Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
109. Penyesalan Rafka


__ADS_3

Tama masih terus berusaha untuk mengambil hati anak-anaknya. Setelah berusaha semaksimal mungkin, akhirnya usahanya tidak sia-sia. Dio dan Eira mulai melunak dan mau berbicara dengan pria itu. Mereka juga mulai bermain bersama.


Tama merasa lega akan hal itu. Dia senang karena anak-anak sudah mulai terbuka. Pria itu juga berterima kasih kepada Maysa karena sudah mau membantunya. Meski sang istri masih belum memaafkannya, tetapi Tama senang karena wanita itu tidak pernah berubah.


"Dio, Eira, Papa minta maaf. Pasti kalian kecewa sama Papa karena tadi Papa marah sama Mama," ucap Tama memulai pembicaraan.


"Mas," tegur Maysa karena dia tidak ingin sang suami membahas hal itu.


Apalagi anak-anak juga sepertinya sudah melupakan kejadian tersebut. Akan tetapi, bagi Tama, kesalahan tetaplah kesalahan dan harus meminta maaf. Dia tidak ingin mengajarkan anak-anaknya, untuk melupakan kesalahan yang mereka buat dan tidak mau minta maaf. Tama menatap sang istri sambil menggeleng dan meyakinkan pada Maysa, bahwa dirinya baik-baik saja.


Tama beralih menatap anak-anaknya dan bertanya, "Apa kalian tidak mau memaafkan Papa?"


"Aku sudah memaafkan Papa karena Mama juga sudah memaafkan Papa," sahut Eira dengan polosnya, membuat Tama tersenyum.


"Aku juga sudah memaafkan Papa," timpal Dio membuat Maysa tersenyum kecil.


Tama pun melebarkan tangan agar anak-anaknya masuk ke dalam pelukannya. Kedua anak itu pun segera memeluk sang papa, membuat kedua orang tuanya tersenyum. Semoga kebersamaan seperti ini selalu terjadi.


"Mama, ayo ikut berpelukan!" tegur Eira saat mamanya hanya diam saja.


Maysa menjadi gugup. Namun, tetap mengikuti apa yang putrinya katakan. Tama tersenyum melihatnya, ternyata Eira memang sangat mengerti keadaan keluarganya. Dalam hati, pria itu berdoa agar kelak tidak lagi memarahi istri dan anak-anaknya.


Apalagi sampai membentak seperti tadi. Semarah apa pun pria itu, dia tidak ingin sampai kehilangan kontrol. Yang akan membuat keluarganya terpecah belah.

__ADS_1


***


"Kamu dapat uang dari mana, Mas? Kok, bisa membayar biaya operasi anak kita?" tanya Vida sambil menatap sang suami.


Dia tahu semua yang dimiliki oleh pria itu sudah habis dijual, untuk pengobatan anaknya selama ini. Sekarang mereka membutuhkan uang yang sangat besar untuk biaya operasi. Saat ini Rafka dengan mudahnya bisa mendapatkan uang itu. Tentu saja wanita itu penasaran.


Apakah mungkin Rafka mengikuti sarannya, untuk menjual rumah yang dulu ditempati bersama dengan Maysa dulu. Bukankah pria itu sebelumnya sangat menolak idenya. Jika bukan dari hasil menjual rumah itu, dari mana sang suami mendapatkan uang.


"Aku meminjamnya dari seseorang dan kamu tidak perlu tahu akan hal itu," jawab Rafka dengan nada dingin.


Pria itu sudah mulai muak dengan tingkah Vida. Jika bukan karena anaknya, sudah pasti pria itu akan meninggalkan wanita itu begitu saja. Saat ini anaknya sangat membutuhkan dirinya dan juga Vida. Dia tidak ingin egois dengan memikirkan dirinya sendiri.


Cukup Eira saja yang menjadi korban keegoisannya. Rafka tidak ingin ada lagi korban lainnya. Apalagi anaknya ini sedang sakit parah, dia tidak mau menambah kesakitannya.


Dia masih tidak mau menyerah sebelum suaminya menjawab pertanyaannya. Wanita itu sangat tidak percaya jika ada orang yang meminjamkan uang pada sang suami. Mengingat jumlahnya tidaklah sedikit. Memangnya siapa yang mau meminjamkan uang sebanyak itu tanpa jaminan apa-apa.


