
Pagi-pagi sekali Tama dan anak-anaknya sibuk mempersiapkan liburan mereka. Dio dan Eira begitu antusias dengan liburan kali ini. Gadis kecil itu juga udah mulai banyak bicara. Maysa senang melihatnya karena dia tahu jika Dio, sangat berusaha mengajak adiknya berbicara.
Bahkan dia juga yang membantu Eira menyiapkan apa saja yang diperlukan. Gadis itu hanya melihat apa yang kakaknya persiapkan.
"Kakak, nanti ada kolam renangnya tidak?" tanya Eira.
Dio terlihat berpikir. "Tidak tahu, tanyakan saja pada papa. Biar Kakak tunggu di sini."
Sebenarnya Dio tahu jika di tempat liburannya kali ini ada kolam renangnya. Dia hanya ingin adiknya lebih aktif saja.
"Sebentar aku tanyakan dulu sama papa."
Eira pergi menuju kamar orang tuanya. Di sana ada Tama dan Maysa sedang berbincang. Gadis kecil itu pun masuk begitu saja.
"Pa, nanti di tempat wahana bermain ada tempat renangnya, tidak?"
"Ada, dong, Sayang. Memangnya kenapa?" tanya Tama balik.
"Tidak apa-apa, aku mau bawa baju renang, nanti di sana aku mau renang." ujar Eira dengan begitu antusias.
"Iya dibawa saja. Kak Dio juga dikasih tahu, ya, suruh bawa celana renangnya."
"Iya, Pa."
Eira kembali ke kamarnya dengan begitu bahagia. Sepanjang menuju kamar, dia terus saja tersenyum. Kekecewaannya kemarin oleh papa kandungnya, kini terobati oleh papa sambungnya. Dia tidak mau lagi mengingat kejadian hal itu, lebih baik mengingat kesenangannya bersama dengan keluarga.
"Kak Dio, kata papa, di sana ada kolam renangnya. Aku mau bawa baju renang, Kak Dio juga disuruh bawa baju renang sama papa," ucap Eira saat memasuki kamar.
"Iya, Kakak akan bawa baju renang," jawab Dio, sambil mengambil celananya, sementara Eira juga mengambil baju renangnya dalam lemari.
Setelah selesai, kedua anak itu menuju kamar orang tuanya. Mereka pergi bersama-sama. Maysa sempat mengajak Mama Mirna. Namun, wanita itu menolak. Dia bilang ingin di rumah saja.
Mama Mirna tidak ingin mengganggu waktu kebersamaan mereka. Lagi pula dia juga sudah berumur. Pasti akan sangat merepotkan jika harus membawanya pergi. Akhirnya mereka hanya pergi berempat. Maysa juga sempat mengajak Riri Namun, gadis itu menolak karena mengurus butik kemarin dia sudah liburan.
Sepanjang perjalanan Dio dan Eira terus saja berceloteh. Kadang juga keduanya bernyanyi menirukan ajaran guru mereka. Bahkan sesekali Maysa juga ikut bernyanyi.
"Wah! Kita sudah sampai," seru Dio saat papanya membelokkan mobilnya ke tempat parkir.
Dia dapat melihat jika itu memanglah tempat yang dituju. Banyak orang berkeliaran di sekitar. Ada juga yang antre membeli tiket. Ini memang musim liburan, jadi tidak heran jika tempat ini sangat ramai. Apalagi di dominasi anak-anak.
"Mana, Kak?" tanya Eira yang begitu penasaran. Dia sampai berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Itu tempatnya, nanti kita mainnya di dalam. Itu pintu masuk wahana bermain."
Eira juga ikut senang. Meskipun dia tidak tahu apa yang ada di dalamnya. Ini pertama kalinya dia ke tempat itu, berbeda dengan Dio yang biasanya dia akan datang bersama dengan omanya. Dulu Maysa biasanya akan mengajak Eira ke tempat liburan khusus anak-anak saja.
Mereka semua turun Dio dan Eira saling bergandengan tangan. Tama mengambil tangan Eira untuk digandeng. Begitu juga dengan Maysa yang menggandeng Dio.
"Anak-anak, ingat, ya! Selalu berpegangan sama Papa dan Mama. Ini tempat ramai, kalau kalian pergi Mama dan Papa akan susah carinya jadi, berpegangan terus, kecuali nanti kalau naik wahana, boleh tidak berpegangan . Mengerti?" tanya Tama.
“Iya, Pa,” jawab kedua anak itu serempak.
Tama tersenyum dan menggandeng anaknya memasuki taman bermain terlebih dahulu. Pria itu membeli tiket, di sana berbagai permainan tersedia dari mulai anak-anak hingga orang dewasa.
Anak-anak pun mulai menikmati setiap permainan yang mereka naiki. Tama dan Maysa hanya mengawasi dari jauh. Keduanya sama sekali tidak ingin naik wahana.
"May, kamu nggak mau naik permainan, Sayang?" tanya Tama saat keduanya sedang mengawasi anak-anak mereka.
"Nggak mau, aku takut ketinggian, Mas."
"Benar ini kamu nggak mau naik? Nanti kamu menyesal."
"Tidak! Aku yakin, kok. Aku juga ke sini niatnya buat nyenengin anak-anak. Kamu saja yang naik. Biar aku yang jaga anak-anak."
"Aku juga lagi malas, tadinya aku pikir kamu mau naik."
"Baru juga bermain sebentar sudah capek. permainannya masih banyak, loh!" sahut Maysa.
"Tapi aku sudah capek."
