
Hari sudah semakin malam, keluarga Adit pun pamit untuk pulang. Mengenai acara pernikahan, keluarga juga sudah menentukan akan dilaksanakan satu bulan lagi. Awalnya Mama Rafiqah keberatan. Menurutnya itu terlalu cepat.
Namun, Adit menyanggupi bahwa dirinya akan bertanggung jawab sepenuhnya mengenai acara itu. Keluarga hanya menerima semuanya dengan beres. Pengantin pria sudah menyanggupi jadi, semua orang pun hanya bisa menerima. Mereka juga sangat tahu bagaimana kekuasaan Adit. Yang tidak perlu diragukan lagi.
"Baiklah, Bu Rafiqah. Kami mau izin pamit. Ini sudah sangat malam," ucap Nova mewakili keluarga.
"Iya, Bu Nova. Terima kasih atas kehadirannya, terima kasih juga sudah membawakan kami parcel segala," sahut Mama Rafiqah sambil bersalaman.
"Itu bukan apa-apa, Bu. Saya juga mengucapkan terima kasih atas sambutannya. Kami pamit dulu."
Semua orang pun saling bersalaman dan saat Nova bersalaman dengan Riri, wanita itu memberikan sebuah kotak cincin perhiasan. Itu sebagai pengikat Riri. Adit memang sengaja tidak mengadakan acara tukar cincin. Dirinya sendiri tidak suka memakai emas.
Dalam agama pun pria dilarang memakai perhiasan jadi, lebih baik Riri saja yang memakai. Gadis itu menerimanya dengan senang hati. Dia tidak menyangka akan menerima sesuatu yang dari dulu Riri harapkan. Meskipun harus menunggu beberapa waktu, itu tidak masalah.
"Boleh, Tante pakaikan di jari kamu?" tanya Nova yang diangguki oleh Riri.
Gadis itu pun mengulurkan tangannya agar Nova bisa menyematkan cincin di jari Riri. Sangat pas di jari manis gadis itu. Orang-orang yang melihatnya pun ikut tersenyum.
"Adit memang pandai memilih perhiasan. Baik-baik sama Adit. Dia memang bukan anak Tante, tapi Tante sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Dari dulu dia memang kekurangan kasih sayang seorang ibu, tapi Tante yakin dia bisa memperlakukan kamu dengan baik. Apalagi dia sangat mencintai kamu. Tante bisa melihat cinta yang begitu besar untukmu. Tante bisa lega sekarang, apalagi melihat kamu dan keluarga yang begitu baik. Semoga kalian bisa bersama-sama selamanya."
"Amin, terima kasih atas doanya, Tante."
Kedua wanita itu pun berpelukan. Perasaan haru menyelimuti hati masing-masing. Riri senang karena keluarga Adit sangat baik, tidak seperti bayangannya selama ini. Nova mengurai pelukannya dan bergantian pamitan dengan Maysa.
Adit perlahan mendekati Riri. Ini pertama kalinya pria itu berbicara secara langsung dengan gadis itu, setelah kejadian satu tahun lalu.
"Nanti aku hubungi kamu. Tolong buka blokiran nomorku di ponsel kamu," bisik Adit yang hanya bisa didengar oleh gadis itu.
__ADS_1
Riri mengangguk sebagai jawaban. Terlalu malu untuk mengucapkan kata-kata. Dirinya benar-benar lupa membuka blokiran nomor calon suaminya itu. Jika saja Adit tidak mengatakannya pasti dia tidak akan menghapusnya.
"Pak Tama, saya dan keluarga, permisi. Terima kasih atas semuanya," ucap Adit sambil bersalaman dengan calon kakak iparnya itu.
"Iya, sama-sama, Pak Adit. Kami juga berterima kasih atas kedatangan Anda dan keluarga."
Semua orang saling bersalaman. Adit sekeluarga pun meninggalkan rumah itu. Mama Rafiqah menghela napas lega karena acara malam ini berjalan dengan lancar. Wanita paruh baya itu berharap acara pernikahan Riri nanti juga berjalan sesuai rencana, mengingat semuanya hanya dilakukan dengan persiapan waktu satu bulan.
Entah apa Adit bisa menyelesaikan semuanya dengan baik atau tidak. Calon pasangan pengantin juga sudah sepakat untuk tidak mengadakan acara yang terlalu berlebihan. Cukup keluarga terdekat saja yang hadir.
Maysa juga menyanggupi untuk membuatkan gaun serta jas untuk pengantin. Tidak lupa juga baju untuk keluarga besar. Dia nanti akan mengirim salah satu pegawainya, untuk datang ke rumah keluarga Adit untuk diukur.
