
"Eira, Dio, nanti jangan keluar dari sekolah dulu, ya! Sebelum Mama jemput. Hari ini mama mau ke butik sebentar, setelah itu ke rumah Oma Rafiqah untuk melihat keadaan di sana. Oma pasti butuh bantuan untuk membersihkan sisa kegiatan kemarin. Kalian tunggu di dalam sekolah nanti, ya?" ucap Maysa saat mengantar anak-anaknya. Dia hanya khawatir jika terjadi sesuatu pada mereka.
"Iya, Ma," jawab keduanya yang kemudian berpamitan pada Maysa dan segera berlari masuk ke sekolah.
Wanita itu ingin memastikan anak-anaknya benar-benar sudah masuk. Setelah itu barulah dia pergi meninggalkan lingkungan sekolah. Maysa ingin melihat keadaan butik sebentar. Meskipun pegawai hari ini masih libur, tetapi ada beberapa hal yang ingin wanita itu pastikan.
Maysa ingin mengecek beberapa pekerjaan dan juga pesanan. Dia memang sengaja meliburkan para pegawainya. Besok baru mulai bekerja, tetapi tidak dengan Riri. Adiknya itu sudah mengambil cuti selama satu minggu.
Maysa pergi ke butik setelah itu, baru menuju rumah Mama Rafiqah. Dia ingin melihat keadaan wanita paruh baya itu. Saat sampai di rumah keluarganya, rumah itu tampak sepi. Pintu rumah juga terbuka. Maysa pun masuk begitu saja.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," sahut Mama Rafiqah yang berada di dapur. Maysa pun mencari keberadaan sang mama. Terlihat rumah begitu sepi tidak ada tanda-tanda keberadaan orang lain.
"Semua orang ke mana, Ma? Kok sepi banget?" tanya Maysa begitu sampai di dapur.
"Sudah pulang, acara 'kan sudah selesai dari kemarin."
"Bukankah kemarin Mama bilang kalau tante akan menginap di sini selama satu minggu?"
"Iya, tapi tiba-tiba anaknya ngajak pulang jadi, tante terpaksa pulang."
"Sejak kapan semua orang pulang? jangan bilang kalau mereka pulang dari semalam?" tanya Maysa dengan menatap mamanya, berharap wanita itu berkata jujur.
"Baru saja, semalam mereka pulang larut. Mama mungkin langsung pulang begitu saja."
"Kalau begitu Mama ikut aku pulang juga aku nggak akan tenang kalau biarin Mama di sini sendiri."
"Mama nggak pa-pa, kamu jangan terlalu khawatir. Warga sekitar juga baik sama kita."
"Ma, tetap saja aku akan khawatir. Kalau Mama di sini sendiri, pasti aku yang berada di sana juga tidak akan tenang. Riri pun juga demikian jadi, Mama ikut aku, ya! Mama 'kan sudah janji sebelumnya mau ikut bersamaku."
Maysa mencoba membujuk sang mama. Dia tahu hal seperti ini akan terjadi. Itulah kenapa dirinya datang ke sini hari ini. Wanita itu ingin memastikan sendiri jika mamanya dalam keadaan baik bersama saudara lain. Sekarang hal yang ditakutkan memanglah terjadi.
Mama Rafiqah tampak berpikir. Dia memperhatikan sekeliling rumah. Wanita itu merasa sangat berat untuk meninggalkan tempat tinggalnya. Yang selama ini menjadi tempat keluh kesahnya.
Mama Rafiqah teringat kenangan, saat membangun rumah ini bersama dengan sang suami. Dari yang hanya sebuah gubuk dengan dinding bambu. Kini sudah kokoh dengan batu-bata. Meskipun tidak sebesar rumah menantunya, tetapi rumah ini sangat nyaman untuknya. Dia tidak akan menemukan tempat senyaman ini di tempat lain.
"May, bukannya Mama mau menolak keinginan kamu, tapi rumah ini sangat berarti untuk Mama. Tidak mungkin Mama meninggalkan rumah ini, rumah yang penuh kenangan akan kebersamaan Mama dan Papa. Juga saat kehadiran kamu dan Riri. Semuanya terekam jelas di dalam rumah ini. Mama tidak mau meninggalkannya," ucap Mama Rafiqah dengan air mata yang menetes.
Awalnya wanita itu sudah ikhlas dan mengiyakan apa yang diinginkan anaknya. Akan tetapi, sekarang saat tiba harinya. Dia sama sekali belum siap dan tidak akan pernah siap. Terlalu banyak kenangan yang Mama Rafiqah ukir di rumah ini. Rasanya terlalu sulit untuk meninggalkannya.
