Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
131. Halal


__ADS_3

Setetes air mata menetes di pipi pengantin wanita. Entah bagaimana jika Adit benar-benar akan meninggalkannya di saat seperti ini. Keluarganya pasti akan menanggung malu yang luar biasa. Riri tidak akan sanggup menahannya lagi.


Cukup satu tahun yang lalu dia membuat mamanya malu, sekarang tidak lagi. Saat sedang dalam keadaan dilema, adik dari Mama Rafiqah yang tadi memanggil pun, kembali masuk ke dalam kamar. Dia melihat satu-persatu orang yang ada di sana.


"Kenapa kalian malah ada di sini? Ayo cepat keluar, acara akan segera dimulai."


"Tunggu sebentar, Tante. Kita juga lagi nunggu pengantin prianya," jawab Maysa dengan pelan. Terasa sangat berat sekali mengucapkan kalimat itu. Padahal hanya kalimat sederhana.


"Kalau kalian menunggu pengantin pria, kenapa menunggunya di sini? Pengantin prianya saja sudah ada di depan."


Semua orang yang ada di ruangan itu pun terkejut, saat mendengar apa yang dikatakan adiknya Mama Rafiqah. Semua terasa seperti mimpi. Maysa pun berdiri mendekati tantenya. Dia ingin memastikan pendengarannya tidak salah.


"Apa yang Tante katakan tadi? Pengantin pria ada di depan?" tanya Maysa.


"Iya, ada di depan. Memangnya ada di mana lagi? Bukannya memang acara nikahannya ada di sini? Atau kalian punya rencana lain? Kenapa tidak bilang-bilang."


"Jadi Mas Adit sudah datang? Tante nggak lagi bohong, kan?" tanya Riri dengan air mata yang menetes.


Bukan air mata sedih, tapi air mata bahagia. Adit ternyata memang pria yang bertanggung jawab. Hal itu sungguh membuat perasaan Riri lega. Dia tidak harus mempermalukan keluarganya. Gadis itu tidak sanggup melihat hal itu.


"Ya, sekarang ini memang sudah waktunya. Kenapa kamu malah menangis? Kamu nanti malah bikin riasannya jelek saja. Sudah, sekarang ayo kita keluar! Kok malah nangis-nangisan di sini. Yang di luar semua pada nunggu juga," gerutu wanita itu sambil berjalan keluar dari kamar pengantin.


Sementara itu, Riri menatap mamanya dengan tersenyum. Tadinya dia takut keluarganya akan malu akibat Adit yang tidak datang. Namun, ternyata dia salah. Pria itu memang sudah sangat mencintainya, mana mungkin mempermalukan dia di hadapan banyak para kamu.

__ADS_1


"Ya sudah, sekarang hapus air mata kamu. Ingat! Hapusnya pelan-pelan, biar make up kamu nggak hilang. Setelah itu kita keluar, semua orang pasti sudah menunggu kita," ucap Maysa yang juga ikut merasa bahagia.


Riri mengangguk dan segera mengambil tisu dan menghapus air matanya dengan pelan. Mama Rafiqah juga tidak kalah bahagianya. Dia sudah berpikiran buruk tentang calon menantunya. Seharusnya dia percaya pada Adit, tidak mungkin pria itu meninggalkan putrinya setelah perjuangannya selama ini.


Pengantin wanita pun turun dengan didampingi oleh Mama dan kakaknya. Perasaan gelisah yang tadinya karena takut jika Adit tidak hadir, kini kembali berubah menjadi perasaan gugup dan takut. Beberapa kali Riri menarik napas dan membuangnya dengan pelan, berharap rasa gugupnya berkurang. Namun, tidak berhasil.


Begitu keluar dari kamar, para tamu mulai melihat ke arahnya. Hal itu tentu saja membuat Riri malu. Dia sedari tadi hanya menundukkan kepala. Gadis itu sangat takut untuk mendongakkan kepala, yang pastinya akan bertatapan dengan banyak pasang mata.


Adit yang duduk di depan penghulu, tidak bisa mengalihkan pandangannya, sejak melihat Riri yang tampil begitu cantik. Dia begitu terpesona dengan calon istrinya. Pria itu merasa terharu, tidak menyangka jika dirinya akan menikah dengan gadis yang selama ini menjadi incarannya.


Sudah beberapa hari Adit tidak bertemu calon istrinya karena alasan adat yang melarang. Ada juga yang mengatakan hal itu untuk menumbuhkan rasa rindu. Memang itu terbukti, rasa rindunya pada Riri begitu sangat besar. Apalagi sejak semalam mereka tidak berkomunikasi karena ponselnya tertinggal.


Pria itu juga dibuat sibuk dengan mengurus keperluan papanya jadi tidak sempat memberi kabar apa pun. Sekarang ini istrinya itu tampil begitu cantik. Dia tidak akan pernah melupakan momen hari ini, yang tidak akan pernah terulang lagi. Semoga mereka bisa bersama selamanya, hingga ajal menjemput.


Bisik-bisik para tetangga memuji kecantikan Riri begitu terdengar. Apalagi dengan kebaya buatan Maysa yang begitu pas ditubuhnya. Pengantin wanita tampil begitu cantik dan elegan. Namun, ada pula yang mencibir dan menjelek-jelekkan Riri.


