
Saat sedang asyik mengobrol dengan Maysa, ponsel Riri yang berada di saku berdering. Tertera nama Mama Rafika di sana. Gadis itu mengerutkan keningnya, dia bertanya-tanya apakah telah terjadi sesuatu pada wanita paruh baya itu. Saat ini di rumah juga sudah tidak ada Adit.
"Siapa, Ri?" tanya Maysa pada Riri yang hanya memperhatikan ponselnya saja.
"Mama, Kak. Kira-kira ada apa, ya?"
"Sudah, kamu angkat saja. Siapa tahu ada yang penting," ucap Maysa yang segera diangguki oleh Riri. Wanita itu sebenarnya juga khawatir, takut jika ada sesuatu yang terjadi pada mamanya.
"Halo, assalamualaikum, Ma," ucap Riri setelah menggeser tombol hijau.
"Waalaikumsalam, kamu pulangnya masih lama, Ri?" tanya Mama Rafiqah yang berada di seberang telepon.
"Memangnya ada apa, Ma? Ini masih jam makan siang."
"Nanti kalau pekerjaan kamu sudah selesai, kamu ajak Maysa ke sini sebentar. Mama mau bicara sama kalian berdua."
Meskipun merasa aneh dengan permintaan mamanya, Riri mengiyakan saja. "Iya, nanti aku sampaikan sama Kak Maysa."
"Ya sudah, begitu saja. Mama tutup dulu teleponnya."
"Mama tidak apa-apa, kan?" tanya Riri yang sedang khawatir.
Gadis itu yakin telah terjadi sesuatu pada mamanya. Akan tetapi, tidak akan mudah membuat wanita paruh baya itu berbicara. Apalagi jika itu menjadi masalah untuk anak-anaknya.
"Tidak apa-apa kamu jangan terlalu khawatir Mama hanya ingin bicara dengan kalian berdua saja."
"Ya sudah, nanti aku sampaikan sama Kak Maysa. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Riri pun menutup panggilan, dia masih mencerna apa yang menjadi tujuan mamanya. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi. Apa ini mengenai Adit, mengingat pria itu dari kemarin tidak datang. Jika benar seperti itu, kira-kira apa yang ingin Mama Rafiqah katakan.
Berbagai pertanyaan masuk ke kepala gadis itu, tetapi tidak ada jawaban yang bisa membuatnya tenang. Apalagi Mama Rafiqah orang yang sulit ditebak.
"Ada apa, Ri? Apa terjadi sesuatu? Kenapa kamu diam saja?"
Riri melihat kakaknya dan menjawab, "Baru saja Mama bilang sama aku, kalau kita disuruh pulang, setelah tidak ada pekerjaan."
"Memang ada apa? Kenapa Mama minta kita ke sana? Apa telah terjadi sesuatu?" tanya Maysa dengan nada khawatir.
"Aku juga tidak tahu, apa yang sudah terjadi. Semoga saja Mas Adit tidak membuat masalah, yang membuat Mama jadi kepikiran."
__ADS_1
Keduanya sama-sama khawatir pada Mama Rafiqah. Bekerja pun pasti tidak tenang. Akhirnya Maysa memutuskan untuk pulang sekarang saja.
"Ini kakak juga nggak ada pekerjaan. Apa tidak sebaiknya sekarang saja kita ke sana? Kakak juga nggak tenang sebelum bertemu dengan Mama," ucap Maysa pada adiknya.
"Terus butik bagaimana nanti kalau ada yang datang?"
"Kan, ada yang lain. Via juga sudah bisa melayani dan menghandle semuanya jika ada pembeli."
Riri berpikir sejenak, sampai akhirnya mengangguk juga. "Ya sudah, ayo kita pulang!" ajak Riri.
Maysa membereskan beberapa barangnya yang ada di meja. Begitu juga dengan Riri. Setelah semua selesai, Maysa dan Riri berpamitan pada pegawainya untuk pulang lebih dulu. Via tidak keberatan karena memang hari ini tidak begitu sibuk.
Lagi pula mereka juga pemilik butik jadi, bebas mau pergi kapan saja. Selama ini juga Maysa dan Riri selalu mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Keduanya memakai kendaraan masing-masing. Riri dengan motornya, sementara sang kakak dengan mobil.
Sebelum pulang, Maysa lebih dulu menjemput anak-anaknya. Sudah berapa hari juga mereka jarang sekali datang ke rumah Mama Rafiqah. Pasti keduanya senang diajak ke sana.
"Mama!" teriak Dio dan Eira saat keluar dari sekolahnya. Keduanya memeluk Maysa yang sedang berdiri di samping mobilnya. Mereka sama-sama tersenyum.
"Anak-anak, kita ke rumah Oma Rafiqah sebentar, ya! Tidak apa-apa, kan?" tanya Maysa sambil melihat kedua anaknya.
"Iya, Ma. Aku juga kangen sama oma," sahut Eira, sedangkan Dio hanya mengangguk saja. Keduanya pun menaiki mobil bagian penumpang.
"Mama, tadi di sekolah bu guru minta Kak Dio maju ke depan, buat cerita tentang acara liburan kemarin," ucap Eira yang begitu terlihat ntusias.
"Aku ceritain semuanya saja. Semua yang kita semua lakukan dan ke mana saja kita pergi," jawab Dio.
