Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
92. Usaha


__ADS_3

“Terserah kamu saja, sampai kapan pun saya tidak akan pernah merestui kalian,” pungkas Mama Rafiqah dengan sedikit kesal. Adit justru tersenyum karena sudah membuat calon mertuanya kesal.


“Bu, saya belum sarapan. Boleh saya sarapan di sini?” pinta Adit sambil mengusap perutnya.


“Uang kamu banyak, bisa beli makanan di luar sana.”


“Saya ‘kan mau makan masakan calon mertua dan juga calon istri. Boleh, Bu? Saya sudah sangat lapar. Saya takut jika magh saya kambuh. Boleh, kan, Bu?” tanya Adit.


Dia sangat tahu jika calon mertuanya ini orangnya tidak tegaan. Pasti nanti Adit akan diperbolehkan untuk sarapan di sini. Mama Rafiqah menarik napas dalam-dalam untuk mengurangi rasa kesal ya. Wanita itu pun terpaksa mengizinkan pria itu untuk masuk dengan syarat, Adit harus duduk jauh dari Riri.


Pria itu pun mengiyakan saja, saat ini yang terpenting adalah restu dari Mama Rafiqah. Wanita paruh baya itu masuk ke dalam rumah dengan menggandeng lengan putrinya, sementara Adit mengikutinya dari belakang. Dalam hati, pria itu terlihat sangat bahagia. Akhirnya setelah sekian lama dia bisa masuk ke rumah ini. Sebentar lagi pasti pemiliknya juga akan luluh pada Adit.


Begitu sampai di meja makan, Adit bisa melihat bermacam hidangan rumahan yang sudah jarang dia lihat. Pria itu jadi teringat saat pertama kali dirinya mengajak Riri makan di restoran berbintang. Tempat yang menyajikan masakan luar, tetapi gadis itu malah tidak memakan apa pun dan mengajaknya makan di warung.


“Kamu lihat sendiri, makanan di sini tidak seperti di rumahmu. Di sini tidak ada daging atau ayam seperti yang biasanya kamu makan," ucap Mama Rafiqah sambil memperlihatkan hasil masakannya dan Riri.


“Ibu terlalu berlebihan. Saya juga tidak setiap hari makan daging dan ayam. Meskipun saya seorang pengusaha, bukan berarti saya selalu makan enak. Bahkan saya sering sekali makan siang dengan sepotong roti saja untuk mengganjal perut. Itu semua karena pekerjaan yang sudah menunggu.”


“Pantas saja kamu punya penyakit maag. Itu karena pola makan kamu tidak teratur. Kerja juga harus ada waktu untuk istirahat dan makan. Jangan terlalu diforsir."


“Sebenarnya ini semua tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Aku sakit dari setahun yang lalu, saat itu hidup saya benar-benar hancur karena kehilangan orang yang saya cintai. Mau apa pun serba tidak enak."


Mama Rafika dan Riri sangat tahu siapa yang dimaksud oleh Adit. Namun, itu hanyalah masa lalu. Entah bagaimana isi hati pria itu saat ini. Benarkah dia masih benar-benar mencintai Riri atau itu hanya sebuah perasaan sementara karena Adit pernah gagal untuk mendapatkan gadis itu.


“Jangan terlalu mencintai orang lain. Nanti kamu akan terluka jika dia melakukan sesuatu yang tidak sesuai harapanmu.”


“Itu tidak masalah, saya sudah siap merasakan apa pun yang terjadi, selama dia yang menjadi kasihku.”

__ADS_1


“Ya sudah, ayo kita sarapan! Kamu yang pimpin doanya. Kamu 'kan laki-laki.”


Adit pun mengangkat tangannya sambil membaca doa. Dalam hati Mama Rafiqah merasa tersanjung. Pria yang ada di depannya ini sangat pandai mengaji. Suaranya juga terdengar merdu.


Setelah itu, mereka menikmati sarapan dengan tenang. Sesekali Adit melirik ke arah mantan kekasihnya. Namun, gadis itu terlihat sibuk dengan makanannya. Riri memang sengaja tidak memedulikan Adit. Entah apa yang dilakukan pria itu.


Setelah selesai menikmati sarapan, Mama Rafiqah meminta Adit untuk segera pergi dari rumahnya. Namun, pria itu menolak. Dia masih ingin di sini untuk melakukan sesuatu demi mendapat restu. Hari ini Adit juga sudah ambil cuti untuk mengambil hati calon Mama mertuanya.


