Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
75. Pelukan Kakak


__ADS_3

Tama berada di ruang tamu bersama dengan Riri. Pria itu tidak tega melihat adik iparnya yang selalu bisa membuat suasana menjadi ramai, kini terlihat begitu murung dan menyedihkan. Dia sudah meminta gadis itu untuk duduk, tapi Riri menolak. Tama pun mengambilkan air minum yang berada di dapur dan menyerahkannya pada gadis itu.


“Minumlah dulu agar perasaanmu lebih tenang.”


Riri menerima gelas tersebut. Namun, dia sama sekali tidak berniat untuk meminum air itu. Hingga Tama memaksa dan gadis itu pun meminumnya. Maysa kembali ke ruang tamu setelah memastikan Mama Rafiqah benar-benar tertidur. Dia ingin melihat keadaan adiknya. Sedari dia datang, wanita itu tidak menyentuh adiknya sama sekali.


“Ayo, duduk sini dulu, Ri?” ajak Maysa sambil menarik tangan adiknya.


Riri pun mengikuti kakaknya dan duduk di samping wanita itu. Ada rasa takut jika kakaknya juga marah seperti sang mama, tapi tidak mungkin dia diam saja saat Maysa menariknya. Saat ini gadis itu hanya bisa pasrah. Entah apa yang akan kakaknya lakukan padanya.


“Ada yang ingin kamu jelaskan padaku? Secara garis besar aku sudah mengerti, tapi mengenai detailnya aku tidak tahu apa-apa.”


“Aku juga tidak tahu kalau Mas Adit itu sudah menikah, Kak. Memang selama ini dia selalu menyembunyikan sesuatu dariku, tapi aku tidak pernah menyangka jika Mas Adit memiliki istri. Aku pikir itu mengenai orang tuanya yang tidak mampu. Aku juga sudah sering meminta Mas Adit datang untuk menemui Mama, tapi dia selalu menolak dengan alasan yang bermacam-macam. Seperti saat menghadiri pernikahan Kakak, Mas Adit beralasan lembur. Entah itu benar atau tidak. Yang lebih mengejutkan lagi, Mas Adit ternyata pemimpin perusahaan.”


Riri menceritakan semuanya sambil menundukkan kepalanya. Tidak hentinya gadis itu menghapus air mata yang menetes. Padahal dia sudah berusaha agar tidak menangis, tetapi sepertinya sangat sulit.


“Apa? Wow ... begitu banyak rahasia yang pria itu sembunyikan dan kamu sama sekali tidak mengetahuinya?”


“Aku tidak tahu, Kak. Setiap kali ada keraguan dalam hatiku, Mas Adit selalu berhasil meyakinkanku.”


“Bukankah kamu pernah bilang, kalau kamu mengenal Adit dari sahabatmu. Kenapa tidak kamu tanyakan padanya?”


“Aku sudah pernah mencoba menanyakan hal itu, tapi dia selalu bilang kalau aku harus bertanya sendiri pada Mas Adit.”


“Apa kamu hafal nomornya? Ponsel kamu sudah hancur, tidak mungkin bisa mencari nomor ponsel temanmu itu.”


Maysa sudah sangat geram dengan teman adiknya itu. Tidak mungkin jika dia tidak tahu apa-apa soal Adit. Jika memang orang itu benar-benar teman yang baik, tidak mungkin menyembunyikan rahasia sepenting ini.

__ADS_1


“Aku tidak hafal, Kak?”


“Siapa yang bisa kamu hubungi agar bisa mengirim nomor ponsel temanmu itu. Mungkin ada salah satu teman kamu yang nomornya ada di ponselku.”


“Kakak coba hubungi Adam saja. Kakak punya nomornya, kan? Nanti minta padanya.”


“Adam? Nggak tahu, Kakak lupa, Sebentar.”


Maysa pun mencoba mencari nomor Adam di ponselnya. Ternyata masih ada, dia segera menghubungi pria itu dan meminta nomor ponsel teman yang dimaksud oleh Riri dari tadi. Setelah mendapatkan nomornya, Maysa segera menghubungi teman adiknya tersebut.


“Halo, assalamualaikum,” ucap seorang pria yang berada di seberang.


“Waalaikumsalam, kenapa kamu memperkenalkan laki-laki beristri pada adikku?” tanya Maysa tanpa basa-basi.


Hal itu tentu saja membuat orang yang berada di seberang terkejut. Dia sama sekali tidak mengenal orang yang meneleponnya ini. Tiba-tiba menuduhnya seperti itu. Tentu saja membuat pria itu marah.


