
Pagi-pagi sekali di rumah Mama Rafiqah terlihat begitu sunyi. Biasanya memang hanya ada wanita paruh baya itu dan Riri, tapi masih terdengar suara. Kedua orang itu akan saling berbicara dan berbincang. Entah itu sekadar bercanda atau obrolan serius.
Sekarang semuanya terdiam meski ada Maysa di sana. Setelah memasak wanita itu pamit pada mamanya untuk pulang. Dia tidak mungkin mengabaikan tanggung jawabnya sebagai orang tua. Mama Rafiqah pun mengerti dan mengizinkan anak dan menantunya untuk pulang, apalagi Eira dan Dio juga harus sekolah.
Tama dan sang istri segera pergi, meninggalkan Mama Rafiqah dan Riri. Sebelum keluar, Maysa berusaha memberikan ketabahan pada adiknya. Ibu dan anak itu masih terdiam, Riri sedari tadi hanya menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap ke arah mamanya.
“Riri, maafkan Mama karena sudah memarahimu kemarin,” ucap Mama Rafiqah dengan mata berkaca-kaca.
Tentu saja Riri terkejut mendengar apa yang mamanya katakan. Dia tidak menyangka jika Mama Rafiqah bisa berkata seperti itu. Padahal melihat betapa marahnya sang mama kemarin, rasanya tidak mungkin wanita itu bisa berubah hanya dalam semalam.
Riri menatap Mamanya dengan mata berkaca-kaca sekaligus rasa bersalah yang semakin besar. Dadanya begitu terasa sesak. Andai saja dia mendengar nasehat mamanya untuk tidak berpacaran, pasti semua tidak akan seperti ini.
“Mama tidak salah. Mama sudah benar dengan melakukan hal kemarin. Aku memang bersalah dan pantas untuk menerima hukuman dari Mama. Maafkan aku," ucap Riri yang akhirnya membuat air matanya menetes.
“Tidak, kamu tidak tahu apa-apa. Seharusnya Mama mendengar apa yang ingin kamu jelaskan dulu. Semalam Mama mendengar kakak iparmu ditelepon pria itu dan Mama sadar jika kamu tidak bersalah."
"Aku mengerti, Mama berbuat seperti itu karena Mama tidak tahu."
“Meskipun begitu, tetap saja Mama bersalah.”
“Tidak, Mama tidak bersalah.” Riri berdiri dari duduknya dan segera memeluk wanita paruh baya itu. Dia bersyukur karena mamanya sudah tidak salah paham lagi. Gadis itu tidak peduli apa yang orang katakan, asal Mama Rafiqah percaya padanya itu sudah cukup.
“Maafkan aku, Ma. Aku sudah membuat Mama malu. Seharusnya aku bisa membuat Mama bangga, bukan membuat Mama seperti ini.”
“Tidak, kamu sudah membuat Mama bangga selama ini. Jangan pernah merasa dirimu tidak berguna karena bagi Mama, kamu adalah segalanya.”
__ADS_1
Mama Rafika pun membalas pelukan putrinya. Rasa bersalah yang semalaman dia rasakan, kini akhirnya bisa dia ungkapkan juga. Semalam wanita itu memang tidak bisa tidur. Mama Rafiqah teringat apa saja yang sudah dia lakukan pada putrinya. Bahkan sampai menghajar Riri, tanpa mau mendengar penjelasan dari gadis itu.
“Boleh Mama tanya sesuatu? Mama harap kamu menjawabnya dengan jujur,” ucap Mama Rafiqah yang tiba-tiba saja menjadi serius. Riri pun segera mengurai pelukannya dan menatap mamanya dengan saksama.
“Tanya apa, Ma?”
“Duduklah dulu.”
Riri duduk di kursi di sebelah mamanya. Gadis itu masih menatap wanita yang sudah melahirkannya, takut jika pertanyaan mamanya tidak mampu dia jawab.
