
Tangis Vida semakin keras dalam pelukan Rafka. Dia juga sudah berusaha menerima apa yang terjadi pada putranya. Namun, hatinya menolak. Wanita itu sudah sangat menyayangi anaknya, tidak mungkin bisa ikhlas begitu saja.
Meski awal kehamilannya dulu sempat menolak, tetapi seiring berjalannya waktu dan kebersamaan mereka. Tumbuhlah kasih sayang antara ibu dan anak itu. Apalagi sejak Vida berhenti bekerja. Banyak waktu yang dia habiskan berdua dengan anaknya.
Berita kematian putra Rafka sudah tersebar. Mama Ishana meminta putranya untuk membawa jenazah cucunya ke rumah saja. Daripada di rumah kontrakan. Nanti juga bisa di makamkan di taman makam daerah sekitar jadi, keluarga bisa berkunjung sewaktu-waktu. Jika di tempat mereka kos, itu terlalu jauh.
Maysa yang mengetahui kabar meninggalnya putra Rafka jadi bimbang. Dia tidak mungkin memutus tali silaturrahmi putrinya dan keluarga Rafka. Akan tetapi, wanita itu juga takut jika Vida tidak menerima kehadiran putrinya nanti. Bagaimanapun Eira juga berhak datang ke pemakaman adiknya.
“Ada apa, Sayang?” tanya Tama yang melihat Maysa terdiam di meja kerjanya.
Maysa yang sedang melamun, terkejut mendengar pertanyaan suaminya. “Eh, kamu, Mas.”
“Ada apa?” tanya Tama lagi karena merasa ada sesuatu yang sudah terjadi.
“Anak Kak Rafka meninggal, Mas.”
“Innalillahiwainnailaihirojiun, kapan?”
“Aku tidak tahu, baru saja aku baca status dari Mama Ishana. Ini lihat!” Maysa memberikan ponselnya pada Tama.
Di sana memang ditulis jika cucu dari Rafla dan Vida sudah meninggal. Tidak dijelaskan kapan meninggalnya. Entah sudah dimakamkan atau belum. Unggahan tersebut juga terjadi satu jam yang lalu.
“Apa kita perlu melayat ke sana, Mas?” tanya Maysa.
__ADS_1
“Sebaiknya memang seperti itu, Sayang. Kita jemput anak-anak dulu, sekarang sudah waktunya pulang, kan? Nanti kita tanyakan pada Eira mau ke sana atau tidak.”
Maysa mengangguk, dia juga tidak yakin putrinya mau ikut ke sana, tetapi tidak ada salahnya jika bertanya. Siapa tahu anak itu ingin melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Meskipun mereka tidak dekat, darah mereka tetap sama.
Tama dan Maysa akan pergi menjemput anak-anak. Mereka berpamitan pada Riri, tidak lupa juga menyampaikan berita duka yang keduanya ketahui. Wanita itu mengatakan pada adiknya jika kemungkinan akan pergi melayat jadi, dia tidak akan kembali.
Keduanya menaiki mobil menuju sekolah anak-anak. Semoga saja nanti Eira mau ikut pergi melayat, mengingat apa yang pernah Rafka dan Vida lakukan padanya, pasti masih menimbulkan luka. Sebenarnya Maysa tidak yakin, tetapi nanti dia akan mencobanya. Dia tahu jika putrinya anak yang baik.
Tidak berapa lama, akhirnya mereka sampai juga di sekolahan anak-anak. Di depan gerbang sudah ramai para orang tua yang ingin menjemput anaknya. Ada yang sambil memainkan ponsel, ada pula yang berbincang dengan orang tua murid lainnya. Sementara dirinya dan sang suami menunggu dengan harap-harap cemas.
Lonceng berbunyi, anak-anak pun semuanya berlari keluar dari sekolah. Satpam yang bertugas di pintu gerbang pun segera membukanya. Semua orang tua menyambut anak mereka.
"Mama, papa," panggil Eira dan Dio bersamaan. Keduanya berlari ke arah orang tuanya.
"Jangan lari-lari, nanti jatuh!" seru Maysa. Mereka berempat pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan sekolah.
Sepanjang perjalanan Tama melirik ke arah istrinya. Pria itu tahu jika Maysa sedang memikirkan cara untuk berbicara dengan anak-anaknya. Dia sendiri juga tidak tahu bagaimana membujuk Eira, membujuk Dio saja terkadang kesulitan, apalagi gadis kecil itu. Akan tetapi, sebisa mungkin nanti Tama akan membantu sang istri.