“Jangan banyak alasan, kamu tahu gara-gara kamu mengenalkan Riri pada Adit, istrinya datang dan marah-marah di sini. Dia sudah membuat keluarga kami menjadi bahan ejekan para tetangga. Kejadian itu juga membuat Mama saya sangat marah. Apa ini lelucon untukmu? Seharusnya kamu pikirkan dulu sebelum memperkenalkan orang,” ucap Maysa dengan emosi.


Tama yang berada di samping sang istri pun mencoba menggenggam telapak tangan wanita itu, guna meredam emosinya. Baru kali ini dia melihat wanita itu marah. Selama ini dia hanya tahu jika Maysa wanita yang sabar. Akan tetapi, Tama sangat mengerti keadaan sang istri. Kemarahan wanita itu juga masih dalam batas wajar, tidak terlalu berlebihan.


“Maaf, Kak. Saya tidak ada maksud apa-apa. Semua itu permintaan Adit sendiri, dia memang sudah beristri, tapi hubungannya dengan istrinya sedang tidak baik-baik saja. Dia ingin bercerai dengan istrinya karena itu dia deket dengan Riri.”


"Itu artinya kamu ingin menjadikan adikku sebagai pelakor?"


"Tidak, Kak. Aku hanya ingin Adit bisa mendapat wanita yang lebih baik saja."


“Itu bukan alasan untuk mendekatkan adikku dengan Adit. Terserah dia mau bercerai dengan istrinya atau tidak. Tidak ada urusannya dengan adikku. Seharusnya kamu sebagai teman, memberitahu Riri kalau pria itu sudah punya istri. Kami dipermalukan di depan umum dan membuat keluarga kami merasa sedih, tanpa tahu apa pun kesalahan kami. Seharusnya kamu pikirkan itu. Mulai hari ini jangan lagi berurusan dengan adikku.”

__ADS_1


Maysa segera mengakhiri teleponnya.


Dia benar-benar marah pada teman adiknya itu. Riri yang mendengar apa yang kakaknya katakan hanya diam. Saat ini apa pun yang gadis itu katakan sudah pasti salah. Lebih baik dirinya diam. Dia juga salah karena terlalu percaya pada orang lain.


“Kamu dengar! Dia tahu kalau Adit itu sudah memiliki istri dan alasannya tidak logis saat membiarkanmu dekat dengan Adit. 'Karena hubungannya dengan istrinya sedang tidak baik dan dia ingin menceraikan istrinya’ itu alasan yang basi. Jika hubungan Adit istrinya sedang tidak baik dan mereka ingin bercerai, tidak mungkin istrinya datang ke sini marah-marah sama kamu!”


“Sudah, Sayang. Aku pikir juga Riri mengerti hal itu,” sela Tama sambil melirik adik iparnya yang sudah menangis sesenggukan dari tadi.


Maysa yang melihat adiknya ya seperti itu pun menjadi tidak tega. Dia mendekati Riri dan memeluknya. Pelukan yang membuat tangis Riri pecah. Dari tadi tidak ada satu orang punya yang memeluk. gadis itu.


Sama seperti yang lain, Riri juga ingin menumpahkan perasaannya saat ini. Dia sendiri juga merasa dibohongi dan dikhianati. Tangis Riri semakin pilu dan menyayat hati. Hal itu membuat Maysa kembali meneteskan air mata. Semarah apa pun, mereka tetaplah saudara dan dia sangat menyayangi adiknya.


Benar apa yang dikatakan Tama. Saat ini Riri juga membutuhkan dukungan, bukan hanya penghakiman. Sebagai seorang wanita seharusnya dia lebih peka. Maysa mengusap punggung adiknya, berharap agar gadis itu merasa tenang.


“Kita akan hadapi semua ini sama-sama. Aku akan coba bilang sama Mama kalau semua ini sebenarnya juga bukan sepenuhnya kesalahanmu. Meskipun nantinya pasti agak sulit. Kamu tahu sendiri bagaimana keras kepalanya mama," ucap Maysa dengan pelan.


“Aku tahu, aku akan menerima semua hukuman dari Mama, asalkan tidak dengan berhenti bekerja. Aku tidak mau melihat Mama bekerja keras. Sudah cukup selama ini beliau bekerja, saatnya aku yang harus menghidupinya.”


“Iya, aku akan mencoba untuk bicara dengannya. Aku juga tidak rela jika Mama harus bekerja di usianya seperti sekarang ini.”


Maysa mengurai pelukannya dan menghapus air mata adiknya dan tersenyum. "Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Nanti kamu malah sakit. Ingat, kamu masih harus menjaga Mama."


"Iya, Kak."


"Maaf, Ri, tadi kamu bilang kalau Adit seorang pengusaha. Boleh aku melihat fotonya? Siapa tahu aku mengenal dia. Selama ini aku juga tidak pernah melihatmu bersama dengan seorang laki-laki," ujar Tama.


.

__ADS_1


.


__ADS_2