"Ya sudah, kalau begitu kita istirahat dulu. Kalau Kak Dio sudah capek atau masih mau main lagi?" tanya Maysa pada putranya.
"Istirahat saja, Ma. Aku juga capek."
"Ayo, kita cari tempat istirahat! Sekalian kita cari makan, sebentar lagi waktu makan siang, kalian juga pasti sudah lapar," ajak Tama.
"Iya boleh, kalau bisa nyari yang lesehan saja, Mas. Biar anak-anak juga bisa santai, ada nggak di sini?" tanya Maysa pada sang suami.
Dia yakin jika Tama sering ke tempat ini jadi, sudah pasti sangat hafal tempat ini. Dio yang anak kecil saja hafal tempat ini. Tiba-tiba ada rasa cemburu di dalam hatinya, kira-kira pria itu datang bersama siapa ketika ke sini.
"Ada sebelah sana, ayo!"
Tama mengajak keluarganya menuju restoran yang diinginkan oleh Maysa. Begitu sampai, mereka dilayani dengan sangat baik. Mereka pun menikmati makan siang sambil mendengar cerita anak-anak. Mereka mencari tempat yang seperti ini agar anak-anak bisa beristirahat. Namun, anak-anak justru lebih tertarik dengan ikan yang ada di sekeliling restoran.
__ADS_1
Sementara itu, di rumah Mama Rafiqah. Pagi-pagi sekali Adit sudah berdiri di depan pintu rumah. Mama Rafiqah menghela napas. Ini masih sangat pagi, tapi pria itu sudah datang saja. Dirinya seperti sudah tidak memiliki privasi.
Wanita paruh baya itu tidak peduli. Dia memilih melanjutkan langkahnya menuju penjual sayur yang ada jalan. Sudah banyak ibu-ibu yang membeli sayur di sana. Pastinya akan ada yang bertanya tentang Adit atau mungkin akan menyindirnya nanti.
"Bu Rafiqah, calon menantunya sudah datang saja, apa Bu Rafika belum setuju juga sama Adit? Padahal kan dia pria baik, Bu?" tanya seorang ibu yang sedang berbelanja.
"Saya hanya tidak mau anak saya dikatai pelakor, Bu."
"Itu 'kan dulu, Bu. Sekarang sudah lewat, orang-orang juga pasti tidak mengingatnya lagi. Nak Adit itu orang yang baik, dia sampai mau mengejar cintanya Riri. Padahal dia pria kaya, sebaiknya Ibu pikirkan lagi mengenai niat Adit."
"Kalau mengenai kaya, alhamdulillah saya tidak membutuhkannya. Bukan maksud saya sombong, tapi saya masih ada syarat utama."
Semua ibu-ibu di sana saling pandang. mereka penasaran. Kira-kira apa yang menjadi syarat utama agar bisa menjadi suami Riri. Mama Rafiqah tersenyum melihat mereka yang begitu antusias pada kehidupannya. Tidak bisakah mereka tidak ikut campur dalam urusan keluarganya.
"Apa itu, Bu? Barangkali anak saya bisa memenuhinya," sahut ibu-ibu yang lain, yang juga memberi sayur.
"Dia harus beragama dan seagama," jawab Mama Rafiqah membuat semua orang mengerutkan keningnya. Setahunya banyak yang seperti itu.
"Bukannya memang kita semua seagama, Bu?" tanya salah satu dari mereka.
"Iya, Bu. Itulah maksud saya. Saya mencari yang seagama, maksudnya dia juga Islam dan maksud saya dari beragama adalah, dia benar-benar melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim. Bukan hanya Islam KTP saja. Dia mengaku Islam, tapi tidak pernah melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim."
Semua orang yang ada di sana tidak lagi bertanya pada Mama Rafiqah. Wanita itu pamit dan kembali ke rumahnya. Tampak Adit masih duduk di teras. Dia memang sedang menunggu Mama Rafiqah pulang.
"Ibu, hari ini masak apa, biar saya bantu,"
Mama Rafika diam dan terus melanjutkan langkahnya. Pria itu terus mengikuti wanita itu melangkah menuju dapur. Di sana sudah ada Riri yang sudah memasak semuanya. Hanya tinggal sayur saja yang baru dibeli oleh Mama Rafiqah.
Adit hanya diam memperhatikan saja, sesekali dia mencuri pandang ke arah Riri, yang sedang sibuk dengan peralatan memasaknya. Setelah semuanya masak Riri menghidangkannya di meja makan. Pria itu juga ikut membantu.
"Kamu sudah sarapan apa belum? Pagi-pagi sudah ke sini?" tanya Mama Rafiqah setelah semua terhidang di meja.
"Belum, Bu. Saya memang sengaja ingin makan di sini," jawab Adit sambil tersenyum. Mama Rafiqah pun mengajak pria itu untuk sarapan juga.
Dia memang risih dengan keberadaan Adit, tapi bukan berarti wanita itu tidak menghormati tamunya. Meskipun tamunya sendiri juga sama sekali tidak menghormati pemilik rumah. Ketiganya menikmati sarapan dengan tenang.
Jujur hal ini tidak membuat Riri nyaman, biasanya wanita itu akan banyak bercerita dengan mamanya. Entah itu mengenai kegiatan atau apa saja yang akan dilakukannya sekarang saat ada hari di rumah ini. Sejak ada Adit, tidak ada waktu untuk berbicara dengan mamanya.
Semua rumah juga seperti dikuasai oleh Adit, hingga dia tidak bebas ke mana saja seperti yang diinginkan.
.
__ADS_1
.