Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
134. Pasrah pada keadaan


__ADS_3

Adit mengetuk pintu tiga kali, kemudian membuka pintu dengan pelan. Dia takut jika mengganggu waktu istirahat papanya. Namun, perkiraan yang salah. Papa Dimas ternyata sudah terbangun dan sedang berbicara dengan Tante Nova. Keduanya menoleh ke arah pintu saat mendengar ketukan.


Adit dan Riri pun berjalan memasuki ruang rawat inap Papa Dimas.


"Pengantin baru datang, nih!" seru Tante Nova dengan tersenyum ke arah keponakannya.


"Kami datang mau lihat keadaan Papa, Tante, sebelum nanti pergi ke tempat resepsi," sahut Adit yang kemudian berjalan menuju tempat tidur papanya. Dia juga menggandeng tangan Riri.


"Pengantin baru memang selalu saja nempel, nggak mau lepas," goda Tante Nova, yang sama sekali tidak ditanggapi Adit, sementara Riri sudah menundukkan kepalanya karena malu.


"Sudah, tidak usah pedulikan ocehan Tante. Dia memang suka seperti itu."


"Om, apa kabar? Maaf saya baru tahu kalau Om sedang sakit," ucap Riri dengan pelan.


"Kenapa masih panggil Om saja? Kamu 'kan sudah menjadi istri Adit, seharusnya panggil Papa, dong," ucap Papa Dimas membuat Riri menggaruk kepala bagian belakang, yang tidak gatal.


Dia merasa canggung dengan panggilan baru itu. Memang benar seharusnya begitu, tetapi ada perasaan canggung saat memanggilnya. Riri akan mencobanya sedikit demi sedikit, pasti lama-lama juga terbiasa.


"Pelan-pelan saja, Pa. Jangan dipaksakan, nanti anak orang kabur," ucap Adit yang mendapat cubitan dari sang istri. “Aduh, Sayang, sakit.”


Adit mengusap bekas cubitan sang istri. Tadi dia hanya ingin menggoda wanita itu, tetapi malah mendapat cubitan yang begitu pedas. Tante Nova yang melihatnya pun hanya bisa tertawa. Dia senang melihat keponakannya yang terlihat begitu bahagia.


Sekarang kakaknya sudah bisa lebih tenang karena sudah ada yang merawat Adit. Papa Dimas juga tidak perlu mengkhawatirkan anaknya lagi. Wanita itu yakin jika Riri pasti bisa menjadi istri yang baik untuk keponakannya.


"Bagaimana pernikahan kalian tadi? Pasti rasanya deg-degan, ya? Maaf Papa nggak bisa datang ke sana, tapi Papa tadi lihat lewat sambungan video call Martin. Papa harap kalian berdua selalu bahagia dan saling melindungi. Sekali lagi Papa minta maaf," ucap Papa Dimas yang merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Pa. Yang penting sekarang Papa harus baik-baik saja," sahut Riri yang tidak ingin membuat mertuanya semakin kepikiran. Yang terpenting sekarang adalah kesehatan Papa Dimas, mengenai yang lain tidaklah penting. Termasuk pesta resepsi nanti.


"Pa, apa tidak sebaiknya kalau pesta resepsinya di batalkan saja. Aku khawatir dengan keadaan Papa," ucap Riri yang tengah meminta pendapat pada mertuanya.

__ADS_1


"Jangan begitu, Adit sudah menyiapkan semuanya dari lama. Papa juga mengharapkan pesta itu, kalau kamu membatalkannya begitu saja, maka usaha Adit dan keinginan Papa akan sia-sia. Meskipun Papa tidak bisa hadir di sana, tetapi doa Papa selalu untuk kalian jadi, kalian lanjutkan saja pesta ini. Mengenai keadaan Papa, ada dokter yang sudah menangani semuanya. Papa pasti akan baik-baik saja."


"Dari tadi, menantu Papa ini sangat mengkhawatirkan Keadaan papa jadi, Papa harus benar-benar sembuh. Nanti setelah Papa benar-benar sembuh, kita buat acara makan-makan bersama keluarga, sebagai ganti karena Papa tidak bisa datang ke pesta kita," ujar Adit.


"Terserah kalian saja, Papa hanya bisa mengikuti."


"Tante juga minta maaf sama kalian berdua. Tante tidak bisa datang ke sana karena harus menunggu Pak tua ini di sini," ucap Tante Nova yang sengaja ingin menggoda Papa Dimas


"Iya, Tante, kami mengerti. Justru kami yang berterima kasih sama Tante karena sudah mau menunggu Papa di sini," sahut Riri.


"Iya, Tante. Kami sangat berterima kasih sama Tante. Tante tahulah bagaimana keras kepalanya Papa kalau Tante tinggal, pasti akan ada saja yang diminta dari dokter. Minta pulanglah, minta obatnya jangan besar-besarlah," sahut Adit yang membuat tante Nova dan Riri tertawa, sementara Papa Dimas hanya memutar bola matanya malas.


Sepertinya para keluarga memang suka menindas dia, di saat dirinya sedang sakit.


Adit dan Riri pun berbincang sejenak, sebelum keduanya meninggalkan Rumah sakit, menuju gedung tempat di mana mereka mengadakan resepsi. Masih ada beberapa jam untuk saling mengenal.


