
Semua menatap kedatangan Riri, begitu juga dengan Adit. Pria itu tidak dapat mengalihkan pandangannya dari gadis pujaan hatinya. Riri terlihat begitu sangat cantik, dengan balutan dress biru, hadiah pemberian dari sang kakak saat ulang tahunnya kemarin. Maysa juga tidak menyangka jika adiknya akan memakai gaun itu.
Namun, dia senang karena Riri memang sangat menghargai apa pun pemberian orang. Mama Rafika yang ada di sana pun juga ikut tersenyum, melihat putrinya yang begitu sangat cantik. Wanita paruh baya itu tidak menyangka akan secepat ini melepas putrinya. Meski berat, memang ini sudah saatnya bagi dia untuk melihat anak-anaknya bahagia.
Riri duduk di tengah-tengah antara mamanya dan sang kakak. Pandangan semua orang masih tertuju pada gadis itu. Hingga suara Nova—tantenya Adit—membuat perhatian semua orang teralihkan.
"Oh, ini calonnya Adit, cantik juga! Pantas saja dia betah sekali menduda. Tidak sia-sia ternyata dapatnya secantik ini."
Semua orang tertawa mendengarnya, begitu juga dengan Adit yang merasa malu. Tidak dipungkiri keluarga besar memang sudah tahu kenapa pria itu belum menikah juga. Padahal sudah satu tahun yang lalu dia bercerai dari sang istri. Semua orang juga mengetahui hubungan Adit dengan Riri. Saat itu beritanya sempat heboh akibat ulah mantan istri pria itu.
Seorang pria yang bernama Martin—om Adit—menegakkan tubuhnya, semua tahu jika pria itu ingin berbicara. Tiba-tiba suasana menjadi hening, tujuan keluarga Adit ke sini akan diutarakan Martin.
"Begini, Bu, Pak dan semuanya. Saya sebagai omnya Adit mewakili Adit beserta keluarga, datang ke sini dengan tujuan, ingin melamar anak ibu yang bernama Riri. Kami berharap lamaran ini diterima dengan baik," ucap Om Martin.
Mama Rafiqah tersenyum dan melirik ke arah Tama. Wanita itu tadi sudah berbicara dengan menantunya sebagai perwakilan dari keluarga. Di sana memang hanya ada Tama sebagai laki-laki satu-satunya. Tidak mungkin dirinya yang mengatakan hal itu.
Dia mengangguk kearah sang menantu. Tama yang mengerti pun juga ikut mengangguk. Tidak dipungkiri jika pria itu merasa gugup. Baginya lebih enak menghadapi rekan bisnisnya, dari pada harus jadi pembicara di acara seperti ini.
"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada Adit sekeluarga. Mohon maaf, kami tidak banyak membuat jamuan karena memang semuanya serba mendadak. Saya di sini sebagai kakak ipar, tidak bisa memberi jawaban atas lamaran dari Adit. Semuanya Kami serahkan secara langsung kepada Riri. Biar dia yang menjawabnya secara langsung karena dia yang akan menjalani kehidupan rumah tangganya nanti. Apa pun jawabannya, kami sebagai keluarga akan mendukung dia sepenuhnya. Semoga Adit sekeluarga juga menerima apa pun keputusan dari adik ipar saya. Kepada Riri, silahkan untuk menjawab lamaran dari keluarga Adit."
__ADS_1
Semua orang menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan. Mereka menunggu jawaban dari calon pengantin wanita. Riri pun tidak kalah gugupnya karena harus menjawab lamaran itu. Bahkan Adit yang ada di depannya pun tidak sanggup bernapas. Pria itu benar-benar takut jika lamaran kali ini juga akan ditolak.
Namun, apa pun keputusan Riri, dia akan mencoba menerimanya dengan lapang dada. Setiap gerak-gerik gadis itu tidak luput dari pandangan semua orang. Maysa yang ada di sampingnya pun selalu melirik ke arah adiknya.
