
"Iya, Bu. Zaman sekarang memang banyak kejahatan, tapi alhamdulillah keponakan saya ketiganya laki-laki," ucap Ningrum pada Maysa.
"Syukurlah kalau begitu, jangan lupa nanti sampaikan apa yang saya katakan tadi," sahut Maysa.
"Iya, Bu. Nanti akan saya sampaikan sama kakak saya."
"Mbak Ningrum, nanti sampaikan saja padanya, kalau aku tidak bisa mempekerjakan dia di sini. Karena Mama saya tidak jadi tinggal di sini, tetapi kalau mau, kakak Mbak Ningrum bisa kerja sama mama saya di rumahnya.”
“Iya Bu nanti saya sampaikan.” Mbak Ningrum mengangguk.
Dia yakin jika kakaknya akan menerima pekerjaan ini karena orangnya, tidak pernah pilih-pilih soal pekerjaan. Di sini juga gajinya lebih besar daripada di tempat lain.
“Ya sudah, sekarang di ruang tamu ada Mama Mirna dan Mama Rafiqah. Tolong, buatkan minuman dulu. Setelah itu, jangan lupa bersihkan kamar tamu yang ada di sebelah ruang keluarga. Itu akan di tempati Mama Rafiqah untuk sementara waktu.”
Ningrum mengangguk dan mengiyakan apa yang diperintahkan oleh majikannya. Wanita itu pun membuatkan minuman untuk Mama Mirna dan Mama Rafiqah di ruang tamu. Asisten rumah tangga itu tidak tahu minuman apa yang menjadi kesukaan kedua wanita itu. Dia pun memutuskan untuk membuat teh saja.
Menurut Ningrum itu minuman semua orang. Tidak ada yang akan menolak teh hangat. Setelah siap, dia membawanya keluar dan mempersilakan dua wanita itu untuk meminumnya. Barulah Ningrum membersihkan kamar tamu, seperti yang Maysa perintahkan.
Sementara itu, di kamar Maysa mencoba menghubungi adiknya. Dia harus membicarakan mengenai hal ini juga pada Riri. Wanita itu tidak mau dianggap mengambil keputusan sendiri. Takutnya nanti adiknya itu akan marah.
Beberapa kali panggilan tersambung. Namun, tidak kunjung diangkat oleh Riri. Hingga Maysa mencoba menghubungi lagi dan akhirnya diangkat juga. Sebenarnya malu juga menghubungi pengantin baru. Meskipun itu adik sendiri, seolah mengganggu kesenangan orang lain.
"Assalamualaikum, Kak, ada apa?" tanya Riri yang berada di seberang telepon.
“Waalaikumsalam. Maaf, ya, pengantin baru. Kakakku ini harus mengganggu waktu honeymoon kamu, tapi ini sangat penting untuk dibicarakan," goda Maysa pada adiknya sambil tersenyum.
"Apaan, sih, Kak. Kalau telepon cuma mau bilang itu saja, lebih baik tidur saja sama!” seru Riri dengan kesal.
"Tidak. Aku hanya ingin mengatakan, kalau mama menolak untuk tinggal di rumah Kakak. Dia tetap kekeh ingin tinggal di rumahnya sendiri dan tadi kakak terpaksa mengizinkannya. Asalkan dengan syarat, mama harus mau tinggal bersama dengan asisten rumah tangga. Kakak tidak akan bisa tenang kalau membiarkan Mama Rafiqah sendiri di rumah. Kalau menurut kamu bagaimana?”
Riri tampak terdiam memikirkan apa yang diinginkan mamanya. Dia tidak mungkin bisa memaksa wanita paruh baya itu. Apalagi kalau sudah membuat keputusan, sudah pasti akan tetap pada pendiriannya.
“Kalau aku terserah Kakak saja, bagaimana baiknya, tapi apa tidak berbahaya meninggalkan Mama dengan asisten baru, Kak. Takutnya nanti dia akan semena-mena sama Mama. Apa lagi Kakak tahu 'kan Mama itu orangnya tidak tegaan. Bagaimana kalau nanti dia dimanfaatkan orang itu? Aku jadi ngeri sendiri membayangkannya."
