
Tama dan keluarganya sangat tahu siapa wanita yang dimaksud oleh Adit. Namun, mereka tidak mungkin berbicara saat ini. Wanita yang bernama Rini itu pasti akan sangat terluka. Apalagi persiapan yang dilakukannya untuk mengungkapkan perasaan seheboh ini.
Riri yang tadinya terbatuk pun kini jadi terdiam. Dia juga sama seperti yang lain, terkejut mendengar apa yang dikatakan mantan kekasihnya. Rasa bahagia dan sakit bercampur menjadi satu. Bahagia karena Adit masih mencintainya, sedih karena mereka tidak bisa bersama.
Maysa menatap adiknya dengan saksama. Dia bisa melihat wajah bahagia adiknya yang sudah bisa dipastikan jika Riri juga masih menjaga hatinya untuk Adit. Namun, semua terhalang restu orang tua. Bukan hanya Mama Rafiqah, tetapi juga papanya Adit.
“Lalu bagaimana kamu menjelaskan mengenai video ini?” tanya Rini sambil memutar sebuah video di ponselnya.
Di sana terlihat Tama sedang tidur di meja kerjanya. Beberapa kali pria itu mengigau menyebutkan sebuah nama, yang menurut Rini, rekannya sedang memanggil namanya. Adit sendiri tidak ingat kapan dirinya tertidur saat itu.
Rini meletakkan kembali ponselnya di atas meja dan bertanya, “Bagaimana? Sudah jelas di sana kalau kamu berkata ‘Rini, aku merindukanmu' memang berapa Rini yang kamu kenal?”
Wanita itu menatap Adit. Dia yakin jika pria itu sudah tidak bisa lagi mengelak karena sudah ada bukti. Rini sudah sangat mencintai Adit, dia tidak mau kehilangan pria itu begitu saja.
“Tolong! Bisa diulangi video itu lagi dan diperbesar volumenya. Dengar baik-baik siapa nama yang aku panggil di sana," ucap Adit dengan tenang karena dia sangat yakin siapa yang dipanggil meski tidak begitu jelas.
Rini mengerutkan keningnya dan menuruti apa yang dikatakan oleh Adit. Dia memutar kembali video dengan menaikkan volumenya dan benar, ternyata di sana sangat jelas jika pria itu memanggil nama Riri. Merasa tidak yakin dengan pendengarannya, wanita itu mengulang hingga beberapa kali di saat Adit menyebutkan nama itu.
“Bagaimana, Bu Rini. Sudah jelas siapa nama yang saya panggil?”
“Siapa Riri itu?” tanya Rini tanpa menjawab pertanyaan Adit.
__ADS_1
“Dia adalah wanita yang saya cintai sejak tiga tahun yang lalu. Namun, semuanya berakhir karena status saya yang saat itu masih beristri. Keluarganya tidak pernah setuju meski aku sudah bercerai karena mereka tidak mau, jika Riri mendapat ejekan dari semua orang. Anda pasti sangat tahu bagaimana pemikiran warga mengenai orang ketiga. Mereka pasti akan selalu menjadi bulan-bulanan, padahal Riri bukanlah seperti itu. Dia sangat baik hingga membuat aku tidak bisa berpaling. Bahkan setelah satu tahun kami tidak pernah bertemu."
Rini terdiam, mendengarkan apa yang Adit katakan. Dia tidak menyangka jika dirinya telah salah paham, tetapi tetap saja wanita itu merasa marah pada rekannya. Selama ini dirinya sudah cukup baik pada pria itu. Akan tetapi, semua seolah tidak berarti untuk Adit.
Apa pun Rini lakukan untuk bisa bersama dengan Adit. Bahkan dia sampai membujuk papanya agar dirinya sendiri yang terjun untuk proyek bersama dengan pria itu. Padahal sebelumnya Rini lebih suka berada di kantor.
“Kamu pasti sedang berbohong. Kamu pasti hanya sedang beralasan untuk menolakku. Aku yakin jika yang kamu maksud saat itu adalah aku.”
