
pagi ini Gabriel sudah di pindahkan ke ruang rawat bisa, Krena kondisinya juga sudah mulai membaik.
Husna terus bersama sang suami, bukan hanya itu bahkan Husna tak sedikit pun beranjak dari kursinya.
Bella pun datang membawa sarapan untuk menantunya itu. mereka pun sarapan bersama.
Angga tak mengizinkan siapapun memberitahu keadaan Gabriel pada Puri, ini demi menjaga hati Husna.
Gabriel membuka mata dan mencari seseorang, saat melihat ke samping dia melihat Husna sedang bersama Bella.
Husna pun juga melihat ke arah Gabriel, setelah itu dia langsung menuju ke ranjang, "Air.." gumam Gabriel.
Husna langsung memencet tombol untuk memanggil dokter, Husna kemudian memberikan minuman pada Gabriel dengan sendok.
Bella begitu bahagia melihat putranya itu yang sudah sadar dan melewati masa kritisnya.
dokter datang dan mengecek kondisi Gabriel dan semua sudah membaik. Husna begitu bahagia mendengar penjelasan dokter.
saat Bella menelpon dan dokter pergi, Husna duduk dan mengenggam tangan Gabriel.
"mas, maafkan aku yang begitu buruk, aku membuatmu seperti ini, aku hanya takut kamu meninggalkan ku nanti," kata Husna dengan tangisnya.
Gabriel belum bisa menjawab karena tubuhnya masih lemah. Gabriel bahkan tak mengira jika Husna masih memiliki ketakutan.
__ADS_1
semua keluarga datang menjengguk Gabriel, sedang Husna terus merawat Gabriel dengan baik.
Mega tau jika cinta yang di miliki Husna begitu besar, tapi gadis sebaik itu harus memiliki takdir yang tak cukup baik.
"Husna, semua murid menanyakan kehadiran mu di sekolah, mereka bilang sudah merindukanmu," kata Mega yang duduk di samping Husna.
"tunggu sampai mas Gabriel sembuh dulu Tante, baru aku kembali mengajar dengan tenang," jawab Husna.
"dengarkan Gabriel, jangan lagi kamu menyakiti wanita sebaik ini, jika tidak mama yang akan membawanya pergi dari sisi mu," kata Mega.
"jangan mama, aku tak ingin kembali kehilangan wanita yang begitu aku cintai, apalagi dia adalah istriku," jawab Gabriel.
"yakin," goda Billy.
Puri tak tau kejutan yang sedang menantinya, Puri sudah bergabung bersama semua teman seangkatan.
saat melakukan ospek, tak sengaja mata indah Puri menangkap sosok yang menyebalkan dan kaku menurut Puri.
pria itu Arjuna, yamg sekarang berdiri di depan semua para mahasiswa baru. terlihat semua dosen dan rektor memberi hormat dan menyapanya.
"kenapa pria menyebalkan itu ada di sini, merusak pemandangan saja," gumam Puri kesal.
"kamu tak tau jika pria itu adalah pewaris dari keluarga Yusman, dia adalah dosen muda dan juga dia itu yang memberikan beasiswa bagi mahasiswa yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata"kata Wina pada Puri.
__ADS_1
"uh.. kamu sepertinya begitu mengenalnya, jangan bilang kamu naksir dia," tebak Puri.
"itu sih bener, tapi apalah aku yang hanya remahan peyek, bahkan mungkin dia takkan pernah memandangku," kata Wina seolah-olah sedih.
"kalau dia berani melihatku, aku akan mencongkel biji matanya," kata Puri.
tanpa kedua nya sadari dari tadi Arjuna mengawasi gerak-gerik Puri dan temannya itu.
tak lama Arjuna memberikan sambutan pada semua mahasiswa baru. sedang Puri tak memperhatikan sama sekali.
setelah acara ramah tamah selesai, mereka pun berpencar bersama grup untuk melakukan misi.
acara ospek terus berlangsung sampai sore hari, Puri sedang bersama Wina menunggu mobil online tang akan mengantar mereka.
tak di duga sebuah mobil mewah berhenti di depan mereka, kaca pun turun dan terlihat Bayu yang tersenyum kearah keponakan tercintanya itu.
"ayo masuk, ayah akan mengantar kalian," panggil Bayu.
"terima kasih ayah, bunda tak ikut?" tanya Puri mencari sosok Annisa.
"bunda di belakang, katanya ayah bau, sudah ayo masuk," ajak Bayu.
keduanya pun masuk, sedang Arjuna melihatnya dari jauh, entahlah melihat Puri dari pertama sudah terus terngiang di pikiran nya.
__ADS_1