
"Eira, masuk mobil dulu, ya. Mama mau bicara sebentar sama Papa," ucap Maysa pada putrinya.
Untung saja gadis kecil itu mau menurut dan segera pergi dari sana. Sepertinya Eira benar-benar tidak mau dekat dengan papanya. Maysa semakin yakin jika telah terjadi sesuatu.
"Apa telah terjadi sesuatu? Kenapa memulangkan Eira, Mas? Apa begitu tidak pentingnya Eira buat kamu? Bukankah kamu janji, buat ngajak dia liburan selama tiga hari dan ini yang baru satu hari satu malam, tapi kamu sudah memulangkanya. Apa kamu tidak lihat wajah sedihnya anak kamu?" tanya Maysa.
"Tapi aku nggak bisa menemani dia, May. Anak aku di rumah sangat rewel. Dia tidak bisa aku tinggal ke mana-mana jadi, aku nggak bisa ngajakin Eira jalan seperti yang dia inginkan."
"Mas, setiap hari kamu bersama dengan anak kamu itu. Eira hanya minta waktu tiga hari bersamamu. Sesulit itukah membuatnya bahagia?"
Rafka hanya diam, dia tidak punya apa-apa untuk dikatakan pada mantan istrinya itu. Nyatanya pria itu tidak bisa berkutik saat dihadapkan dengan putranya. Vida tidak bisa diharapkan dalam merawat anaknya jadi, hanya Rafka yang menghandle sendiri.
"Seharian kemarin, kamu mengajaknya bermain apa saja?" tanya Maysa yang sudah mulai merendahkan nada suaranya. Lagi-lagi Rafka terdiam. Pria itu tidak mampu menjawab pertanyaan dari sang istri.
"Kenapa masih diam, Mas? Apa sangat sulit menjawab pertanyaan dariku?"
"Aku tidak mengajaknya ke mana-mana. Seharian aku hanya di rumah. Aku sudah bilang kalau anakku sangat rewel."
"Selama seharian kemarin, apa kamu mengajak Eira bermain? Meskipun tidak jalan-jalan keluar, setidaknya bermain di dalam rumah," tanya Maysa lagi yang masih ingin tahu sejauh apa usaha Rafka untuk putrinya.
Maysa benar-benar kesal dengan Rafka. Pria itu sama sekali tidak bisa menjawab setiap pertanyaannya. Padahal sebenarnya Eira hanya ingin bermain bersama dengan sang ayah. Namun, Rafka seolah membangun tembok yang begitu tinggi hingga Eira sulit untuk melewatinya.
"Mulai hari ini, jangan lagi mengajak Eira pergi. Sudah cukup hari ini kamu mengecewakannya. Aku tidak ingin melihat wajah kecewa putriku untuk kedua kali dan seterusnya. Terima kasih dengan pengalaman yang kamu berikan pada Eira. Mudah-mudahan dia tidak menyimpannya ke dalam hati, yang pastinya akan membuat hubungan kalian semakin jauh."
__ADS_1
Maysa segera meninggalkan Rafka yang masih berdiam diri. Wanita itu masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukannya dengan kecepatan sedang. Meski dirinya sedang emosi, tetapi dia mencoba untuk tetap tersenyum di depan putrinya. Hati Maysa benar-benar terluka.
Dia merasa Rafka tidak menganggap Eira begitu penting, makanya senyum putrinya pun tidak pria itu perhatikan. Wanita itu tidak ingin bertanya pada Eira, biarlah gadis kecil itu sendiri yang menceritakannya nanti jika dia ingin. Jika tidak pun tidak masalah bagi Maysa. Setidaknya wanita itu tahu alasan kenapa putrinya dipulangkan.
"Eira, mau pulang ke rumah atau mau ikut Mama ke butik?" tanya Maysa saat diperjalanan.
"Ikut sama Mama saja. Nanti pulang bareng Mama," jawab Eira.
Maysa pun mengangguk sambil mengusap rambut putrinya. Dia masih bersyukur meski papa kandungnya tidak bisa memberikan kasih sayang, ada papa sambungnya yang bisa memberikan segudang kasih sayang. Tuhan telah memberikan senyuman pada putrinya melalui jalan lain.
"Ma, nanti jangan bilang sama siapa-siapa, ya, kalau aku disuruh papa pulang. Bilang saja Mama yang jemput aku di rumah Papa karena Mama kangen," ucap Eira setelah lama terdiam.