"Bismillahirohmanirohim," gumam Riri dengan pelan. "Kepada keluarga Mas Adit, terima kasih atas kedatangannya ke sini dengan niat baik. Sebenarnya saya juga terkejut karena semuanya serba mendadak, tapi saya sangat menghargainya. Saya sudah memikirkan jawaban dari lamaran ini dari sebelumnya. Saya memutuskan untuk menerimanya."
"Alhamdulillah," jawab Adit sekeluarga secara serentak.
Semua orang senang mendengar jawaban dari Riri. Sebelumnya mereka memang sudah memperkirakan jawaban ini, tetapi mendengarnya secara langsung tentu saja rasanya berbeda.
"Apakah Nak Riri tidak memiliki syarat apa pun untuk acara pernikahan nanti?" tanya om Martin.
"Mengenai hal itu, nanti akan saya bicarakan berdua dengan Mas Adit sendiri."
Mereka pun sekeluarga membicarakan rencana pernikahan. Selanjutnya Mama Rafiqah menyerahkan semuanya pada Adit. Namun, dia tetap akan ikut andil mengenai biaya pernikahan Riri. Bagaimanapun juga gadis itu adalah putrinya. Wanita itu tidak ingin menyerahkan anaknya begitu saja pada orang lain.
Mama Rafiqah takut jika suatu hari nanti akan menjadi masalah untuk putrinya karena hanya bermodalkan dirinya saja. Wanita itu memang sudah menabung untuk pernikahan Riri.
"Bapak, Ibu, sebaiknya kita makan malam dulu," ucap Maysa yang kemudian membawa semua makanan ke ruang tamu.
__ADS_1
Tidak mungkin semua orang pergi ke ruang makan. Sudah pasti tempatnya tidak muat jadi, wanita itu membawanya keluar dengan dibantu oleh Riri. Anak-anak juga tampak tenang dari tadi. Sepertinya mereka sangat mengerti jika saat ini sedang ada acara yang serius.
"Silakan dinikmati!" seru Mama Rafiqah yang kemudian mengambil makanan lebih dulu.
Sudah pasti tamunya akan merasa sungkan jika tidak ada yang memulai mengambil makanan. Semua orang menikmati makanan dengan sesekali berbincang, terkadang mereka juga saling bercanda. Mama Rafika bersyukur keluarga Adit menerima dirinya, yang bukan dari kalangan orang kaya seperti mereka.
Wanita itu berharap kelak Riri juga diperlakukan sama seperti hari ini dan seterusnya. Bukan untuk sementara saja. Di sisi yang lain, Adit juga berbincang dengan Tama. Keduanya hanya berbincang santai karena memang mereka tidak menyukai membicarakan urusan bisnis, saat sedang berkumpul dengan keluarga seperti ini.
Awalnya Adit agak sungkan, mengingat bagaimana Tama selama ini yang selalu profesional dalam urusan pekerjaan. Namun, dia tidak menyangka jika pria itu, bisa juga berbincang santai seperti ini. Pantas saja Riri tampak biasa saja saat pergi bersama dengan kakak iparnya saat makan malam hari itu.
"Anda sangat hebat, Pak Tama. Selain urusan pekerjaan yang tidak diragukan lagi, anak-anak juga sepertinya sangat dekat dengan Anda. Padahal biasanya anak-anak lebih dekat dengan mamanya," ucap Adit sambil melihat ke arah kedua anak Tama.
"Saya sebagai seorang ayah, juga ingin dekat dengan anak-anak jadi, sebisa mungkin saat ada waktu luang, akan saya gunakan waktu itu bersama dengan anak-anak. Mereka juga tidak keberatan, saat saya memang benar-benar sibuk, mereka tidak akan mengganggu saya," sahut Tama dengan bangganya.
"Saya semakin kagum kepada Anda."
"Itu semua juga tidak lepas dari dukungan istri saya. Dia yang paling sering berinteraksi dengan anak-anak. Dia juga yang selalu memberi pengertian pada mereka, hingga membuat anak-anak saya menjadi anak yang hebat."
Adit mengangguk sambil tersenyum. Dia berharap kelak rumah tangganya juga bisa seperti Tama. Bagaimanapun juga Maysa dan Riri juga dibesarkan di lingkungan yang sama.
__ADS_1
.
.