
"Maaf, Pak Rafka. Saya sungguh-sungguh tidak memiliki niat apa pun untuk membuat Anda sedih. Saya hanya ingat masa lalu saja." Pak RT tertawa hambar, dia merasa tidak enak karena sudah menyinggung perasaan pria itu. Pria itu merutuki dirinya yang seharusnya tidak banyak bicara.
"Tidak apa-apa, Pak RT. Saya mengerti maksud Anda. Saya juga merindukan masa-masa itu. Andai saja waktu bisa terulang, Saya juga tidak ingin melakukan kesalahan yang sudah saya sesali hari ini."
Kata-kata Rafka semakin memperkuat dugaan Pak RT. Jika rumah tangga mantan warganya itu, kini juga sedang tidak baik-baik saja. Namun, pria itu tidak ingin terlalu ikut campur. Dia takut nantinya malah akan membuat Rafka semakin terluka. Biarlah itu menjadi urusan mereka masing-masing.
"Baiklah kalau begitu. Pak Rafka, silakan melihat-lihat rumahnya. Saya mau pergi, masih ada urusan yang harus segera selesaikan," pamit Pak RT.
"Oh iya, Pak. Maaf sudah mengganggu waktunya."
"Oh tidak, memang saya yang datang menyapa Anda lebih dulu jadi, saya tidak masalah. Saya pergi dulu, assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Pak RT meninggalkan Rafka yang masih memperhatikan rumahnya. Entah apa saja yang pria itu pikirkan, semoga bukanlah sesuatu yang buruk.
****
Sementara itu Tama mengemudikan mobilnya menuju rumah. Selama perjalanan, tidak ada satu orang pun yang berbicara. Eira dan Dio saling berpegangan tangan di belakang, sedangkan di depan Tama mengambil kemudi. Maysa juga ada di samping sang suami, dia hanya melihat ke arah jalanan lewat jendela yang ada di sampingnya.
Entah apa yang dipikirkan wanita itu, semua tahu jika Maysa sedang marah dan tidak ada yang berani menyinggung. Keadaan seperti ini yang paling tidak disukai Tama Apalagi ada anak-anak bersamanya. Pria itu pun mencoba mencari cara agar suasana mencair.
"May, mau mampir ke suatu tempat terlebih dahulu?" tanya Tama yang mencoba untuk mengambil perhatian agar semua orang kembali mencair.
"Mampir ke mana, Pa? Memang Papa ada sesuatu yang mau dibeli?"
__ADS_1
Tama melihat ke arah anak-anak sejenak dan kembali fokus pada jalanan. "Ini sudah hampir malam, apa tidak sebaiknya kita mampir di restoran. Kasihan anak-anak pasti lapar."
Sebenarnya itu hanya alasan Tama untuk menghangatkan suasana saja. Dia tidak mau suasana seperti ini sampai di rumah nanti. Apalagi jika sampai masuk kamar masing-masing, akan semakin sulit untuk menghangatkannya.
Maysa juga melihat anak-anak yang terlihat begitu tegang. Dia pun mengerti maksud sang suami. "Aku terserah kamu, Mas, tapi apa tidak apa-apa kita makan di luar? Takutnya nanti Mama menunggu kita pulang untuk makan malam."
"Biar nanti aku kirim pesan sama Mama kalau kita makan di luar. Sudah lama juga kita tidak makan di luar. Hanya makan siang saja yang sering. Akhir-akhir ini pun sudah jarang."
Maysa terlihat berpikir, mereka memang sudah jarang sekali pergi makan malam di luar. Hanya makan siang, itu pun sekarang jarang tidak seperti dulu, yang jika Tama sedang tidak banyak pekerjaan, pria itu akan pulang.
"Baiklah," jawab Maysa yang kemudian beralih menatap anak-anaknya yang ada di belakang. "Dio sama Eira mau makan apa?"
Dio dan Eira saling pandang, keduanya juga tidak tahu harus makan apa. Perut mereka masih menolak untuk makan malam hari ini. Namun, menolak keinginan Maysa, itu bukanlah hal yang baik. mamanya saat ini sedang merasa sedih, kedua anak itu juga perlu menghiburnya.
"Aku terserah Kakak saja, Ma," jawab Eira yang kemudian membuat Maysa menatap Dio. Dia menunggu jawaban dari anak kecil.
