
Semua orang kini sedang menikmati sarapannya dengan tenang. Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Ningrum pun membuka pintu rumah untuk melihat, siapakah yang datang di pagi-pagi seperti ini. Tidak berapa lama asisten rumah tangga itu pun masuk, bersama dengan seorang wanita yang membawa sebuah tas besar.
"Maaf, Bu, Tuan. Ini kakak saya namanya Aminah," ucap Ningrum pada majikannya.
Tentu saja hal itu membuat semua orang, yang ada di ruang makan beralih menatap Ningrum dan kakaknya. Maysa memperhatikan wanita tersebut dengan saksama. Tidak terlalu tua, tubuhnya juga sepertinya kuat. Dia berharap nanti Aminah juga bisa menjaga mamanya.
"Mbak Ningrum ajak kakaknya ke ruang tamu saja, ya! Nanti kita bicara di sana," ucap Maysa.
"Iya, Bu. Maaf sebelumnya, sudah mengganggu waktu sarapan Ibu." Ningrum menundukkan kepala karena merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa."
Ningrum pun mengajak kakaknya ke ruang tamu. Aminah sedari tadi terus saja memperhatikan sekitar rumah ini.
"Ning, dua wanita yang agak tua tadi siapa? Apa dia juga penghuni rumah ini?” tanya Aminah dengan pelan seperti berbisik.
“Iya, yang satu Bu Mirna. Dia itu pemilik Rumah ini, kalau yang laki-laki tadi itu anaknya, namanya Tuan Tama. Yang tadi bicara sama aku, itu Bu Maysa, dia istrinya Tuan Tama. Yang wanita satunya lagi, itu ibunya Bu Mahesa, namanya Bu Rafiqah. Kalau dua anak tadi itu anak mereka."
Aminah menganggukkan kepala. Dia merasa canggung dengan mereka. Melihat rumah ini yang begitu besar saja, wanita itu merasa takut. Bagaimana jika membuat kesalahan, pasti akan membayar denda yang begitu besar.
Belum lagi perabotan yang begitu mahal, Aminah tidak bisa membayangkan nanti kerja di sini. Ingin sekali dia menolak pekerjaan ini. Namun, di rumah keluarganya membutuhkan uang untuk masa depan anak-anaknya juga. Wanita itu tidak mungkin mengubur cita-cita anaknya.
Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Tama pergi ke kantor. Sebelum itu, dia juga harus mengantar anak-anak terlebih dahulu, sementara Maysa dan kedua mama pergi ke ruang tamu untuk bertemu dengan Aminah.
"Nama Anda siapa?" tanya Maysa.
__ADS_1
“Nama saya Aminah, Bu."
"Sebelumnya Bik Aminah bekerja di mana saja dan apa yang Bibi kerjakan? Saya panggil Bibi, ya?"
Aminah mengangguk dengan hormat. "Iya, Bu. Sebelumnya saya juga bekerja sebagai asisten rumah tangga di kota saya saja. Saya tidak pernah keluar kota. Saya juga mengerjakan pekerjaan rumah, seperti membersihkan rumah dan juga memasak."
Maysa juga menganggukkan kepala, sebenarnya dia khawatir jika Aminah bukan orang baik, tetapi semoga dengan rencananya bisa membuat wanita itu tahu apa saja yang terjadi. "Apa Mbak Ningrum sudah cerita sama Bibi, mengenai apa pekerjaan yang harus dilakukan dan di mana Bibi akan bekerja?"
"Sudah, Bu. Saya akan bekerja di rumah orang tua Ibu."
"Baguslah kalau sudah tahu. Perlu Ibu ketahui, Rumah Ibu saya tidak sebesar rumah mertua saya ini. Pastinya semua serba sederhana. Saya mengatakan ini bukan apa-apa, saya takut saja kalau Bibi tidak betah di sana karena semuanya serba terbatas.”
"Iya, Bik. Di rumah saya semua apa adanya, tidak sebesar di sini jadi, sebaiknya Bibi pikirkan dulu semuanya baik-baik sebelum Bibi menyesal,” sela Mama Rafiqah. Dia juga tidak enak jika ada orang yang tidak nyaman tinggal bersamanya.
“Sebenarnya, Bu. Kalau boleh jujur, saya justru tidak nyaman bekerja di rumah ini. Rumahnya terlalu besar, saya takut jika membuat kesalahan. Kalau saya sampai melakukan kesalahan, saya takut membayar denda. Saya bekerja untuk menghidupi anak-anak saya, kalau harus membayar denda juga, pasti saya tidak sanggup, Bu,” ucap Aminah membuat Maysa melongo.
