Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
87. Pergi berempat


__ADS_3

Hari yang dinantikan Eira telah tiba. Rafka menjemput putrinya di rumah Tama. Dia akan mengajak gadis kecil itu untuk pergi jalan-jalan seperti janjinya kemarin. Maysa mengantar putrinya ke depan, bersama dengan Dio dan juga Tama.


Eira terlihat begitu bahagia, berbeda dengan kakaknya yang terlihat lesu. Meskipun begitu Dio tetap menampilkan senyum untuk adiknya. Dia tidak ingin Eira merasa bersalah telah pergi bersama dengan papanya.


“Aku pergi dulu, Ma, Pa, Kak Dio,” pamit Eira dengan melambaikan tangannya.


“Ingat pesan Mama. Jaga diri baik-baik."


“Iya, Ma.”


“Jangan lupa oleh-oleh buat Kakak," sela Dio.


“Tenang saja, aku tidak akan melupakan oleh-oleh buat Kakak,” sahut Eira dengan tersenyum.


“Terima kasih sudah mengizinkan Eira untuk pergi bersama denganku,” ucap Rafka pada Tama dan Maysa.


“Iya, sama-sama. Dia sangat manja, wajar nanti jika dia akan sangat merepotkanmu.”


“Aku tidak akan merasa direpotkan. Aku tentu senang bisa pergi bersama dengannya. Kami permisi, assalamualaikum," pamit Rafka.


"Waalaikumsalam," jawab Maysa sambil mengangguk.


Rafka dan Eira pun meninggalkan rumah Tama. Sepanjang perjalanan gadis kecil itu banyak bertanya pada papanya mengenai rencana liburan mereka. Pria itu hanya menanggapi sedikit pertanyaan putrinya.


“Dio mau pergi jalan-jalan?” tanya Maysa karena kalau di rumah saja, pasti anak itu akan merasa kesepian.


Wanita itu ingin menghibur putranya. Tama hanya melihat interaksi mereka. Dia juga tahu tujuan sang istri mengajak Dio pergi.


“Nggak mau, Ma. Nggak ada temannya.”


“Kan bisa sama Papa sama Mama dulu. Nanti kalau Eira sudah pulang, kita pergi lagi sama-sama.”


Dio berpikir sejenak dan bertanya, “Memang Mama mau ajak Dio ke mana?”


“Terserah Dio maunya ke mana.”


Dio terlihat berpikir, di mana tempat yang menyenangkan saat bersama dengan kedua orang tuanya. Kalau ke wahana bermain, pasti membosankan karena dia harus bermain sendiri.

__ADS_1


“Bagaimana kalau kita ke pantai saja, sekalian ajak Tante Riri. Dia ‘kan jomblo, pasti nggak ada yang ajak pergi.”


“Kamu kecil-kecil sudah tahu jomblo,” sahut Maysa yang ditanggapi Dio dengan senyuman. “Baiklah, sekarang Dio siap-siap, nanti kita akan pergi sambil nunggu Tante Riri datang. Biar Mama yang hubungi Tante Riri."


Anak itu pun mengangguk dan segera pergi ke kamarnya, sementara Maysa mencoba menghubungi adiknya. Awalnya Riri menolak karena ingin di rumah saja bersama dengan mamanya. Namun, Mama Rafiqah memaksa putrinya untuk ikut pergi. Dia juga tahu jika gadis itu merasa kesepian di rumah.


Remaja seusia Riri biasanya sudah memiliki pasangan dan pergi liburan bersama, sementara gadis itu hanya di rumah saja. Sebenarnya Mama Rafiqah merasa sedih. Sejak satu tahun lalu, setelah berpisah dengan Adit, Riri sangat membatasi pergaulannya. Gadis itu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saja jika tidak ada kegiatan.


Padahal Mama Rafiqah sering mengomel agar Riri pergi jalan-jalan atau ke mana pun untuk menghabiskan waktu. Namun, putrinya selalu menolak dengan berbagai alasan. Dia juga pernah berencana menjodohkan gadis itu dengan pria lain, tetapi Riri malah membuat ulah. Hingga membuat keluarga pria itu membatalkan perjodohan.


“Bagaimana, Sayang? Apa Riri Mau?” tanya Tama setelah Maysa menutup panggilan.


“Riri mau, sebentar lagi juga dia datang.”


“Aku kira nggak mau. Aku tadi sempat dengar kamu membujuk Riri.”