Kata sah menggema di ruang tamu rumah Mama Rafiqah. Rasa haru menyelimuti hati semua orang yang ada di sana. Setetes air mata jatuh membasahi pipi Riri. Keinginannya untuk bersanding dengan Adit akhirnya bisa terkabul. Ketakutan yang sebelumnya menghantui, kini lenyap begitu saja.


Wanita itu berharap, selanjutnya dalam kehidupan rumah tangganya hanya ada kebahagiaan. Meskipun nantinya akan ada ujian, semoga dia dan sang suami bisa menghadapinya dengan ikhlas. Rasa saling percaya juga harus mereka tanamkan mulai sejak dini. Seperti halnya Riri, Mama Rafiqah juga ikut meneteskan air mata.


Disaat menikahkan anak-anaknya, pasti wanita paruh baya itu akan selalu ingat pada sang suami. Sekarang Riri sudah menikah. Mama Rafiqah sudah tidak memiliki janji apa-apa lagi pada almarhum sang suami. Semoga saja pernikahan ini menjadi pernikahan pertama dan terakhir untuk Riri.


Maysa yang ada di samping Mama Rafiqah pun memeluk wanita paruh baya itu. Dia tahu jika mamanya merasa bahagia sekaligus sedih. Dirinya juga kini merasakan hal yang seperti mamanya katakan. Mungkin dulu adiknya juga seperti ini saat dirinya menikah.

__ADS_1


"Mama akhirnya bisa tenang, May. Janji Mama pada almarhum papa agar memilihkan jodoh yang terbaik untuk anak-anak mama, akhirnya bisa terwujud hari ini. Kamu bisa bersama dengan Tama, begitu juga dengan Riri bersama Adit. Sekarang Mama bisa tenang dalam menghadapi kehidupan yang selanjutnya," ucap Mama Rafiqah pada Maysa dengan pelan.


"Ma, kenapa bicara seperti itu? Mama membuatku jadi ikutan sedih," ucap Maysa dengan bersandar di pundak mamanya.


Mama Rafiqah dan Riri adalah keluarga satu-satunya. Dia tidak akan rela jika ada salah satu dari keduanya merasa sedih. Saat itu terjadi, maka dirinya pun ikut merasakan hal itu.


"Kenapa kamu malah ikutan sedih? Mama hanya mengatakan hal yang sejujurnya, tidak perlu diambil pusing. Mama hanya mengingat janji Mama saja ... sudah tidak perlu dibahas lagi. Kita doakan yang terbaik untuk pernikahan Riri dan Adit. Semoga mereka bahagia selamanya."


Maysa mengganggu sambil menatap adiknya, yang saat ini sedang menandatangani buku nikahnya. Wajah Riri tampak begitu bersinar meski matanya masih berkaca-kaca.


"Ma, kenapa aku tidak melihat Om Dimas dan juga tante Nova yang waktu kemarin datang melamar itu. Hanya ada Om martin saja yang aku kenal," ucap Maysa sambil melihat para tamu yang datang.


Mama Rafika pun ikut melihat para tamu dari mempelai pria. Memang dia tidak melihat keberadaan Pak Dimas dan Bu Nova, yang kemarin sempat berbicara panjang lebar dengan dirinya. Di sana hanya ada Pak Martin saja.


"Iya, kamu benar. Mama tidak melihat ayahnya Adit. Apa terjadi sesuatu sama mereka dan itu yang membuat Adit datang terlambat, tapi dari tadi tidak ada yang mengatakan sesuatu tentang keterlambatannya. Apa ayahnya Adit tidak setuju dengan pernikahan ini, ya?" tanya Mama Rafiqah yang tiba-tiba saja memiliki pikiran buruk.


"Mana mungkin seperti itu, jangan memiliki pemikiran buruk terus. Bisa saja ada sesuatu yang terjadi di rumah. Buktinya Tante Nova juga tidak datang. Lebih baik nanti tanyakan langsung saja pada orangnya, tidak baik berpikir yang tidak-tidak, yang akhirnya malah membuat Hati tidak tenang."


Mama Rafiqah mengangguk karena memang dirinya sudah tidak tenang dari tadi. Acara pun dilanjut dengan acara sungkeman. Dikarenakan orang tua dari pihak Adit tidak datang, maka digantikan oleh Om Martin. Sementara itu, dari pihak pengantin wanita juga hanya Mama Rafiqah seorang diri.


"Ingat, ya, Nak. Kamu harus nurut sama suamimu, selama itu dalam jalan yang benar. Jangan sekali-kali kamu membantah perintahnya, kecuali memang apa yang diinginkan suamimu sudah menyalahi norma yang ada," nasihat Mama Rafiqah saat Riri berlutut di depannya.


"Iya, Ma. Aku juga berterima kasih sama Mama karena selama ini, sudah merawatku dengan baik. Berkat bimbingan Mama, aku bisa menjadi orang yang mengerti segala hal. Mama juga selalu mengingatkanku saat aku melakukan kesalahan. Terima kasih sudah menyayangiku selama ini." Mama Rafika dan Riri saling berpelukan. Wanita paruh baya itu tidak menyangka jika secepat ini akan merelakan putrinya untuk orang lain.

__ADS_1


.


.


__ADS_2