"Kami juga tidak akan mungkin meminta denda. Tanyakan saja sama adik Bibi, apa selama bekerja di sini, kami pernah bersikap semena-mena?"
"Maaf, Bu. Saya tidak bermaksud untuk menyinggung. Saya hanya takut saja," sela Aminah yang merasa tidak enak. Dia takut menyinggung perasaan majikan barunya. Padahal dia tidak ada niat ke sana sama sekali.
Sebenarnya Maysa memang sedikit tersinggung, tetapi sebisa mungkin dia menahan emosinya.
"Bibi tenang saja, baik kerja di sini maupun di rumah Mama Rafika, kami semua tidak pernah meminta denda jadi, Bibi bisa bekerja dengan tenang. Untuk satu minggu ke depan, Bibi kerja di sini dengan Mbak Ningrum. Mama juga tinggal di sini, nanti saat waktunya pulang, Bik Aminah pulang juga."
"Iya, Bu."
__ADS_1
Maysa menatap Ningrum dan berkata, "Mbak Ningrum, tolong antar kakaknya ke kamar, ya!"
“Iya, Bu." Ningrum pun mengajak kakaknya ke belakang rumah dan menunjukkan di mana kamar wanita itu. Setelahnya Ningrum melanjutkan pekerjaannya.
“May, kenapa kamu susah-susah mencari asisten buat Mama? Mama bisa sendiri," tanya Mama Rafiqah yang sudah merasa tidak nyaman, padahal mereka belum pulang.
"Ma, kita sudah sepakat mengenai hal itu. Aku tidak mau lagi berdebat mengenai hal yang sama berulang kali," pungkas Maysa yang akhirnya membuat Mama Rafiqah terdiam.
Wanita Paruh baya itu sudah tidak mungkin lagi menolak keinginan putrinya. Bisa-bisa nanti dirinya akan diminta tinggal di sini. Lebih baik tinggal di rumah sendiri dengan satu orang asing, daripada harus tinggal di sini dengan beberapa orang asing.
Setelah mengurus semua hal, Maysa akan pergi ke butik karena butiknya hari ini sudah mulai buka. Saat akan berangkat, tiba-tiba dia teringat jika minggu depan adalah ulang tahun sang suami. Wanita itu ingin memberi kejutan untuk Tama. Maysa pun memikirkan kira-kira kejutan yang bagaimana agar bisa membuat sang suami terkesan.
Terlebih dahulu Maysa harus memesan kue untuk sang suami. Dia juga perlu membicarakan hal ini pada mertua dan mamanya. Kebetulan keduanya juga masih ada di rumah. Wanita itu pun mencari Mama Mirna dan Mama Rafiqah, untuk membicarakan rencana kejutan ulang tahun.
Kedua wanita paru baya itu pun ikut saja dengan rencana Maysa. Mereka juga tidak tahu harus memberi kejutan yang bagaimana. Apalagi Mama Mirna, dia saja tidak pernah memberi kejutan selama ini jadi, sekarang terserah bagaimana rencana sang menantu.
"Memang kamu sudah menyiapkan kado untuk Tama, May? Ini sudah satu minggu lagi, loh?" tanya Mama Mirna.
"Insya Allah sudah, Ma. Justru karena aku punya sesuatu untuk Mas Tama, makanya aku teringat ulang tahunnya. Maklumlah, Ma. Aku 'kan juga ada kerjaan jadi suka lupa hari ulang tahun keluarga," jawab Maysa dengan menggaruk belakang kepalanya. Wanita itu merasa tidak enak pada sang mertua karena beberapa kali melupakan kegiatan keluarga.
"Tidak apa-apa, jangan terlalu dipikirkan. Mama juga terkadang lupa sama ulang tahun keluarga. Ini saja kalau kamu nggak ngingetin Mama juga pasti akan lupa. Makanya Mama nggak punya kado buat Tama. Nanti mama cari.”
“Mama juga nggak tahu mau kasih apa ini. Nak Tama pasti sudah memiliki semuanya. Kadi dari Mama pasti tidak ada artinya untuk dia," sela Mama Rafiqah yang juga bingung mau memberi apa pada sang mertua.
"Mama ini bicara apa, sih? Mas Tama mana ada seperti itu. Dia selalu menerima apa pun pemberian orang. Justru dis sangat senang karena orang yang memberinya berarti perhatian padanya. Sangat jarang orang seperti itu."
__ADS_1
.
.