Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
135. Pesta resepsi


__ADS_3

Di sebuah gedung yang sangat besar, pesta resepsi telah digelar. Pasangan pengantin wanita dan laki-laki telah berdiri di atas pelaminan dengan begitu cantik dan tampan. Semua orang terpukau melihat keserasian keduanya. Seperti biasa, tentu ada yang iri, ada pula yang memuji mereka.


Para tamu satu persatu memberi selamat pada kedua mempelai. Senyum selalu terukir menyambut ucapan selamat. Mereka senang karena hampir semua orang yang diundang hadir, hanya beberapa saja yang tidak karena berhalangan.


Dio dan Eira terlihat begitu bahagia melihat tantenya berdiri di atas pelaminan. Riri terlihat begitu sangat cantik dengan balutan gaun berwarna putih perpaduan Silver. Eira yang tadi sempat ngambek karena ingin melihat gaun pun sekarang bahagia.


"Sayang, aku ke sana dulu, ya. Aku mau nyapa klien sebentar, nggak enak kalau diam saja saat kita di sini sebagai keluarga. Cuma sebentar, kok," ucap Tama pada sang istri.


Maysa hanya mengangguk saja. Tadinya dia tidak mau datang ke sini, mendadak kepalanya pusing, tubuhnya juga lelah. Mungkin karena beberapa hari ini ikut menyiapkan persiapan pernikahan Riri jadi, kesehatannya terganggu. Wanita itu juga juga kurang tidur. Apalagi mendekati hari pernikahan adiknya.


"Selamat malam, Kak Maysa. Apa kabar?" sapa seorang pria.


Maysa menatap pria tersebut, sepertinya dia kenal. Namun, wanita itu lupa siapa yang ada di depannya. Di belakangnya juga ada temannya, yang juga sepertinya kenal. Maysa mencoba mengingat-ingat, tetapi tidak mendapatkan jawaban.


"Iya, saya baik. Kamu siapa? Apa kita saling kenal?"


"Kak Maysa lupa sama aku? Hah, beginilah nasib bujangan, tidak ada yang kenal. Bahkan oleh mantan sendiri pun dilupakan," ucap Pria tersebut dengan nada sedih yang dibuat-buat.


Maysa tertawa dibuatnya. Kini dia ingat siapa pria yang ada di depannya. Dia adalah Aldo—teman Riri—yang dulu selalu datang ke rumah saat ada kerja kelompok. Pria itu yang selalu membuat heboh rumah, bahkan pernah juga mendapat teguran dari tetangga karena terlalu berisik.


Setelah sekian tahun, ternyata sifatnya masih saja sama. Namun, kali ini tampilannya saja yang berbeda. Aldo terlihat rapi dan tampan tentunya. Dulu dia juga sering memberikan gombalan-gombalan pada Maysa. Bahkan beberapa kali mengakui wanita itu sebagai kekasihnya, saat ada pria yang ingin mendekatinya.


Itu juga yang membuat Maysa dulu tidak pernah pacaran. Setiap ada laki-laki yang dekat dengannya, pasti sudah diusir oleh Aldo. Wanita itu juga senang karena memang dia tidak pernah ada niat untuk pacaran. Setiap Rafka ingin mendekati Maysa, Aldo juga pasang badan.


Memang dasar keduanya sama-sama keras kepala dan tidak peduli siapa pacar wanita itu. Akhirnya Rafka tahu juga ternyata Aldo bukanlah kekasih Maysa. Pria itu pun semakin gencar mendekati pujaan hatinya. Hingga akhirnya dia luluh. Sejak saat itu Aldo tidak pernah tampil di depan Maysa.


Saat itu Maysa bertanya-tanya pada Riri, kenapa Aldo sudah tidak pernah datang belajar kelompok. Namun, adiknya mengatakan jika teman yang lain ingin di rumah mereka. Pria itu juga sudah tidak pernah lagi mengiriminya pesan, padahal sebelumnya setiap hari selalu ada saja yang ditanyakan.

__ADS_1


"Ternyata kamu dari dulu tidak pernah berubah, ya?" tanya Maysa sambil terkekeh.


"Hatinya juga belum berubah, Kak," timpal temannya yang bernama Erik. Kedua pria itu pun duduk tanpa Maysa persilakan. Sudah terbiasa bagi mereka jika bersama dengan orang yang dikenal.


Maysa mengerutkan keningnya karena tidak mengerti apa yang dimaksud Erik. "Memang siapa wanita yang sudah membuat Aldo jatuh cinta? Apakah Riri? Tapi kenapa Aldo tidak berusaha untuk mengejarnya dulu? Malah pergi menghilang."


"Itulah kebod*hanya, Kak. Selalu menyerah sebelum berusaha. Padahal nggak ada usaha yang sia-sia, ya, Kak."


"Sudah, Kak. Jangan terlalu dipikirkan apa yang dikatakan Erik. Dia memang kalau bicara suka asal," ucap Aldo yang diangguki oleh Maysa, sementara pria itu melototkan mata pada temannya itu. Dia tidak ingin rahasia yang dulu dia kubur harus terbuka saat ini. Rasanya juga percuma, tidak ada gunanya. Selama ini pria itu juga sudah menguburnya dalam-dalam.


