyaallah tidak mas, jadi tolong percaya dengan ku," jawab Dinda optimis.


Daniyal mengeluarkan dompetnya dan juga ponselnya, Daniyal mengeluarkan sebuah foto dari dalam sana.


Dinda tersenyum melihat foto itu, bahkan dalam ponsel Daniyal layar wallpaper juga foto gadis cantik itu.


"Masyaallah dia gadis yang begitu cantik, siapa namanya?".


"dia adalah Marshanda, dan aku biasanya memanggilnya Caca, dia salah kekasih ku," kata Daniyal menatap istrinya itu.


"kenapa mas, kenapa sedih seperti ini, seharusnya mas menolak menikahiku di awal jika mencintai mbak Caca," jawab Dinda.


"tidak, menikahimu keinginanku, dan Caca dia telah melukai ku bahkan dia tak sebaik yang terlihat," kata Daniyal menunjukkan foto-foto Caca pada Dinda.


"apa mas sudah meminta penjelasan mbak Caca? jangan bilang mas menyimpulkan semua sendiri," kata Dinda melihat Daniyal.


Daniyal pun mengangguk, Dinda pun tersenyum dan mengusap pipi Daniyal.


dan Daniyal merasa begitu nyaman mendapatkan perlakuan begitu dari Dinda.


"aku ingin mas menemuinya dan meminta penjelasan, dan aku harap masalah ini akan segera berakhir," kata Dinda.


"iya dek, dan aku ingin kamu menemaniku ke Surabaya," jawab Daniyal.


Dinda pun mengangguk, dia tak ingin hidup bahagia dengan merampas cinta orang lain.


Dinda ingin Daniyal menyelesaikan semua agar jelas, karena dia tak ingin ada masalah di kemudian hari.


sore itu Dinda menyiapkan semua pakaian Daniyal, Keduanya pun sholat berjamaah.


Daniyal bahkan mencium kening Dinda setelah sholat, "terima kasih sudah menjadi imamku mas, menggantikan kakek untuk membimbingku."


"insyaallah ya dek," jawab Daniyal.


Adinda pun turun untuk membuatkan teh untuk Daniyal, sedang Daniyal bersama Bimbim di ruang kerja.

__ADS_1


bik Nur tak mengira jika Dinda begitu cekatan dan pintar memasak, gadis cantik dan sopan tepat mendampingi Daniyal.


Dinda hanya belum mengetahui sisi kelam dari suaminya, Dinda hanya gadis sederhana yang berjuang hidup bersama sang kakek.


dia ke ruang kerja sambil membawa nampan berisi minuman dan juga kue untuk Daniyal dan Bimbim.


"maaf mas, aku membuatkan ini Krena aku tak mengetahui selera mas," kata Dinda sambil meletakkan piring kue dan teh di meja.


"terima kasih, aku akan menyukai apapun yang kamu buatkan," jawab Daniyal.


Dinda pun pamit keluar, dan memilih membaca buku untuk menghabiskan waktunya.


Dinda begitu menyukai buku karangan dari Husna Khumaira Aziz, ini adalah buku tentang cinta seorang istri.


Dinda terlihat begitu serius membaca buku itu hingga tanpa sadar hari mulai petang.


"dek, ayo sholat magrib dulu," panggil Daniyal.


"iya mas, maaf aku terlalu menyukai buku ini," kata Dinda menunjukkan sampul bukunya.


Daniyal ingin sekali tertawa, pasalnya istrinya adalah salah satu pengemar dari kakak iparnya Husna.


"mau aku ajak bertemu dengan penulis itu," tawar Daniyal.


"benarkah? tapi aku dengar dia sedang hamil dan Hiatus," kata Dinda sedih.


"terima kasih," kata Dinda memeluk Daniyal begitu saja.


Daniyal pun kaget, pasalnya dia tak mengira Dinda akan memeluknya, tapi Daniyal juga membalasnya dengan lembut.


hari berganti, Daniyal dan Dinda sudah berada di pesawat menuju ke bandara Juanda Surabaya.


mereka tiba pukul dua belas siang, dan Adelia serta Daniel yang datang menjemput keduanya.


"hai, selamat datang si nakal kami," kata Adelia langsung memeluk Daniyal.


"mbak ih, malu sama istriku," kata Daniyal tertawa.


Adelia pun terkejut melihat wanita bercadar di samping Daniyal, dia tak mengira jika istri adiknya sereligius ini.


Daniel pun menangkupkan tangan menyapa Dinda, sedang Adelia berpelukan dengan Dinda.


"kita makan dulu," ajak Daniel.

__ADS_1


"tentu, ayo dek," ajak Daniyal menggandeng tangan Dinda.


mereka pun menuju ke sebuah restoran yang tak jauh dari bandara, saat baru duduk.


Adelia mengeluarkan sebuah undangan, Daniyal tersenyum membaca nama yang tertera di undangan itu.


"akhirnya dia benar-benar menunjukkan dirinya, dia memilih pria yang lebih kaya dari keluarga kita," kata Daniyal tanpa sadar meneteskan air matanya.


Dinda menghapus air mata itu, dan mengenggam tangan Daniyal, "mas kuat menghadapi semua ini,"kata Dinda.


Daniyal mengangguk, Daniel baru kali ini melihat sisi Daniyal yang tenang dan sabar saat bersama Dinda.


"sudah-sudah kamu sudah memiliki hidup baru, lebih baik fokus pada istrimu, dan untuk Caca dia juga sudah memilih jalannya sendiri," kata Adelia.


"iya mbak," jawab Daniyal.


keempatnya pun makan bersama, bahkan baby Nathan begitu mudah akrab dengan Dinda.


mereka pun menuju ke rumah milik Billy, dan ternyata Danish juga baru pulang kuliah.


Daniyal dan Daniel melihat pria itu mendapatkan memar di sudut bibirnya.


Danish berhenti melihat Daniyal dan Daniel, "kalian datang sekarang, aku kita masih besok," kaget Danish.


"ya bocah ini, kenapa mukamu biru, kamu berantem lagi!" teriak Adelia melihat Danish.


"mbak Adel, ini cuma salah paf


jam dikit, sudah ayo masuk, biar aku bereskan rumahnya," panik Danish.


tapi Daniyal buru-buru masuk karena dia tau bagaimana saudara kembarnya itu.


benar saja,rumah itu sudah seperti kapal pecah, Daniyal jadi tak ingin mengajak istrinya tinggal di sana.


"kak kita ke hotel, aku tak mau istriku tinggal di tempat perjaka malas seperti Danish, apalagi dengan semua kelakuan buruknya," kesal Daniyal.


"hei janhan sombong karena sudah menikah, tapi aku tak melihat istrimu?" tanya Danish.


"itu dia sedang bersama baby Nathan," tunjuk Daniyal.


Danish melongo, dia tak mengira jika Bella dan Billy mencarikan istri yang begitu religius bahkan dia bercadar.


dia kira jika Husna itu sudah cukup tertutup tapi dia malah melihat istri saudara kembarnya lebih dari itu.

__ADS_1


"wah ... ini papa sama bunda benar-benar ingin putra-putranya menjadi baik ya, hingga mencarikan istri seperti mbak Husna dan istrimu," kata Danish.


"itu baik bukan, mereka memikirkan kebaikan kalian berarti," jawab Daniel.


__ADS_2