
sudah sebulan berlalu, tapi Husna masih saja belum mau membuka matanya.
Gabriel bahkan terus menangis di samping istrinya, kondisinya makin menghawatirkan.
"Gabriel pulang lah dulu, biar aku yang di sini untuk menjaganya," bujuk Ella.
"aku tak ingin meninggalkan Husna kak," jawab Gabriel.
"ya Tuhan kau pria menyebalkan," kata Simon yang langsung memiting Gabriel dan langsung menyeretnya keluar dari ruangan Husna.
"lepas bang, atau aku membunuhmu," kata Gabriel berontak.
"tidak, berhenti bersikap menyedihkan seperti ini, karena kamu harus tetap melanjutkan hidupmu, jika kamu bangkrut, bagaimana kamu menghidupi husna dan anakmu nantinya," kata Simon mendorong Gabriel karena kesal.
sedang Gabriel pun menyadari kesalahannya, Gabriel pun berdiri dan menonjok Simon.
sedang Simon yang kesal pun menonjok balik Gabriel, akhirnya keduanya pun adu jotos di luar rumah sakit.
akhirnya dua security memisahkan mereka, bahkan beberapa pengunjung juga.
"tolong lepaskan, aku ingin menyadarkan adik ipar bodoh itu," kata Simon berontak.
__ADS_1
"kakak ipar kamu, aku membencimu," teriak Gabriel.
"pria bodoh, jika kamu tak bekerja siapa yang akan menghidupi keluargamu," maki Simon.
"baiklah, aku akan bekerja lagi, tolong pak lepaskan," kata Gabriel tenang dan mengangkat tangannya.
"apa bapak yakin, nanti berantem lagi," jawab security tak percaya.
"memang saya tak bisa di percaya apa, tenanglah meskipun aku suka adu jotos setidaknya aku tetap pengusaha yang bertanggung jawab," kata Gabriel.
Simon juga sudah tenang, "sudah berantemnya, sekarang kalian berdua ikut aku masuk," kata Ella.
Simon dan Gabriel pun masuk, tapi tak lama Ella menjewer telinga keduanya dan membawanya ke ruang rawat Husna.
semua orang terdiam melihat Ella menangani dua pria besar berotot itu bahkan tanpa takut.
"ketika pria sekuat apapun takut pada wanita," kata seorang pengunjung bergidik ngeri.
saat sampai di ruangan Husna, Sagara datang bersama tim asistennya untuk melaporkan semua progres pengerjaan proyek baru di kota itu.
"selamat siang tuan, saya datang untuk menunjukkan hasil progres dari proyek pabrik baru itu tuan," kata Sagara.
__ADS_1
"lihat bang, meski tak bekerja aku tetap menjdi pemilik meski aku harus menyiksa sekertaris ku ini, maafkan aku ya Sagara," kata Gabriel menepuk bahu Sagara.
"tidak masalah tuan, asal bonus ku di tambah," jawab Sagara.
"itu gampang, dan sayang bangunlah, agar aku bisa menjalani hidup ku, aku gila tanpa senyuman dan tawamu, dan juga sapaan pagi dari mu," kata Gabriel mulai meneteskan air mata lagi.
"hentikan atau ku akan menyeret mu dan membuang mu lagi," kata Simon.
"lihatlah sayang, dia terus menyiksa ku saat kamu tak sadar seperti ini, kamu tak kasihan dengan suamimu ini," kata Gabriel.
Sagara merasa geli melihat tingkah Gabriel yang begitu menyedihkan, tapi hanya di buat-buat.
tapi dia hanya bisa menyaksikan itu, sedang di Samarinda Daniyal sudah menjadi penerus di perusahaan sang opa.
dan Danish menjadi pemilik showroom milik Billy di Surabaya, jadilah dia yang menetap di Surabaya.
Caca dan Puri menjalankan hidupnya, dan tanpa sadar Caca juga makin dekat dengan Danish karena kesibukan Daniyal.
tapi Adelia terus menginggatkan Danish tentang Daniyal yang bisa bertindak kasar meski itu Danish jika menyangkut miliknya.
tapi Danish tak menggubris tentang peringatan yang diberikan Adelia, bahkan dia juga mulai mendekat ke Caca.
__ADS_1