"Iya, nanti Mama bilangnya seperti itu," sahut Maysa dengan tersenyum.
Sungguh hatinya teriris mendengar apa yang putrinya katakan. Begitu besar cinta gadis itu pada papanya, tapi tidak sedikit Rafka memikirkan bagaimana perasaan Eira. Dia terharu memiliki putri seperti Eira.
Keduanya turun dan memasuki butik. Riri yang melihat kedatangan ponakannya pun segera mendekat. Namun, dia mendapat kode dari kakaknya saat dirinya sudah dekat. Riri sangat paham apa arti dari kode itu. Yang artinya dia tidak boleh bertanya apa pun pada Eira, terutama kepulangannya.
"Hai, Eira! Tumben datang ke sini sendirian? Mau main sama Tante atau mau ikut ke ruangan Mama?" tanya Riri yang sudah terlanjur menghampiri keponakannya itu.
"Aku mau ikut Mama saja."
"Tante pikir mau main sama Tante. Ya sudah, kalau begitu kapan-kapan main sama Tante, ya!" ucap Riri yang kemudian kembali pada pekerjaannya. Maysa pun mengajak sang putri ke ruangannya.
__ADS_1
*****
"Sudah puas kamu! Aku sudah memulangkan Eira. Apalagi yang kamu inginkan?" tanya Rafka begitu dia kembali ke rumahnya.
"Memang seharusnya seperti itu. Kehadirannya di sini hanya menambah masalah untuk kita. Kamu seharusnya ingat kalau kamu di sini memiliki anak yang hanya bergantung pada kamu, sedangkan Eira, dia sudah memiliki Ayah lainnya yang bisa memanjakan dia sepuasnya," sahut Vida yang tidak mau disalahkan.
"Eira memang sudah memiliki Ayah pengganti, tapi bagaimanapun juga dia masih tanggung jawabku. Dia juga punya hak atas diriku, bukan hanya anak kita."
"Aku tidak mau mendengar tentang Eira lagi selama kita berada di rumah. Kalau kamu mau mengurus Eira, urus saja di luar sana. Jangan bawa dia ke rumah ini lagi," ucap Vida yang segera meninggalkan sang suami.
Sampai kapan pun wanita itu tidak akan pernah rela, kalau Eira mengambil semua yang harusnya menjadi milik anaknya. Dia tidak akan membiarkan gadis kecil itu menikmati kasih sayang dari Rafka. Wanita itu akan mengambil alih semua itu untuk anaknya.
Rafka yang duduk di ruang tamu pun teringat dengan apa yang terjadi pada Eira kemarin. Dia merasa sangat bersalah. Hari libur yang dia janjikan akan bersenang-senang bersama dengan Eira, tidak bisa dipenuhi. Pria itu terlalu sibuk dengan putranya yang sangat manja.
Dalam keadaan seperti ini, Rafka berharap Eira tidak membencinya. Mudah-mudahan sang putri mengerti keadaannya.
"Maafkan Papa, Eira. Papa tidak bisa membahagiakanmu. Padahal kamu hanya minta sedikit waktu pada Papa, tetapi Papa terlalu sibuk dengan kegiatan Papa sendiri. Maafkan semua kesalahan Papa," ucap Rafka dengan menundukkan kepalanya.
Kemarin sebenarnya Rafka hampir saja pergi bersama dengan Eira. Namun, di perjalanan Vida menelepon dan mengatakan putranya sedang menangis. Saat itu Rafka juga bisa mendengar tangisan anaknya yang begitu keras. Akhirnya dengan terpaksa, pria itu membawa Eira pulang ke rumahnya.
Begitu sampai di rumah, ternyata anaknya tertidur. Rafka pun memutuskan untuk kembali pergi, tetapi Vida menghalanginya dengan berbagai alasan dan berbagai cara. Pria itu pun akhirnya luluh dan tidak jadi pergi. Eira begitu kecewa dengan papanya karena tidak menepati janji.
Gadis kecil itu marah pada Rafka dan saat itu juga Vida membentak Eira. Bahkan sampai menampar wajah anak itu. Saat itu Eira ketakutan dan akhirnya diam. Selama ini tidak ada yang melakukan hal itu padanya, apalagi Maysa yang begitu menyayangi putrinya.
__ADS_1
.
.