"Kita bisa pasang CCTV saja. Kebetulan sekarang mama ada di rumahku selama satu minggu. Kita bisa memasangnya tanpa sepengetahuan Mama. Kita pasang beberapa CCTV di sudut rumah. Nanti kita sambungkan ke ponsel kita agar kita bisa tahu, apa saja yang sudah terjadi di rumah. Bagaimana?" tanya Maysa pada adiknya yang masih ragu.
Riri tampak berpikir. Rencana kakaknya memang sudah sangat matang. Dia juga tidak memiliki rencana apa pun karena sudah pasti, Mama Rafiqah juga akan menolak untuk tinggal bersama dengannya. Bersama dengan Kak Maysa yang bersama Mama Mirna saja dia tidak mau. Mana mungkin ikut dengannya yang harus tinggal bersama dengan Papa Dimas. Sudah pasti sang mama akan menolak karena mereka berbeda jenis kelamin. Takutnya nanti juga akan menjadi fitnah.
"Aku ikut saja, Kak. Aku juga tidak punya rencana, nanti kakak atur bagaimana baiknya. Kalau ada sesuatu yang diperlukan, nanti hubungi aku, aku selalu siap. Kapan pun kakak ada waktu kosong, nanti kita pasang CCTV di rumah mama sama-sama."
"Iya, nanti biar aku tanya sama Mas Tama, CCTV apa yang paling aman agar tidak ada yang tahu, baik Mama Rafiqah ataupun asisten baru itu nanti."
Keduanya pun berbincang sejenak, sebelum akhirnya Maysa mengakhiri panggilan. Dia tahu jika adiknya pasti punya kesibukan sendiri, maklumlah pengantin baru pasti ada saja yang dilakukan.
"Nanti kalau semuanya sudah pasti, Kakak hubungi kamu bagaimana nantinya. Sekarang sebaiknya kamu kembali pada suamimu, takutnya dia nggak tahan. Maaf tadi mengganggu sebentar," ucap Maysa yang sengaja menggoda sang adik.
"Kakak seperti nggak tahu pengantin baru saja. Sudahlah, aku mau pergi dulu. Assalamualaikum." Riri menutup panggilan dengan kesal. Kakaknya memang selalu saja mengganggu ketenangannya.
"Waalaikumsalam." Maysa juga mematikan ponselnya sambil tersenyum. Dia bisa membayangkan wajah kesal adiknya. Sudah pasti saat ini wajahnya cemberut.
"Mama, aku lapar," ucap Eira saat memasuki kamar mamanya. Maysa pun menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Ayo, kita ke dapur! Kita lihat Bik Ningrum masak apa," ajak Maysa sambil menggandeng tangan putrinya.
Keduanya menuju ke ruang makan, tampak meja makan yang sudah ditutupi dengan tudung saji. Pasti itu makan untuk makan siang semua orang. Tadi dia lupa mengatakan pada Ningrum kalau akan ada Mama Rafiqah. Mudah-mudahan makanan yang dibuat asisten rumah tangganya itu cukup untuk semua orang.
Jika tidak, pasti dirinya yang akan merasa tidak enak pada mamanya. Saat dia membuka tudung saji Maysa tersenyum lega. Di sana banyak makanan yang dimasak oleh asisten rumah tangganya itu.
"Eira tunggu di sini, ya! Mama mau panggilin Oma Mirna sama Oma Rafika. Sambil nunggu Kak Dio juga," ucap Maysa yang diangguki oleh Eira.
Wanita itu pun berjalan ke ruang tamu untuk memanggil mama dan mertuanya. Setelah itu dia ke kamar anaknya untuk memanggil Dio. Mereka semua makan siang bersama-sama, sambil berbincang. Kebanyakan mereka mendengar cerita dari Eira. Entah apa saja yang sudah diceritakan oleh gadis kecil itu.
"Bu, kamarnya sudah saya rapikan. Apa ada yang lain lagi?" tanya Ningrum pada majikannya.
"Sudah, Mbak. Kamu bisa makan siang dulu, baru melanjutkan pekerjaan yang lain," jawab Maysa yang di iyakan oleh Ningrum."