Itu sangat mustahil, apalagi saat ini Rafka juga tidak memiliki apa-apa lagi. Hanya mengandalkan gaji yang tidak seberapa. Vida juga sudah berhenti bekerja sejak anaknya sakit. Dia tidak lagi memiliki pendapatan.


"Rumah itu adalah rumah Eira, sampai kapan pun aku tidak akan menjual rumah itu. Sudah aku katakan kalau aku meminjam dari teman. Jadi kamu tidak usah bertanya lagi. Lebih baik kamu jaga anak kita dengan baik. Jangan sampai kamu lalai menjaganya dan berakibat fatal bagi kesehatannya," ujar Rafka.


Vida hanya mendengarkannya. Namun, tetap melakukan apa yang diperintahkan sang suami. Dia juga sudah tidak memiliki tabungan apa pun. Semuanya habis untuk pengobatan anaknya.


Rafka sudah mengurus semua administrasi dan keperluan operasi anaknya. Berbagai prosedur sudah anak itu lalui. Hanya tinggal menunggu jadwal operasi yang ditentukan oleh tim dokter. Pria itu bersyukur karena masih ada orang yang mau menolongnya.

__ADS_1


Padahal dirinya dan Tama tidak saling mengenal. Maysa memang pantas mendapatkan suami seperti dia. Keduanya sama-sama orang baik, tidak seperti dirinya yang hanya memikirkan diri sendiri.


"Jadi, Dokter, kapan anak saya bisa dioperasi?" tanya Rafka saat dokter memeriksa keadaan anaknya.


"Insya Allah, dua hari lagi, Pak. Semuanya perlu persiapan, semoga saja keadaan anak Anda tetap stabil seperti ini. Bahkan kalau bisa lebih baik lagi itu semakin bagus. Jika keadaannya semakin menurun, operasi bisa saja diundur, tim dokter akan berusaha untuk membuat keadaannya baik terlebih dahulu."


"Tolong lakukan yang terbaik untuk anak saya, Dokter. Mengenai biaya, saya akan mengusahakannya," ucap Rafka.


Vida hanya diam dengan menggenggam telapak tangan anaknya. Sebagai seorang ibu, berat baginya jika harus kehilangan anak yang sudah dia sayangi. Meski awalnya wanita itu tidak menyukai keberadaan anaknya, tetapi seiring berjalannya waktu, Vida sangat menyayanginya.


"Tentu, kami pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk anak Anda. Baiklah, kami permisi." Dokter pun meninggalkan ruangan bersama dengan perawat.


Rafka memandangi putranya yang sedang tertidur. Dia tidak bisa membayangkan betapa sakitnya yang dirasakan oleh anaknya. Saat jari tergores saja sakitnya luar biasa, bagaimana dengan putranya yang sakit jantung.


Rafka memutuskan untuk keluar dari ruangan. Biarlah Vida yang menjaga anaknya. Untuk saat ini pria itu ingin menenangkan diri. Dia menuju taman rumah sakit yang ramai dengan pasien dan keluarganya. Rafka masih saja memikirkan bagaimana keadaan anaknya setelah operasinya berhasil.


Sudah pasti akan ada biaya-biaya lainnya yang harus dia siapkan segera. Dia juga memiliki hutang pada Tama yang begitu besar. Rafka berpikir apakah ini adalah karma yang pria itu terima karena sudah, menelantarkan istri dan anaknya. Dulu pria itu sama sekali tidak bertanggung jawab kepada mereka.


Yang ada dalam pikirannya saat itu hanya bagaimana caranya agar bisa bersenang-senang, tanpa tahu betapa susahnya Maysa di rumah. Wanita itu berusaha untuk menutupi segala kekurangan kebutuhan rumah tangga mereka. Bahkan untuk biaya sekolah Eira pun semua ditanggung sendiri oleh sang istri. Sungguh rasa bersalah itu begitu besar, hingga tanpa sadar setetes air mata jatuh membasahi pipi pria itu.


Andai saja waktu bisa diulang, dia tidak akan pernah menyia-nyiakan Maysa dan Eira. Pastinya pria itu tidak akan hidup seperti ini. Rafka sungguh menyesal akan semua perbuatannya dulu.


.

__ADS_1


.


__ADS_2