“Apa kamu mencintai pria itu?” tanya Mama Rafiqah dengan menatap wajah putrinya.
Riri bingung harus menjawab apa. Jujur dalam hatinya masih ada rasa cinta untuk Adit. Namun, mengingat apa yang pria itu lakukan padanya, ada rasa kecewa dan yang begitu besar yang dia rasakan.
“Jawab dengan jujur. Bukankah Mama sebelumnya sudah mengatakannya! Mama tidak ingin jawaban kebohongan dari bibirmu. Sudah cukup kebohongan kemarin saja.”
“Mama juga berpikir seperti itu. Istrinya memiliki sesuatu untuk mempertahankannya, sedangkan kamu mungkin cinta bisa dibuat untuk mempertahankan hubunganmu dan dia, tapi itu tidak memiliki dasar hukum. Mama jadi takut jika mereka melapor pada pihak yang berwajib. Mereka orang kaya, pasti sangat mudah membawamu masuk bui."
“Iya, Ma.”
“Mama berharap kamu bisa melupakan pria itu. Tidak baik mencintai suami orang. Meskipun mereka secara agama sudah berpisah, tapi tetap saja mereka masih terikat dalam buku nikah dan itu memiliki kekuatan hukum.”
Riri mengangguk dengan menatap mamanya. “Terima kasih Mama sudah memaafkanku.”
“Dari awal kamu tidak melakukan kesalahan jadi, Mama tidak perlu memaafkan kamu. Lebih baik sekarang kamu kembali membuka lembaran yang baru. Mengenai ponsel kamu yang sudah hancur, nanti Mama akan ganti.”
__ADS_1
“Tidak perlu, Ma. Nanti aku bisa beli sendiri.”
“Jangan begitu, Mama sudah melakukan kesalahan jadi, biarkan Mama bertanggung jawab atas apa yang sudah Mama lakukan. Ini bukan karena kamu putri Mama, tapi ini lebih kepada tanggung Mama. Mama ingin kamu dan Maysa juga bertanggung jawab pada perbuatan kalian di masa depan anak-anak kalian kelak.”
“Baiklah, jika Mama tetap memaksa. Aku akan menerimanya," sahut Riri dengan tersenyum.
“Nanti siang kita pergi mencari ponsel untuk kamu, ya!”
“Iya, terserah Mama saja.”
“Ayo, kita makan dulu! Sebelum makanannya dingin," ajak Mama Rafiqah yang kemudian menatap makanan yang ada di meja. "Kenapa kamu tadi masak segini banyak? Sayang kalau nggak habis.”
“Tadi aku pikir Kak Maysa sama Kak Tama mau makan di sini jadi, aku masak banyak. Ternyata mereka pulang.”
“Mereka juga ada anak-anak di rumah. Pasti semalam Eira nyariin mamanya. Kasihan Bu Mirna merawat anak-anak sendiri. Apa lagi Eira sangat manja.”
“Kata Kak Maysa ada Kak Lidya di sana, Ma. Pasti dia bisa membujuk anak-anak. Sebelumnya Eira juga kenal, pasti tidak sulit. Apalagi ada anaknya Kak Lidya juga."
“Lidya sudah pulang? Kenapa dia tidak berkunjung ke sini? Kebiasaan itu anak nanti kalau mau balik ke luar kota lagi, baru datang ke sini,” gerutu Mama Rafiqah.
“Nanti biar aku sampaikan sama Kak Maysa, biar Kak Lidya disuruh ke sini kalau Mama mau.”
“Iya, Mama juga kangen sama anak itu.”
Kedua wanita itu pun menikmati sarapan pagi dengan tenang. Riri lega karena sang mama sudah memaafkannya. Dari kemarin dia sudah memikirkan cara untuk meminta maaf pada wanita itu. Biasanya akan butuh waktu dan usaha yang keras agar mendapat maaf dari wanita paruh baya itu.
__ADS_1
.
.