Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
pilihan Daniyal.


__ADS_3

setelah pulang dari perusahaan, Daniyal menghampiri kedua orang tuanya.


"bunda, papa, aku ingin memohon untuk pernikahan di laksanakan secepatnya, saat aku pulang dari Surabaya, aku ingin langsung menikah," kata Daniyal.


"kami tak buru-buru Daniyal, lagi pula kakak ipar mu baru saja siuman dan masih butuh istirahat," jawab Billy.


"terserah papa, aku tak ingin berubah pikiran, bunda pasti jika aku sering lemah menghadapi gadis itu, dan jika aku menikah aku tak kan lemah lagi," kata Daniyal.


"jangan jadikan pernikahan ajang permainan Daniyal!" bentak Billy keras.


"aku hanya tak ingin lemah pa, aku capek, aku lelah," jawab Daniyal.


"kalau begitu kita melakukan pernikahan malam ini,opa sudah membicarakan semua dengan keluarga gadis itu, dan resepsi akan di lakukan lima bulan dari sekarang," kata pak jaya.


"baik opa, aku menurut saja," jawab Daniyal.


"papa ini bagaimana mungkin," tanya Bella tak percaya dengan apa yang di katakan mertuanya itu.


"karena ini permintaan terakhir dari kakeknya, Daniyal cepat kita kerumah sakit!" panggil pak jaya.


"iya opa," jawab Daniyal


Bella dan Billy terkejut saat Daniyal turun dengan sebuah kotak perhiasan yang pernah di berikan oleh Bella.


"itu akan kamu apakan nak?" tanya Bella.


"aku ingin menjadikan ini sebagai mas kawin ku bunda, dan ini adalah perhiasan yang khusus bunda buat untuk istriku," jawab Daniyal.


"baiklah bunda mengerti hal itu, sekarang kita ikut opa," jawab Bella.


keluarga Utomo pun menuju ke rumah sakit, saat sampai seorang pria paruh baya menyapanya.


mereka pun menuju ke ruangan ICU, terlihat seorang pria tua terbaring, "maaf tuan jaya, ini adalah permintaan ayah saya," kata pria itu


"tak masalah, saya sudah mengajak cucu saya yang akan menikahi Dinda," jawab pak jaya.

__ADS_1


"Dinda, beri salam pada keluarga calon suamimu ini," kata pak Rohman.


Dinda pun berbalik, berapa terkejutnya dia melihat Bella dan semua orang yang datang.


apalagi pria yang tadi pagi menabraknya, "ayah, apa Dinda harus menikah dengan cara seperti ini?" tanya Dinda sedih.


"maafkan ayah nak, ini permintaan kakekmu," jawab pak Rohman.


Dinda pun mengangguk lemah, dia tau jika yang di katakan ayahnya tak bisa di bantah lagi.


Daniyal pun berhadapan dengan pak Rohman, kemudian mereka berjabat tangan.


Daniyal pun dengan mantap mengucapkan akad nikah di saksikan kedua keluarga.


setelah itu Daniyal berdoa dan mencium kening Dinda, sedang ibu tiri dan saudara tiri Dinda tak menyukai itu.


karena Dinda menjadi istri dari orang paling kaya di Kalimantan. semua orang tau siapa keluarga Utomo itu.


Daniyal juga memakaikan semua perhiasan pada Dinda, dan juga sebuah cincin berlian di hari manisnya.


kakek dari Dinda, orang yang begitu Dinda cintai dan hormati berpulang ke Rahmatullah.


Daniyal membantu semua pemakaman, dan juga tak ingin menunda segalanya.


keesokan paginya setelah pemakaman, Dinda akan di ajak pergi ke rumah Daniyal.


"ayah maaf, saya akan mengajak Dinda tinggal di rumah milik saya, jadi saya ingin pamit pada kalian," kaya Daniyal.


"kenapa buru-buru, setidaknya tunggu sampai tujuh hari," kata indun, ibu tiri dari Dinda.


"benar, kami jarang berkumpul bersama kak Dinda loh," kata Shofie.


"maaf tapi sebentar lagi aku harus ke Surabaya, dan aku tak bisa meninggalkan istriku di sini, jadi dia harus ikut agar menghindari fitnah," jawab Daniyal.


"baiklah nak, itu adalah kewajiban mu saat ini, ayah titip Dinda tolong jaga dia dan bahagiakan dia, karena aku sebagai ayah gagal membahagiakan putriku," kata pak Rohman.

__ADS_1


"baik ayah," jawab Daniyal mantap.


keduanya pun pergi, Dinda bisa melihat kebencian dari ibu dan saudari tirinya.


mobil asisten Daniyal pun masuk ke sebuah rumah mewah dan masih satu jalur dengan rumah Utomo.


"selamat datang tuan dan nyonya," sapa bibi Nur.


"iya bik, tolong antar nyonya ke kamar utama, dan tolong ajak nyonya berkeliling dan juga beri tahu semua peraturan di rumah ini," perintah Daniyal.


"baik tuan muda," jawab bibi Nur.


sedang Daniyal menuju ke ruang kerjanya di ikuti Bimbim asistennya.


saat masuk, Daniyal langsung mengeluarkan ponselnya, dan begitu banyak menerima pesan dari Caca.


"Bimbim, tolong atur ulang rapat dan semua agendaku, karena Minggu depan aku akan berangkat ke Surabaya bersama istriku," kata Daniyal.


"baik tuan, dan jika saya boleh usul, sebaiknya tuan jujur dan mengatakan Semuanya pada Nyonya, sebelum nanti nyonya mendengar dari orang lain," kata Bimbim.


"itu yang juga sedang aku pikirkan," jawab Daniyal.


sedang saat ini Dinda sudah berkeliling di temani bibi Nur, "memang di rumah ada aturan apa bi?" tanya Dinda.


"hanya peraturan tidak boleh membuat tuan marah dan tuan akan selalu makan makanan rumah," jawab bik Nur.


"kalau boleh tau, apa makanan kesukaan tuan Bu?" tanya Dinda.


"ayam goreng sambel terasi, dan juga lontong balap," jawab bibi Nur.


Dinda pun tersenyum, pasalnya itu juga kesukaannya setelah bertemu dengan Bella.


Daniyal pun menghampiri Dinda yang sedang bersama bibi Nur, "maaf Dinda, bisakah kita bicara berdua," kata Daniyal.


Dinda menatap pria di depannya itu dengan tatapan binggung, dia masih belum terbiasa dengan berdua saja bersama Daniyal.

__ADS_1


__ADS_2