
sedang Puri baru selesai mendaftar di kampus yang dia inginkan, tapi dia masih sedikit kebinggungan saat akan pulang.
tak sengaja ada sebuah mobil berhenti di samping Puri yang sedang berjalan, saat kaca turun Puri tersenyum.
"selamat siang om," sapa Puri.
"siang, ayo bareng om saja, mau pulang kan?" tanya Adjie.
"iya om, tapi masih nunggu Tante Nisa," jawab Puri.
tak lama motor milik Nisa sampai di belakang mobil Adjie, "wah sudah datang ternyata, ya sudah om pulang ya," pamit Adjie.
"siap om," jawab Puri.
Puri pun berlari ke sepeda motor Nisa, dan langsung naik di jok belakang, "siap pulang, tapi kita belanja dulu yuk," ajak Nisa.
"siap Tante, tapi Abang tak marah kan, apalagi motor kesayangan nya Tante pakai?" tanya Puri.
"siapa yang berani memarahi Tante, Sean, gak bakal," jawab Nisa yakin.
"oke Tante, kita mau ke pasar kan? atau ke Giant," tanya Puri.
"kita ke Giant aja yuk, Tante lagi malas but ke pasar, belum lagi ayah kecilmu itu selalu marah saat tau Tante ketahuan ke pasar," jawab Nisa.
"siap Tante," jawab Puri.
keduanya pun menuju ke supermarket yang di maksud, saat sedang memilih buah Puri tak sengaja melihat Sean.
Puri pun mencoba menganggu sepupunya itu, apalagi Sean terlihat sedang berbelanja bersama seseorang.
Puri pun mendekat ke arah Sean dan Arjuna, "sayang kamu kemana saja, sudah dua bulan ini menghilang," kata Puri memeluk Sean.
"kamu jangan gila ya, itu ada bos ku," bisik Sean.
"kamu jahat, kamu selalu sibuk dengan bos mu itu, memang dia tak punya teman apa, aku juga membutuhkan mu sayang," kata Puri makin berani.
Arjuna sudah melotot ke arah Sean yang masih di peluk oleh Puri, "lepaskan dulu, aku sedang bekerja, jangan seperti ini di tempat umum," kata Sean melepas pelukan Puri.
"kalau begitu ajak aku jalan-jalan malam ini, mau atau aku-" bisik Puri.
"oke kamu sekarang pergi, nanti malam kita jalan-jalan," jawab Sean.
Puri langsung melepas Sean dan meliht ke arah Arjuna, "jangan terlalu galak tuan, atau tak kan ada yang mau dengan mu meski kau kaya dan tampan," kata Puri di depan Arjuna.
__ADS_1
"gadis gila," kata Arjuna.
mendengar perkataan Arjuna, Puri berbalik dan mengeringkan matanya pada Arjuna, sedang Arjuna malah terkejut meliht reaksi Puri.
"aduh gadis ini sudah gila setelah di tinggal nikah," gumam Sean.
"Sean jangan pernah di ulangi, atau aku bisa memberikan mu hukuman," kata Arjuna dingin.
"baik tuan muda," jawab Sean.
sedang Puri hanya tertawa melihat ekspresi sepupunya itu, kini dia pun memilih buah kesukaannya.
saat akan mengambil buah kiwi, dia tak sengaja bertemu seorang ibu yang terlihat begitu sedih.
"ibu tak apa-apa?" tanya Puri.
"tidak nak, ibu hanya ingat putra ibu yang begitu menyukai buah ini," kata Kania sambil meneteskan air mata.
Puri langsung memeluknya, "doakan putra Tante, dan semoga Tante akan di beri kebahagiaan lainnya," kata Puri.
"terima kasih," jawab Kania.
Nisa pun menghampiri Puri, "aduh gadis ini dari tadi di cari malah di sini," kata Nisa.
Puri pun tersenyum melihat Nisa, "anda beruntung punya putri sebaik ini Bu, andai putra ku bisa memiliki istri seperti dia," kata Kania.
"mama, apa sudah selesai karena sebentar lagi Arjuna akan ada rapat," kata Arjuna yang menghampiri Kania.
Sean tak mengira akan bertemu dengan ibunya dan sepupunya lagi, Arjuna melihat para wanita itu.
"Tante Nisa di sini juga?" tanya Arjuna.
"hallo tuan muda Arjuna, Sean kau tak menyapa ibu dan Puri?" tanya Nisa.
"ini Puri yang kau cerita kan?" tanya Arjuna pada Sean.
"wah ku cerita apa bang, kau mau mati hah, jangan mengadi-ngadi ya lu," kata Puri yang langsung bersikap seperti preman.
Kania pun tersenyum melihat Sean yang biasanya begitu sanggar, tapi malah terlihat tak berdaya di depan Puri.
"hei gadis tunggu dulu, kau tadi menghina ku kan, sekarang kau harus dapat hukuman," kata Arjuna mengenggam lengan Puri.
"dalam mimpi mu tuan," jawab Puri dan langsung menendang tulang kering Arjuna.
__ADS_1
"sial!" teriak Arjuna berteriak karena kesakitan.
Puri langsung bersembunyi di belakang tubuh Kania, sedang Arjuna begitu kesal melihat Puri.
"hei sudahlah, ayo Bu Nisa, kita ke kasir, kalian sudah selesai belanja kan," tanya Kania.
"tunggu aku belum membeli jeruk," kata Puri dan Arjuna bersamaan.
"kau," kata mereka bersama lagi.
"sudah sudah, Sean tolong belikan jeruk manis untuk Arjuna dan Puri, masing-masing dua kilo, kita tunggu di kasir ya, Arjun bawa keranjang belanjaan mama," kata Kania.
"iya nyonya besar," jawab Sean.
Puri membantu mendorong kereta belanjaan milik Nisa, tak di duga saat berjalan tak sengaja Puri tertabrak seorang anak hingga terjatuh.
"aduh," kata Puri.
sedang anak itu menangis, Puri pun langsung berdiri dan menenangkan bocah kecil itu.
"aduh ganteng jangan nangis ya, maafin kakak ya yang berdiri tadi," kata Puri lembut.
"Benjamin, ya Tuhan bocah ini," kata David mengendong putranya itu.
"maaf nona, apa putraku melukaimu," kata Akira menghampiri Puri.
"tidak mbak, aku baik-baik saja," jawab Puri tersenyum.
"Benjamin ayo minta maaf sama kakak cantik," kata Akira begitu lembut sambil mengusap air mata putranya itu.
"maaf ajak antik," kata Benjamin dengan lucunya.
"baiklah, kami permisi dulu nona, dan sekali lagi maafkan putraku," kata Akira sebelum pergi.
sedang Arjuna hanya melihat dari tadi, "harusnya wanita itu, seperti wanita tadi, lemah lembut dan bukan bar-bar seperti dirimu," kata Arjuna.
"jika aku bar-bar, anda apa tuan tanpa ekspresi, muka datar dan juga tak bisa tersenyum," jawab Puri yang mulai kesal.
"kau," kata Arjuna yang begitu marah.
"Tante tolong putramu menggila," kata Puri yang mendorong troli belanjanya.
"tutup mulutmu," kata Arjuna.
__ADS_1
sedang Sean hanya bisa melihat Puri yang terus melawan Arjuna, bahkan dia tak bisa berbuat apa-apa.
"aku harus siap kena hukuman sepertinya," kata Sean lemah..