Begitu sampai di depan rumah, anak-anak segera turun dan berlari ke kamar mereka. Maysa mengikuti Dio dan Eira karena ingin berbicara terlebih dahulu, sebelum mereka bermain. Takut nantinya malah akan semakin sulit untuk membujuknya. Tama juga mengikuti sang istri, dia ingin membantu wanita itu berbicara dengan anaknya.
"Anak-anak, sini dulu! Mama mau bicara," ucap Maysa yang kemudian duduk di tepi ranjang. Kedua anaknya pun ikut duduk di samping kiri dan kanan mamanya, sementara Tama mengambil kursi dan duduk di depan mereka.
Dio dan Eira saling pandang. Keduanya merasa pasti ada sesuatu yang penting, hingga mama dan papanya berada di kamar ini sama-sama.
__ADS_1
"Ada apa, Ma? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Dio dengan menatap mamanya.
Biasanya Maysa tidak pernah berbicara saat mereka belum mandi. Apalagi sekarang keduanya juga masih menggunakan seragam sekolah. Kira-kira apa yang penting itu, hingga kedua orang tuanya harus bicara bersama.
"Begini, Sayang. Tadi Mama dapat kabar, kalau adiknya Eira, anak dari Papa Rafka dan Mama Vida meninggal dunia jadi, Mama mau ajak Kak Dio sama Eira untuk melayat. Kalian mau, kan?" tanya Maysa pada kedua anaknya. Wanita itu berharap sang putri tidak menolak ajakannya.
Dio menatap adiknya, dia sangat tahu jika Eira tidak suka dengan papa kandung dan ibu tirinya itu. Apalagi dengan adik tirinya, tetapi sekarang keadaannya berbeda. Adiknya sudah meninggal dan hari ini adalah terakhir kalinya, untuk Eira agar melihat bagaimana keadaan adik tirinya. Setelah ini, tidak akan ada kesempatan berikutnya.
Dio tidak masalah untuk ikut pergi, tetapi dia juga tidak bisa memaksa Eira untuk ikut melayat. Anak itu tahu sakit hati yang dirasakan gadis kecil itu, ditambah lagi dengan sikap Rafka yang selalu pilih kasih terhadap anak-anaknya. Mungkin jika hanya sekali, bukanlah masalah, tetapi yang dilakukan Rafka sudah berkali-kali.
"Aku tidak mau, Ma. Kalau Mama mau pergi, Mama pergi sendiri saja. Aku tidak mau ikut ke sana," tolak Eira dengan cemberut. Setiap kali ada yang membicarakan adik tirinya, pasti gadis itu sangat marah. Dia merasa semua kebahagiaannya telah direbut adik tirinya itu.
Maysa sudah memperkirakan hal ini. Akan sangat sulit untuk membujuk putrinya. Namun, rasanya tidak pantas jika mereka tidak datang. Apalagi yang meninggal adalah adiknya Eira. Terlepas dari mana anak itu lahir, mereka tetaplah satu ayah.
"Sayang, apa nanti kamu nggak akan menyesal? Setelah ini kamu tidak akan bisa melihat adik kamu lagi. Bagaimana nanti kalau kamu kangen sama dia?"
"Aku nggak akan kangen sama dia. Dia sudah jahat karena dia, papa nggak sayang lagi sama aku," sahut Eira dengan menundukkan kepala.
Maysa mengusap rambut anaknya. Ini semua karena Rafka, ketidakadilan yang pria itu lakukan, membuat putrinya membenci orang yang tidak seharusnya. Mereka tetap saudara, sebagai seorang papa, seharusnya Rafka membuat kedua anaknya saling mendukung.
"Sayang, adiknya Eira masih kecil. Dia belum mengerti apa-apa, yang dia lakukan hanya bisa menangis karena belum bisa bicara. Jadi kalau adik membuat kesalahan, seharusnya Eira yang jadi kakak mengalah. Lagi pula sekarang adik sudah meninggal, kasihan kalau kakaknya tidak melayat. Nanti adik kangen sama Kak Eira bagaimana?"
Eira terlihat berpikir, dia ragu apakah gadis itu harus datang atau tidak. Mengingat apa yang Rafka lakukan terakhir kali, yang lebih membela adiknya daripada dia. Apalagi Vida sampai memukulnya juga, itu memberi rasa trauma tersendiri bagi gadis kecil itu.
__ADS_1
.
.