"Kalau Mama memang maunya seperti itu, baiklah, tapi untuk beberapa hari, tolong tinggal bersamaku. Nanti setelah aku mendapatkan orang yang bisa menemani Mama di rumah ini, baru Mama bisa tinggal di sini," ujar Maysa membuat Mama Rafiqah mengerutkan keningnya.
"Orang yang menemani, Mama? Maksud kamu siapa?"
"Nanti aku akan mencarikan asisten rumah tangga untuk mama. Dia yang akan melakukan semua pekerjaan rumah ini, apa pun itu. Mama hanya boleh istirahat saja, tidak boleh melakukan pekerjaan berat. Kalau Mama menolak keberadaan orang itu, maka aku tidak akan pernah mengizinkan Mama untuk tetap di rumah ini. Terserah Mama mau bilang apa, itu sudah menjadi keputusan terakhirku. Sekarang tinggal Mama yang mengambil keputusan."
Mama Rafiqah menatap Maysa. Jujur dia senang dengan keputusan putrinya dengan mengizinkan dirinya tetap di rumah ini. Namun, keberadaan orang lain yang sama sekali tidak wanita itu kenal, pasti akan terasa aneh baginya. Akan tetapi, Mama Rafiqah tidak punya pilihan lain, selain mengiyakannya.
Hanya ini pilihan yang terbaik untuknya. Dia juga merasa sungkan jika satu rumah dengan besannya. Meskipun Mama Mirna tidak keberatan, tetap saja wanita itu merasa malu.
"Baiklah, itu lebih baik buat Mama."
"Kalau begitu sekarang Mama bereskan beberapa baju. Nanti setelah aku mendapatkan orang yang bisa dipercaya, barulah Mama boleh kembali ke sini lagi."
__ADS_1
Mama Rafiqah mengangguk dengan tidak rela, tetapi mau bagaimana lagi. Hanya itu yang terbaik untuk dia dan kedua anaknya.
Wanita paruh baya itu pergi ke kamarnya. Dia hanya akan membawa sedikit baju, sementara Maysa memilih untuk membuat teh, sambil menunggu jam pulang sekolah anaknya.
Jangankan Mama Rafiqah. Maysa saja terkadang masih sangat merindukan rumah ini. Rumah yang sejak kecil menjadi tempat tinggal, untuk pertama kalinya juga dia mendapatkan kasih sayang, yang kini wanita itu terapkan pada anak-anaknya.
"Mama bawa baju segini saja, ya, May. Nggak perlu banyak-banyak," ucap Mama Rafiqah sambil menunjukkan tas yang ada di tangan pada putrinya.
Maysa hanya mengangguk dan meminta sang mama untuk duduk bersamanya. Dia menyerahkan segelas teh pada wanita paruh baya itu. Biasanya Mama Rafiqah yang selalu membuatkan teh saat dulu mereka masih bersama. Kini giliran dia yang melakukannya.
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan? Kenapa tiba-tiba mengajak Mama minum teh? Tidak biasanya seperti ini."
"Tidak ada apa-apa, Ma. Memangnya salah kalau aku mengajak mama minum teh bersama. Lagian kita juga sambil menunggu anak-anak pulang sekolah. Ini masih satu jam lagi jadi, masih ada waktu lah untuk ngobrol sebentar.
"Mama kira tadi kamu buru-buru, makanya Mama bawa baju asal saja. Kenapa nggak bilang dari tadi?"
Maysa sama sekali tidak menanggapi gerutuan mamanya. Mama Rafiqah pun ikut menikmati teh buatan putrinya. Andai saja di sini ada Riri, pasti mereka bertiga bisa berbincang sambil bercanda bersama. Bukan berarti saat sedang berdua dengan Maysa, mereka tidak bisa bercanda. Hanya saja pasti lebih seru jika bertiga.
"Kalau ada Riri, pasti lebih seru, ya, ma," ucap Maysa yang diangguki mamanya.
Ternyata Maysa juga merasakan apa yang dirasakan oleh wanita paruh baya itu. Dia kira hanya dirinya saja yang merasa seperti itu. Mungkin karena kebersamaan mereka yang dirindukannya.
"Mama jadi ingat masa lalu. Kalian berdua dulu itu selalu saja bertengkar. Bahkan untuk hal kecil pasti akan bertengkar, tapi saat salah satu di antara kalian tidak ada pasti saling mencari. Mama sama papa sampai bingung menghadapi kalian berdua, tapi justru itu yang Mama rindukan. Saat ini Mama rindu saat kalian bertengkar dan saling mengejek."
Maysa tertawa mendengar cerita mamanya. "Aku juga masih mengingatnya, Ma. Aku juga ingat saat Riri mendorongku hingga jatuh, sampai keningku berdarah, tapi malah dia yang nangis. Padahal aku yang berdarah saja tidak menangis."
