Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
aku mengiklaskan..


__ADS_3

"kalau begitu bang Gabriel harus menikahi gadis itu, sesuai perjanjian dari ayah kak Gabriel," kata Puri mengejutkan semua orang.


"tapi aku tak mencintainya, aku hanya mencintaimu!" teriak Gabriel.


"maaf bang, aku ikhlas jika Abang menikah, dan jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja, dan aku sudah bisa menjaga diriku sendiri," kata Puri.


"benar Gabriel, mungkin ini memang sudah takdir kalian, tapi percayalah jika kalian memang di takdirkan bersama pasti akan terjadi," kata Mega.


"baiklah, aku akan menuruti permintaan mu Puri, aku akan menikah dengan wanita pilihan dari ayah sesuai perjanjian mereka," kata Gabriel.


setelah mengatakan itu Gabriel pun langsung bergegas pergi dari rumah keluarga Angga, Puri hanya menangis melihat Gabriel pergi.


Mega langsung memeluk putrinya itu, Mega sangat tau bagaimana rasanya harus rela melepas orang yang kita cintai.


Gabriel mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, Gabriel tak menyangka jika Puri akan melepaskannya.


saat sampai di rumah, Bella dan Billy sudah siap dengan koper mereka, dan Gabriel terkejut melihatnya.


"papa, bunda, kalian berdua mau kemana?" tanya Gabriel.


"maaf Gabriel kami harus berangkat ke malang saat ini, karena kondisi dari Aziz memburuk dan sebelum hal lebih buruk terjadi kami harus kembali mengusahakan agar bisa membatalkan semuanya," jawab Bella.


"tidak perlu, aku akan ikut kalian pergi dan akan melaksanakan Janji yang dulu di buat oleh ayah," jawab Gabriel.


Gabriel pun masuk kedalam kamar miliknya dan mengambil semua keperluan nya selama di Malang.


mereka terbang dengan pesawat malam hari, setidaknya butuh satu jam untuk sampai di bandara Abdurahman Saleh, Malang.


mereka pertama menuju hotel untuk menaruh barang-barang milik mereka, setelah itu langsung menuju ke rumah sakit.


"maaf ruangan bapak Aziz Al-katiri," tanya Billy pada resepsionis.


"ruang rawat kelas dua Khadijah, di lantai dua pak," jawab suster itu.


"baiklah terima kasih," jawab Billy.


kini mereka bertiga langsung menuju ke kamar yang di maksud, saat sampai Bella bisa melihat seorang gadis yang tengah menangis di samping tubuh Aziz yang begitu lemah.


Bella pun memegang bahu gadis itu, gadis itu pun menoleh dan menghapus air mata yang terjatuh.


"bagaimana keadaannya?" tanya Bella.

__ADS_1


"ayah kritis, dan saat sadar ayah hanya memanggil nama Reino," jawab Husna.


"mas Aziz aku Bella, kami datang aku mohon sadarlah demi putrimu," kata Bella.


"pa, sebaiknya om Aziz di pindah ke kelas satu, atau ICU agar dapat penangganan lebih intensif," kata Gabriel.


"ya kamu benar nak, biar papa yang urus, kamu di sini sama bunda mu ya," kata Billy.


Bella yang sedih pun tak bisa menahan tangisnya, dia harus kembali ingat bagaimana kebersamaan mereka berempat dulu.


tak lama datang Ella dan Simon suaminya, Simon mengenali Gabriel yang kakak ipar dari sahabatnya Daniel.


"maaf ini bunda Bella?" tanya Ella.


Bella pun menoleh ke arah Ella, Ella langsung mengambil tangan Bella dan menciumnya, Husna pun mengikuti sang kakak.


"ini Ella," jawab Bella yang menghapus air matanya.


"iya bunda, ini suami Ella, namanya Simon, dan ini adik Ella, Husna," kata Ella memperkenalkan keluarganya.


"maaf bunda baru bisa datang, dan bunda turut berduka cita atas kematian mama kalian," kata Bella.


"iya bunda, tapi ayah masih menunggu bunda untuk menepati janji yang dulu pernah di buat, sebenarnya Ella sudah ingin membatalkan semua nya, tapi sepertinya ayah tak setuju," jawab Ella sedih.


Gabriel pun mendekat kearah Aziz, dan membisikkan sesuatu, "om Aziz, ini Gabriel Harvey Kuncoro, menerima pernikahan ku dengan salah satu putri dari om Aziz, aku berjanji akan menjaga dan membahagiakannya sampai akhir nafas ku," kata Gabriel.


