Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
91. Meminta restu


__ADS_3

“Sudah, Mas?” tanya Maysa saat sang suami masuk ke dalam mobil.


“Sudah, Sayang. Kita balik yuk!” ajak Tama.


Tama pun menyalakan mobilnya dan segera meninggalkan restoran. Riri sempat melihat ke arah pintu rumah makan itu, dia berharap Adit mengejarnya. Namun, ternyata tidak. Di sisi lain hatinya berkata, lebih baik seperti ini karena dirinya sudah berjanji pada sang Mama jika tidak akan lagi terikat dengan Adit. Sisi yang lainnya gadis itu merindukan mantan kekasihnya.


Sejujurnya Riri sangat berharap Mama Rafiqah memberi restu pada dirinya dan Adit. Sekarang pria itu juga statusnya sudah jelas jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mengenai gosip yang dulu sempat beredar, semuanya juga sudah dijelaskan oleh Adit.


“Kita mau pulang atau mau ke tempat lain?” tanya Tama pada keluarganya.


“Kalau aku terserah kalian semua. Bagaimana Dio, Riri?” tanya Maysa sambil melihat ke arah belakang.


“Ma, apa Eira tidak menelpon Mama?” tanya Dio tanpa menjawab pertanyaan mamanya. Dia merasa khawatir pada adiknya. Anak itu takut jika Eira tidak bahagia di sana.


“Tidak ada, Sayang. Tidak ada panggilan masuk. Apa perlu Mama teleponin, biar kamu tahu bagaimana keadaan Eira?”


“Tidak perlu, Ma. Takutnya mereka sedang repot saat ini,” sahut Dio tersenyum paksa yang kemudian terdiam.


“Jadi, Dio maunya ke mana lagi?” tanya Maysa lagi karena belum mendapatkan jawaban.


“Kita pulang saja, Ma. Aku juga sudah capek.”


“Baiklah kalau gitu. Kita pulang saja," jawab Maysa dengan membuang napas pelan.


Dia sangat tahu jika putranya masih mengkhawatirkan keadaan Eira jadi, wanita itu tidak memaksa Dio untuk pergi lagi. Daripada nanti anak itu tidak menikmatinya.


“Rini, kamu mau diantar pulang ke rumah apa ikut ke rumah kakak dulu?” tanya Tama sambil melirik kaca spion yang ada di depannya.


“Pulang ke rumah Kakak dulu saja. Motorku ‘kan ada di sana,” jawab Riri.


“Memang kamu nggak capek, pulang naik motor?” tanya Tama lagi.

__ADS_1


“Nggak pa-pa, Kak. Nggak jauh juga.”


“Kenapa nggak minta antar sampai rumah saja, Ri! Besok kalau ke butik Kakak jemput. Seharian bermain pasti kamu juga lelah," sela Maysa.


“Nggak perlu, Kak. Siapa tahu nanti motornya perlu digunakan pergi.”


“Ya sudah, terserah kamu.”


Tama pun terus melajukan mobilnya membelah jalanan. Perjalanan pulang cukup lama, membuat Dio dan Riri yang ada di belakang tertidur. Saat di pantai tadi keduanya memang sangat aktif. Adik Maysa itu selalu berusaha menghibur keponakannya.


Begitu sampai di rumah, Riri mampir sebentar di rumah kakak iparnya kemudian pamit pulang. Mama Mirna menawarkan pada Riri untuk menginap saja, tetapi gadis itu menolak karena mamanya di rumah sendirian.


****


Keesokan paginya, Mama Rafiqah dan Riri sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Sudah beberapa kali gadis itu melarang mamanya untuk ikut. Namun, perkataannya tidak dihiraukan oleh wanita paruh baya itu. Mama Rafiqah sudah terlalu sering bersantai jadi, dia ingin melakukan sesuatu yang membuat tubuhnya bergerak.


Terdengar suara pintu diketuk dari arah depan. Mama Rafiqah pun segera keluar untuk melihat siapa yang datang di pagi buta seperti ini. Wanita itu mengira jika yang datang adalah Maysa. Begitu dia membuka pintu, Mama Rafiqah dibuat terkejut.


Ternyata yang datang adalah Adit— mantan kekasih putrinya. Meski saat ini penampilan pria itu berubah, terapi Mama Rafika masih bisa mengenalinya. Aura Adit sangat berbeda dengan dulu. Sekarang pria itu terlihat lebih dewasa, gagah dan berkharisma.


“Assalamualaikum, Bu. Apa kabar?” sapa Adit sambil tersenyum.