Asisten rumah tangga itu berjalan ke belakang. Dia lebih memilih melanjutkan pekerjaannya terlebih dahulu. Setelah majikannya selesai makan, barulah Ningrum bisa makan siang. Itu memang sudah menjadi kebiasaannya. Itu juga yang diajarkan oleh orang tuanya untuk menghormati pemilik rumah.
Setelah makan siang, Maysa mengantar Mamanya ke kamar untuk beristirahat. Tidak lupa juga dia menidurkan anak-anak. Jika mereka tidak dipaksa, pasti keduanya tidak akan beristirahat di siang hari. Memang bukan masalah yang besar, tetapi wanita itu merasa kasihan saja pada Dio dan Eira. Yang pasti akan merasa sangat lelah seharian bermain.
****
"Siapa, Sayang?" tanya Adit saat melihat sang istri terlihat kesal dengan mematikan telepon.
"Biasa, Kak Maysa selalu saja menyindirku. Aku jadi kesal."
"Memangnya Kak Maysa menyindir apa, sampai istriku yang cantik ini cemberut?" tanya Adit sambil mencubit pipi sang istri dengan pelan. Dia begitu gemas melihat Riri yang menggembungkan pipinya. Tentu saja hal itu membuat dirinya ingin mencubit saja.
"Dia menyindir dan meminta maaf karena sudah mengganggu waktu pengantin baru."
"Itu memang benar, kan, Sayang? Bukankah meminta maaf itu baik? Memangnya apa yang salah?" tanya Adit dengan menahan senyum.
Riri yang sedang kesal pun keluar dari kamar dan menuju dapur. Adit terlihat khawatir dengan keadaan sang istri. Dia pun mengikutinya dari belakang. Keduanya melihat keberadaan Papa Dimas di ruang tamu sambil menikmati teh hangat.
"Kenapa nggak istirahat di kamar, Pa? Papa baru pulang dari rumah sakit, harus banyak beristirahat. Apa ada yang tidak nyaman?" tanya Riri sambil duduk di samping mertuanya.
Papa Dimas tersenyum dengan menghela napas. "Papa capek harus tiduran terus, masa tadi di rumah sakit tiduran. Sekarang di rumah juga tiduran lagi. Apa nggak ada kerjaan lain? Papa juga ingin main golf, sudah lama Papa nggak pergi. Pasti semua teman-teman Papa juga rindu sama Papa."
Adit mengerti kesedihan papanya. Pasti pria itu sudah merasa bosan berada di rumah. "Nanti kalau Papa sehat, Papa bisa pergi."
"Kamu seharusnya mengantarkan Papa. Nanti teman-teman Papa bisa marah."
"Iya, Pa. Nanti Adit antar, tapi sekarang Papa harus sehat dulu. Nanti kalau di lapangan golf tiba-tiba pingsan bagaimana? Kan, malu sama teman-teman yang lain. Sebaiknya sekarang Papa sehatkan tubuh Papa dulu. Setelah itu, baru Adit antar ke tempat golf. Papa mau ke tempat yang mana, akan Adit antar. Bahkan nanti Adit juga ikut main di sana, seperti keinginan papa dulu." Adit mencoba membujuk papanya.
Dulu Papa Dimas memang selalu mengajak adik untuk bermain golf bersamanya. Namun, Adit selalu menolak dengan alasan banyak pekerjaan atau sibuk dan yang lainnya. Hingga akhirnya Papa Dimas pergi seorang diri, kadang juga bersama dengan teman-temannya. Sekarang pria itu merasa bersalah. Seharusnya sebagai anak dia bisa membuat ayahnya bahagia.
Apa salahnya pergi bermain golf dengan ayahnya. Itu juga tidak memakan waktu seharian, tetapi hal itu sepertinya terasa sangat sulit. Apalagi harus bersama dengan teman papanya, tentu saja Adit semakin malas. Yang ada nanti jadi ajang perjodohan.
Riri bisa melihat rasa bersalah yang dirasakan oleh sang suami. Dia juga bisa merasakan hal itu. Wanita itu tidak tahu apa yang membuat Adit merasa bersalah. Mungkin itu adalah urusan antara anak dan ayah, biarlah mereka yang menyelesaikannya sendiri.
