
Tak lama sambungan telepon itu berakhir. “Aku sudah bicara sama dokter, Sayang. Mudah-mudahan secepatnya dokter mengirimkan file para perawatnya, biar Papa juga cepat ada yang merawat,” ucap Adit.
Riri menoleh kepada suaminya dan bertanya, “Kamu mintanya perawat laki-laki atau perempuan, Mas?”
Adit menepuk keningnya, sepertinya dia salah lagi selain karena kandidat yang tadi masih single ternyata karena mereka perempuan. Ternyata adit benar-benar tidak peka dengan sang istri ternyata menginginkan perawat laki-laki untuk papanya itu.
“Sebentar.” Adit kembali menghubungi dokter dan meminta agar dokter tersebut mencari perawat laki-laki saja.
Riri yang ada di samping suaminya pun hanya bisa menggelengkan kepala, pria itu benar-benar tidak peka tentang hal-hal kecil seperti itu, tetapi untuk hal lainnya justru Adit yang paling mengerti.
“Mas, aku perlu bicara sama kamu sesuatu sebenarnya aku ingin mengatakannya dari kemarin, tapi belum ada waktu yang tepat,” ujar Riri.
Adit menatap sang istri, dalam hati dia bertanya-tanya kira-kira apa yang ingin dibicarakan istrinya itu. Sepertinya sesuatu yang sangat penting. Semoga saja bukan sesuatu yang sulit dia lakukan karena Riri biasanya orang yang tidak bisa ditebak keinginannya.
“Hem? Bicara apa? Katakan saja apa yang kamu ingin katakan.”
Riri menggigit bibir bawahnya, sedikit ragu. Akan tetapi, dia harus tetap mengatakannya agar hatinya tenang.
“Aku ingin kamu berjanji bahwa kamu tidak akan pernah mengkhianati, apalagi membohongiku. Cukup satu kali kamu melakukan kebohongan yang sangat fatal hingga berdampak pada keluargaku. Ke depannya, aku tidak ingin hal itu terulang lagi. Aku bukannya mau meragukanmu. Aku hanya tidak ingin merasakan sakit hati untuk yang kedua kalinya,” ucap Riri akhirnya.
__ADS_1
Adit menatap istrinya itu dengan diam, melihat dari raut wajah Riri yang sendu, dia bisa melihat jika wanita ini masih menyimpan luka di hatinya.
“Aku minta maaf kalau sebelumnya sudah sangat menyakiti hatimu, tapi sungguh aku tidak pernah bermaksud seperti itu. Saat itu aku pikir ingin menguatkan diri terlebih dahulu, tapi ternyata pilihanku salah. Seharusnya aku tidak membawamu ke dalam masalahku, tapi percayalah itu adalah pelajaran yang paling berharga dalam hidupku. Aku tidak akan membohongimu, apalagi sampai mengkhianati kamu. Jika itu terjadi, kamu boleh melakukan apapun terhadapku aku akan menerima dengan senang hati,” ucap Adit pasrah.
Riri menghela napasnya sedikit lega, jujur saja itu yang ingin dia katakan sedari kemarin.
“Aku tidak membutuhkan apapun. Apalagi harta yang hanya bisa kita miliki untuk sementara. Yang aku inginkan hanya keberadaanmu yang selalu disisiku. Dari kecil aku sudah terbiasa hidup susah, jadi bagiku tidak masalah jika harus kembali seperti dulu asalkan bisa selalu bersama denganmu dan selalu bahagia.”
“Riri Aku bukan orang yang pandai berbicara romantis, tapi kamu harus selalu ingat bahwa di dalam hatiku hanya ada namamu. Jika aku mau pasti sudah sejak satu tahun yang lalu sejak kita berpisah aku bisa saja mencari orang lain, tetapi hatiku sudah terpaut padamu aku sudah mencoba membuka hati untuk yang lain tetap saja tidak bisa. Semua hati dan pikiran hanya berisi tentangmu dan kebersamaan kita dahulu,” ucap Adit dengan menatap mata istrinya.