Riri yang tidak ingin bersama dengan Adit pun memilih untuk segera pergi ke butik. Meski saat ini masih pagi, di sana pun sudah pasti belum ada siapa-siapa. Mama Rafiqah membiarkan putrinya pergi. Dia juga ingin tahu apakah Adit juga akan pergi mengikuti Riri.


“Sekarang Riri sudah pergi jadi, kenapa kamu masih di sini?” tanya Mama Rafiqah pada Adit saat Riri sudah meninggalkan rumah dengan motornya.


“Saya tadi sudah bilang kalau kedatangan saya ingin merayu Ibu. Bukan putri Ibu jadi, ini tidak ada hubungannya dengan Riri. Biasanya setelah Riri pergi, apa yang Ibu lakukan?” tanya Adit yang masih tidak patah semangat.


“Tidak ada, Cuma duduk di depan TV atau menyiram bunga di depan.”


“Kalau begitu, aku yang akan menyiramnya hari ini,” ucap Adit yang segera berdiri dari menuju taman depan rumah.


“Ini, Adit, kan? Pacarnya Riri dulu, yang punya istri,” sapa dua orang wanita yang lewat depan rumah Mama Rafiqah.


“Iya, Bu, tapi saya sekarang sudah sendiri," jawab Adit tersenyum.


“Sudah lama nggak lihat kamu, sekarang ada di sini lagi,” ucap wanita yang satunya.


“Saya hanya ingin mengambil hati Ibu Rafiqah. Saya ingin menikahi Riri, tapi Ibu Rafiqah tidak menerimanya. Saya tidak mau menyerah begitu saja jadi, saya sedang berusaha mengambil hati Bu Rafiqah agar beliau setuju menikahkan putrinya dengan saya.”


“Sebegitu besarnya cinta kamu pada Riri. Pasti Riri sangat beruntung dicintai pria seperti Mas Adit. Sudah ganteng, kaya lagi meskipun duda tidak masalah, masih terlihat gagah juga.”

__ADS_1


"Iya, Bu Rafiqah gimana, sih. Anaknya dicintai pria sebaik dan seganteng ini, masa ditolak?"


“Terima kasih atas perhatiannya, saat ini saya hanya ingin mendapat restu dari Bu Rafiqah.”


“Saya doakan agar hati Bu Rafiqah secepatnya terbuka dan merestui Mas Adit bersama dengan Riri.”


“Terima kasih doanya, Bu.”


“Kami permisi, Mas Adit yang semangat ngambil hati Bu Rafiqah.”


Dua wanita itu pun segera pergi. Adit pun melanjutkan pekerjaannya yaitu menyiram tanaman. Dia juga merapikan beberapa bunga yang berserakan, tidak lupa juga membersihkan rumput di sekitar. Mama Rafiqah hanya melihatnya dari jendela. Dia ingin tahu apa saja yang dilakukan oleh Adit.


Wanita itu sempat bingung bagaimana caranya mengusir pria itu. Namun, sepertinya akan sangat sulit, dilihat dari apa yang dilakukan Adit kali ini. Pria itu sepertinya benar bersungguh-sungguh. Apakah dia harus menerima Adit sebagai calon suami Riri. Akan tetapi, bagaimana dengan omongan orang di luaran sana.


Sementara itu, Riri sudah sampai di butik. Wanita itu sebenarnya khawatir jika Adit melakukan sesuatu yang akan membuat Mamanya marah. Namun, jika tetap di rumah malah akan semakin menambah masalah. Dia juga sangat tahu bagaimana keras kepalanya Adit.


"Ngelamun aja," tegur Maysa yang baru datang. Tadi wanita itu mengucap salam beberapa kali saat memasuki dapur. Namun, adiknya terlihat diam dengan pandangan kosong.


"Eh, Kakak! Sudah datang?" tanya Riri dengan gelagapan.


"Sudah dari tadi. Bahkan aku juga sudah mengucap salam beberapa kali, tapi yang di dalam nggak nyahut-nyahut. Jangan kebanyakan melamun, nanti ayam pada mati," sindir Maysa.


"Apa, sih, Kak! Sapa coba yang melamun," kilah Riri.


"Semua orang juga tahu apa yang kamu lakukan tadi. Iya, nggak, Via?" tanya Maysa.


"Iya, Bu. Kalau nggak ngelamun pasti sudah dengar orang ngucapin salam begitu keras. Ini malah diam saja sambil ngelihat baju-baju yang digantung. Baju kalau dilihatin terus juga nggak bakalan berubah warna," ujar Via yang kemudian mendapat lemparan kertas dari Riri.

__ADS_1


.


.


__ADS_2