Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
125. Persiapan pernikahan


__ADS_3

Acara pernikahan Adit dan Riri akan dilakukan dua hari lagi. Beberapa kerabat dekat sudah datang, mereka adalah saudara Mama Rafiqah. Ada yang menginap di rumah, ada juga di hotel yang sudah disediakan oleh Adit. Keluarga dari almarhum ayahnya Riri juga sudah datang. Terutama yang akan menjadi wali dari pengantin wanita nantinya.


Maysa juga sudah menginap di rumah mamanya sejak dua hari yang lalu, bersama dengan anak-anak. Kalau Tama menginap di rumahnya sendiri. Besok malam saja pria itu menginap di sana. Di rumah, Mama Mirna sendiri, dia tidak tega meninggalkannya. Apalagi sekarang Wanita paruh baya itu sering sakit.


"May, Tante lihat suami kamu nggak ke sini. ketidak sedang ada masalah dengan suamimu, kan?" tanya salah satu tante Maysa yang menginap di rumah Mama Rafiqah.


"Mas Tama akan menginap di sini besok, Tante. Sekarang dia menemani Mama Mirna di rumah. Mertua saya di rumahnya sendirian, beliau juga kurang sehat," jawab Maysa yang mencoba untuk tetap tenang.


Dia tahu tantenya itu sangat ingin tahu urusan rumah tangga orang lain. Namun, sebisa mungkin wanita itu tetap tersenyum. Maysa tidak ingin membuat acara pernikahan Riri, menjadi perdebatan antara dia dan tantenya. Meskipun hatinya kini sudah sangat sesak.


"Seharusnya suami kamu ikut menginap di sini karena di sini ada acara. Apalagi yang menikah adik kandung kamu. Bukannya mertua kamu itu orang kaya, seharusnya ada banyak pembantu dan juga satpam. Apa yang perlu dikhawatirkan?" tanya wanita itu dengan gaya judesnya.


"Asisten rumah tangga saya sudah berhenti, Tante, besok baru datang. Sebagai seorang anak, tetap saja Mas Tama khawatir pada orang tuanya. Peralatan pekerjaan suami saya juga ada di rumah itu. Lagi pula persiapan di sini juga masih bisa teratasi, acara 'kan dilakukan di gedung."


"Di rumah suami kamu juga tetap kerja! Kapan kamu diperhatiinnya, kalau siang malam sibuk bekerja terus."


"Mas Tama memang kadang membawa pekerjaan ke rumah, tapi bukan berarti dia tidak memedulikan keluarganya. Ada waktu tertentu untuk bersama dengan keluarga, tapi jika pekerjaan itu memang sangat penting yang harus segera diselesaikan, terpaksa menyita waktu kebersamaan kami. Kami juga tidak masalah akan hal itu."


"Kalau Tante jadi kamu, pasti Tante sudah protes sama suami. Siang kerja, malam juga kerja."


Maysa hanya tersenyum. Dia tidak terlalu menanggapi ucapan tantenya. Meskipun tidak dipungkiri jika dalam hatinya ingin sekali protes pada sang suami. Namun, wanita itu tahu jika Tama juga memiliki tanggung jawab, yang besar terhadap perusahaan.

__ADS_1


Banyak orang yang bergantung di sana bukan hanya dia dan anak-anak. Sebisa mungkin Maysa menekan egonya dan berusaha, memberi pengertian pada anak-anaknya. Wanita itu bersyukur Dio dan Eira mengerti dan tidak terlalu menuntut.


"Sudahlah, Ma. Jangan ikut campur dalam urusan orang lain. Tama juga pasti memiliki alasan tersendiri, kenapa harus bekerja juga saat di rumah. Lagi pula Maysa dan anak-anaknya juga tidak keberatan. Kenapa malah jadi Mama yang mempermasalahkannya?” tanya suami dari wanita itu.


"Mama cuma kasihan saja sama Maysa. Jangan sampai dia juga dikhianati, seperti pernikahannya terdahulu bersama dengan Rafka. Apa dia tidak belajar dari itu semua? Seharusnya dia bisa protes sama suaminya agar meluangkan banyak waktu bersama. Baik dengan keluarga atau berdua saja bersama dengan Maysa, romantis-romantisan. Biar Tama tidak tergoda dengan wanita lain, yang lebih cantik dan seksi."


"Tidak semua laki-laki itu sama, Ma. Apa Papa juga seperti itu? Tidak, kan? Jadi jangan samakan semua laki-laki seperti Rafka. Bahkan Rafka pun bisa saja berubah menjadi pria baik sekarang. Kita tidak pernah tahu isi hati orang seperti apa."