Mata Riri berkaca-kaca, dia berharap apa yang dikatakan Adit memang sungguh dari dalam hatinya. Dia hanya takut apa yang terjadi pada kakaknya akan terjadi juga pada dirinya, mengingat luka yang diterima oleh Maysa dan putrinya membuat hati Riri juga aku terluka apalagi keluarga Rafka juga ikut menutupi kebusukan pria itu.
Adit mengusap air mata yang meleleh di pipi sang istri. Dia tidak bermaksud untuk membuat Riri menangis. Pria itu hanya ingin mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya. Jika dirinya benar-benar mencintai istrinya tidak ada wanita lain.
Riri terisak hingga bahunya bergerak. “Mengenai itu aku juga tidak bisa janji, Mas. Kamu tahu kan kalau wanita itu mudah sekali menangis,” sahut Riri dengan mengusap sisa air matanya.
“Memangnya, kamu kira aku tidak mengenali istriku ini? Kamu itu tidak akan mudah menangis jika orang luar yang melakukan sesuatu yang menyakitkan untukmu, tetapi jika itu orang yang terdekat yang melakukannya pasti kamu Langsung menangis,” tutur Adit.
Riri menatap sang suami sepertinya pria itu sangat mengenal dirinya, padahal sudah satu tahun mereka tidak bertemu. Wanita itu curiga kalau Adit membuntutinya selama ini, jika tidak mana mungkin segala sesuatu tentang dirinya diketahui oleh pria itu.
__ADS_1
“Selama ini kamu tidak mengawasiku kan, Mas? Aku curiga padamu,” ucap Riri menatap mata sang suami.
Adit tergagap. “Mana mungkin aku mengawasimu, bertemu saja saat waktu liburan itu sama Pak Tama,” kilah Adit karena memang dirinya tidak pernah mengawasi apapun tentang Riri.
“Kenapa kamu masih panggil Pak Tama? Dia itu kakak iparku. Seharusnya kamu memanggilnya kakak kan? Jadi aneh aku panggil Kak Tama kamu panggilnya Pak.” Riri terkekeh pelan.
“Aku belum terbiasa, aku juga aneh kalau panggil Pak Tama tiba-tiba jadi Kak Tama, tapi nanti aku coba deh. Bagaimanapun juga sekarang dia kakak iparku, jadi harus panggil kakak.” Adit terkekeh, merasa lucu dengan panggilan baru itu.
“Itu harus, jangan sampai nanti Kak Maysa marah sama aku karena nggak bisa ajarin kamu panggil Kak Tama. Bagaimanapun kita kan juga harus menghormati dia sebagai suami Kak Maysa. Takutnya nanti Kak Tama tersinggung. Ya ... meskipun dia orangnya biasa saja tapi tetap saja kita harus menghormatinya,” ucap Riri lagi.
Adit mengangguk, dirinya juga tidak begitu dekat dengan Tama. Segala urusan tentang perusahaan semua asisten mereka yang mengurus, hanya jika ada pertemuan penting barulah keduanya bertemu.
Dulu dia mengenal kakak iparnya juga lewat klien karena mereka bilang Tama orang yang sangat gigih jika itu mengenai pekerjaan. Ssemua klien yang bekerjasama dengannya pun selalu puas dengan hasilnya itu juga yang mendorong Adit untuk mengajukan kerjasama saat itu. Untung saja semuanya berjalan lancar hingga kini.
"Iya, nanti aku akan coba. Kak Tama sepertinya sangat dekat dengan keluarga, ya?" tanya Adit.
"Biasa saja, dia juga orang baik, jadi perlu diperhatikan baik juga. Dia juga sangat menghormati Mama jadi, otomatis aku juga menghormatinya."
Adit mengangguk, Mungkin ini yang dinamakan timbal balik. 'Jika kamu menghormati orang lain maka orang itu juga akan menghormatimu'.
__ADS_1
.
.