"Bagaimana, Ma? Apa Maysa mau datang?" tanya Rafka kepada mamanya. Dia menunggu wanita itu mengirim pesan kepada Maysa.


"Dia masih belum jawab, katanya mau tanya dulu sama Eira. Nggak tahu anak itu mau datang atau tidak. Maysa tidak janji bisa datang," jawab Mama Ishana, membuat Rafka menghela napas.


Sepertinya akan sulit untuk meminta Maysa untuk membawa putrinya datang lagi. Mengingat pertemuan terakhir yang membuat wanita itu sakit hati. Akan tetapi, itu semua juga bukan keinginan Rafka. Hanya Tantenya saja yang memang suka ikut campur dengan urusan orang lain.


"Menurut kamu, apa Maysa akan datang bersama dengan Eira?” tanya Mama Ishana sambil menatap putranya.


"Aku juga tidak tahu, Ma. Aku sudah tidak bisa menebak, apa yang mereka pikirkan. Sudah terlalu banyak luka yang aku berikan pada mereka."


Mama Ishana berpikir sejenak kemudian bertanya, setelah mengingat ucapan Maysa. "Mama penasaran satu hal. Sebenarnya apa yang membuat Eira menolak untuk menginap di sini? Padahal sebelumnya dia senang-senang saja tinggal di sini. Apa ada sesuatu yang sudah kamu sembunyikan dari Mama? Kejadian apa yang membuat Eira trauma sama kamu?"


Wanita paruh baya itu penasaran, apa saja yang sudah terjadi pada anak dan cucunya. Dia yakin jika itu bukan sesuatu yang sederhana. Eira bukanlah orang yang suka menyimpan dendam jika itu, bukan sesuatu yang besar. Kali ini Mama Ishana harus mendapatkan jawaban agar semuanya jelas dan bisa mengambil keputusan.

__ADS_1


"Rafka," panggil Mama Isyana lagi karena putranya tak kunjung menjawab.


"Sebenarnya ini juga kesalahanku. Waktu itu memang hari libur untuk Eira. Aku berjanji untuk mengajaknya liburan, tetapi akhirnya malah batal."


Rafka pun menceritakan semua apa yang terjadi saat itu, tanpa menutupi sedikit pun. Pria itu tidak ingin ada masalah nantinya, kalau dia berbohong. Bisa saja mamanya menyalahkan Maysa karena dia merangkai kebohongan. Lebih baik jujur seperti ini meskipun dia disalahkan.


"Astagfirullah! Kenapa kalian begitu tega memukul anak sekecil Eira! Pantas saja Maysa begitu marah karena putrinya kalian sakiti dan kamu Rafka, dia itu Putrimu, bagaimana mungkin kamu tega seperti itu, hanya karena ingin membuat putramu bahagia. Keduanya sama-sama anak kamu, tapi kamu tidak bisa adil."


Mama Ishana menggelengkan kepala. Perlu kesabaran yang besar untuk menghadapi Rafka. Dia tidak habis pikir dengan sikap Rafka yang entah menurun dari siapa. Padahal dirinya dan sang suami tidak pernah berbuat kasar, apalagi terhadap anak-anak.


"Aku juga sudah menegur Vida, tapi Mama tahu sendiri bagaimana sikapnya," sahut Rafka yang ingin membela diri.


"Itu karena kamu kurang tegas sebagai laki-laki dan pemimpin rumah tangga. Seharusnya kamu bisa mengendalikan istrimu, jangan sampai menyakiti putrimu. Sekarang saat seperti ini, siapa yang kamu harapkan? Istrimu atau putramu yang sekarang sudah meninggal?”


“Ma.”


Meskipun dia tahu jika Eira tidak salah, tetapi putranya tidak tahu apa-apa. Tidak seharusnya anak kecil dilibatkan dalam urusan para orang dewasa. Apalagi sekarang anak itu sudah meninggal tidak baik dibicarakan lagi. Putranya sudah tenang di alam sana


"Apa? Kenapa? Kamu tidak suka? Baru Mama bilang seperti itu, Kamu sudah marah. Bagaimana dengan Maysa yang melihat putrinya disakiti? Seharusnya kamu pikirkan hal itu," ucap Mama Ishana yang sudah sangat emosi mendengar cerita dari Rafka.


Wanita paruh baya itu memilih masuk ke dalam kamarnya. Dia sudah sangat marah pada sang putra. Daripada nanti di sini dirinya membuat masalah, lebih baik masuk ke dalam kamar. Apalagi mengingat sekarang di rumah ini, juga ada orang yang sudah menyakiti cucunya.


Ingin sekali lama raisana menghajarnya. Namun, dia tidak mungkin melakukan hal itu, di saat rumah ini masih dalam keadaan berduka. Dari dulu memang keluarga tidak ada yang suka dengan kehadiran Vida. Keluarga juga menentang, tetapi demi kebaikan bersama, dirinya terpaksa memberi restu.


Sementara itu, Rafka hanya bisa memandangi kepergian mamanya. Dia tahu jika dirinya memang salah, tetapi mau bagaimana lagi. semuanya sudah terjadi dan waktu tidak bisa diulang. Kini pria itu hanya bisa berpasrah pada keadaan, semoga semuanya bisa kembali baik-baik saja.


.


.

__ADS_1


__ADS_2