Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
119. Kembali


__ADS_3

Setelah cukup lama berbincang dengan Maysa, Bu Nadia pamit untuk pulang. Dia akan memikirkan tawaran mantan pegawainya itu lebih dulu. Wanita itu takut jika nanti akan mengecewakan, orang yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri. Apalagi Tama sebagai pemilik uang tersebut.


Maysa menawarkan untuk mengantar pulang. Namun, Bu Nadia memilih untuk naik taksi saja. Sebelumnya dia bilang jika mobilnya sudah dijual untuk membelikan kain pembeli, yang sudah terlanjur memesan baju. Uang mereka juga sudah di DP saat pemesanan baju.


Maysa mengantar Bu Nadia ke depan, hingga wanita itu mendapatkan taksi. Setelah mendapatkan kendaraan yang dipesan, wanita itu pun segera naik dan meninggalkan butik itu. Setelah taksi yang dinaiki Bu Nadia tidak terlihat, Maysa segera masuk ke dalam ruangannya. Tama yang melihat istrinya masuk, segera mengikutinya dari belakang.


"Ada apa dengan Bu Nadia, Sayang? Sepertinya ada sesuatu yang serius," tanya Tama begitu duduk di depan meja istrinya. Dia juga cukup mengenal wanita itu.


Maysa menghela napas. "Tadi bu Nadia cerita, kalau dia ditipu."


"Ditipu! Ditipu seperti apa?" tanya Tama yang begitu penasaran dengan cerita Bu Nadia.


Maysa pun menceritakan apa yang terjadi mengenai butik Bu Nadia pada sang suami. Dia juga mengatakan rencana untuk menolong wanita itu. Bagaimanapun juga dulu Bu Nadia lah yang menolongnya. Hingga dia bisa memiliki butik seperti ini.


Meskipun saat itu Bu Rina yang memberi modal, tetapi semuanya juga lewat Bu Nadia. Wanita itu sama sekali tidak ada niat jelek padanya. Bahkan Bu Nadia juga yang mengajari banyak hal tentang butik, saat awal Maysa mendirikan butik.


"Aku mendukung keputusan kamu. Kalau memang nanti kamu membutuhkan bantuanku, aku selalu siap. Lagi pula selama ini Bu Nadia juga sudah sangat baik sama kamu."


"Terima kasih sudah mendukung keputusanku, Mas. Tadinya aku takut kalau kamu akan marah karena aku memakai namamu, tanpa izin darimu terlebih dahulu." Maysa menundukkan kepalanya, dia merasa tidak enak pada sang suami.


"Aku tidak pernah mempermasalahkannya. Jika itu memang yang harus kamu lakukan. Aku juga percaya kalau apa pun yang kamu lakukan itu untuk kebaikan."


Maysa tersenyum mendengar apa yang dikatakan sang suami. Tadinya dia takut jika Tama akan marah karena istrinya, akan membantu Bu Nadia, tanpa mau bertanya lebih dulu padanya. Apalagi nanti pria itu yang harus mengeluarkan uang. Kemarin saja uangnya sudah keluar untuk membantu Rafka, sekarang keluar lagi untuk membantu Bu Nadia.

__ADS_1


"Terima kasih, Mas. Kamu sudah mengerti apa yang aku rasakan. Tadinya aku takut kalau kamu marah."


Tama menggenggam telapak tangan istrinya. "Aku sudah sering mengatakan, kalau kamu bebas membuat keputusan apa pun. Asal itu masih di jalan yang benar. Membantu orang juga perbuatan baik, kan?”


Maysa memeluk sang suami, sebagai bentuk rasa terima kasihnya. Dia senang dengan keberadaan Tama. Wanita itu berharap masalah yang menimpa Bu Nadia segera terselesaikan. Beliau adalah orang yang baik yang Maysa kenal.


Seandainya dulu dia tidak bertemu dengan Bu Nadia, sudah pasti dirinya tidak akan bisa seperti sekarang ini. Sekarang keadaan berbalik, wanita itu yang membutuhkan bantuannya. Sudah pasti Maysa akan membantunya.


****


Di sebuah rumah sakit, di depan ruang ICU. Rafka dan Vida terlihat mondar-mandir. Keduanya saat ini sedang mengkhawatirkan keadaan putranya. Tadi anaknya itu tiba-tiba keadaannya menurun dan saat ini, kondisinya benar-benar tidak stabil.


Segala doa Rafka panjatkan agar putranya bisa sehat kembali. Dia tidak sanggup jika terjadi sesuatu pada anaknya. Hingga dua jam lamanya, mereka masih menunggu. Namun, tidak ada kabar apa pun.