"Tidak usah, kalau kamu mau pergi, kamu pergi saja. Papa sudah tua, sudah tidak bisa lagi memukul bola, yang ada nanti malah encok. Sebaiknya kamu gunakan waktu kamu sebaik-baiknya, untuk membuat istrimu bahagia. Jangan sampai kamu menyesal seperti papa, yang tidak bisa membahagiakan Mama kamu. Sampai akhirnya dia tetap usia. Saat itu Papa merasa sangat bersalah dan ingin menebusnya. Namun, semuanya sudah terlambat." Mata Papa Dimas berkaca-kaca, menyesali sikapnya dulu.
"Papa pasti bisa membahagiakan Mama dengan cara mengirim doa untuknya. Mama juga pasti lebih membutuhkan hal itu daripada lainnya. Materi itu tidaklah pentingnya lagi untuk Mama sekarang."
__ADS_1
"Tentu, Papa pasti akan selalu mengirim doa untuk almarhumah Mama kamu," sahut Papa Dimas dengan menarik napas dalam-dalam. "Ini sudah jam berapa? Kenapa kamu belum pergi bekerja? Itu contoh yang tidak baik untuk para pegawai. Ayo, cepat sana pergi bekerja! Jangan sampai terlambat," lanjut Papa Dimas yang membuat Pak Adit dan Riri saling pandang. Sepertinya sakit Papa sedang kambuh, makanya melantur.
"Papa ini bagaimana, sih. Memangnya papa lupa, kalau hari ini hari Minggu? Papa terlalu banyak berpikir, makanya sampai lupa," sahut Pak Adit.
Lebih baik meyakini apa yang papanya katakan agar tidak menjadi perdebatan. Dia tidak ingin membuat Papa Dimas semakin berpikir, yang pastinya akan semakin berpengaruh pada kesehatannya.
Riri mengangguk, mengiyakan ucapan sang suami. Dia tahu maksud dari Adit dengan berbicara seperti itu. Semua demi kebaikan Papa Dimas dan semoga saja mertuanya itu bisa cepat sembuh. Meskipun kemungkinannya sangat kecil, ditambah usianya juga sudah lanjut.
"Benarkah kalau ini hari Minggu?" tanya Papa Dimas sambil berpikir. Dia ragu dengan jawaban putranya. Pria itu merasa jika sekarang masih jam kerja.
"Coba bapak ingat-ingat lagi, aku yakin papa pasti lupa." Adit mencoba meyakinkan Papanya jika apa yang dikatakan memanglah benar. Kalau tidak, bisa-bisa dia harus pergi ke kantor di siang menjelang sore ini.
"Apa Papa lupa, ya? Mungkin benar apa yang kamu katakan. Ya sudah, sebaiknya kamu ajak istri kamu jalan-jalan, jangan di rumah saja."
"Kapan-kapan saja, Pa. Kami juga baru mengadakan resepsi, masih capek. Sekarang sebaiknya Papa istirahat. Sebelum itu, Papa harus minum obat juga, biar Papa semakin sehat nanti, biar bisa gendong cucu." Adit membantu papa Dimas berdiri dan mengajaknya untuk ke kamar.
Sudah saatnya pria itu minum obat dan istirahat siang. Riri juga merasa kasihan pada mertuanya, mengingat bagaimana dulu pria itu terlihat sangat tegas, tetapi sekarang keadaannya seperti itu. Setelah membantu Papa Dimas minum obat dan memastikan pria itu tidur. Adit pergi keluar kamar. Pria itu kembali ke ruang tamu menemui sang istri.
"Sepertinya kita butuh perawat dengan cepat. Aku tidak tahu apa dokter sudah mendapatkan kandidatnya atau belum," ucap Adit begitu duduk di sofa.
"Kalau memang belum ada, sebaiknya perawat yang tadi saja. Papa juga perlu orang yang mendampinginya ke mana pun. Aku takut jika papa melakukan sesuatu yang tidak kita ketahui. Kita juga punya kegiatan masing-masing."
"Sebentar, biar aku tanyakan sama dokter," ucap Adit yang segera mengotak-atik ponselnya.
