Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
142. Mencari perawat


__ADS_3

Setelah perlengkapan untuk anak-anaknya sudah selesai, Maysa keluar dari kamar itu menuju kamar pribadinya. Dia ingin melihat apakah sang suami sudah selesai bersiap atau belum. Tadi saat dia keluar dari kamar sang suami sedang mandi. Segala perlengkapan ke kantor juga sudah disiapkan di atas ranjang seperti hari-hari biasanya.


“Aku pikir kamu belum selesai, Mas. Kenapa masih duduk di sini saja?” tanya Maysa saat melihat sang suami masih duduk di sofa padahal dirinya sudah siap untuk berangkat.


“Iya, Sayang. Ini juga lagi beresin pesan dari asistenku. Takutnya nanti ada yang ketinggalan kemarin kan aku nggak ke kantor,” ucap Tama. Maysa mendekat dan mengintip pekerjaan suaminya.


“Apa kamu curiga aku ada main?” Tama tertawa kecil, mengambil pipi sang istri dan menciumnya dengan lembut. Maysa malu mendengar ucapan suaminya itu.


“Tentu saja tidak. Aku percaya kalau kamu nggak akan begitu sama aku,” ucap Maysa.


“Aku mana mungkin seperti itu. Cuma kamu wanita yang aku sayang.” Sekali lagi Tama mencium pipi istrinya, lalu dengan gerakan satu tangan menarik punggung sang istri sehingga Maysa terjatuh di pangkuannya.


Maysa terkejut dengan perlakuan suaminya itu hingga terpekik cukup keras. “Akh, Mas!” terkejut dia dengan perlakuan suaminya ini.


Beberapa ciuman dia dapatkan dari sang suami dan membuatnya terkekeh geli saat laki-laki itu melabuhkan bibirnya di leher dan menggosoknya.


“Mas! Sudah! Geli.” Maysa menahan kepala suaminya. Tama terkekeh melihat wajah istrinya yang sudah memerah.


“Cepat kita keluar, anak-anak sudah nunggu loh,” ucap Maysa dengan tawa kecil di bibirnya.


“Anak-anak bisa menunggu, tapi ini tidak bisa.” Tama sekali lagi memberikan banyak kecupan di wajah Maysa.


“Mas! Astaghfirullah.” Maysa sekali lagi menahan kepala sang suami dan memberinya pelototan yang tajam. “Ayo kita turun! Daripada nanti terjadi hal yang tidak diinginkan!” ucap Maysa lagi.


Tama terkekeh mendengar ucapan istrinya tersebut. “Memang benar. Sepertinya kamu harus turun dari pangkuan aku. Ini ... ada yang sakit di bawahmu,” ucap Tama.


Maysa merasakan sesuatu yang keras di bawahnya, segera dia bangkit dari pangkuan laki-laki itu dan merapikan pakaiannya yang sedikit kusut. Malu rasanya, meski mereka sudah menjadi suami istri, tapi tetap saja, jika untuk hal yang satu itu masih saja malu untuk membahasnya.


“Haha. Nanti aku akan pulang cepat, kamu tunggu aku ya,” bisik Tama di dekat telinga Maysa.


Blush!

__ADS_1


Rasanya wajah Maysa panas mendengar ucapan ambigu suaminya itu.


“Ayo keluar. Anak-anak sudah menunggu,” ucap Maysa, lalu berjalan mendahului suaminya, sedangkan Tama di belakangnya hanya terkekeh kecil dan menggelengkan kepalanya.


“Ah, sakit!” ucap Tama, memasukkan tangannya ke dalam celana dan memperbaiki posisinya agar tak terlalu linu.


Tama dan Maysa bersama-sama dan menuju ruang makan. Di sana sudah ada Mama Mirna. Wanita paruh baya itu sedang menikmati teh hangat yang disiapkan oleh Ningrum.


Maisa yang melihat keberadaan mertuanya pun bertanya, “Mama sudah sehat? Padahal tadi aku mau bawain makanan ke kamar, tapi Mama sekarang sudah ada di sini.” Maysa duduk di samping sang suami yang ternyata sudah ada di dekatnya.


“Dari semalam mama sudah bilang kalau mama baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir dengan keadaan Mama. Sudah, sebaiknya kamu panggil anak-anak. Sudah saatnya sarapan pagi. Nanti mereka bisa terlambat.” Mama Mirna memberi perintah.


“Mereka sedang bersiap. Tadi aku baru saja dari sana.”


Maysa mengutarakan niatnya untuk mempekerjakan asisten rumah tangga satu lagi untuk membantu Ningrum, kasihan wanita itu jika harus membersihkan rumah ini dan mengerjakan pekerjaan yang lain. Sudah pasti akan semakin menguras tenaga dan waktu, mengingat betapa besarnya rumah yang mereka tinggali.


Tama dan Mama Mirna tidak keberatan dengan hal itu, mereka juga sangat tahu kesusahan asisten rumah tangga sebelumnya. Apalagi sekarang penghuni rumah juga semakin bertambah pasti akan semakin menambah pekerjaan mereka. Anak-anak juga suka bermain seenaknya dan membuat berantakan seisi rumah.


“Syukurlah kalau memang Mas Tama dan Mama tidak keberatan, tadi aku sudah bicara dengan Mbak Ningrum, dia bilang kakaknya ada yang mau kerja di sini. Aku bilang sama Mbak Ningrum mau uji coba dulu. Nanti kalau cocok boleh lanjut, kalau tidak ya terpaksa kita berhentikan,” ucap Maysa sambil melirik ke dua orang yang ada di dekatnya.