“Waalaikumsalam, saya baik. Ada apa kamu ke sini? Kamu tidak ingin membuat masalah, kan?”


“Tidak, Bu. Saya ke sini hanya ingin menyambung tali silaturahmi.”


Mama Rafiqah mengerutkan keningnya. “Rasanya kok sangat aneh! Kamu datang untuk menyambung tali silaturahmi yang sebelumnya tidak pernah ada. Apakah kamu memilikinya niat tersembunyi? Rasanya tidak mungkin kamu melakukan semua ini dengan percuma.”


“Anda sangat pandai dalam hal ini. Saya yakin, Anda pasti sudah sangat mengerti apa yang saya inginkan.”


“Saya memang sudah mengerti, tapi saya perlu mendengarnya dari mulutmu secara langsung.”

__ADS_1


“Saya datang ke sini karena ingin dekat dengan putri Anda. Seandainya Anda mengizinkan, saya ingin menikah dengannya. Saya harap Anda memberikan restu,” jawab Adit sambil memperhatikan wajah Mama Rafiqah.


Wanita itu sama sekali tidak terkejut. Dia sudah memperkirakan hal ini akan terjadi saat Adit datang. Namun, Mama Rafiqah tidak menyangka Adit akan datang sekarang. Sejujurnya wanita itu merasa bersalah pada Riri karena sudah memisahkannya dengan Adit.


Dia selalu berharap Adit datang dan berusaha untuk meminta restu padanya. Namun, pria itu tidak pernah datang dan menghilang begitu saja. Sekarang, setelah semua terlewati, Adit malah datang. Tidak semudah itu Mama Rafiqah memberi restu.


“Kamu sudah tahu jawabannya dari satu tahun yang lalu. Saya tidak akan pernah merestui hubungan kalian. Kamu pasti sudah sangat tahu alasannya.”


“Bu, itu sudah setahun yang lalu. Saya yakin semua orang juga sudah melupakan hal itu jadi, saya mohon untuk Anda agar merestui saya supaya bisa bersama dengan Riri. Sejujurnya ingin sekali saya membawa Riri pergi begitu saja dan menikah dengan diam-diam. Namun, saya tahu jika Riri sangat menghormati Anda karena itu, aku juga menghormati segala keputusan yang dibuat Riri. Bukan berarti saya menyerah. Saat ini saya sedang berjuang agar bisa bersama dengan Riri kembali.”


"Lalu, kenapa harus sekarang kamu datang? Kenapa tidak dari kemarin-kemarin?"


"Saya menunggu waktu yang tepat. Jika dulu saya datang dan berusaha memiliki kamu, maka orang-orang akan menilai Riri jelek. Saya hanya sedang berusaha agar berita yang sudah beredar, reda terlebih dahulu."


"Ka—"


“Ma, siapa yang datang? Kenapa lama sekali?” tanya Riri yang menyusul mamanya keluar.


Mama Rafiqah tak kunjung masuk setelah beberapa menit keluar. Tentu saja membuat Riri penasaran dan ikut keluar. Sama seperti mamanya, Riri juga terkejut melihat keberadaan Adit di sana. Dia kira setelah kemarin bertemu, pria itu tidak akan berani datang. Namun, nyatanya mantan kekasihnya sekarang malah ada di rumahnya.


"Mas Adit, kenapa kamu ada di sini?" tanya Riri dengan gugup.


"Aku datang ke sini ingin mendapat restu dari mama kamu. Aku ingin melamarmu dan menjadikanmu istriku." Kata-kata yang diucapkan Adit mampu membuat Riri terkejut sekaligus bahagia. Namun, gadis itu tidak ingin memperlihatkannya di depan sang Mama.


"Maksud kamu apa, Mas? Nggak usah bercanda, sebaiknya kamu segera pergi dari sini. Sebelum para warga nanti lihat yang malah akan menimbulkan fitnah."


"Aku rasa itu tidak benar. Keluarga juga pasti akan mendukung kita. Aku bisa pastikan jika statusku sekarang sudah berbeda. Tidak ada alasan untuk menolak untuk menikah denganku. Aku tahu kalau hatimu masih tetap memilih


"Maaf, Nak Adit, sampai kapanpun aku tidak akan pernah merestui kalian dan kamu tahu 'kan kalau Riri pasti akan menuruti keinginan mamanya jadi, sebaiknya kamu segera pergi dari sini!"


"Saya tidak akan pergi, Sebelum tante merestuiku."

__ADS_1


.


.


__ADS_2