Dia mencoba menghubungi nomor dokter tadi, yang merekomendasikan perawat untuk papanya. Adit menanyakan mengenai perawat. Dokter pun mengatakan jika sudah ada calonnya, tetapi hanya ada tiga. Sebagian besar menolak untuk menjadi perawat pribadi. Apalagi orang itu sakit seperti papa Dimas.
Adit pun mengerti dan tidak ingin memaksa mereka, yang tidak mau. Dia meminta daftar ketiga orang tersebut. Dokter mengiyakan dan akan mengirimkannya lewat email.
“Bagaimana, Mas?” tanya Riri saat sang suami mematikan ponselnya.
“Sebentar lagi dokter akan mengirim berkas calon perawat. Hanya ada tiga yang mendaftar. Mereka rata-rata menolak merawat orang yang memiliki penyakit seperti papa. Apalagi dengan gaji yang aku tawarkan, bagi mereka itu kurang. Padahal aku memang sengaja memberi segitu, untuk mencari perawat yang benar-benar niat untuk bekerja. Nanti saat bekerja juga aku akan memberinya gaji dua kali lipat," ucap Adit.
Riri tidak menyangka jika sang suami memiliki pemikiran seperti itu. Zaman sekarang memang kebanyakan orang mengincar gaji besar, tanpa menunjukkan kualitas dengan cara kerja mereka yang tidak sesuai. Mudah-mudahan dia bisa memilih orang yang tepat untuk merawat Papa Dimas agar pria paruh baya itu bisa nyaman dan bisa segera sembuh.
Ponsel Adit mendapatkan notifikasi email masuk. Pria itu pun segera memeriksa email, takut jika itu bukan dari dokter, melainkan dari sekretarisnya. Untung saja itu memang benar dari dokter. Dia membaca profil mereka satu persatu. Ketiganya sama-sama orang hebat, tetapi mau bagaimanapun, dia tetap harus memilih satu.
“Menurut kamu yang mana, Sayang?”
Adit menyerahkan ponselnya pada sang istri agar wanita itu bisa melihat dan menilai. Kira-kira perawat mana yang cocok untuk Papa Dimas. Riri pun memperhatikan dengan saksama, dia tidak pandai menilai orang jadi, menyerahkan kembali keputusan pada Adit.
"Terserah kamu saja, Mas. Aku bingung harus pilih yang mana. Secara kualitas ketiganya sama-sama orang berpengalaman juga."
Adit mengangguk dan kembali memeriksa file yang ada di ponsel. Ketiganya memang punya kualitas yang sama. Jika dokter merekomendasikan, berarti mereka memang sudah teruji kinerjanya. Setelah berpikir sejenak, akhirnya pria itu pun memilih salah satu diantara ketiganya.
Dia menganggap jika orang itu lebih layak dari yang lain. Mudah-mudahan saja Adit tidak salah pilih. Pria itu takut akan terjadi sesuatu pada papanya. Dia pun mengirim pesan pada dokter. Jika dirinya sudah memilih salah satu diantara mereka. Tidak lupa juga Adit memilih foto perawat itu.
Dokter mengatakan jika perawat itu akan datang besok pagi. Adit juga bisa memberi masa uji coba untuk perawat itu. Jika nanti kinerjanya tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, pria itu bisa mengganti dengan perawat lain. Dia pun mengiyakan apa yang dokter katakan.
"Besok dia akan ke sini. Sayang, kalau perawatnya laki-laki seperti ini, jadinya aku yang was-was dengan keberadaannya di rumah," ucap Adit yang tiba-tiba teringat sesuatu. Bagaimana jika sang istri hanya berdua dengan perawat. Dia takut jika istrinya akan digoda.
"Mas, Mana mungkin aku tergoda oleh perawat itu. Kamu ada-ada saja parnonya, aku juga tidak segila itu dengan bermain api. Aku sudah pernah bilang kalau aku tidak mau ada penghianat di antara kita berdua. Karena itu pasti akan sangat menyakitkan kenapa sekarang kamu malah menuduhku?” tanya Riri dengan kesal.
__ADS_1
.
.