Maysa menganggukkan kepala, senang karena tidak ada yang keberatan dengan niatnya itu.


“Iya Ma. Aku juga sudah meminta Mbak Ningrum untuk menghubungi kakaknya.”


“Selamat pagi!” sapa Dio dan Eira secara bersamaan.


“Selamat pagi juga. Kenapa Eira nggak disisir rambutnya?” tanya Maysa yang melihat rambut putrinya masih acak-acakan.


“Aku nggak bisa, Mama. Makanya ini aku bawa ke sini, biar Mama yang kunciran rambut aku.” Eira menyerahkan sisir dan kuncir rambut ke tangan mamanya.


“Oke, duduk sini.” Maysa meminta putrinya untuk duduk di pangkuannya agar dia bisa menyisir rambut anak itu. Setelah selesai, mereka menikmati sarapan dengan tenang. Sesekali, Eira dan Dio menceritakan tentang apa saja yang terjadi di resepsi pernikahan Adit dan Riri pada Omanya.

__ADS_1


“Sayang, ini ada beberapa calon perawat yang dikirim oleh dokter keluarga. Kamu bisa pilih yang mana yang sekiranya bisa menjaga papa dengan baik,” ucap Adit sambil menyerahkan ponselnya ke tangan sang istri.


Riri pun membaca satu persatu file yang ada di ponsel sang suami. Dari sepuluh perawat yang direkomendasikan oleh dokter ternyata semuanya masih single. Riri tentu saja enggan untuk menerimanya, dia ingin yang sudah menikah saja agar semuanya bisa terkendali. Dia juga tidak harus curiga terhadap sang suami ataupun perawat itu nantinya. Bukannya apa-apa, tapi mencegah lebih baik daripada semuanya terlanjur dan menjadi boomerang untuk kehidupan mereka nantinya.


“Mas, apa tidak ada yang lain? Sepertinya aku kurang cocok dengan mereka.”


Riri tidak mau repot mengurusi wanita-wanita yang ingin mengambil kesempatan untuk dekat dengan suaminya, lebih baik mencari aman dengan mencari perawat yang sudah berkeluarga. Terutama mereka yang sudah memiliki anak, pasti mereka lebih bisa bekerja keras karena mengingat ada buah hati yang harus dinafkahi di rumah.


“Memangnya kenapa, Sayang? Apa kamu tidak cocok dengan mereka? Itu kan ada sepuluh. Kamu bisa pilih salah satu dari mereka. Mereka juga lulusan terbaik dengan nilai yang baik juga,” ucap Adit.


Riri sedikit ragu, apakah dirinya harus mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya?


“Tapi di antara sepuluh orang ini nggak ada yang cocok, Mas. Kamu tanya saja lagi apa tidak ada yang lain? Kalau yang ada Cuma sepuluh ini saja, lebih baik cari perawat yang lain saja dari yayasan. Kalau memang tidak bisa, tidak usah saja. Aku masih bisa merawat Papa Dimas,” ucap Riri terdengar tegas.


Adit sedikit heran dengan istrinya ini, tapi melihat wajahnya yang kesal akhirnya dia mencoba untuk menyetujuinya juga.


“Iya. Iya. Aku tanyakan dulu pada dokter. Nanti kamu sendiri yang bilang sama dokter, apa ada kriteria khusus agar nantinya dokter tidak pusing. Biar lebih cepat carinya,” ucap Adit akhirnya.


“Aku maunya yang sudah bersuami, Mas.”


Adit mengangguk dan melihat file tersebut kembali, ternyata Riri menolak mereka bukan karena kualitas atau hal lainnya, tapi karena semuanya masih single. Akan tetapi, bukankah sama saja jika sudah berkeluarga, tapi pekerjaannya tidak sebagus yang masih single?


“Kamu kan belum lihat pekerjaan mereka, Sayang. Siapa tahu cara kerja mereka bagus, karena itu juga nggak adil buat mereka karena kualitas mereka diragukan.”


Riri menjadi sebal. “Aku juga tidak maksa kamu buat cari yang lain, Mas. Kalau kamu memang maunya mereka silakan saja. ‘Kan Kamu sendiri yang tanya sama aku buat memilih diantara mereka dan aku bilang nggak cocok. Tapi, kalau kamu sudah pas ya nggak papa,” sahut Riri dengan nada yang terdengar kesal, membuat Adit menggaruk kepalanya. Sepertinya dia sudah salah berbicara dilihat dari nada bicara dan raut wajah sang istri yang kini muram dan kesal.


Adit menghela napasnya pelan sekali, mencoba untuk tidak terlihat jika dia sedang melakukannya.


“Baiklah. Aku telepon dokter dulu, biar dia cari perawat yang lain,” ucap Adit yang segera mengotak-atik ponselnya sementara Riri hanya mengangkat bahunya karena memang keputusan ada di tangan Adit. Terserah pria itu mau mempekerjakan perawat yang seperti apa, dia hanya memberi saran saja.


Adit berbicara panjang lebar dengan dokter lewat sambungan telepon, dia juga mengajukan syarat pada dokter tersebut jika dirinya menginginkan perawat yang sudah menikah dan memiliki kualitas yang bagus tentunya dalam merawat seseorang. Apalagi orang yang memiliki penyakit seperti papa Dimas. Dokter pun mengingatkan apa yang diinginkan oleh Adit meski di pria itu tidak mengatakan apa yang menjadi alasan yang menolak perawat yang diajukan, tadi tapi dokter sudah sangat tahu alasan tanpa harus dikatakan secara langsung.

__ADS_1


.


.


__ADS_2