
"Iya, Bu Rafiqah. Anak saya tidak mungkin menolak hadiah apa pun dari Anda. Dia pasti menerima dengan senang hati," ucap Mama Mirna.
"Iya, Bu Mirna. Saya hanya takut saja," sahut Mama Rafiqah yang merasa tidak enak karena sudah, menuduh menantunya yang tidak-tidak.
Maysa pun menceritakan rencana kejutan ulang tahun untuk sang suami. Mama Rafiqah dan Mama Mirna hanya mengangguk saja. Keduanya hanya akan mengikuti wanita itu. Semua rencana sudah tersusun dengan rapi.
Maysa pun pamit untuk pergi ke butik, sekalian mampir untuk memesan kue ulang tahun untuk sang suami. Dia sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba. Wanita itu ingin melihat ekspresi sang suami saat melihat hadiah darinya.
****
Adit bersama dengan papa dan istrinya sedang menikmati sarapan. Tiba-tiba saja bel rumah berbunyi. Bik Tia—asisten rumah tangga Adit—pun pergi ke depan untuk membuka pintu. Ternyata yang datang seorang laki-laki. Wanita itu pun meminta pria tersebut, untuk menunggu di ruang tamu karena majikannya sedang menikmati sarapan.
"Maaf, Tuan, di depan ada seorang pria yang mencari Anda. Katanya Anda yang mengundangnya ke sini," ucap Bik Ita kepada Adit.
Pria itu pun berpikir siapa itu. Dirinya tidak merasa mengundang siapa pun, tetapi kenapa tamunya mengatakan kalau dia yang mengundang. Riri yang mengerti kebingungan sang suami, segera menepuk bahunya. Sepertinya Adit sudah melupakan sesuatu.
"Kamu 'kan kemarin minta seorang perawat pada dokter, Mas. Mungkin itu dia."
"Oh iya, aku sampai lupa!" seru Adit yang kemudian beralih menatap Bik Ita. "Bik, suruh tunggu di ruang tamu sebentar, ya!"
"Iya, Tuan. Saya sudah memintanya untuk menunggu. Saya mau buatkan minuman dulu."
Adit mengangguk, Bik Ita pun ke dapur untuk membuatkan minuman.
"Kamu mengundang siapa?" tanya Papa Dimas yang penasaran dengan tamu Adit.
"Bukan siapa-siapa, Pa. Hanya pekerja yang akan bekerja di sini. Mulai hari ini dia akan membantu kegiatan kita sehari-hari," jawab Adit.
Dia tidak ingin mengatakan pada papanya jika yang datang adalah seorang perawat. Takutnya Papa Dimas tidak mau menerima kehadirannya.
"Maksud kamu, seperti dayang begitu? Papa tidak mau! Papa 'kan bisa melakukan semuanya sendiri, nggak perlu bantuan orang lain."
__ADS_1
"Nggak boleh begitu, Pa. Itu sudah menjadi tugasnya jadi, Papa harus menurutinya. Kasihan kalau dia dipecat dari sini, dia mau bekerja di mana? Zaman sekarang susah sekali mencari pekerjaan."
Papa Dimas masih menolak untuk menerima perawat itu. Namun, dengan bujuk rayu Adit dan Riri akhirnya pria paruh baya itu pun mau. Mereka pun melanjutkan sarapannya, sebelum nanti berbincang dengan perawat tersebut. Banyak hal yang ingin Adit ketahui tentang kesehatan Papanya.
Setelah menghabiskan sarapannya, Adit dan Riri pergi ke ruang tamu. Namun, tidak dengan Papa Dimas. Pria paruh baya itu lebih memilih pergi ke taman belakang. Untuk berolahraga di sana, seperti rutinitas sehari-harinya.
"Selamat pagi Tuan, Nyonya,” sapa perawat tersebut sambil menundukkan kepala.
"Selamat pagi, duduklah," sahut Adit dia masih menatap wajah perawat tersebut, sementara Riri hanya mengangguk. "Siapa nama kamu?”
“Nama saya Fadli, Tuan.”
"Baiklah, Fadli. Kamu tahu, apa saja yang harus kamu kerjakan di sini?"
"Sudah, Tuan. Dokter sudah menjelaskan semuanya pada saya dan alhamdulillah, saya sudah paham mengenai apa yang harus saya lakukan pada Tuan Dimas," jawab perawat tersebut dengan pelan tanpa ada rasa gugup sedikitpun.
Adit dan Riri yakin jika Fadli sudah sering berhadapan banyak orang, hingga pembawaannya pun santai. Pria itu juga terlihat begitu ramah.