Keduanya sama-sama tertawa. Bagaimana bisa kenangan seperti itu bisa hilang, semuanya akan terekam dalam ingatan. Mereka pun berbincang mengenai masa lalu. Ada rindu yang menyusup ke dalam hati, saat bercerita tentang masa lalu.
Semuanya hanya bisa dikenang dalam ingatan. Kini dia dan sang adik sudah memiliki kehidupan masing-masing. Semoga suatu hari nanti mereka punya kesempatan untuk menciptakan kenangan baru.
Padahal dari dulu dia sudah sangat ingin tahu karena baik Dio maupun Eira selalu saja bercerita tentang sekolahnya, sedangkan Mama Rafiqah sama sekali tidak tahu apa pun tentang sekolah itu.
Mobil Maysa berhenti di depan sekolah Eira dan Dio. Tampak beberapa wali murid juga menunggu anak-anak mereka keluar. Dilihat dari apa yang dipakai, sepertinya orang tua murid di sini semuanya orang kaya.
"Anak-anak yang sekolah di sini, semuanya orang kaya, ya, May?" tanya Mama Rafiqah dengan berbisik sambil melihat ke kiri dan ke kanan. Dia juga melihat jajaran mobil mewah.
"Nggak tahu, Ma. Aku nggak begitu kenal dengan wali murid di sini. Hanya ada beberapa saja, itu juga mereka ada yang dari keluarga menengah."
Mama Rafiqah mengangguk. Mungkin yang bisa sekolah di sini adalah orang dari kalangan menengah ke atas. Kalangan ke bawah pasti tidak sanggup, membayar uang gedung sekolah yang sebagus ini. Pantas saja Eira dan Dio begitu antusias saat menceritakan sekolahnya. Ternyata memang sebagus ini. Dia tidak bisa membayangkan apa saja yang ada di sana.
"Mama, Oma!" Teriakan dua orang anak membayarkan lamunan Mama Rafiqah. Dia pun menyambut kedatangan kedua cucunya dengan senyum yang merekah.
“Oma, ikut jemput kita?” tanya Eira dengan suara cemprengnya.
“kebetulan untuk beberapa hari Oma akan menginap di rumah kalian. Boleh, kan?”
"Bukannya Oma akan tidur di rumah kita untuk seterusnya? Kenapa sekarang bilang beberapa hari?" sela Dio.
"Tidak, hanya beberapa hari saja. Nanti Oma kembali ke rumah Oma.”
"Sudah, sebaiknya kita pulang saja. Masa ngobrol di sini? Dilanjut ngobrolnya di mobil saja, ayo!"
Maysa mengajak mama dan anak-anaknya untuk pergi dari sana. Mereka naik ke dalam mobil dan meninggalkan sekolah. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Eira Dan Dio banyak pertanyaan pada omanya. Maysa hanya mendengarkan saja. Sesekali menjawab jika anak-anaknya bertanya.
"Eira, kemarin Mama dapat pesan dari Oma Ishana. Beliau mengundang kita untuk acara empat puluh harinya adik. Eira mau datang, kan?" tanya Maysa yang tiba-tiba teringat dengan undangan mantan mertua itu. Meskipun dia tidak ingin datang, tetapi pesannya tetap harus wanita itu sampaikan.
__ADS_1
Gadis kecil itu tampak terdiam. Dia bingung harus bagaimana, di sisi lain Eira kasihan pada adiknya, tetapi mengingat bagaimana kejadian terakhir di rumah omanya. Dia merasa ragu untuk datang. Maysa dan Mama Rafiqah pun bisa melihat keraguan di wajah gadis kecil itu, tetapi Eira berusaha untuk menutupi. Entah karena tidak ingin mamanya khawatir atau karena ada sesuatu yang disembunyikan.
"Aku boleh nggak datang, nggak, Ma?" tanya Eira balik.
"Semua keputusan terserah padamu. Mama juga tidak akan memaksamu, kalau memang kamu tidak mau datang. Oma juga pasti mengerti keadaan kamu."
Eira memutuskan untuk tidak datang saja. Dia tidak ingin membuat masalah di empat puluh hari meninggal adiknya. Gadis kecil itu tidak ingin acara kirim doa, menimbulkan masalah bagi dirinya. Apalagi sampai membuatnya dan sang mama sakit hati. Eira juga kasihan pada mamanya, yang harus menerima cibiran dari mereka yang tidak menyukainya.
"Iya, Ma. Bilang saja sama oma kalau kita punya kesibukan lain."