“Maaf, Bu Rini. Saya bukan orang yang suka berbohong. Apalagi sampai bertele-tele. Jika sekarang saya katakan tidak, maka jawabannya adalah tidak. Begitu pun sebaliknya.”
Tubuh Rini terasa lemas, seperti tidak ada tenaga. Dia benar-benar tidak menyangka akan mengalami hal ini. Tadi dia sangat percaya diri dengan apa yang wanita itu lakukan. Namun, sekarang harus kecewa dengan penolakan Adit.
“Tidak bisakah Pak Adit membuka hati untukku? Beri aku kesempatan agar aku bisa meluluhkan hatimu,” ucap Rini dengan menghiba.
“Maafkan saya, Bu Rini. Saya tidak bermaksud untuk menyakiti hati Anda. Saya tidak ingin memberi harapan palsu. Hati saya sudah tertutup untuk wanita lain. Kita sudah saling mengenal selama kurang lebih satu tahun dan sampai detik ini, saya hanya menganggap Anda sebagai rekan bisnis saja, tidak lebih. Anda adalah orang baik, saya yakin suatu hari nanti, pasti ada pria yang bisa mencintai Anda dengan tulus. Saya yakin itu.”
“Tapi saya hanya mencintai kamu,” ucap Bu Rini dengan meneteskan air matanya.
“Cinta tidak bisa dipaksakan, Bu Rini. Saya hanya mencintai satu wanita dan selamanya akan seperti itu.”
“Sama sepertimu yang mencintai wanita yang bernama Riri untuk selamanya. Saya juga akan mencintaimu untuk selamanya. Saya akan berjuang untuk mendapatkan hatimu. Kamu tidak bisa memaksa saya untuk berhenti, sampai kamu sudah menikah. Mohon maaf, Pak Adit, keputusan saya sudah bulat. Saya akan berusaha meluluhkan hatimu. Baiklah, lebih baik kita menikmati makan siang ini," pungkas Rini.
__ADS_1
Rini memberi kode pada pelayan untuk segera menghidangkan makanan. Dia sudah sampai sejauh ini, wanita itu tidak ingin usahanya sia-sia begitu saja. Rini akan berusaha untuk meluluhkan hati rekannya. sampai Rini bisa memiliki Adit.
Sementara itu, Riri yang berada di mejanya hanya diam saja dengan menundukkan kepala. Dia senang karena cintanya tidaklah bertepuk sebelah tangan. Wanita itu juga masih sangat mencintai Adit. Namun, untuk bersama rasanya masih sangat tidak mungkin.
Tama dan sekeluarga sudah menghabiskan makanannya. Maysa segera membawa Riri dan Dio keluar sedangkan sang suami mendekati Adit untuk pamit, sekalian membayar makanan yang dimakan oleh keluarganya.
"Maaf mengganggu waktunya sebentar, Pak Adit. Saya dan keluarga pamit undur diri. Terima kasih sudah mengizinkan kami makan di sini," ucap Tama pada Adit.
"Sama-sama, Pak Tama. Saya senang bisa bertemu dengan Anda setelah sekian lama," ucap Adit sambil melihat ke arah belakang rekan bisnisnya itu.
Dia berharap Riri masih ada di sana. Namun, sayang, di meja sudah terlihat kosong. Semua orang sepertinya sudah pergi tanpa dia sadari. Mungkin mereka keluar saat dirinya sedang berdebat dengan Rini tadi.
"Baiklah, saya mau membayar makanan saya lebih dulu."
"Tidak perlu, Pak Tama. Saya akan membayarnya."
"Tidak perlu, Pak Adit. Anda sudah pasti sangat tahu jika istri saya pasti tidak akan suka jadi, saya akan membayarnya sendiri. Permisi, assalamualaikum," pamit Tama yang segera pergi dari sana menuju kasir.
"Waalaikumsalam," sahut Adit yang tidak lagi memaksa. Dia sangat tahu bagaimana Tama. pria itu pun melanjutkan makan siangnya bersama dengan Riri. Adit hanya ingin menghormati wanita itu sebagai rekannya, tidak ada maksud yang lain.
.
__ADS_1
.