Ella dan Husna terkejut, Husna melihat sang kakak dengan mata yang berkaca-kaca.


setelah itu Gabriel mengulurkan tangannya pada Husna, sedang Husna masih takut dengan apa yang terjadi.


Ella pun mengangguk dan memberikan tangan adiknya pada Gabriel, "saya Gabriel Harvey Kuncoro, berjanji di depan semua orang, saya akan menikahi putri om Aziz, dan menjadikannya satu-satunya istri saya," janji Gabriel.


Tut.....


suara pasien monitor yang menandakan heart rate terhenti, melihat itu Simon langsung memanggil dokter.


sedang Gabriel langsung menekan tombol untuk memanggil perawat.


semua orang di minta keluar, Billy pun kembali karena terkejut karena sedang membicarakan tentang perpindahan kamar untuk Aziz.


tim dokter pun melakukan pertolongan untuk menyelamatkan pasien, tapi tak berhasil Aziz dinyatakan meninggal pukul 19.30 wib.

__ADS_1


Ella dan Husna sangat terpukul mendengar kematian dari sang ayah, Gabriel langsung mengurus kepulangan jenazah.


sedang Billy pun meminta data diri dari Husna untuk pernikahan antara Gabriel dan Husna pada Simon.


mereka besok akan menikah dengan wali mayit, atau melakukan pernikahan di samping jenazah ayah Husna yang belum di makamkan.


mereka akan menikah secara siri, dan batu mendaftarkan ke pengadilan setelah semua sedikit tenang.


Simon pun memberikan data diri Husna pada Billy, dan meminta bantuan pada Simon untuk memberitahu pada aparat desa.


sedang Gabriel yang mengurus segalanya di rumah sakit, Gabriel pun menghampiri Ella dan Husna yang sedang menangis di samping jenazah sang ayah.


Bella dan orang tua Simon membersihkan rumah guna menyambut kedatangan jenazah dari pak Aziz.


Bella begitu terharu saat melihat foto mereka berempat tercetak besar, terlihat Aziz dan Mila tersenyum lebar saat hadir di pernikahan dirinya dan Reino.


bahkan Mila saat itu sedang hamil besar, anak kedua mereka, "maaf Bu, apa anda sahabatnya, soalnya Bu Mila sering menceritakan ibu," kata dari ibu Simon.


"iya kami berempat bersahabat dari kami SMK, hingga kami memiliki keluarga sendiri, tapi saya tak mengira saya akan menjadi besan saat Mila dan Aziz pergi untuk selamanya," kata Bella sedih.


"ya Alloh, berarti ibu ini calon mertua Husna,"kaget ibu Simon.


"iya Bu," jawab Bella melihat wanita di sampingnya itu.


"Bu kalau boleh saya titip gadis itu ya, dia begitu rapuh dan pendiam, dia jarang keluar seperti gadis seusianya, dia hanya keluar saat mengajar dan selalu di rumah, dan dia selalu memendam perasaan nya," kata ibu Simon.


"iya Bu, biar nanti saya yang akan membimbing nya dan menyayanginya," jawab Bella.


malam itu jenazah sudah bisa di bawa pulang, akhirnya mereka memutuskan untuk mensucikan malam itu juga.


dan jenazah akan di makam kan keesokan paginya, setelah acara pernikahan dari Husna dan Gabriel.


Gabriel sedang begadang bersama Simon dan yang lain, Husna menghampiri Gabriel dan memintanya untuk berbicara berdua.


"apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Gabriel dingin.


"jangan nikahi aku, saat mas tak siap, itu akan melukai mas, dan wanita yang mas cintai, aku bisa mengikhlaskan janji ayah dan om Reino dulu," kata Husna.


"aku tak bisa menarik sumpahku," jawab Gabriel.


"kalau begitu mas akan melukai kita bertiga dengan pernikahan ini, aku bukan wanita Sholehah yang bisa melihat suamiku mencintai wanita lain di depan ku, jadi sebelum ini terjadi aku mohon pikirkan kembali mas," kata Husna.

__ADS_1


Gabriel terdiam mendengar perkataan dari Husna yang begitu tepat, bahkan gadis itu tak ingin melihat Gabriel saat berbicara.


"kalau begitu Husna permisi, mas pikirkan baik-baik keputusan mas," kata Husna meninggalkan Gabriel.


__ADS_2