“Iya, tadi memang dia sempat menolak, tapi tadi Mama sudah membujuk Riri agar mau ikut kita keluar. Setiap hari anak itu selalu di rumah saja. Nggak pernah ke mana-mana. Kalau Mama Rafiqah sendiri, nggak mau ikut. Dia bilang sudah tua, nggak punya tenaga buat pergi jalan-jalan.”


“Ya sudah, ayo, kita juga siap-siap! Biar nanti kalau Riri sudah datang, kita bisa langsung pergi," ajak Tama yang diangguki oleh Maysa.


Setelah semuanya siap, mereka menunggu Riri di teras. Maysa sempat mengajak Mama Mirna untuk sekalian ikut berlibur. Namun, wanita itu juga menolak. Dia ingin di rumah saja dan membiarkan anak mereka berlibur bersama. Umur sudah sangat membatasi ruang geraknya.


“Kamu lama banget, sih, Ri. Kita nungguin sampai jamuran,” tegur Maysa.


“Ini sudah kecepatan yang paling tinggi, Kak. Namanya juga perempuan, pasti butuh dandan.”


“Tante Riri mau cari pacar, ya? Pakai dandan segala," tanya Dio.


Riri yang gemas pun mencubit pipi Dio. “Kamu ini kecil-kecil sudah ngomongin pacaran. Nggak boleh pacaran, itu cuma nambahin dosa saja. Kalau kamu dewasa dan suka sama seorang wanita, langsung nikahin saja. Nggak usah pacar-pacaran.”


“Aku nggak mau nikah dulu, aku masih mau sama Papa dan Mama,” jawab Dio dengan memeluk Maysa.


“Maksudnya bukan sekarang, nanti kalau kamu besar.”


“Iya, nanti kalau aku besar nggak mau nikah dulu.”


“Tante nggak yakin. Tante jadi ingin lihat, sampai berapa lama kamu betah sendiri," cibir Riri.

__ADS_1


“Tante juga sendiri,” sahut Dio membuat Maysa dan Tama tertawa.


Putranya memang sangat pandai bersilat lidah dan membuat lawannya tidak bisa berkata apa pun. Riri ingin membantah, tetapi Maysa memotong kata-katanya.


“Sudah, kenapa malah bertengkar. Ini nggak jadi berangkat kalau berdebat terus. Ayo, kita segera pergi!”


Mereka semua pun menaiki mobil Tama dan segera meninggalkan halaman rumah. Sepanjang perjalanan, Riri terus saja mengajak ngobrol keponakannya itu. Dia hanya ingin membuat Dio merasa senang dan tidak sedih karena ditinggal oleh Eira. Maysa juga sesekali ikut menimpali.


"Kok, kita ke luar kota, Kak? Memang kita ke mana?" tanya Riri yang melihat sekitar.


"Mau ke pantai, seperti yang diinginkan Dio," jawab Tama dengan santai.


"Di kota kita juga ada. Kenapa jauh-jauh ke luar kota?"


"Mau suasana baru."


Begitu sampai di tempat yang dituju, mereka semua turun. Tama pergi membeli tiket untuk semua orang kemudian bersama-sama memasuki pantai. Riri dan Dio berlari lebih dulu, sementara Tama dan Maysa mengikutinya dari belakang.


"Aku merasa bersyukur memiliki kamu, yang masih memikirkan perasaan Dio disaat adiknya pergi bersama dengan papanya," ucap Tama yang berjalan beriringan dengan Maysa.


"Bukankah kita sudah pernah mengatakan. Baik Eira ataupun Dio, itu sama-sama anak kita. Tidak peduli dari mana mereka lahir, mereka tetaplah anak kita."


"Iya, kamu benar. Ayo, kita ke sana saja!" ajak Tama sambil menggandeng tangan sang istri.


Maysa pun tersenyum dan mengikuti sang suami. Keduanya duduk di tepi pantai, sambil memperhatikan Dio dan Riri yang sedang bermain air.


"Tante, ayo ke sini! Kejar aku!" teriak Dio sambil melambai ke arah tantenya.


"Jangan terlalu dalam, Dio. Nanti basah, Tante nggak bawa baju."


"Nggak papa, nanti beli saja. Di mobil juga ada baju Mama. Ayo, Tante!"


Riri tetap menggeleng, Dio yang kesal pun menarik tangan gadis itu dan akhirnya keduanya terjatuh dan baju mereka pun basah. Anak itu hanya tertawa melihat wajah kesal tantenya.


"Dio, kan jadi basah. Sudah dibilang tadi Tante nggak bawa baju."


.

__ADS_1


.


__ADS_2