"Terus apa kata bu guru?"
"Bu guru senang, kalau kita semua juga senang. Teman-teman juga cerita tentang liburannya."
Maysa mengangguk dan tersenyum. Wanita itu senang, Dio tidak menceritakan tentang kepergiannya ke pantai waktu itu. Jika tidak, pasti Eira akan merasa sedih karena merasa diabaikan. Selama perjalanan, kedua anak itu menceritakan kegiatan di sekolah.
Hingga tidak terasa, mereka sampai juga di rumah Mama Rafiqah. Motor Riri juga sudah terparkir di sana. Eira turun lebih dulu dan berlari memasuki rumah. Diikuti Dio dan Maysa yang berjalan dengan pelan.
"Assalamualaikum," ucap Maysa dan Dio saat memasuki rumah.
"Waalaikumsalam, ini kalian pulang sekolah langsung ke sini? Kok, masih pakai seragam?" tanya Mama Rafiqah sambil memperhatikan kedua cucunya.
"Tadi Mama jemput kami dari sekolah, langsung diajak ke sini. Kami juga kangen sama Oma," jawab Eira yang berada di pangkuan wanita paruh baya itu.
"Apalagi Oma! Oma juga kangen sekali sama kamu dan juga Kak Dio. Bagaimana sekolahnya, senang?"
__ADS_1
"Senang, Oma. Banyak sekali temannya. Mereka juga baik. Eira diajak main di sana."
"Kalau begitu, Oma senang dengarnya. Kalian sekolah yang rajin, ya! Biar bisa banggain Mama dan Papa, Oma juga bangga sama kalian."
"Iya, Oma."
"Riri mana, Ma?" tanya Maysa sambil melihat sekeliling. Namun, tidak menemukan Riri di sana. Dia ingin segera tahu apa yang ingin dibicarakan mamanya. Pasti itu sesuatu yang sangat penting.
"Dia ada di kamarnya," jawab Mama Rafiqah yang kemudian beralih ke kedua cucunya. "Dio, ajak adiknya main di taman samping, ya! Oma ingin bicara sama Mama sebentar."
Dio anak yang cukup pintar, dia pasti lebih mengerti dari Eira. Anak itu pun mengajak adiknya ke taman samping. Tidak lupa juga membawa mainan, yang sebelumnya disimpan oleh Mama Rafika di box, di samping pintu menuju taman samping rumah.
"Ada apa, Ma? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Maysa saat kedua anaknya sudah tidak terlihat.
"Mama ada yang ingin dibicarakan sama kamu dan Riri," jawab Mama Rafiqah.
Keduanya pun menunggu Riri, sampai akhirnya gadis itu keluar juga dari kamarnya. Ketiganya duduk di ruang keluarga. Maysa dan Riri sama-sama diam, menunggu mamanya mengatakan sesuatu.
"Tadi Adit telepon Mama, katanya nanti malam dia dan papanya akan datang ke sini, untuk melamar Riri," ucap Mama Rafiqah, yang cukup membuat kedua putrinya terkejut.
Mereka sama sekali tidak mengetahui apa-apa mengenai Adit. Maysa dan Riri juga tidak tahu bahwa sebelumnya Mama Rafiqah sudah memberi restu pada Adit. yang keduanya tahu hanya mengenai usaha pria itu.
"Ma aku tidak salah dengar, kan? Apa Mama sudah setuju mengenai Mas Adit yang ingin melamarku?" tanya Riri yang belum yakin dengan apa yang dia dengar.
"Kalau Mama tidak setuju, Mama tidak akan mengatakannya pada kalian berdua. Mama memang sudah memberi restu kepadanya dua hari yang lalu. Mama bilang kepadanya, kalau mau serius silakan saja datang melamar bersama dengan orang tuanya. Tadi pagi Adit menghubungi Mama dan mengatakan rencananya untuk datang melamar kamu."
"Kenapa semuanya serba dadakan, Ma? Mama tidak menyembunyikan sesuatu dari kami, kan? Adit tidak mengancam Mama, kan?" tanya Maysa yang masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang dikatakan mamanya.
"Tentu saja tidak. Mama ini orangnya tidak bisa diancam."
"Syukurlah, kalau memang itu sudah menjadi keputusan Mama, untuk menerima Adit menjadi menantu Mama. Kalau aku pribadi, itu tidak masalah. Asal dia bisa membuat Riri dan Mama bahagia, aku sama sekali tidak keberatan," sahut Maysa.
"Kalau kamu sendiri bagaimana, Ri?" tanya Mama Rafiqah sambil menatap ke arah putrinya.
"Seperti yang sebelumnya sudah aku katakan. Aku menyerahkan semuanya kepada Mama. Terserah Mama mau menerima atau tidak, yang jelas aku akan mengikuti apa yang sudah Mama putuskan."
"Apa kamu tidak memiliki keinginan? Apa kamu yakin dengan pilihan Mama? Mama tidak pernah melarang kamu untuk mengatakan pendapat kamu."
Riri menatap mamanya. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya, dia harus mengatakannya saat ini juga.
"Aku tidak bisa menerima lamaran ini. Jika Mas Adit menolak untuk tinggal di sini bersamaku dan Mama," jawab Riri membuat semua orang cukup terkejut, tetapi Maysa setuju dengan apa yang adiknya katakan.
__ADS_1
.
.