Maysa mengangguk, dia mengerti apa yang dirasakan putrinya yang sebenarnya, tidak ingin menyakiti hati omanya karena gadis kecil itu tidak datang. Mau bagaimana lagi, setiap datang ke sana pasti akan menimbulkan masalah baru dan rasa sakit yang baru. Rafka juga sama sekali tidak bisa membela Putrinya.
"Anak Rafka memang sakit apa, May? Bisa sampai meninggal. Kata Riri anaknya sakit, tapi Riri tidak tahu sakit apa," tanya Mama Rafiqah.
"Gagal jantung, Ma. Kemarin juga sempat datang ke rumah, saat anaknya masih di rumah sakit. Dia cerita sama aku dan Mas Tama mengenai keadaan anaknya, saat itulah kami tahu. Yang aku tahu juga rencananya anak itu akan dioperasi. Entah sudah atau belum, aku juga tidak pernah bertanya pada mereka. Itu juga bukan urusanku, yang penting aku sudah datang untuk takziah. Mengenai apa yang terjadi pada kehidupan mereka, itu bukanlah urusanku."
Mama Rafiqah mengangguk, memang benar apa yang dikatakan Maysa. Kehidupan Rafka dan keluarganya memang bukan lagi urusan putrinha. Biarlah mereka menyelesaikan itu sendiri. Dia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk setiap langkah di kehidupan Rafka sekeluarga.
Mobil mereka akhirnya sampai juga di halaman rumah. Semua orang turun dari mobil dan memasuki rumah. Tampak Mama Mirna yang duduk di teras seorang diri. Dia tersenyum melihat kedatangan keluarganya, terutama kedatangan Mama Rafiqah. Dari kemarin wanita itu sudah menunggu besannya.
"Akhirnya Anda ke sini juga, dari kemarin saya menunggu. Kata Maysa masih satu minggu lagi," ucap Mama Mirna sambil menyalami besannya.
"Iya, Bu. Saya ke sini juga atas permintaan Maysa, tapi saya tidak bisa lama. Saya sudah memutuskan untuk tetap tinggal di rumah saya."
Mama Mirna terkejut, tetapi dia menghargai keputusan Mama Rafiqah. Wanita itu tidak ingin terlalu banyak bertanya, biarlah itu menjadi urusan besan dan menantunya. Mama Mirna yakin jika itu yang terbaik untuk semuanya. Dia juga tidak bisa memaksa orang lain untuk mengikuti keinginannya.
"Itu terserah Bu Rafika. Saya juga tidak bisa memaksa. Sekarang lebih baik kita semua masuk, biar nanti kamar untuk Bu Rafiqah biar Ningrum yang bersihkan."
Mama Mirna mengajak besannya untuk duduk di ruang tamu, sambil berbincang bersama. Anak-anak pergi ke kamar untuk membersihkan diri, sementara Maysa pergi ke dapur, untuk meminta Ningrum membuatkan minuman. Kebetulan asisten rumah tangganya juga sedang menyiapkan makan siang.
"Mbak Ningrum, tolong buatkan minuman. Di depan ada mama saya, sekalian juga buat Mama Mirna. Jangan terlalu manis."
“Iya, Bu," sahut Ningrum dengan menundukkan kepalanya.
"Mbak Ningrum, mengenai kakak kamu bagaimana? Apa dia mau bekerja di sini? Kamu sudah tanyakan sama dia, kan?" tanya Maysa pada asisten rumah tangganya itu.
"Sudah, Bu. Dia bilang mau saja. Mungkin besok dia akan datang."
"Baguslah kalau begitu, tapi saya tidak bisa memperkerjakannya di sini. Saya akan memperkerjakannya di rumah Ibu saya. Jangan khawatir mengenai gaji. Saya akan tetap menggaji kakak kamu sama seperti gaji kamu di sini."
"Kakak saya pasti juga tidak keberatan kerja di mana saja, Bu. Asal bisa bekerja untuk menghidupi anak-anaknya. Maklum dia 'kan seorang janda, sedangkan anak-anaknya masih sekolah."
"Apa nantinya anak-anaknya juga akan tinggal sama ibu kamu, kalau dia bekerja di sini?" tanya Maysa. Dia merasa miris saat mendengar jika ada orang tua yang menjadi pelayan anaknya. Namun, wanita itu tahu jika mereka melakukan itu juga karena terpaksa keadaan.
"Tidak, Bu. Kebetulan anak kakak saya sudah ada yang dewasa. Dia sudah kuliah jadi, dia yang selalu menjaga adik-adiknya."
"Anaknya laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki, Bu."
"Syukurlah kalau laki-laki. Saya khawatir saja kalau perempuan, sekarang banyak sekali kejahatan. Saya ngeri kalau ada berita seperti itu."
"Tidak, Bu. Anak kakak saya tiga, semuanya laki-laki."
.
__ADS_1
.