Maysa hanya diam mendengarkan apa yang dikatakan tantenya. Tiba-tiba saja rasa takut menyelimuti hatinya. Bagaimana jika Tama juga sama seperti Rafka, sanggupkah dia menjalani kehidupan selanjutnya. Kalau sampai itu terjadi, rasanya pasti akan sangat sulit.


Mengingat kebaikan yang Tama dan keluarga pria itu berikan padanya. Tidak dipungkiri jika jika dia termakan ucapan tantenya. Meski pikirannya berusaha menolak, tetapi hatinya membenarkan kata-kata itu. Apalagi Maysa pernah merasakannya.


"Kamu jangan terlalu pikirkan apa yang dikatakan tantemu. Dia hanya asal saja. Kamu harus percaya pada suamimu. Bagaimanapun kepercayaan itu sangatlah penting," ucap suami dari wanita tadi.


"May ,anak-anak sepertinya sudah mengantuk. Sebaiknya kamu tidurkan mereka," ucap Mama Rafiqah yang sengaja ingin Maysa pergi dari sana.


Jika putrinya itu tetap berada di sana, sudah dipastikan saudaranya itu, akan semakin mengintimidasinya dan membuat sang putri. Mengingat luka masa lalu ini adalah hari bahagia Riri dia tidak ingin ada kesedihan di dalamnya sekecil apapun wanita itu ingin semua keluarga juga ya merasakan kebahagiaan.


"Maafkan istri saya, Kak. Dia memang terlalu cepat-ceplos saat berbicara," ucap pria tadi pada Mama Rafiqah. Dia merasa bersalah karena sudah membuat keponakannya sedih.


"Tidak apa-apa, aku tahu maksud istrimu itu baik. Jangan terlalu dipikirkan, sebaiknya kita fokus pada acara pernikahan Riri saja. Ini juga sudah malam, sebaiknya kalian istirahat. Besok kita harus mempersiapkan acara pengajian. Jangan sampai ada yang terlewat."

__ADS_1


Semua orang menganggu dan kembali ke kamar masing-masing, yang sudah disiapkan oleh Mama Rafiqah. Wanita itu menghela napas. Saat seperti ini, ada saja yang membuat masalah.


Maysa menidurkan anak-anaknya di kamar. Dia masih memikirkan ucapan tantenya tadi. Setelah memastikan bahwa anak-anak sudah tertidur, wanita itu ingin menghubungi sang suami agar hatinya bisa lebih tenang. Maysa juga ingin tahu apa yang dilakukan pria itu saat ini.


Dia mencari ponselnya dan segera mencari nomor Tama. Wanita itu berharap sang suami tidak sibuk. Maysa perlu menenangkan hatinya dengan berbincang dengan pria itu.


"Halo, assalamualaikum," ucap Tama dengan suara seraknya, sepertinya pria itu tadi sedang tidur.


"Waalaikumsalam, Mas, kamu tidur?" tanya Maysa dengan mengerutkan keningnya. Dia melihat jam, biasanya pria itu selalu tidur larut malam. Ini baru jam setengah sembilan dan sang suami sudah tidur.


"Iya, aku ketiduran. Padahal aku sekarang masih ada di ruang kerja. Banyak sekali pekerjaan yang harus aku kerjakan sebelumnya nanti aku ambil cuti," jawab Tama sambil menguap, tentu saja Maysa masih bisa mendengarnya.


"Jangan terlalu diforsir, kamu juga harus menjaga kesehatan. Jangan sampai nanti setelah acara pernikahan Riri, kamunya malah tumbang. Masa yang pengantin baru sehat-sehat, tapi kakak iparnya yang sakit."


"Iya, terima kasih sudah mengingatkan. Aku pasti akan menjaga kesehatanku. Aku beruntung memiliki kamu. Dua hari tidak bertemu denganmu, rasanya sudah seperti dua tahun, Sayang. Aku benar-benar rindu sama kamu."


Maysa tertawa pelan mendengarnya. Tidak biasanya Tama menggombal seperti itu. Rasanya sangat aneh di telinga wanita itu. Jika dulu Rafka yang mengatakan, itu sudah biasa baginya, tetapi selama menikah, Tama tidak pernah mengeluarkan gombalan-gombalan semacam itu. Hanya sekadar pujian jika dirinya cantik dan baik, itu saja tidak lebih.


"Kenapa kamu malah tertawa? Apa ada yang lucu dari kata-kataku?"


.

__ADS_1


.


__ADS_2