"Kakak, apa kabar?" tanya Aldo.


"Alhamdulillah, baik, kamu sendiri bagaimana kabarnya? Apa kamu sudah menikah?"


"Kak Maysa ini bagaimana, sih! Tadi aku sudah bilang jika hatinya masih tetap sama, untuk satu wanita yang tidak bisa dimilikinya. Mana mungkin dia menikah, yang ada istrinya bisa tekanan batin. Padahal dia sudah menjadi milik orang lain lima tahun yang lalu," sela Erik.


Aldo dan Erik saling pandang, keduanya sama sekali tidak mengerti apa maksud dari kalimat yang diucapkan oleh Maysa. Akan tetapi, ada makna dari kalimat yang begitu panjang. Apa mungkin wanita itu disakiti oleh suaminya. Apakah suami Maysa selingkuh. Akan tetapi, Rafka terlihat sangat mencintai istrinya. Tidak mungkin jika pria itu selingkuh, rasanya sangat tidak bisa dipercaya.


"Eh, kalian tidak ambil makanan? Kenapa diam saja?" tanya Maysa yang memang sengaja mengalihkan pembicaraan.


Dia juga tidak tahu bagaimana bisa berbicara seperti itu. Padahal wanita itu hanya tidak ingin ada korban lagi dari keegoisan para orang tua. Beruntung Maysa memiliki suami seperti Tama, yang bisa bertanggung jawab dan menyayangi Eira seperti putri sendiri. Bagaimana jika dia menemukan pria yang sama saja setipe dengan Rafka.


Bukankah hal itu akan semakin menyakiti dirinya dan juga Eira. Wanita itu tidak sanggup memikirkan hal itu. Luka yang dulu masih berbekas, Maysa tidak ingin bertambah lagi.


"Kami tadi sudah makan, Kak. Tadi aku lihat Kak maisa dari jauh makanya aku ajak Aldo ke sini. Tadinya dia nggak mau ketemu Kakak," jawab Erik yang mendapat senggolan dari Aldo di lengannya. Temannya yang satu ini memang suka ceplas-ceplos, tetapi hanya dia yang mengerti dirinya.


“Kenapa? Apa ada yang salah denganku? Apa kamu malu menemuiku karena aku sudah tua?”

__ADS_1


"Bukan, Kak. Bukan karena itu, sampai kapan pun, di mataku Kakak akan selalu yang paling baik dan yang paling cantik.”


Erik tersedak ludahnya sendiri, tidak menyangka jika temannya itu bisa berkata seperti itu. Padahal tadi dia menolak untuk diajak menemui Maysa. Sebenarnya Aldo memang sudah lama menyukai Maysa. Setiap kali ada kerja kelompok, pasti dirinya yang mengusulkan untuk di rumah Riri.


Semua teman-temannya sudah menolak, ingin di rumah yang lain. Namun, Aldo tetap ingin di rumah Riri karena ingin bertemu dengan wanita itu. Teman-temannya yang memang sangat membutuhkan kehadiran Aldo akhirnya menyetujui hal itu. Tidak ada yang tahu mengenai perasaan pria itu kecuali Erik.


Selama ini Aldo juga sering bercanda dengan teman wanita yang lain. Jika dengan Maysa, dia memang bercanda, tetapi pakai hati. Itulah kenapa dia selalu membasmi para pria yang ingin dekat dengan Maysa.


Maisa menatap Aldo. Dia merasa ada suatu makna dibalik kalimat itu. Namun, wanita itu tidak bisa mengartikannya sendiri. Maysa ingin pria itu sendiri yang mengatakan makna dari kalimat tersebut.


Aldo salah tingkah karena sudah keceplosan mengatakan isi hatinya. Dia bingung harus berkata apa, di saat Maysa terus saja menatapnya. Pria itu tahu jika wanita yang ada di depannya menunggu jawaban. Akan tetapi, tidak ada niat dari dirinya untuk menjawab.


"Anak-anak mana, Sayang?" tanya Tama yang baru saja datang.


Aldo dan Erik menatap pria tersebut. Keduanya merasa aneh saat pria itu memanggil Maysa dengan panggilan sayang. Jika mereka saudara, rasanya tidak mungkin karena Riri, hanya memiliki satu saudara yaitu Maysa. Kalau suami wanita itu adalah Rafka dan mereka sangat mengenalnya, lalu siapa pria itu.


"Mas, ini kenalkan teman-temannya Riri dulu waktu masih SMA. Yang ini namanya Aldo, yang ini Erik. Dulu mereka sering datang ke rumah buat kerja kelompok sama Riri."


Tama pun mengulurkan tangan ke arah kedua pria itu. Aldo lebih dulu menyebutkan nama sambil menyambut uluran tangan Tama, diikuti erik.


“Saya Tama, suami Maysa.”


“Suami?” ulang Aldo dan Erik bersamaan.


.


.

__ADS_1


__ADS_2