"Mas, bagaimana jika terjadi sesuatu pada putra kita? Aku tidak rela hal itu terjadi," ucap Vida memecah keheningan.


Rafka hanya diam dengan melirik ke arah sang istri sejenak, kemudian dia menunduk. Pria itu sendiri juga tidak rela jika harus kehilangan putranya. Rafka sudah sangat menyayangi anaknya itu. Banyak yang dia korbankan demi putranya.


Pria itu bahkan rela menyakiti hati sang putri demi putranya itu. Namun, sekarang semua ini terjadi pada putranya. Rafka berpikir, apakah ini adalah karma untuknya karena sudah menyia-nyiakan putrinya. Mungkin ini balasan sakit hati yang Maysa dan Eira rasakan.


Vida yang melihat keterdiaman Rafka hanya bisa mendengus. Suaminya memang orang yang tidak pernah bisa mengambil sikap. Pria itu selalu saja pasrah dengan keadaan. Vida tidak terlalu memusingkannya, saat ini yang penting adalah kesehatan putranya. Apa pun dia lakukan asalkan anaknya itu baik-baik saja.


Tidak berapa lama, pintu ruang ICU terbuka. Tampak dua orang dokter keluar dengan masih memakai masker. Salah satunya yang selama ini menangani kasus putra Rafka membuka masker. Dokter tersebut beberapa kali menarik napas dan membuangnya. Rafka dan Vida masih menunggu apa yang ingin dikatakan dokter tersebut. Berharap kabar baik yang mereka terima.

__ADS_1


“Pak Rafka, Bu Vida, maafkan kami. Kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain. Dia lebih menyayangi putra Anda, Tuhan telah memanggilnya. Anak Anda telah meninggal tiga puluh menit yang lalu."


Bagai disambar petir, berita yang disampaikan oleh dokter begitu mengejutkan untuk Rafka dan Vida. Keduanya sangat berharap anak mereka bisa sembuh. Namun, kini berita duka yang didengar.


"Tidak! Itu tidak mungkin! Dokter pasti berbohong! Anak sayang anak yang kuat. Dia tidak mungkin meninggalkanku begitu saja. Anda harus memeriksanya lagi! Pasti telah terjadi kesalahan dengan alat yang Anda pakai!" teriak Vida. Dia tidak terima mendengar kabar duka dari dokter.


Pria itu masih sangat yakin jika anaknya dalam keadaan baik-baik saja. Rafka yang ada di sampingnya pun sama tidak percayanya. Dia juga tidak menyangka hal itu terjadi pada putranya. Padahal pria itu sangat mengharapkan kesembuhan putranya.


Rafka mendekati dokter tersebut, dia ingin memastikan apa yang didengar tadi. "Dokter sedang berbohong, kan? Anak saya baik-baik saja, kan?" tanya Rafka dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak bisa menahan kesedihannya.


"Maafkan saya, Pak Rafka, tapi apa yang saya katakan memanglah yang sebenarnya. Saya dan tim dokter sudah berusaha sebaik mungkin, tetapi Tuhan berkehendak lain. Saya harap Anda dan istri bisa menerimanya dengan lapang dada."


Vida yang mendengar apa yang dikatakan dokter pun semakin emodi. "Sangat mudah bagi Anda mengatakan hal itu. Anda tidak pernah merasakan apa yang saya rasakan! Saya sudah mengandungnya selama sembilan bulan. Saya juga yang melahirkan dan merawatnya selama ini, tanpa bantuan siapa pun, tetapi sekarang Anda seenaknya mengatakan kalau saya harus menerimanya. Itu tidak adil! Kenapa tidak ada kebahagiaan yang abadi untukku?"


Tubuh Vida luruh di tanah. Dia benar-benar hancur dengan berita kematian putranya. Tidak pernah terbayangkan jika hal ini akan terjadi pada kehidupannya. Sebelumnya wanita itu bermimpi akan hidup bahagia dengan keberadaan putranya. Bahkan Vida sudah berencana untuk tidak memiliki anak lagi, cukup satu saja.


Rafka mendekati sang istri dan memeluknya, untuk menenangkan wanita itu. Vida saat ini dalam keadaan yang benar-benar memprihatinkan. Pria itu tahu jika istrinya sangat menyayangi sang putra. Namun, mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa. Umur anak mereka memang hanya sampai di sini.


"Kamu harus bersabar, ini memang ujian yang Tuhan berikan kepada kita. Kita harus bisa melewati semuanya. Kamu jangan seperti ini, apa yang kamu lakukan hanya akan membuat anak kita semakin menderita di alam sana," bisik Rafka dengan pelan.


.


.

__ADS_1


__ADS_2