"Sayang kamu menginap di sini, apa pulang?" tanya Tama sambil berbisik.
Pria itu harus mengantar Mama Mirna pulang jadi, dia sendiri tidak mungkin menginap. Akan tetapi, sang istri barangkali mau membantu mamanya. Maysa juga harus berbicara dengan Mama Rafiqah mengenai rencana Tama tadi.
"Aku menginap saja, ya, Mas. Kamu sendiri pulang apa menginap?" tanya Maysa balik dengan berbisik juga.
"Iya, tidak apa-apa. Aku juga bawa mobil. Kalau anak-anak terserah mereka mau pulang atau di sini."
"Ya sudah, ayo, aku bantuin beres-beres sebentar. Setelah itu, aku nganterin Mama. Sekalian kita tanya anak-anak mau pulang atau di sini."
Maysa mengangguk dan berjalan memasuki rumah. Mereka semua membereskan ruang tamu, Mama Mirna juga ikut membantu di sana. Setelah semua beres, Tama pun mengajak mamanya untuk pulang. Anak-anak tidak mau pulang, mereka ingin ikut dengan Maysa menginap di rumah Mama Rafiqah.
Tama pun tidak keberatan akan hal itu. Mama Mirna berpamitan pada besannya untuk pulang. Mama Rafiqah menawarkan tempat agar besannya itu menginap saja. Namun, Mama Mirna menolak dan tetap memilih untuk pulang bersama dengan putranya.
Saat ini di rumah ada Mama Rafiqah, Maysa dan Riri, sementara anak-anak sudah tertidur di kamar. Mereka pasti sudah kelelahan karena tadi siang mereka juga ikut membantu. Meskipun bukan bantuan yang berarti, tetapi Eira dan Dio terlihat begitu antusias.
__ADS_1
"Ma, tadi aku sudah bicara sama Mas Tama. Bagaimana kalau Mama ikut kami, tinggal bersama di rumah kami dengan mama Mirna juga," ucap Maysa memulai pembicaraan.
"Bagaimana dengan mertua kamu? Mama nggak enak sama dia."
"Mama Mirna tidak keberatan. Beliau justru
merasa senang kalau di rumah ada temannya. Mama Mirna malah yang nyaranin buat ngajak Mama tinggal di rumah."
Mama Rafiqah terdiam, dia melihat ke arah Maysa dan Riri bergantian. Kedua putrinya sekarang sudah punya kehidupan sendiri-sendiri. Mungkin ini sudah saatnya dia menggantungkan hidup pada mereka. Umurnya juga sudah tidak muda lagi.
Jika wanita itu masih tetap kekeh hidup sendiri, pasti akan semakin mempersulit Riri yang ingin membangun rumah tangga. Mama Rafiqah hanya ingin anak-anaknya bahagia dengan pasangan masing-masing.
"Mama sudah memutuskan, Mama akan ikut kamu Maysa, tapi saat Mama merindukan rumah ini, Mama akan menginap di sini. Kalian tidak keberatan, kan?" tanya Mama Rafiqah pada kedua putrinya.
"Tentu saja tidak. Aku tahu Mama pasti berat meninggalkan rumah yang penuh kenangan ini," sahut Maysa dengan cepat.
Dia juga pernah berada di posisi Mana Rafiqah saat dulu Rafka menikahinya. Dia sangat berat meninggalkan rumah yang sejak kecil ditempatinya.
Mama Rafiqah mengangguk, dia memindai seluruh ruangan yang bisa dia lihat. Memang sangat berat, tetapi wanita itu tidak ingin semakin menyulitkan anak-anaknya karena itu, Mama Rafiqah mengalah untuk ikut salah satu dari mereka. Sesekali dia bisa datang ke rumah ini.
"Jadi mama nggak mau ikut sama aku?" tanya Riri dengan cemberut.
"Kamu bisa datang ke rumah ini atau ke rumah kakakmu jika kamu rindu sama Mama. Atau nanti saat Mama ingin menginap di sini, kamu juga bisa datang."
"Iya, Ri. Mama benar, lagi pula bukankah kamu akan tinggalin rumah Adit? Kalau Mama ikut sama kamu, pasti tidak nyaman juga untuk mertuamu karena beliau laki-laki," sela Maysa.
"Iya, Kak. Aku mengerti, nanti kalau aku kangen sama Mama, aku minta Mama datang ke rumah ini saja dan menginap di sini," sahut Riri membuat semua orang tersenyum.
__ADS_1
.
.