"Saya akan mengusahakannya, Tuan. Jujur kemampuan saya juga masih sangat minim, tetapi saya akan berusaha semaksimal mungkin merawat Tuan Dimas. Saya juga berharap agar Tuan Dimas bisa segera sembuh."
Sejujurnya Adit tidak begitu yakin kalau papanya akan sembuh, mengingat berapa umur papa Dimas saat ini. Pasti banyak juga orang yang seperti pria paruh baya itu, menderita penyakit yang sama. Bahkan beberapa diantara mereka juga membiarkan saja, tanpa ada pengobatan selanjutnya. Keluarga merasa semuanya percuma.
Adit sendiri tidak ingin menyerah begitu saja. Meskipun kemungkinannya sangat kecil, dia tetap akan mengusahakan agar papanya bisa seperti sedia kala. Pria itu juga merindukan saat-saat papanya sehat dulu. Adit menanyakan beberapa hal mengenai penyakit papanya.
Fadli menjelaskan hal-hal sederhana yang mudah dipahami. Adit dan Riri menyimak dengan saksama. Semoga Fadli memang perawat yang cocok dan terbaik untuk papanya.
"Tadi saya sudah meminta Bik Ita untuk membersihkan kamar untuk kamu. Nanti kamu bisa menempatinya."
"Terima kasih, Pak Adit. Anda sudah mau menerima saya bekerja di sini. Saya akan berusaha yang terbaik untuk Tuan Dimas. Semoga beliau bisa segera sembuh."
"Baguslah kalau seperti itu."
__ADS_1
Adit pun memanggil Bik Ita agar membawa Fadli ke kamar yang sudah disiapkan. Untuk hari ini perawat itu dibebas tugaskan. Pekerjaannya akan dimulai besok pagi. Adit juga sudah memberitahu Fadli, jika di rumah ini dia melarangnya untuk memakai seragam perawat. Dari awal Papa Dimas hanya menganggapnya pekerja biasa, seperti tukang kebun.
"Aku berangkat kerja dulu, ya, Sayang," pamit Adit setelah Bik Ita dan Fadli tidak terlihat.
Riri mengangguk dan mengantar sang suami sampai depan rumah. Wanita itu pun mengambil tangan sang suami untuk dikecupnya. Itu nantinya akan menjadi rutinitasnya di pagi hari.
"Hati-hati, ya, Mas. Jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai." Pesan Riri pada sang suami sebelum pergi dari rumah.
"Iya, Sayang. Nanti aku akan kirim pesan sama kamu."
Adit pun mengecup kening sang istri dan meninggalkan Kinan yang masih berdiri di teras rumah. Pria itu melambaikan tangan sebelum melajukan mobilnya. Riri pun ikut membalas dengan lambaian tangan. Wanita itu menghela napas, nanti pasti akan ada kejadian yang lebih.
Padahal sebelumnya sang suami sudah mengatakan akan libur satu minggu, tetapi tiba-tiba saja pagi-pagi sekali pria itu mendapat pesan untuk datang ke kantor. Kliennya datang dari luar negeri. Tiba-tiba membuat janji begitu saja. Terpaksa Adit pun pergi dan mengatakan pada Riri kalau dia di sana sampai jam makan siang. Semoga saja nanti kliennya tidak mengulur waktu. Dia paling malas jika sampai hal itu terjadi.
Riri pun duduk di kursi teras sambil mengirim pesan kepada kakaknya. Dia ingin bertanya mengenai rencana pemasangan CCTV. Maysa mengatakan jika lebih baik sekarang saja. Dirinya esok dan seterusnya akan sibuk mempersiapkan kejutan ulang tahun untuk sang suami.
Tidak lupa juga Maysa mengundang adiknya dan suami. Riri tidak bisa berjanji, tetapi dia akan mengusahakannya. Riri pun mengiyakan ajakan kakaknya untuk memasang CCTV karena kebetulan, sang suami pergi bekerja. Di rumah dia juga sendirian.
Maysa dan Riri pun akhirnya janjian untuk bertemu di toko penjual CCTV. Keduanya membeli beberapa kamera tersembunyi dan meminta penjualnya untuk memasang hari ini saja. Pihak toko juga punya teknisinya jadi, Maysa dan Riri bersyukur karena tidak harus mencari pekerjaan lain. Untungnya teknisi tersebut sedang tidak ada pekerjaan.
"Semoga saja dengan cara seperti ini akan berhasil, ya, Kak? Semoga Mama juga baik-baik saja," ucap Riri.
"Insya Allah, aku tadi juga lihat orangnya, sepertinya baik. Semoga saja memang seperti itu."
"Kakak kenal dia dari mana?"
"Dia kakaknya Mbak Ningrum, asisten rumah tangga baru di rumah kami."
.
.
__ADS_1