"Eira juga mau itu?" tanya Maysa yang ingin memastikan keinginan putrinya agar nanti tidak salah pesan. Eira hanya mengangguk sebagai jawaban.
Tama pun akhirnya mencari restoran yang menyediakan menu seperti keinginan kedua anaknya. Maysa sendiri tidak memilih makanan jadi, apa pun pilihan anak-anaknya, pasti dia ikut saja. Asalkan itu membuat anak-anak senang dan kenyang itu sudah cukup.
Tidak berapa lama, akhirnya Tama menemukan restoran yang diinginkan. Tempatnya sangat ramai karena memang disaat seperti ini waktunya keluarga bersantai. Mereka segera turun dan memasuki restoran bersama-sama. Eira dan Dio terlihat begitu senang.
Restoran itu terlihat begitu berkelas. Anak-anak juga bisa melihat ikan yang ada di di sekeliling restoran. Tampak ada beberapa anak juga yang ada di sekitar untuk melihat ikan. Dio dan Eira juga ikut melihat.
Tama dan Maysa membiarkan kedua anaknya bermain dengan anak-anak lainnya, sambil melihat ikan yang ada di sana. Mereka juga terlihat begitu senang dan mulai mencair. Tama tersenyum, usahanya ternyata membuahkan hasil. Anak-anak sepertinya sudah mulai melupakan kejadian tadi.
__ADS_1
"Anak-anak sudah melupakan kejadian tadi, aku harap kamu juga seperti itu. Jangan biarkan apa yang mereka katakan, menguasai diri kamu dan akhirnya kamu pun jadi emosi. Anggap saja apa yang dikatakan wanita tadi adalah angin lalu. Dia juga tidak tahu apa-apa tentang kita. Biarkan Rafka yang menjelaskan semua pada keluarganya. Jika pun tidak, anggap saja itu sebagai pengurangan dosa-dosa kita," ucap Tama pada sang istri.
"Dari tadi aku sudah mencoba untuk melupakannya, tapi setiap kata dari wanita itu justru semakin teringat di kepalaku," jawab Maysa dengan menundukkan kepalanya.
"Jangan terlalu dipaksakan, ikhlaskan semuanya. Insya Allah semuanya akan terasa ringan dan tidak akan membebanimu."
Maysa mengangguk, benar apa yang dikatakan sang suami. Mungkin dari tadi dia terlalu memaksakan diri untuk melupakan apa yang sudah terjadi. Wanita itu lupa jika dirinya harus menerima semuanya dengan ikhlas. Apa pun yang dipaksakan memang tidaklah baik.
Maysa menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan. Semoga setelah ini dia tidak lagi emosi. Apa pun yang terjadi dalam hidup ini, semoga semuanya terlewati dengan baik. Wanita itu tidak ingin anak-anaknya terpengaruh seperti tadi.
Tidak berapa lama makanan pesanan mereka datang. Maysa memanggil anak-anak. Awalnya mereka masih menolak, tetapi dengan bujukan dari mamanya, kedua anak itu mau juga. Dio dan Eira menikmati makanan dengan tenang. Anak-anak juga terlihat makan begitu lahap.
Padahal tadinya Maysa takut jika anak-anak tidak berselera untuk makan. Tempat makan memang terkadang bisa membuat mood orang berubah. Beruntung tadi Tama menemukan tempat yang seperti ini. Di sini juga banyak anak-anak yang bebas bermain di mana saja.
"Ma, nanti kapan-kapan kita makan di sini lagi, ya!" pinta Eira dengan mulut yang penuh dengan nasi, membuat Maysa dan Tama tertawa.
"Kalau bicara makanan yang di mulut dihabiskan dulu, Sayang. Biar tidak penuh gitu," tegur Maysa.
Eira pun berusaha mengunyah makanannya dengan cepat dan segera menelannya. "Kapan-kapan kita makan di sini lagi, ya, Ma," ucap gadis kecil itu setelah tidak ada makanan di mulutnya.
"Insya Allah, kapan-kapan kita datang ke sini lagi. Kalian ke sini suka makanannya apa tempatnya?"
"Dua-duanya, Ma. Makanannya enak, tempatnya juga enak. Ada ikan besar-besar di sana," jawab Eira sambil menunjuk kolam yang ada di sekeliling restoran. Jika era begitu antusias menceritakan apa yang dilihat, Dio justru asik dengan makanannya. Mereka memang dua anak yang sangat berbeda. Namun, keduanya saling menyayangi.
.
__ADS_1
.